QUESTION:
1. Berdasarkan besar kecilnya upacara, ngaben dibedakan menjadi 5 tingkat yang diuraikan dalam Lontar Sundarigama. Lima tingkatan ngaben itu disebut Panca Wikrama (Panca Atma):
- Sawa preteka
- Sawa Wedana
- Pranawa
- Swasta
- Mitra Yadnya
Sebagaimana kita ketahui bersama fungsi ngaben adalah melepaskan Sang Atma dari ikatan Panca Mahabuta. Pertanyaannya: apakah prosesing pelepasan Sang Atma dari ikatan Panca Mahabuta tergantung tingkatan upacara ngaben di atas atau tergantung dari subha asubha karma yang dibuatkan upacara. Mohon penjelasan.
2. Orang mati salah pati menurut desa satu dengan yang lain di Bali masing-masing pelaksanaan upacara ngaben tidak sama (Desa kalapatra). Ada yang menyatakan baru bisa di-aben setelah satu tahun, dan ada pula yang melaksanakan setelah 42 hari (abulan pitung dina).
Pertanyaannya: apakah ada sastra weda/ lontar yang khusus mengatur tentang hal ini; kalau ada mohon segera dimasyarakatkan/ disosialisasikan sehingga pelaksanaannya di lapangan menjadi seragam.
3. Yan ada anak alit runtuh ngeraris ipun boncol sane sampun sampun sang Ibu ngeraris nganggen rambutnyane ngurut-urut boncolne ngantos waas, awinan kocap rambute punike pinaka Bethara Brahma.
Pitaken titiange mangkin indik anake punyah antuk oong, dados ketambanin antuk nunas wangsuhan sirah bonglak. Pitaken titiang, napi wenten kecap sastra antuk indike punika.
ANSWER:
1. Ngaben secara lengkap sampai Nyekah dan Mepaingkup, yang manapun bentuknya (lima jenis tersebut di atas), bertujuan untuk mensucikan roh sang lina, yaitu suatu upaya untuk melepaskan Sang Atma dari ikatan jasmani yang terdiri dari Panca Mahabutha dan ikatan Suksma sarira yang terdiri dari Citta, Triguna, Dasendriya, dan Panca Tanmatra.
Dengan lepasnya Sang Atma dari ikatan-ikatan tersebut maka Sang Atma hanya berbadan Antahkarana sarira yaitu karma wasana (bekas perbuatan) yang masih terus melekat; inilah yang menjadi pertimbangan Ida Sanghyang Widhi menentukan nasib Sang Atma.
Jika karma wasana banyak mengandung hal-hal keduniawian, maka Atma akan ditarik ke dunia; sebaliknya bila karma wasana banyak mengandung hal-hal surgawi maka Atma akan menyatu dengan Brahman.
Ada satu petikan Bhagawadgita yang sangat indah untuk diingat agar karma wasana kita nanti tidak terlalu banyak ke hal-hal duniawi:
INDRIYANI PARANY AHUR, INDRIYEBHYAH PARAM MANAH, MANASAS TU PARA BUDDHIR, YO BUDDHEH PARATAS TU SAH.
Terjemahannya: Indriyamanah, lebih besar dari manah adalah buddhi, lebih besar dari buddhi adalah Atma. katanya besar, tetapi lebih besar adalah
2. Jawabannya sama dengan jawaban atas pertanyaan dari Gede Swasta, Banjar Tegal, Singaraja, dengan tambahan penjelasan: Walaupun sudah ada hasil Paruman Sulinggih di Campuhan, Ubud, bahkan sudah dikuatkan dengan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu, namun sifatnya tidak mengikat, sehingga sampai sekarang pun masih ada Sulinggih Dwijati yang berpedoman pada Lontar Yama Purwa Tattwa Atma.
Inilah hambatan untuk keseragaman, karena masing-masing Sulinggih Dwijati mempunyai keyakinan sendiri-sendiri. Akhirnya akan banyak tergantung dari Sang Yajamana dalam memilih Pandita yang moderat dalam arti luwes mengikuti hasil-hasil keputusan Paruman Sulinggih dan Keputusan-Keputusan Seminar ataupun Keputusan-Keputusan PHDI.
3. Sastra yang menyatakan hal itu belum ditemukan.

om swastiastu,
Titiang metaken, ring dije titiang ngerereh..buku sane medaging indik tingkatan ngaben, saking tingkat utama nyantos nista lan suksman indik bebantenyane.
Om satih santih santih om
Ring toko buku wenten akeh.
Om Suastiastu, Ia Pandita.
Sehubungan dengan masalah atma, nenek saya sering menyebutkan dalam sesontengannya : cai sing nyuun benang, cai nyuun atma jiwan caine satak solas satus akutus. Pertanyaannya, berapa banyakkah atma yang ada pada seseoang.
Pertanyaan lain: Kadang kadang disebutkan bahwa atma tidak berjenis kelamin. Tetapi pada pada waktu ngelinggihang di sanggah kemulan /mapaingkup, masalah laki atau perempuan menjadi penting.bagaimana pendapat Ida Pandita. Suksma.
@w.nila: “Satak solas satus akutus” dimana satak solas = 211 = jumlah Dewa “Div” dalam upanisad; satus akutus = 108 = jumlah upanisad utama yang diakui, angka sakral 1 + 0 + 8 = 9 = dewata nawa sanggha; Jadi maksud/arti sesontengan itu, bukannya “nyuwun” atma yang jumlahnya 211 atau 108 tetapi nasihat, ingatlah berpegang pada upanisad sebagai penjelasan Weda – kitab suci, dan berbhaktilah kepada-Nya dalam berbagai utaprota-Nya sebagai Div-Dewa. Benang Bali berwarna putih adalah simbol Siwa = Tuhan = Brahman = Atman. Dalam pengertian ini Parama Siwa – Nirguna Brahman menjadi Sada Siwa, dan memasuki mahluk hidup menjadi Siwa. Sada Siwa dan Siwa adalah Saguna Brahman. Atman dalam tubuh manusia terdiri dari Ahamkara, Manas, dan Budhi. Yang pegang peranan adalah Budhi. Bila Budhi mengandung unsur-unsur Daiwi Sampad, maka jadilah manusia itu orang yang baik. Jadi filosofi menaruh benang Bali putih diatas kepala itu sungguh sangat dalam artinya.
Atma memang tidak berjenis kelamin, tetapi mengadakan simbol purusha dan pradana (lelaki – perempuan) adalah simbul ardenareswari – rwa bhineda – pertiwi – akasa – lingga – yoni, alias asta aiswarya Ida Sanghyang Widhi Wasa. Mengapa dalam mepaingkup dilakukan itu ? karena kita mendoakan agar Atma (Roh) yang diupacarai bisa aworing acintya (manunggalnya Atman dengan Brahman)
Om swaastiastu
Sebagai umat hindu kita kadang terjebak dalam beberapa lontar yang saling tumpang tindih, adanya perbedaan dan kenapa kita terlalu percaya, ampura niki, saya kadang tidak percaya dengan ngaben itu sanggup membawa roh kita ke sorga apalagi moksa. Karena pada akhirnya di kembalikan lagi pada keterikatan kita pada sifat keduniawian. Intinya ajaran hindu adalah melepaskan segala ikatan tersebut semasa menjadi manusia di bumi, sehingga kita menemukan paramaatma dalam diri kita sebagai guru yang akan menuntun kita mencapai moksa. Apakah ngaben bisa menjamin kita ke sorga? Masyarakat terlalu takut akan tulah atau dikutuk oleh leluhur apabila tidak mengikuti tatanan upacara tertentu.
Naamun semuanya kembaali pada keyakinan masing-masing, keanekaragaman membawa hindu begitu universal, karena apapun jalan kita akhirnya akan berakhir pada brahman. suksma
@yudana: Tidak ada acuan tertulis dalam lontar bahwa pitrayadnya dapat menjamin roh masuk sorga atau neraka. Mungkin ini pengembangan dari persepsi salah yang bersumber dari gugon tuwon. Lontar-lontar pitrayadnya a.l. Yamapurana tattwa, menyebutkan bahwa tujuan pitrayadnya (ngaben, nyekah, mepaingkup/menilapati) adalah : ngaben : melapaskan ikatan roh dari panca mahabhuta; nyekah : melepaskan ikatan roh dari panca tanmatra, dan mepaingkup adalah menstanakan roh suci (sudah ngaben dan nyekah) disanggah pamerajan untuk disembah oleh keturunannya. Dengan terlepasnya panca mahabhuta dan panca tan matra, roh menghadap Bhatara Yamadipati untuk mendapat pengadilan/keputusan apakah roh dapat aworing acintya (bersatu dengan Brahman – moksah) ataukah harus punarbhawa (menjelma kembali) berdasarkan catatan (track record) subha – asubha karma ketika masih hidup. Record ini dicatat oleh Sang Suratman yang berada pada diri manusia. Jadi record tidak bisa dimanipulir/direkayasa, demikian pula Bhatara Yama adalah hakim yang tak dapat disuap. Kesimpulannya : mari kita belajar Hindu – Bali dengan baik dan teliti, sebelum mengambil kesimpulan.
Ida Begawan Tiang Mapitaken indik Kronologis upacara Pengabenan inggih punika :
1. napi bedanya melepaskan roch dari panca maha buta lan panca tan matra.
2. Tiang bingung habis membakar sawa, ngereka, nganyut kesungai, terus ngerumpit nunjel donbingin/ ngajum tur nganyut ke segara.
3. baru ngelinggihan.
4. Mohon penjelasannya semua tiang masih bingung.
Suksma
Om Swastyastu,
1. Ngaben = ngabuin = membakar; adalah proses melepaskan ikatan roh dari badan/tubuh. Badan manusia ini disebut djuga Panca Mahabhuta ring Bhuwana Alit. Selain itu ada Panca Mahabhuta ring Bhuwana Agung, yakni alam semesta terdiri dari unsur-unsur : pertiwi (tanah), apah (air), bayu (angin), teja (matahari) dan akasa (angkasa). Dalam liontar Bhuwana Kosa disebutkan bahwa Sanghyang Widhi (Siwa) menciptakan tubuh manusia dari unsur-unsur panca mahabhuta di alam semesta : dari pertiwi – tulang dan daging; dari apah – kencing, darah, air kelenjar; dari bayu – peparu, rongga perut; dari teja – suhu badan, sinar mata; dari akasa : rambut, kuku, urat syaraf, dan 9 lobang dalam tubuh manusia.
2. Agar roh dapat kembali ke nirwana, maka ikatan badan/tubuh/stula sarira yang sudah tak berguna ini agar dilepaskan atau dikembalikan ke alam semesta dengan upacara pembakaran mayat/ngaben
3. Selain panca mahabhuta, roh masih terikat juga dengan panca tan matra, yaitu pengaruh-pengaruh panca indria ketika manusia masih hidup misalnya kenangan pada nikmat pendengaran, penciuman, pandangan mata, rasa lidah, rasa kulit dan kelamin. Agar roh bisa pulang dengan tenang ke alam nirwana, maka kenangan-kenangan itu harus dihapuskan dengan upacara nyekah.
4. Tinggallah ikatan roh yang terakhir yakni karmawasana, yang tidak bisa dilepaskan. Karmawasana itu ada yang baik/positif/dharma, dan ada yang tidak baik/negatif/adharma. Keadaan inilah yang dilihat oleh Bhatara Yamadipati untuk menentukan apakah roh itu memenuhi syarat untuk bersatu dengan Tuhan (aworing acintya – mopksah) ataukan tidak. Bila tidak, roh harus menjalani proses re-inkarnasi (punarbhawa) kembali ke alam dunia lahir sebagai mahluk. Proses ini dinamakan sengsara (samsara)
5. Roh yang sudah suci : terlepas dari ikatan panca mahabhuta dan panca tan matra, distanakan di sanggah pamerajan untuk menerima penghormatan, sembah dari preti sentana/keturunan beliau. Proses ini dinamakan ngelinggihang atau ngerajeg linggih atau mepaingkup.
Om Santih, santih, santih, Om
” om swastyastu ,tiang pacang metaken indik pengertian atma prasangsa punike
” om santi,santi,santi om “
Om Swastyastu,
Atma Prasangsa adalah tutur tentang hakekat hidup manusia dimana disebutkan bahwa asal mula dari Nirguna-Brahman, kemudian karena pengaruh Maya menjadi Saguna-Brahman yang terdiri dari dua unsur yakni : Purusha dan Prakerti. Purusha adalah unsur-unsur kejiwaan, dan Prakerti adalah unsur-unsur kebendaan. Purusha kemudian menjadi roh/atman dan prakerti mengambil panca mahabhuta menjadi tubuh manusia. Jadi “manusia” adalah kumpulan dari purusha dan prakerti. Purusha (Roh) terdiri pula dari tiga unsur : Ahamkara,Manas, dan Buddhi. Ketiga ini disebut Triantahkarana. Panca Indria beserta kelengkapannya yang disebut Dasaindrya berhubungan dengan Ahamkara, selanjutnya naik ke Manas untuk mendapat petimbangan, kemudian diputuskan oleh Buddhi. Keputusan Buddhi disampaikan kepada Ahamkara, selanjutnya diteruskan kepada Dasaindrya untuk melakukan tindakan nyata sesuai keputusan Buddhi. Dalam lontar Atma Prasangsa ditekankan bahwa baik buruknya prilaku manusia tergantung sepenunhnya pada Buddhi, apakah dia mempunyai dominansi Daiwi sampad (sifat-sifat mulia seperti Dewa) ataukan Asuri sampad (sifat-sifat keraksasaan). Agar manusia mencapai mokshartam jagaditaya ca iti dharmah, maka manusia harus memupuk buddhi yang luhur dengan cara mempelajari dan melaksanakan Agama (berpegang pada ajaran Weda), Igama (keyakinan yang kokoh), dan Ugama (bhakti yang tulus melakukan yajnya) dengan sebaik-baiknya.
Om Santih, santih, santih, Om