Perbedaan Wangsa Menurut Hindu

QUESTION:

Bagaimanakah pandangan agama Hindu terhadap perbedaan Wangsa?

ANSWER:

Kitab suci Manawa Dharma sastra, Bhagawadgita, Sarasamuscaya, dll. mengajarkan bahwa tidak ada perbedaan wangsa diantara manusia. Yang ada hanyalah perbedaan warna (profesi).

Semua manusia mempunyai harkat derajat yang sama di hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa; bahkan binatang dan tumbuh-tumbuhan pun demikian karena semua ciptaan-Nya. Dengan pengertian seperti itu akan timbul rasa saling menghormati sesama kita.

Seorang lelaki yang menikahi seorang gadis tidak hanya mencintai dan menyayangi gadis itu saja, tetapi juga wajib menghormati dan menyayangi keluarga si gadis, termasuk para leluhurnya.

Ngaturang bakti di sanggah pamerajan pihak wanita tidak selamanya berarti “nyumbah” leluhur si gadis, tetapi (dalam upacara pawiwahan) lebih bermakna sebagai permakluman dan perkenalan diri kepada para leluhur si gadis.

Upacara mepamit tidak berarti mohon diri kepada Ida Bethara di Sanggah Pamerajan, tetapi berarti pemindahan registrasi (secara niskala), yaitu registrasi di Sanggah pamerajan gadis dicoret kemudian terdaftar di Sanggah Pamerajan laki-laki, sehingga nanti bila meninggal dunia lalu di-aben, arwah si gadis sudah sah “mepaingkup” di Sanggah Pamerajan laki-laki.

Satu lagi tips untuk anda: bila seorang gadis dinikahi oleh seorang “triwangsa” janganlah namanya diganti misalnya ketika gadis bernama Made Arini, lalu karena menikah dengan “triwangsa” namanya diganti menjadi Jero Jempiring.

Ini tidak ada aturan dalam sastra Agama; ini hanya tradisi gugon tuwon yang berbau feodal.

Lontar Dharma Kauripan mengatakan bahwa yang berhak memberi nama atau merubah nama seorang anak hanyalah ayah dan ibu kandungnya (guru rupaka). Nama diberikan ketika upacara tiga bulanan, disaksikan oleh Ida Bethara Hyang Guru (Kemulan), karena itu ada unsur sakralnya.

Anak yang namanya diganti bukan atas kehendak orang tuanya akan menemui kesialan dalam hidup selanjutnya, karena terkena kutukan prasangga pada guru rupaka.

Mudah-mudahan juga ketika natab banten pekala-kalaan “Jero Jempiring” tidak natab bersama keris sebagai ganti sang suami. Kalau ini juga terjadi penyimpangan dharma agama makin melebar.

31 comments to Perbedaan Wangsa Menurut Hindu

  • 1

    dijelaskan dengan manis sekali :) suksma Bhagawan

  • 2
    wikan says:

    bisa dijelaskan istilah “kaum prebali” yang sering disebut dalam masyarakat, dan satu lagi ada istilah “nyineb wangsa”, dari mana asal usul istilah tersebut diatas.

    terimakasih,
    wikan

    • 2.1

      1. Prebali adalah pemuka-pemuka masyarakat Bali sebelum kedatangan/penjajahan Majapahit pada abad ke-14 M. Mereka ada yang keturunan dari Anak Wungsu, Patih Ularan, Ki Pasung Grigis, para Dukuh (Sulinggih), dll. Setelah penjajahan Majapahit kedudukan mereka tergeser dan berbaur dengan para pengungsi lainnya yang hidup di pegunungan, yakni kaum Bali-Aga.

      2. Nyineb-wangsa artinya : nyineb = menyembunyikan; wangsa = bangsa = kasta. Nyineb wangsa yang terjadi di Bali, adalah orang-orang triwangsa yang tidak mau menggunakan atribut/titel nya karena satu dan lain hal, misalnya karena kalah dalam peperangan, melarikan diri, atau atas kehendak sendiri ingin menjadi orang kebanyakan saja.

  • 3
    suyanti says:

    suastyastu
    tiang jagi metaken….m kenapa dalam urutan persembahyang harus berbeda-beda…kenapa pake sembah puyung, knpa pake bunga dan kenapa pake kuangen??? apakah masing-masing ada artinya ????

    inggih wantah asapunika pinaken tiang.. matur suksme
    om santih santih santih om

    • 3.1

      Om Swastyastu,

      Kramaning sembah :
      1. Sembah puyung, untuk mensucikan stula sarira dan atma sarira
      2. Sembah menggunakan bunga berwarna putih, untuk memuja Bhatara Siwa agar beliau menyaksikan dan memberkati pemuspaan kita
      3. Sembah menggunakan bunga 4 warna : putih, merah, kuning, hijau/biru untuk memuja ista-dewata (Tuhan dalam berbagai manifestasinya)
      4. Sembah dengan kwangen, untuk mohon Tuhan/Ida Bhatara mengabulkan permohonan kita
      5. Sembah puyung, untuk mohon diri kepada Tuhan yang berwujud Sanghyang Acintya.

      • Yoga says:

        Saya ingin bertanya, bagaimana cara menyucikan stula sarira dan atma sarira pada saat sembahyang?

        • Om Swastyastu,

          Puja/sembah (I) puyung : puyung = kosong, hening, tidak ada apa-apa/tanpa aktivitas, adalah lambang kebesaran dan kedudukan Parama Siwa atau Nirguna Brahman, yakni Brahman yang tidak terpengaruh maya. Lakukan dengan puja : Om atma tattwatma suddhamamswaha, artinya : Tuhan mohon sucikanlah atman dan stula sarira hamba karena hamba melakukan bhakti kepada-Mu. Bila mantram ini diucapkan dengan benar menyangkut trikaya (perkataan, perbuatan, pikiran) maka doa/puja itu akan terwujud.

          Om Santih, santih, santih, Om

  • 4
    De'Oka says:

    ratu Bhagawan…
    napi sane kawastanin triwangsa punika???
    teman2 saya ada yang namana I Gusti, ada Gusti Agung, ada Gusti Ngurah,
    ada juga Dewa, Dewa Ayu, Dewa Agung,
    Ada Ida Bagus, Ada Cokorda, Ada Cokorda Agung,

    matur suksma…

    • 4.1

      Triwangsa; tri = tiga; wangsa = bangsa (namun dalam istilah ini lebih condong maksudnya : kasta). Jadi tiga kelompok orang-orang berkasta : brahmana, kesatria, wesya. Jadi “sudra” tidak dihitung sebagai wangsa.

  • 5
    Oka A. Manikmas says:

    Yth. Ida Bhagawan Dwija
    Ong Swastyastu
    “Upacara mepamit tidak berarti mohon diri kepada Ida Bethara di Sanggah Pamerajan, tetapi berarti pemindahan registrasi (secara niskala), yaitu registrasi di Sanggah pamerajan gadis dicoret kemudian terdaftar di Sanggah Pamerajan laki-laki, sehingga nanti bila meninggal dunia lalu di-aben, arwah si gadis sudah sah “mepaingkup” di Sanggah Pamerajan laki-laki”.
    Uraian di atas sangat mengganggu pikiran saya. Secara skala adat istiada perkawinan ada dua yaitu Matriakat (garis keturunan perempuan, Padang, Malayu dll) dan Patriakat (garis keturunan laki, seperti di Bali, Batak, Menado dll). Bahkan ada adat yang kurang jelas antara Matriakat dan Patriakat seperti di Sunda dan Jawa. Kedua adat perkawinan tersebut hanya perjanjian dan kesepakan secara duniawai bukan secara niskala. Secara niskala seperti yang Begawan katakan bahwa di hadapan Tuhan/Sanghyang Widi Wasa (SWW) manusia itu sama. Menurut salah satu srada agama Hindu yaitu Atman, mengatakan bahwa atman merupakan percikan sinar suci SWW yang memiliki sifat yang sama dangan SWW. Tatkala memasuki badan/jasad yang baru saat reinkarnasi yang terbentuk dari pertiwi, apah, teja, bayu, akasa (panca maha buta), sifat atman masih sama dengan SWW. Namun setelah dilahirkan, tumbuh dan berkembang karena pengaruh panca mahabuta (duniawai), kesucian atman surut menjadi jiwa dan makin surut menjadi roh bila pengaruh duniawi makin besar dan melekat pada jasadnya yang baru sejalan dengan tumbuh dan berkembangnya jasad yang baru.
    Surutnya kesucian atman juga sangat dipengaruhi oleh genetik/bibit (G), lingkungan/bebet (E), dan kualitas pendidikan dan pekerjaannya/bobot termasuk pendidikan dalam keluarga sebagai dasar dalam pembenrukan watak seseorang (M). Dengan kata lain tingkat kesucian Atman yang dicerminkan dalam watak seseorang sangat ditentukan oleh interkasi antara G x E x M
    Pertanyaan saya: Apakah Tuhan/SWW meregistrasi roh yang berstana di badan perempuan dan dicoret dari perahyangan leluhurnya? terutama di Bali bila setelah ia kawin dengan laki-laki Bali (Patriakat). Sebaliknya bila ada orang Padang dan Melayu beragama hindu maka SWW akan mencoret roh yang bestana di jasad seorang laki-laki kemudian dipindahkan ke perahyangan keluarga perempuan, padahal menurut adat mereka tidak demikian (Matriakat).
    Antara adat dan agama sungguh tidak sama. Jangan sampai adat lebih menonjol dan menguasai agama bahkan mengecilkan agama semata-mata untuk kepentingan upacara. Soko gurur agama hindu adalah Tattwa, Upacara, dan Susila/Etika haruslah seimbang. Sebagai contoh: karena upacara yang sangat menonjol dan cendrung makin jor-joran sebagai implikasi makin meningkatnya ekonomi masyarakat di Bali telah tercipta sektor ekonomi non-formal yaitu bisnis banten. Seorang teman saya melaksanakan upacara ngaben ibundanya, datang ke Sulinggih dan memohon agar upacanya berjalan lancar dan labda karya, maka berapa uang yang harus dia sediakan terutama untuk banten. Jawaban sulinggih, Ning/Pak/Bu, tiang tidak jualan banten, tiang hanya muput upacara sebaik-baiknya agar labda karya sesuai dengan harapan yang punya upacara, silakan tanyakan kepada tapini/tukang banten. Kemudian tapini/tukang banten memberi harga Rp 80 jt, karena teman saya cukup mampu maka dia langsung setuju. Tetapi, sesuatu terjadi dangan cukup mencengangkan yaitu tukang banten tadi men-sub-kontrakkan harga banten tersebut kepada tukang banten lain seharga Rp 60 jt, sehingga tapini/tukang banten yang ditunjukkan oleh sulinggih dapat untung/laba/profit/margin sebilai Rp 20 jt hebat bukan. Ini hanya ilustrasi betapa upacara sangat menguasai tattwa dan etika/susila. Ini barangkali yang disebut dengan Rajasika Yadnya yaitu kurang memahami makna upacara baik yang beryadnya maupun tapini/tukang banten yang penting bantennya besar dan dapat untung lumayan besar. Yang mengelitik hati saya kemudian adalah: apakah Sulinggih tidak mengetahui atau tidak diberitahu oleh tapini/tukang banten atau ini sudah satu paket?
    Kembali kepada upacara “Mepamit”, menurut pendapat saya, mari mulai sekarang dan seterusnya dalam agama hindu tidak ada kesepakatan adanya upara mepamit. Yang lebih sesuai dan mungkin dapat diterima secara luas oleh umat hindu dimanapun berada adalah “Matur Piuning” tanpa adanya pindah “Registrasi”. Bisama Leluhur antara lain mengatakan:
    Jangan lupa akan kahyangan sesembahanmu bila kalian sampai lupa akan kahyangan sesembahanmu, kalian tidak akan rukun bersaudara, tidak henti-hentinya tertimpa kesulitan, tak putus-putusnya bertikai sesama saudara, banyak memiliki keterampilan kerja, namun kurang penghasilan.

    Demikianlah pesanku, kepada kalian saketurunanku, yang sudah dicantumkan pada prasasti, yang kalian anut bersama. Kalian tidak boleh menentang sabdaku, amat berbahaya, jangan sekali-kali kalian melupakannya.

    Apabila klian menerima dan taat akan sabdaku, semoga kalian panjang umur, menikmati martabat mulia, memiliki keterampilan yang berarti, setiap yang diucapkan akan menjadi kenyataan, dihormati di dunia ini, dikasihi para dewata, karena kamu orang bijaksana, memiliki keterampilan utama, bertingkah laku yang sopan, lihai di dalam hal pemecahan masalah. Demikianlah yang tercantum dalam prasasti.

    Mohon maaf Sri Begawan yang saya sucikan, bila ada kata-kata saya yang tertuang dalam e-mail ini kurang berkenan. Sebagai manusia yang sangat dipengaruhi oleh panca maha butha, tidak ada yang sempurna. Matur suksma sanget. Semoga Begawan selalu sehat dan walafiat atas perlindungan dan anugrah SWW dan Leluhur.
    Ong Shatih Shatih Shantih Ong

    Oka A Manikmas
    Bogor

  • 6
    Yoga says:

    Maaff juka saya lancang Bhagawan,
    Namun Anda sedikit salah mengartikan isi dari sastra” yang Anda baca.
    Kalau memang benar Wangsa itu tidak ada, mengapa kepercayaan itu masih ada???
    Itu dikarenakan Wangsa memang harus ada.
    Jika Anda mengatakan bahwa semua manusia dan makhluk itu sama di mata Tuhan atau Ida Sang Hyang Paramaiwa berdasarkan ajaran Tat Twam Asi, dan Bhineka Tunggal Ika…Maka Anda salah besar.
    Saya berani mengatakan Anda salah, karena memang Anda salah.
    Jika Anda benar saya tidak akan berani menyalahkan Anda.
    Bhagavad Gita, Sarasamuscaya, Manawadharmasastra dan sastra” yang lain memang semua isi dan maknanya benar, akan tetapi sastra” itu tidak bisa digunakan untuk pemikiran” orang zaman sekarang. Karena pemikiran orang zaman sekarang berbeda 180 derajat dengan pemikiran orang zaman dahulu.
    Banyak orang di zaman sekarang yang salah mengartikan sastra” itu.
    Seperti halnya Warna yang tertulis dalam kitab Bhagavad Gita.
    Warna di zaman dahulu adalah Wangsa di zaman sekarang. Dahulu tidak ada putra Seorang Maharsi mengambil pekerjaan Waisya atau Sudra, dan pasti akan mengambil pekerjaan sebagai Maharsi pula. Begitupun Anak Seorang Raja pasti akan menjadi Raja dan Ksatrya. Karena itu memang tugas mereka, namun di zaman sekarang tidaklah pasti Putra dari seorang Brahmana (Ida Bagus/Ida Ayu) akan menjadi Pedanda, ada yang menjadi polisi, guru, dan lain”. Oleh karena itu Ida Sang Hyang Paramasiva mengubah Warna itu menjadi Wangsa. Bukan Warna lagi namanya tetapi Wangsa dan bukan Kasta.
    Ajaran tat twam asi memang diartikan “aku adalah kamu, kamu adalah aku”. Namun tidaklah semua akan bisa seperti itu, itu dikarenakan kita semua memiliki pola pikiran dan tujuan yang berbeda-beda. Apakah itu bisa dikatakan sama??????
    Misalkan seorang yang mengambil pekerjaan menjadi polisi tentu tujuannya adalah meangkap penjahat, dan seorang maling tentu tujuannya adalah berbuat jahat. Apakah Polisi dan Maling itu bisa dikatakan sama?????
    Begitupun juga dengan Tuhan/Ida Sang Hyang Paramasiwa tidak pernah memandang semua manusia itu sama. Apabila beliau memandang manusia itu sama, itu bebarti tidak ada Sorga dan Neraka, dan tidak akan ada yang namanya Rwa Bhineda.
    Itu karena beliau memandang semua manusia itu sama, apabila ada seorang penjahat atau polisi, baik atau jahat, maka kelak saat mereka mati mereka berdua tidak akan dibedakan, dan keduanya mendapatkan tempat yang sama. Jadi mengapa kita susah-susah belajar Agama dan semua isi Weda kalau memang benar Tuhan memandang semua makhluk itu sama?
    Terserah orang itu berbuat baik atau buruk, Dharma ataupun Adharma toh juga kita dibedakan????
    Itulah pemikiran yang muncul dari ajaran tat twam asi.

    • 6.1
      Yoga says:

      Maksud saya toh juga kita tidak dibedakan????
      Makna yang sebenarnya dari ajaran tat twam asi adalah:
      Semua makhluk bahkan manusia itu berbeda, baik dari warna kulit, tinggi rendah, usia tua dan muda, anak-anak dan orang dewasa, perbedaan budaya, ras, dan perbedaan Wangsa. Semua itu harus ada dan saling melengkapi. Tetapi manusia dan semua makhluk itu sama apabila ada yang memiliki pemikiran dan tujuan yang sama pula saat itulah Tuhan tidak membedakan manusia, tapi pada saat akhir hayatnya. Dan berhak mendapatkan Soraga hanyalah soerang yang melaksanakan Dharma dimasa hidupnya, dan yang berhak mendapatkan Neraka adalah seorang yang selalu melaksanakan Adharma dimasa hidupnya.
      Saya dan Kakak saya saja memiliki pemikiran yang berbeda dan tujuan yang sedikit berbeda. Apakah Saya dan Kakak saya sama???
      Tentu tidak bukan!
      Jujur saya merasa heran dengan pemikiran orang-orang di zaman sekarang, karena sangat berda jauh dengan orang-orang di zaman dahulu. Pemikiran orang di zaman sekarang itu kebanyakan terbalik, yang memang benar dikatakan salah, dan yang benr-benar salah dikatakan benar. Bukankah itu aneh????
      Saya berani berkata seperti ini kepada Anda, karena saya sudah banyak mendapatkan pencerhan-pencerahan.
      Sekarang saya bisa memilah-milah mana isi sastra yang sesuai dengan keadaan manusia di zaman sekarang dan mana yang tidak sesuai dengan keadaan manusia di zaman sekarang.
      Saya akan menentang yang memang harus ditentang dan yang tidak sesuai dengan Dharma, dan Saya akan menegakkan apa yang harus ditegakkan dan dipertahankan yang sesuai dengan Dharma. Karena itu dalah Swadharma’ku.

    • 6.2
      wayan buda says:

      bli yoga coba terangkan apakah yang sebenarnya kelebihan yang membedakan golongan ida bagus/ida ayu dengan golongan i wayan/nengah/nyoman/ketut di dunia ini maupun di hadapan Ida Sang Hyang Widi? apakah cuma garis keturunannya saja ataukah ada hal lainnya? lantas apakah kelebihan garis keturunan ida bagus/ayu di bandingkan keturunan i wayan/nengah/nyoman/ketut di dunia ini maupun di hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa?

    • 6.3
      wayan buda says:

      bli yoga coba terangkan apakah yang sebenarnya yang menjadi kelebihan yang membedakan golongan ida bagus/ida ayu dengan golongan i wayan/nengah/nyoman/ketut di dunia ini maupun di hadapan Ida Sang Hyang Widi? apakah cuma garis keturunannya saja ataukah ada hal lainnya? lantas apakah kelebihan garis keturunan ida bagus/ayu di bandingkan keturunan i wayan/nengah/nyoman/ketut di dunia ini maupun di hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa?

    • 6.4
      wayan buda says:

      OSA
      @yoga
      bli yoga coba terangkan apakah yang sebenarnya yang menjadi kelebihan yang membedakan golongan ida bagus/ida ayu dengan golongan i wayan/nengah/nyoman/ketut di dunia ini maupun di hadapan Ida Sang Hyang Widi? apakah cuma garis keturunannya saja ataukah ada hal lainnya? lantas apakah kelebihan garis keturunan ida bagus/ayu di bandingkan keturunan i wayan/nengah/nyoman/ketut di dunia ini maupun di hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa? suksme atas perhatiannya saya tunggu balasan jawabannya
      OSSO

  • 7
    Yoga says:

    Maaff juka saya lancang Bhagawan,
    Namun Anda sedikit salah mengartikan isi dari sastra” yang Anda baca.
    Kalau memang benar Wangsa itu tidak ada, mengapa kepercayaan itu masih ada???
    Itu dikarenakan Wangsa memang harus ada.
    Jika Anda mengatakan bahwa semua manusia dan makhluk itu sama di mata Tuhan atau Ida Sang Hyang Paramaiwa berdasarkan ajaran Tat Twam Asi, dan Bhineka Tunggal Ika…Maka Anda salah besar.
    Saya berani mengatakan Anda salah, karena memang Anda salah.
    Jika Anda benar saya tidak akan berani menyalahkan Anda.
    Bhagavad Gita, Sarasamuscaya, Manawadharmasastra dan sastra” yang lain memang semua isi dan maknanya benar, akan tetapi sastra” itu tidak bisa digunakan untuk pemikiran” orang zaman sekarang. Karena pemikiran orang zaman sekarang berbeda 180 derajat dengan pemikiran orang zaman dahulu.
    Banyak orang di zaman sekarang yang salah mengartikan sastra” itu.
    Seperti halnya Warna yang tertulis dalam kitab Bhagavad Gita.
    Warna di zaman dahulu adalah Wangsa di zaman sekarang. Dahulu tidak ada putra Seorang Maharsi mengambil pekerjaan Waisya atau Sudra, dan pasti akan mengambil pekerjaan sebagai Maharsi pula. Begitupun Anak Seorang Raja pasti akan menjadi Raja dan Ksatrya. Karena itu memang tugas mereka, namun di zaman sekarang tidaklah pasti Putra dari seorang Brahmana (Ida Bagus/Ida Ayu) akan menjadi Pedanda, ada yang menjadi polisi, guru, dan lain”. Oleh karena itu Ida Sang Hyang Paramasiva mengubah Warna itu menjadi Wangsa. Bukan Warna lagi namanya tetapi Wangsa dan bukan Kasta.
    Ajaran tat twam asi memang diartikan “aku adalah kamu, kamu adalah aku”. Namun tidaklah semua akan bisa seperti itu, itu dikarenakan kita semua memiliki pola pikiran dan tujuan yang berbeda-beda. Apakah itu bisa dikatakan sama??????
    Misalkan seorang yang mengambil pekerjaan menjadi polisi tentu tujuannya adalah meangkap penjahat, dan seorang maling tentu tujuannya adalah berbuat jahat. Apakah Polisi dan Maling itu bisa dikatakan sama?????
    Begitupun juga dengan Tuhan/Ida Sang Hyang Paramasiwa tidak pernah memandang semua manusia itu sama. Apabila beliau memandang manusia itu sama, itu bebarti tidak ada Sorga dan Neraka, dan tidak akan ada yang namanya Rwa Bhineda.
    Itu karena beliau memandang semua manusia itu sama, apabila ada seorang penjahat atau polisi, baik atau jahat, maka kelak saat mereka mati mereka berdua tidak akan dibedakan, dan keduanya mendapatkan tempat yang sama. Jadi mengapa kita susah-susah belajar Agama dan semua isi Weda kalau memang benar Tuhan memandang semua makhluk itu sama?
    Terserah orang itu berbuat baik atau buruk, Dharma ataupun Adharma toh juga kita tidak dibedakan????
    Itulah pemikiran yang muncul dari ajaran tat twam asi.

    • 7.1
      manik says:

      Pak Guru Yoga yang saya hormati, saya ingin menimba ilmu dari anda. Saya punya beberapa pertanyaan.

      A. Boleh tau pekerjaan seorang dari wangsa:
      1. brahmana
      2. ksatria
      3. wesya
      4. sudra
      yang seharusnya diambil?

      B. Ngomong-ngomong, tadi dibilang warna diubah menjadi wangsa dan bukan kasta, lalu wangsa itu apa diwariskan secara keturunan juga seperti kasta yang lumrah dikenal di Bali?

      C. Jika wangsa diwariskan secara keturunan, berarti menurut pandangan Ida Hyang Widhi siapapun dan bagaimanapun kelakuan keturunan dari wangsa itu akan tetap dipandang sama seperti leluhurnya? katakanlah dari contoh Polisi dan Maling itu. Misalnya yang polisi dari wangsa ksatrya, yang maling dari wangsa brahmana. Berarti menurut Hyang Widhi tetap lebih mulia yang Maling dari wangsa Brahmana ya daripada Polisi dari wangsa ksatrya? gitu ya maksudnya Widhi memandang manusia berbeda-beda? ini saya belum jelas soalnya.

      D. Jika wangsa tidak diwariskan secara keturunan, berarti siapapun bisa berubah wangsa donk? Berarti sama donk jadinya pendapatnya dengan orang-orang yang menentang wangsa/kasta?

      Pak Guru, itu dulu pertanyaan dari murid yang bodoh ini. Mohon penjelasannya.

      • Yoga says:

        Saya terima pertanyaan dari manik !
        Untuk pertanyaan pertama:
        Pekerjaan yang seharusnya diambil oleh masing-masing Wangsa itu hendaknya menuruti Swadharma masing”. Akan tetapi pekerjaan di sekala boleh berbedada dengan Swadharmanya, akan tetapi jangan melupakan Swadharma masing-masing.
        Seperti seorang Wangsa Brahmana boleh mengambil pekerjaan tidak sebagai Peranda atau pemangku(yang berhubungan dengan keagamaan), akan tetapi harus juga menaati Swadharmanya sebagai Brahmana( karena hal itu berkaitan erat dengan niskala).
        Begitupun juga Sudra, boleh mengambil pekerjaan yang lebih tinggi, akan tetapi jangan juga melupakan Swadharmanya sebagai Sudra yaitu setia mengabdi kepada Wangsa yang lebih tinggi atau paling tidak setia mengabdi kepada Siwa/Suryanya.
        Begitupun juga dengan Wangsa-wangsa yang lain.
        Untuk anda saya bertanya pernahkah anda membaca/menonton cerita Mahabharata? kalau anda tidak pernah,,, pantas anda berpendapat seperti itu. Jika anda pernah menonton/membaca cerita(sejarah) Mahabharata, disana sudah dijelaskan pada waktu Yudistira diuji untuk pantas tidaknya menjadi Putra Mahkota (calon Raja), beliau diuji untuk mengadili 4 Wangsa/Catur Wangsa seperti Brahmana, Ksatrya, Waisya, Sudra. Semuanya itu mempunyai kesalahan yang sama Jadi beliau harus adil dalam memberikan sanksi/hukuman, singkat cerita disana Maharaja Yudistira memberikan hukuman paling berat pada Wangsa/keturunan Brahmana, Karena sebagai keturunan Brahmana Wangsa seharusnya mentaati Swadarma sebagai Brahmana bukan sebaliknya berbuat kejahataan.
        Dan juga tadi anda bertanya apapun yang dilakukan oleh keturunan dari Wangsa itu Ida akan melihat/memandangnya sama dengan Leluhurnya. Di sini Anda salah mengertikan maksud Saya. Meskipun kelakuan atau sifat keturunannya berbeda namun tidak akan merubah Wangsanya pada kehidupan itu pula. Sebagai contoh agar anda tidak pusing, ada diluar sana(kalau anda pernah menontonnya) babi bertingkah laku seperti anjing penjaga, lalu apakah tingkah laku babi tersebut akan merubah dirinya menjadi anjing penjaga?
        Begitupula ayam yang bertingkah laku seperti bebek, apakah ayam itu bisa langsung jadi bebek?
        Tentu saja tidak, dan juga tadi meskipun brahmana itu menjadi maling dia tidak akan langsung berubah Wangsanya, namun dia juga akan tetap bersalah.
        Dan jika sifat, perbuatan, pengetahuan bisa merubah wangsa seseorang maka pendapat anda itu salah. Contoh ada pada komentar saya yang lain boleh dilihat/dibaca, Seperti salah satu Wangsa binatang yaitu burung, singkat kata semua jenis burung/wangsa burung itu berbeda.
        Tidak ada burung Garuda yang melahirkan burung gereja begitu pula sebaliknya, itulah yang dinamakan garis keturunan sama halnya dengan Wangsa kita (manusia).
        Masalah pekerjaan dari Catur Wangsa yang sebenarnya adalah menurut swadarmanya masing2, jika kurang jelas anda bisa mencari/membacanya pada komentar saya yang lain. Ngih suksma untuk saudara manik.
        Dan Saya bertanya, mengapa Anda menganggap Saya sebagai Guru, padahal Saya bukanlah seorang Guru?

        • manik says:

          Mohon jangan salah Pak Yoga, saya menganggap semua orang disini sebagai Guru karena saya merasa kurang dalam hal Agama.

          Iya, saya orang yang memiliki pandangan yang hampir sama dengan kebanyakan komentator di blog ini (artikel yang lagi satu)(bukan karena saya membaca sastra-sastra atau cerita-cerita agama, saya sendiri tidak mampu membeli kitab-kitab itu dan tidak memilikinya bahkan satu pun sehingga tidak tau apa isinya sesungguhnya, saya hanya menimba pengetahuan dari situs-situs seperti ini, termasuk situs-situs agama tetangga, dan mengandalkan penalaran pikiran dan logika saya saja. Tidak semua saya setujui dan tidak semua tidak saya setujui), namun saya juga setuju dengan Pak Yoga bahwa wangsa tidak mungkin dihilangkan, karena itu berhubungan dengan leluhur, dan mungkin juga itu yang menyebabkan adanya banyak pedharman di Besakih. Karena itu saya tidak berkomentar apa-apa sebelumnya sampai saya bertemu komentar di artikel ini dimana Pak Yoga menyebutkan Warna diubah menjadi Wangsa. Saya pribadi tidak setuju hal itu, menurut saya warna berbeda dengan wangsa. Namun, karena saya ingin membuka pikiran saya supaya ada kejelasan maksudnya, sehingga akhirnya saya berkomentar dan bertanya pada Pak Yoga. Dan pertanyaan-pertanyaan saya itu hanya untuk menggiring saya mendapatkan kesimpulan sementara dari yang Pak Yoga maksudkan.

          Mohon koreksi lagi jika saya salah menanggapi jawaban Pak Yoga. Yang saya tangkap dari penjelasan Pak Yoga, bahwa yang Pak Yoga maksud dengan Wangsa mungkin adalah Soroh? sementara yang dimaksud rekan-rekan (khususnya saya sendiri) dengan Warna adalah kepribadian seseorang. Misalnya seorang keturunan Ida Bagus (wangsa/soroh Ida Bagus atau disebut wangsa brahmana), dapat mengambil pekerjaan petani, sehingga kepribadiannya (warnanya) petani = sudra (dalam catur warna). Tapi dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai wangsa Brahmana mungkin maksudnya dengan mengisi diri dengan ilmu pengetahuan keagamaan, membaca-baca kitab2 warisan leluhurnya? karena dari sekian wangsa yang ada hanya keturunan Ida Bagus saja yang memiliki akses paling mudah dalam mempelajari isi sastra? begitu kah maksudnya?

          Dan sepertinya sementara ini kesimpulan saya bahwa saya lebih sreg menyebut wangsa dengan soroh saja, seperti soroh Ida Bagus, Dewa, Gusti, Pande, Pasek, dll, dan membedakannya dengan Catur Warna yang dimaksud dalam situs ini. Artinya jelas bahwa manusia berbeda berdasarkan wangsa/sorohnya menurut garis keturunan, dan disaat bersamaan manusia dipandang sama menurut catur warna, karena apapun wangsanya dia bisa menjadi warna apapun sesuai dengan citra kepribadiannya dan pekerjaannya.

          Kiranya Pak Yoga dapat memberi masukan lagi.

          • Yoga says:

            @Manik: iya tepat sekali :D….Itulah yang saya maksud. Meskipun Brahmana itu adlah seorang petani atau buruh , namun dia akan tetap sebagai keturunan Brahmana. Bukan pekerjaan yang akan menamakan dirimu sebagai Brahmana, Ksatrya, Waisya, ataupun Sudra, akan tetapi kewajibanlah(kewajiban berdasarkan Wangsa) yang membedakanmu. Namun orang-orang yang ingin menghilangkan Wangsa hanya melihat dari sisi pekerjaan, namun tidak dari sisi kewajiban itu. Meskipun Krisna sempat menjadi pengembala sapi, namun beliau tetap adalah seorang Ksatrya karena beliau memang dilahirkan dari darah keturunan Wangsa Vrsni yang juga adalah Wangsa Ksatrya dan juag kewajiban beliau sebagai seorang Ksatrya. Begitupun dengan Pandawa yang sempat menyamar sebagai pelayan, namun Beliau semua tetap menjadi Ksatrya dari Wangsa Kuru/Wangsa Bharata yang juga adalah keturunan Ksatrya. Dan juga Maharsi Drona yang menjadi Panglima perang akan tetap selalu menjadi Maharsi karena beliau memang dari keturunan Maharsi(Brahmana). Karena apapun Warnamu tidak akan pernah merubah wujudmu. Meskipun Warnamu seorang Ksatrya namun apabila wujudmu bukan Ksatrya, Warna itu tidak akan merubah wujudmu. Yang Aku maksud wujud disini adalah “Kewajiban, Darah Keturunan, Kulit(badan kasar), Isi(atman), Wangsa”.#yang saya maksud dengan atman, adalah atma yang memasuki badan kasar itu, atma bisa berubah namun perubahan tersebut hanya terjadi di alam Niskala dan bukan Sekala. Atma hanya akan berubah menurut tingkatan Dharma dan Karma. Begitupun dengan karma dan guna. Namun Anda salah mengenai satu hal, Wangsa=Soroh…Jadi kalau ada orang yang mengatakan Soroh sama artinya dengan menyatakan Wangsa. Jadi terserah anda mau mengatakan apa Wangsa/Soroh, asalkan jangan Kasta, karena memang tidak ada yang namanya kasta, karena kasta adalah penggolongan menurut harta kekayaan…Namun kebanyakan orang banyak menyalah artikan Kasta, mereka kira Kasta itu sama dengan Wangsa padahal berbeda.
            Hanya itu dari saya…Dan sekali lagi jangan menganggap saya Guru. Memang kewajibanku memberikan penerangan kepada yang tidak menngerti dengan apa arti Wangsa, Warna, dan Kasta…Dan kewajibanku juga untuk melawan mereka yang ingin menghilangkannya…Karena itulah tugas/kewenangan yang baru diberikan oleh Beliau kepadaku..Mereka melawan dengan kata-kata, maka Aku juga melawannya dengan kata-kata.

    • 7.2
      anom says:

      apakah hanya golongan ida bagus saja yang mempunyai kemampuan menjadi sulinggih, apakah hanya golongan ida cokorda/anak agung/i gusti/ngurah saja yang mempunyai kemampuan menjadi pemimpin daerah, apakah golongan i wayan, i nengah, i komang, i ketut hanya memiliki kemampuan sebagai pelayan atau pesuruh saja?
      Hyang Widi tidak membedakan manusia menurut wangsanya namun sradha, bhakti dan sila manusia yang membekan tempat mereka di hadapan beliau tidak peduli apapun wangsanya, karena hukum karma dari Beliau tidak membeda-bedakan wangsa.
      apakah golonagn ida bagus/ayu selalu pintar, bijaksana, mulia, tidak pernah bebuat hina, tidak ada yang menjadi penjahat? bagus/ayu, tidak ada yang cacat? selalu bahagia di dunia ini, tidak pernah miskin, kekurangan? semua itu tidak berbeda dengan golongan i wayan/nengah/komang/ketut

    • 7.3
      wayan buda says:

      oSa
      @yoga…
      memang semua manusia tidak ada yang sama di dunia ini, ada yang bodoh dan pintar, kaya dan miskin, rupawan dan buruk rupa, normal dan cacat, hina dan mulia, bahagia dan menderita, bik dan jahat, tulus dan pamrih/rakus dan banyak perbedaan lainnya….

      namun apakah tingginya golongan wangsa (ida bagus/ayu) juga dapat di pakai membedakan hakikat manusia di dunia dan di hadapan Hyang Widi, apakah Hyang Widi juga membedakan wangsa tinggi (ida bagus/ayu) atau rendah (i wayan/made/nyoman/ketut) di dunia atau setelahnya nanti?
      sekali-kali Beliau tidak pernah membedakan manusia menurut tinggi rendah wangsanya, mengapa?
      karena wangsa tinggi juga bisa menderita di dunia ini ataupun selahnya sama dengan wangsa rendah ataupun non wangsa,
      dalam kelahiran garis keturunan wangsa tinggi juga bisa cacat baik itu fisik ataupun mental, buruk rupa, bisa bodoh sampai2 tidak bisa belajar weda,
      dalam hidup wangsa tinggi juga bisa miskin, kekurangn, bisa mendapat musibah, bangkrut dan sengsara, bisa sakit parah dan menderita, dan juga bisa mati tidak tenang atau penasaran
      dalam kesaharian wangsa tinggi juga bisa berbuat tidak baik, jahat, hina, bermata pencaharian tidak benar dan berbuat adharma
      dan setelah mati wangsa tinggi juga bisa mendapat tempat di alam neraka sesuai dengan karmanya selagi masih hidup karena hukum karma berlaku pada siapa saja tidak memandang wangsa tinggi atau rendah apakah itu wangsa brahmana, arya, wesya, sudra ataupun non wangsa semua menunai hasil hasil dari apa yang mereka tabur
      di dunia dan setelahnya hakekat wangsa tinggi atau rendah sama saja di hadapan Hyang Widi. sradha, sila dan bhakti serta karma dan usaha kita mendekatkan diri pada beliau yang menentukan tempat kita kelak di dunia atau sesudahnya tak peduli seberapa tinggi derajat serta berapa banyak materi dan seberapa besar upakara dan biaya yang habiskan saat masih hidup.

      dan jika memang Hyang Widi meninggikan dan membedakan wangsa tinggi (ida bagus/ayu) dengan wangsa rendah (i wayan/nengah/nyoman/ketut) di dunia atau setelahnya seharusnya semua keturuna wangsa tanpa kecuali seharusnya “berbeda” dan “lebih” dengan wangsa rendah, seharusnya keturunan wangsa tinggi tidak ada yang cacat baik itu fisik ataupun mental, selalu tampan/cantik, pintar, mulia dan bijaksana,
      dan dalam hidup seharusnya mereka semua nya bahagia entah kaya, selalu berkecukupan, tidak pernah mengalami musibah, sengsara, sakit parah dan penderitaan.
      dan bahkan jika mati seharusnya semua wangsa tinggi mencapai moksah atau setidaknya mencapai alam surga tanpa harus berusha berkarma baik jika hanya karena garis keturunannya saja sudah ditinggikan dan dibedakan Hyang Widi dari wangsa lainnya. namun hal itu tidaklah terjadi semua wangsa tinggi atau rendah juag mengalami hal kebahagiaan dan penderitaan yang sama di dunia ini ataupun sesudahnya tidak ada perbadaan sama sekali tidak ada jaminan dari Hyang Widi jikalau semua wangsa tinggi serta keturunannya akan akan selalu bahagia dan tidak pernah menderita di dunia ataupun setelahnya, semua tingkatan wangsa berkesempatan sama di dunia ataupun hadapan Hyang Widi sesuai dengan benih kerma yang ditabur,

      alasan kita belajar weda dan agama agar kita dapat mengetahui dharma dan memiliki sradha yang benar pada Hyang Widi serta dapat berbakti pada Beliau di dunia ini dan berbuat sesuai dengan dharma agar dapat mengghasilkan karma baik demi kebahagiaan di dunia inidan sesudahnya
      karena sesungguhnya tidak ada jaminan dari Hyang Widi jikalau hanya terlahir di garis keturunan wangsa tiggi saja (ida bagus/ayu) akan dapat hidup bahagia di dunia dan sesudahnya, dapat mencapai moksah atau setidaknya mencapai alam surga

      oSSo

    • 7.4
      wayan buda says:

      oSa
      @yoga…
      memang semua manusia tidak ada yang sama di dunia ini, ada yang bodoh dan pintar, kaya dan miskin, rupawan dan buruk rupa, normal dan cacat, hina dan mulia, bahagia dan menderita, bik dan jahat, tulus dan pamrih/rakus dan banyak perbedaan lainnya….

      namun apakah tingginya golongan wangsa (ida bagus/ayu) juga dapat di pakai membedakan hakikat manusia di dunia dan di hadapan Hyang Widi, apakah Hyang Widi juga membedakan wangsa tinggi (ida bagus/ayu) atau rendah (i wayan/made/nyoman/ketut) di dunia atau setelahnya nanti?
      sekali-kali Beliau tidak pernah membedakan manusia menurut tinggi rendah wangsanya, mengapa?
      karena wangsa tinggi juga bisa menderita di dunia ini ataupun selahnya sama dengan wangsa rendah ataupun non wangsa,
      dalam kelahiran garis keturunan wangsa tinggi juga bisa cacat baik itu fisik ataupun mental, buruk rupa, bisa bodoh sampai2 tidak bisa belajar weda,
      dalam hidup wangsa tinggi juga bisa miskin, kekurangn, bisa mendapat musibah, bangkrut dan sengsara, bisa sakit parah dan menderita, dan juga bisa mati tidak tenang atau penasaran
      dalam kesaharian wangsa tinggi juga bisa berbuat tidak baik, jahat, hina, bermata pencaharian tidak benar dan berbuat adharma
      dan setelah mati wangsa tinggi juga bisa mendapat tempat di alam neraka sesuai dengan karmanya selagi masih hidup karena hukum karma berlaku pada siapa saja tidak memandang wangsa tinggi atau rendah apakah itu wangsa brahmana, arya, wesya, sudra ataupun non wangsa semua menunai hasil hasil dari apa yang mereka tabur
      di dunia dan setelahnya hakekat wangsa tinggi atau rendah sama saja di hadapan Hyang Widi. sradha, sila dan bhakti serta karma dan usaha kita mendekatkan diri pada beliau yang menentukan tempat kita kelak di dunia atau sesudahnya tak peduli seberapa tinggi derajat serta berapa banyak materi dan seberapa besar upakara dan biaya yang habiskan saat masih hidup.

      dan jika memang Hyang Widi meninggikan dan membedakan wangsa tinggi (ida bagus/ayu) dengan wangsa rendah (i wayan/nengah/nyoman/ketut) di dunia atau setelahnya seharusnya semua keturuna wangsa tanpa kecuali seharusnya “berbeda” dan “lebih” dengan wangsa rendah, seharusnya keturunan wangsa tinggi tidak ada yang cacat baik itu fisik ataupun mental, selalu tampan/cantik, pintar, mulia dan bijaksana,
      dan dalam hidup seharusnya mereka semua nya bahagia entah kaya, selalu berkecukupan, tidak pernah mengalami musibah, sengsara, sakit parah dan penderitaan.
      dan bahkan jika mati seharusnya semua wangsa tinggi mencapai moksah atau setidaknya mencapai alam surga tanpa harus berusha berkarma baik jika hanya karena garis keturunannya saja sudah ditinggikan dan dibedakan Hyang Widi dari wangsa lainnya. namun hal itu tidaklah terjadi semua wangsa tinggi atau rendah juag mengalami hal kebahagiaan dan penderitaan yang sama di dunia ini ataupun sesudahnya tidak ada perbadaan sama sekali tidak ada jaminan dari Hyang Widi jikalau semua wangsa tinggi serta keturunannya akan akan selalu bahagia dan tidak pernah menderita di dunia ataupun setelahnya, semua tingkatan wangsa berkesempatan sama di dunia ataupun hadapan Hyang Widi sesuai dengan benih kerma yang ditabur,

      alasan kita belajar weda dan agama agar kita dapat mengetahui dharma dan memiliki sradha yang benar pada Hyang Widi serta dapat berbakti pada Beliau di dunia ini dan berbuat sesuai dengan dharma agar dapat mengghasilkan karma baik demi kebahagiaan di dunia inidan sesudahnya
      karena sesungguhnya tidak ada jaminan dari Hyang Widi jikalau hanya terlahir di garis keturunan wangsa tiggi saja (ida bagus/ayu) akan dapat hidup bahagia di dunia dan sesudahnya, dapat mencapai moksah atau setidaknya mencapai alam surga, suksma

      oSSo

    • 7.5
      wayan buda says:

      oSa
      @yoga…

      memang semua manusia tidak ada yang sama di dunia ini, ada yang bodoh dan pintar, kaya dan miskin, rupawan dan buruk rupa, normal dan cacat, hina dan mulia, bahagia dan menderita, bik dan jahat, tulus dan pamrih/rakus dan banyak perbedaan lainnya….

      namun apakah tingginya golongan wangsa (ida bagus/ayu) juga dapat di pakai membedakan hakikat manusia di dunia dan di hadapan Hyang Widi, apakah Hyang Widi juga membedakan wangsa tinggi (ida bagus/ayu) atau rendah (i wayan/made/nyoman/ketut) di dunia atau setelahnya nanti?
      sekali-kali Beliau tidak pernah membedakan manusia menurut tinggi rendah wangsanya, mengapa?
      karena wangsa tinggi juga bisa menderita di dunia ini ataupun selahnya sama dengan wangsa rendah ataupun non wangsa,
      dalam kelahiran garis keturunan wangsa tinggi juga bisa cacat baik itu fisik ataupun mental, buruk rupa, bisa bodoh sampai2 tidak bisa belajar weda,
      dalam hidup wangsa tinggi juga bisa miskin, kekurangn, bisa mendapat musibah, bangkrut dan sengsara, bisa sakit parah dan menderita, dan juga bisa mati tidak tenang atau penasaran
      dalam kesaharian wangsa tinggi juga bisa berbuat tidak baik, jahat, hina, bermata pencaharian tidak benar dan berbuat adharma
      dan setelah mati wangsa tinggi juga bisa mendapat tempat di alam neraka sesuai dengan karmanya selagi masih hidup karena hukum karma berlaku pada siapa saja tidak memandang wangsa tinggi atau rendah apakah itu wangsa brahmana, arya, wesya, sudra ataupun non wangsa semua menunai hasil hasil dari apa yang mereka tabur
      di dunia dan setelahnya hakekat wangsa tinggi atau rendah sama saja di hadapan Hyang Widi. sradha, sila dan bhakti serta karma dan usaha kita mendekatkan diri pada beliau yang menentukan tempat kita kelak di dunia atau sesudahnya tak peduli seberapa tinggi derajat serta berapa banyak materi dan seberapa besar upakara dan biaya yang habiskan saat masih hidup.

      dan jika memang Hyang Widi meninggikan dan membedakan wangsa tinggi (ida bagus/ayu) dengan wangsa rendah (i wayan/nengah/nyoman/ketut) di dunia atau setelahnya seharusnya semua keturuna wangsa tanpa kecuali seharusnya “berbeda” dan “lebih” dengan wangsa rendah, seharusnya keturunan wangsa tinggi tidak ada yang cacat baik itu fisik ataupun mental, selalu tampan/cantik, pintar, mulia dan bijaksana,
      dan dalam hidup seharusnya mereka semua nya bahagia entah kaya, selalu berkecukupan, tidak pernah mengalami musibah, sengsara, sakit parah dan penderitaan.
      dan bahkan jika mati seharusnya semua wangsa tinggi mencapai moksah atau setidaknya mencapai alam surga tanpa harus berusha berkarma baik jika hanya karena garis keturunannya saja sudah ditinggikan dan dibedakan Hyang Widi dari wangsa lainnya. namun hal itu tidaklah terjadi semua wangsa tinggi atau rendah juag mengalami hal kebahagiaan dan penderitaan yang sama di dunia ini ataupun sesudahnya tidak ada perbadaan sama sekali tidak ada jaminan dari Hyang Widi jikalau semua wangsa tinggi serta keturunannya akan akan selalu bahagia dan tidak pernah menderita di dunia ataupun setelahnya, semua tingkatan wangsa berkesempatan sama di dunia ataupun hadapan Hyang Widi sesuai dengan benih kerma yang ditabur,

      alasan kita belajar weda dan agama agar kita dapat mengetahui dharma dan memiliki sradha yang benar pada Hyang Widi serta dapat berbakti pada Beliau di dunia ini dan berbuat sesuai dengan dharma agar dapat mengghasilkan karma baik demi kebahagiaan di dunia inidan sesudahnya
      karena sesungguhnya tidak ada jaminan dari Hyang Widi jikalau hanya terlahir di garis keturunan wangsa tiggi saja (ida bagus/ayu) akan dapat hidup bahagia di dunia dan sesudahnya, dapat mencapai moksah atau setidaknya mencapai alam surga, suksme

      oSSo

  • 8
    ayu says:

    om swastyastu

    maaf kalo boleh tau triwangsa itu apa??

    • 8.1
      Yoga says:

      Triwangsa yang dimaksud adalah bagi mereka yang Berwangsa Brahmana(Ida Bagus/Ida Ayu), Ksatrya(Ida Dalem”Dewa Agung, Dewa, Dewa Ayu, Desak”), Ida Arya(Gusti Agung)/Arya(Gusti)….Dan wangsa yang terakhir adalah Kaula/Sudra….

  • 9
    anom says:

    apakah benar ada kasta dalam agama hindu bali?
    apakah memang benar Ida Sang Hyang Widi Wasa membeda-bedakan kan manusia di dunia ini ataupun setelahnya menurut kastanya atau garis keturunan wangsanya?
    ataukah kasta memang benar hanya buatan manusia picik untuk membeda-bedakan tingkatan dirinya beserta garis keturunannya dengan manusia lainnya namun membawa-bawa agama dan Sang Hyang Widi Wasa di dalamnya?

  • 10
    wayan buda says:

    oSa
    @yoga…
    memang semua manusia tidak ada yang sama di dunia ini, ada yang bodoh dan pintar, kaya dan miskin, rupawan dan buruk rupa, normal dan cacat, hina dan mulia, bahagia dan menderita, baik dan jahat, tulus dan pamrih/rakus dan banyak perbedaan lainnya….

    namun apakah tingginya golongan wangsa (ida bagus/ayu) juga dapat di pakai membedakan hakikat manusia di dunia dan di hadapan Hyang Widi, apakah Hyang Widi juga membedakan wangsa tinggi (ida bagus/ayu) atau rendah (i wayan/made/nyoman/ketut) di dunia atau setelahnya nanti?
    sekali-kali Beliau tidak pernah membedakan manusia menurut tinggi rendah wangsanya, mengapa?
    karena wangsa tinggi juga bisa menderita di dunia ini ataupun selahnya sama dengan wangsa rendah ataupun non wangsa,
    karena dalam kelahiran garis keturunan wangsa tinggi juga bisa cacat baik itu fisik ataupun mental, buruk rupa, bisa bodoh sampai2 tidak bisa belajar weda,
    dalam hidup wangsa tinggi dan garis keturunannya juga bisa miskin, kekurangn, bisa mendapat musibah, bangkrut dan sengsara, bisa sakit parah dan menderita, dan juga bisa mati tidak tenang atau penasaran
    dalam kesaharian wangsa tinggi dan garis keturunannya juga bisa berbuat tidak baik, jahat, hina, bermata pencaharian tidak benar dan berbuat adharma
    dan setelah mati wangsa tinggi dan garis keturunannya juga bisa mendapat tempat di alam neraka sesuai dengan karmanya selagi masih hidup karena hukum karma berlaku pada siapa saja tidak memandang wangsa tinggi atau rendah apakah itu wangsa brahmana, arya, wesya, sudra ataupun non wangsa semua menunai hasil hasil dari apa yang mereka tabur
    di dunia dan setelahnya hakekat wangsa tinggi atau rendah sama saja di hadapan Hyang Widi. sradha, sila dan bhakti serta karma dan usaha kita mendekatkan diri pada beliau yang menentukan tempat kita kelak di dunia atau sesudahnya tak peduli seberapa tinggi derajat serta berapa banyak materi dan seberapa besar upakara dan biaya yang habiskan saat masih hidup.

    dan jika memang Hyang Widi meninggikan dan membedakan wangsa tinggi (ida bagus/ayu) dengan wangsa rendah (i wayan/nengah/nyoman/ketut) di dunia atau setelahnya seharusnya semua keturuna wangsa tinggi tanpa kecuali seharusnya “berbeda” dan “lebih” dengan wangsa rendah, seharusnya keturunan wangsa tinggi tidak ada yang cacat baik itu fisik ataupun mental, selalu tampan/cantik, pintar, mulia dan bijaksana,
    dan dalam hidup seharusnya mereka semua nya bahagia entah kaya, selalu berkecukupan, tidak pernah mengalami musibah, sengsara, sakit parah dan penderitaan.
    dan bahkan jika mati seharusnya semua wangsa tinggi mencapai moksah atau setidaknya mencapai alam surga tanpa harus berusha berkarma baik jika hanya karena garis keturunannya saja sudah ditinggikan dan dibedakan Hyang Widi dari wangsa lainnya. namun hal itu tidaklah terjadi semua wangsa tinggi atau rendah juag mengalami hal kebahagiaan dan penderitaan yang sama di dunia ini ataupun sesudahnya tidak ada perbadaan sama sekali tidak ada jaminan dari Hyang Widi jikalau semua wangsa tinggi serta keturunannya akan akan selalu bahagia dan tidak pernah menderita di dunia ataupun setelahnya, semua tingkatan wangsa berkesempatan sama di dunia ataupun hadapan Hyang Widi sesuai dengan benih kerma yang ditabur,

    alasan kita belajar weda dan agama agar kita dapat mengetahui dharma dan memiliki sradha yang benar pada Hyang Widi serta dapat berbakti pada Beliau di dunia ini dan berbuat sesuai dengan dharma agar dapat mengghasilkan karma baik demi kebahagiaan di dunia inidan sesudahnya
    karena sesungguhnya tidak ada jaminan dari Hyang Widi jikalau hanya terlahir di garis keturunan wangsa tiggi saja (ida bagus/ayu) akan dapat hidup bahagia di dunia dan sesudahnya, dapat mencapai moksah atau setidaknya mencapai alam surga.

    mohon maaf jika ada kesalahan dalam tulisan saya dan mohon pencerahannya saudara yoga.

    oSSo

  • 11

    [...] Perbedaan Wangsa Menurut Hindu This entry was posted in Tak Berkategori and tagged doa bangun pagi, doa hindu, doa makan, doa mandi, Doa memohon ketenangan rumah tangga, Doa memotong hewan, Doa mendengar atau melayat orang meninggal dunia, doa menggosok gigi, Doa mengheningkan cipta, Doa mengunjungi orang sakit, doa menjelang tidur, Doa mohon ampun dalam segala dosa, Doa mohon dianugrahi kecerdasan dan kesucian, Doa mohon perlindungan, Doa mulai belajar, Doa paramasanti, Doa pembukaan rapat/pertemuan, Doa penutup rapat/pertemuan, Doa sebelum memulai suatu pekerjaan, Doa sehari-hari, Doa untuk kebajikan, Doa untuk kelahiran bayi, Doa untuk keselamatan penganten, Doa untuk memohon cinta kasih-Nya, Doa untuk memohon panjang umur, Doa untuk pedagang, Doa untuk pelantikan pejabat negara, juga baik diucapkan ketika sakit, juga dipakai sebelum meditasi, kramaning sembah, mantram trisandhya, mari sembahyang, puja trysandhya, urutan persembahyangan hindu. Bookmark the permalink. ← MAKNA MENGANGKAT ANAK MENURUT AJARAN AGAMA HINDU SukaBe the first to like this post. [...]

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting