Perbedaan Wangsa Menurut Hindu

QUESTION:

Bagaimanakah pandangan agama Hindu terhadap perbedaan Wangsa?

ANSWER:

Kitab suci Manawa Dharma sastra, Bhagawadgita, Sarasamuscaya, dll. mengajarkan bahwa tidak ada perbedaan wangsa diantara manusia. Yang ada hanyalah perbedaan warna (profesi).

Semua manusia mempunyai harkat derajat yang sama di hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa; bahkan binatang dan tumbuh-tumbuhan pun demikian karena semua ciptaan-Nya. Dengan pengertian seperti itu akan timbul rasa saling menghormati sesama kita.

Seorang lelaki yang menikahi seorang gadis tidak hanya mencintai dan menyayangi gadis itu saja, tetapi juga wajib menghormati dan menyayangi keluarga si gadis, termasuk para leluhurnya.

Ngaturang bakti di sanggah pamerajan pihak wanita tidak selamanya berarti “nyumbah” leluhur si gadis, tetapi (dalam upacara pawiwahan) lebih bermakna sebagai permakluman dan perkenalan diri kepada para leluhur si gadis.

Upacara mepamit tidak berarti mohon diri kepada Ida Bethara di Sanggah Pamerajan, tetapi berarti pemindahan registrasi (secara niskala), yaitu registrasi di Sanggah pamerajan gadis dicoret kemudian terdaftar di Sanggah Pamerajan laki-laki, sehingga nanti bila meninggal dunia lalu di-aben, arwah si gadis sudah sah “mepaingkup” di Sanggah Pamerajan laki-laki.

Satu lagi tips untuk anda: bila seorang gadis dinikahi oleh seorang “triwangsa” janganlah namanya diganti misalnya ketika gadis bernama Made Arini, lalu karena menikah dengan “triwangsa” namanya diganti menjadi Jero Jempiring.

Ini tidak ada aturan dalam sastra Agama; ini hanya tradisi gugon tuwon yang berbau feodal.

Lontar Dharma Kauripan mengatakan bahwa yang berhak memberi nama atau merubah nama seorang anak hanyalah ayah dan ibu kandungnya (guru rupaka). Nama diberikan ketika upacara tiga bulanan, disaksikan oleh Ida Bethara Hyang Guru (Kemulan), karena itu ada unsur sakralnya.

Anak yang namanya diganti bukan atas kehendak orang tuanya akan menemui kesialan dalam hidup selanjutnya, karena terkena kutukan prasangga pada guru rupaka.

Mudah-mudahan juga ketika natab banten pekala-kalaan “Jero Jempiring” tidak natab bersama keris sebagai ganti sang suami. Kalau ini juga terjadi penyimpangan dharma agama makin melebar.

31 comments to Perbedaan Wangsa Menurut Hindu

  • 11
    wayan buda says:

    oSa
    @yoga…
    memang semua manusia tidak ada yang sama di dunia ini, ada yang bodoh dan pintar, kaya dan miskin, rupawan dan buruk rupa, normal dan cacat, hina dan mulia, bahagia dan menderita, baik dan jahat, tulus dan pamrih/rakus dan banyak perbedaan lainnya….

    namun apakah tingginya golongan wangsa (ida bagus/ayu) juga dapat di pakai membedakan hakikat manusia di dunia dan di hadapan Hyang Widi, apakah Hyang Widi juga membedakan wangsa tinggi (ida bagus/ayu) atau rendah (i wayan/made/nyoman/ketut) di dunia atau setelahnya nanti?
    sekali-kali Beliau tidak pernah membedakan manusia menurut tinggi rendah wangsanya, mengapa?
    karena wangsa tinggi juga bisa menderita di dunia ini ataupun selahnya sama dengan wangsa rendah ataupun non wangsa,
    karena dalam kelahiran garis keturunan wangsa tinggi juga bisa cacat baik itu fisik ataupun mental, buruk rupa, bisa bodoh sampai2 tidak bisa belajar weda,
    dalam hidup wangsa tinggi dan garis keturunannya juga bisa miskin, kekurangn, bisa mendapat musibah, bangkrut dan sengsara, bisa sakit parah dan menderita, dan juga bisa mati tidak tenang atau penasaran
    dalam kesaharian wangsa tinggi dan garis keturunannya juga bisa berbuat tidak baik, jahat, hina, bermata pencaharian tidak benar dan berbuat adharma
    dan setelah mati wangsa tinggi dan garis keturunannya juga bisa mendapat tempat di alam neraka sesuai dengan karmanya selagi masih hidup karena hukum karma berlaku pada siapa saja tidak memandang wangsa tinggi atau rendah apakah itu wangsa brahmana, arya, wesya, sudra ataupun non wangsa semua menunai hasil hasil dari apa yang mereka tabur
    di dunia dan setelahnya hakekat wangsa tinggi atau rendah sama saja di hadapan Hyang Widi. sradha, sila dan bhakti serta karma dan usaha kita mendekatkan diri pada beliau yang menentukan tempat kita kelak di dunia atau sesudahnya tak peduli seberapa tinggi derajat serta berapa banyak materi dan seberapa besar upakara dan biaya yang habiskan saat masih hidup.

    dan jika memang Hyang Widi meninggikan dan membedakan wangsa tinggi (ida bagus/ayu) dengan wangsa rendah (i wayan/nengah/nyoman/ketut) di dunia atau setelahnya seharusnya semua keturuna wangsa tinggi tanpa kecuali seharusnya “berbeda” dan “lebih” dengan wangsa rendah, seharusnya keturunan wangsa tinggi tidak ada yang cacat baik itu fisik ataupun mental, selalu tampan/cantik, pintar, mulia dan bijaksana,
    dan dalam hidup seharusnya mereka semua nya bahagia entah kaya, selalu berkecukupan, tidak pernah mengalami musibah, sengsara, sakit parah dan penderitaan.
    dan dalam perbuatan seharusnya semua wengsa tinggi dan keturunannya tidak tercela, bermata pencarian benar, jauh dari adharma, mulia, semuanya tanpa kecuali bisa menjadi contoh masyarakat
    dan bahkan jika mati seharusnya semua wangsa tinggi mencapai moksah atau setidaknya mencapai alam surga tanpa harus berusha berkarma baik jika hanya karena garis keturunannya saja sudah ditinggikan dan dibedakan Hyang Widi dari wangsa lainnya. namun hal itu tidaklah terjadi semua wangsa tinggi atau rendah juag mengalami hal kebahagiaan dan penderitaan yang sama di dunia ini ataupun sesudahnya tidak ada perbadaan sama sekali tidak ada jaminan dari Hyang Widi jikalau semua wangsa tinggi serta keturunannya akan akan selalu bahagia dan tidak pernah menderita di dunia ataupun setelahnya, semua tingkatan wangsa berkesempatan sama di dunia ataupun hadapan Hyang Widi sesuai dengan benih kerma yang ditabur,

    alasan kita belajar weda dan agama agar kita dapat mengetahui dharma dan memiliki sradha yang benar pada Hyang Widi serta dapat berbakti pada Beliau di dunia ini dan berbuat sesuai dengan dharma agar dapat mengghasilkan karma baik demi kebahagiaan di dunia inidan sesudahnya
    karena sesungguhnya tidak ada jaminan dari Hyang Widi jikalau hanya terlahir di garis keturunan wangsa tiggi saja (ida bagus/ayu) akan dapat hidup bahagia di dunia dan sesudahnya, dapat mencapai moksah atau setidaknya mencapai alam surga.

    mohon maaf jika ada kesalahan dalam tulisan saya dan mohon pencerahannya saudara yoga.

    oSSo

  • 11.1
    Bhagawan Dwija says:

    @Doa Sehari-Hari Menurut Hindu | hinducintadamai1: Pointnya apa ? Singkat-singkat saja.

  • 12

    [...] Perbedaan Wangsa Menurut Hindu This entry was posted in Tak Berkategori and tagged doa bangun pagi, doa hindu, doa makan, doa mandi, Doa memohon ketenangan rumah tangga, Doa memotong hewan, Doa mendengar atau melayat orang meninggal dunia, doa menggosok gigi, Doa mengheningkan cipta, Doa mengunjungi orang sakit, doa menjelang tidur, Doa mohon ampun dalam segala dosa, Doa mohon dianugrahi kecerdasan dan kesucian, Doa mohon perlindungan, Doa mulai belajar, Doa paramasanti, Doa pembukaan rapat/pertemuan, Doa penutup rapat/pertemuan, Doa sebelum memulai suatu pekerjaan, Doa sehari-hari, Doa untuk kebajikan, Doa untuk kelahiran bayi, Doa untuk keselamatan penganten, Doa untuk memohon cinta kasih-Nya, Doa untuk memohon panjang umur, Doa untuk pedagang, Doa untuk pelantikan pejabat negara, juga baik diucapkan ketika sakit, juga dipakai sebelum meditasi, kramaning sembah, mantram trisandhya, mari sembahyang, puja trysandhya, urutan persembahyangan hindu. Bookmark the permalink. ← MAKNA MENGANGKAT ANAK MENURUT AJARAN AGAMA HINDU SukaBe the first to like this post. [...]

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>