Pokok-Pokok Pemahaman Surya Sewana

Surya Sewana adalah rangkaian tata cara proses pemujaan Ida Sanghyang Widhi Wasa yang setiap hari (sebelum jam 12 siang) dilakukan oleh para Sulinggih penganut paham Siwa-Budha. Kegiatan “nyurya sewana” terdiri dari dua kelompok utama, yaitu “ngarga tirta” (membuat tirta) dan pemujaan.

POKOK-POKOK PEMAHAMAN NGARGA TIRTA

1. Ngarga tirta merupakan kegiatan awal setiap pemujaan.

2. Tirta adalah air suci yang mengandung tuah atau kekuatan yang berasal dari roh Yang Maha Esa, atau roh-roh suci para Dewata dan Bethara yang dipuja. Tuah itu memberikan kepada manusia rasa: bersih, terlindung, dan bahagia.

3. Keyakinan Roh menurut Weda:

  • Roh itu ada dan kedudukannya bertingkat-tingkat, berfungsi menunjang kelestarian alam semesta.
  • Roh itu kekal tidak berubah, dan kekal pula kehadirannya.
  • Dengan cara-cara khusus roh dapat dihubungi oleh manusia melalui komunikasi rasa, dan pikiran.
  • Roh itu tunggal namun secara sektoral dapat dibagi menjadi lima kelompok, yaitu: bhuta, pitri, manusa, rsi, dan dewa.
  • Bahwa manusia berkewajiban berbakti kepada roh, serta berusaha meningkatkan status kedudukan roh; kewajiban ini akan dapat dilakukan oleh manusia suci.

POKOK-POKOK PEMAHAMAN PEMUJAAN

1. Kewajiban Sulinggih adalah menghaturkan amerta kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa dan/ atau manifestasi-manifestasi-Nya yang berwujud roh. Amerta adalah enersi hidup yang paling suci.

2. Amerta ini berasal dari bahan-bahan dasar: kurma (api), naga (air), sari makanan/ minuman, harum-haruman/ sedap-sedapan, dan segala sesuatu yang dapat menghidupi semua yang berjiwa.

Melalui persyaratan, prinsip-prinsip, dan tata tertib tertentu amerta itu dapat dimohon dan diperoleh dalam bentuk abstrak lalu dipersembahkan pula dalam bentuk abstrak.

3. Proses memperoleh dan mempersembahkan amerta ini didasari oleh ketulusan dan kesucian Sulinggih.

Makin tulus dan suci, makin tinggi nilai amerta itu, sehingga Sulinggih dapat berhadapan dengan Ida Sanghyang Widhi dan/ atau manifestasi-manifestasi-Nya ketika mempersembahkan amerta.

4. Proses mewujudkan amerta memerlukan ketekunan (konsentrasi) dan keterampilan mengucapkan puja mantra tertentu serta gerak-gerak “mudra” yang tepat agar dapat memasuki alam Dewata.

TATA LAKSANA BAGI PEMANGKU

Ada perbedaan tata laksana bagi Pemangku (Ekajati) dan Pandita (Dwijati). Bagi Pemangku, kewajiban setiap pagi hari diuraikan dalam “Pepalihan untuk Pemangku (Ekajati)”, sedangkan bagi Pandita diuraikan dalam “Pepalihan Arga Patra”.

Penggunaan pepalihan pemangku tidak hanya untuk kegiatan rutin setiap pagi hari, tetapi juga untuk langkah awal setiap pemujaan atau nganteb banten lainnya.

SUMBER: C. HOOYKAAS, SURYA SEVANA, THE WAY TO GOD OF A BALINESE SIVA PRIEST, VH. KNAWL, NIEUWE REEKS, DEEL LXXII, NO. 3, AMSTERDAM, 1966.

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>