Pura dan Sanggah Pamrajan

1. PENDAHULUAN

Suatu ciri utama kehidupan dalam ber-Agama Hindu adalah percaya dan bakti kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa. Kekuasaan-Nya tidak terbatas sedangkan kemampuan manusia sangat terbatas.

Manusia dalam ketidaksempurnaannya selalu ingin mendekatkan diri kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa agar memperoleh perlindungan dan petunjuk dalam menempuh kehidupan. Mereka yang memahami pengertian ini menjadi manusia yang mulia karena senantiasa mengutamakan ke-Tuhanan dalam tatanan kehidupannya.

Dalam Bhagwadgita dijelaskan bahwa Tuhan menciptakan manusia berdasarkan yadnya dan sebagai sumber kehidupan manusia Tuhan menciptakan alam. Oleh karena itu selalu diupayakan menjaga keharmonisan antara: Tuhan – Manusia – Alam melalui yadnya.

Manusia yang ingin mendekatkan diri kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan jalan yadnya memerlukan sarana antara lain Pura dan Sanggah Pamrajan.

2. PENGERTIAN PURA DAN SANGGAH PAMRAJAN

Pura berasal dari Bahasa Sanskerta, yaitu “Phur”, artinya tempat suci, istana, kota. Lebih khusus berarti tempat persembahyangan untuk umum atau kelompok sosial tertentu yang lebih luas sifatnya dari Sanggah Pamerajan.

Sanggah berasal dari Bahasa Kawi: “Sanggar”, berarti tempat untuk melakukan kegiatan (pemujaan suci); dan Pamrajan berasal dari Bahasa Kawi: “Praja”, yang berarti keturunan atau keluarga. Dengan demikian Sanggah Pamrajan dapat diartikan sebagai tempat pemujaan dari suatu kelompok keturunan atau keluarga.

Dalam Lontar Siwagama disebutkan bahwa Palinggih utama yang ada di Sanggah Pamrajan adalah Kamulan sebagai tempat pemujaan arwah leluhur. Untuk menguatkan kedudukan Kamulan, dibangun Palinggih-Palinggih lain sebagai berikut:

  1. Taksu: palinggih Dewi Saraswati, sakti (kekuatan) Dewa Brahma dengan Bhiseka Hyang Taksu yang memberikan daya majik agar semua pekerjaan berhasil baik.
  2. Pangrurah: palinggih Bhatara Kala, putra Bhatara Siwa dengan Bhiseka Ratu Ngurah yang bertugas sebagai pecalang atau penjaga Sanggah Pamrajan.
  3. Sri Sdana atau Rambut Sdana: palinggih Dewi Sri dengan Bhiseka Sri Sdana atau Limascatu, yaitu sakti (kekuatan) dari Dewa Wisnu sebagai pemberi kemakmuran kepada manusia.
  4. Padma: palinggih Ida Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud sebagai Siwa Raditya.
  5. Manjangan Salwang: palinggih Dewa Rsi Mpu Kuturan dengan Bhiseka Limaspahit, penyebar dan penyempurna Agama Hindu di Bali, abad ke-10 M
  6. Gedong Maprucut: palinggih Danghyang Nirarta dengan Bhiseka Limascari, penyebar dan penyempurna Agama Hindu di Bali, abad ke-15 M.
  7. Gedong Limas atau Meru tumpang satu, tiga, lima: palinggih Bhatara Kawitan, yaitu leluhur utama dari keluarga.
  8. Bebaturan: palinggih Bhatara Ananthaboga dengan Bhiseka Saptapetala, yaitu sakti Sanghyang Pertiwi, kekuatan Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam menguasai bumi.
  9. Bebaturan: palinggih Bhatara Baruna dengan Bhiseka Lebuh, yaitu sakti Bhatara Wisnu, kekuatan Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam menguasai lautan.
  10. Bebaturan: palinggih Bhatara Indra dengan Bhiseka Luhuring Akasa, yaitu sakti Bhatara Brahma, kekuatan Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam menguasai angkasa.
  11. Gedong Limas: palinggih Bhatara Raja Dewata dengan Bhiseka Dewa Hyang atau Hyang Kompiang, yaitu stana para leluhur di bawah Bethara Kawitan yang sudah suci.
  12. Pengapit Lawang (dua buah di kiri-kanan Pamedal Agung): palinggih Bhatara Kala dengan Bhiseka Jaga-Jaga, yaitu putra Bhatara Siwa yang bertugas sebagai pecalang.
  13. Balai Pengaruman: palinggih Bhatara-Bhatari semua ketika dihaturi Piodalan atau ayaban jangkep (harum-haruman). Sering juga disebut sebagai Balai Piasan (Pahyasan) karena ketika dilinggihkan di sini, Pralingga-pralingga sudah dihias.

Catatan:

  • Di beberapa Sanggah Pamrajan sering dijumpai beberapa Gedong Limas kecil-kecil yang merupakan palinggih tambahan. Menurut sejarah para leluhur terdahulu yang kebanyakan didirikan untuk menyatakan terima kasih dan bhakti, misalnya ketika sakit memohon penyembuhan dari Ida Bhatara di Pulaki; setelah sembuh lalu mendirikan pengayatan Beliau di Sanggah Pamrajan, demikian selanjutnya berkembang dengan berbagai kejadian, sampai akhirnya ada yang mencapai jumlah puluhan palinggih.
  • Palinggih pokok yang ada di Sanggah Pamrajan antara 9 buah atau 11 buah seperti yang disebutkan di atas. Jumlah, jenis, dan letak palinggih-palinggih di masing-masing Sanggah Pamrajan tidak pernah sama karena masing-masing menuruti sejarah leluhurnya.
  • Pengelompokan Sanggah Pamrajan berbeda-beda; ada yang memecah menjadi tiga kelompok, yaitu: Kawitan, Sanggah Pamrajan, dan Dewa Hyang dengan batas tembok panjengker, bahkan dengan hari Piodalan dan Pamangku yang berbeda-beda.

3. TATA CARA MEMASUKI PURA DAN SANGGAH PAMRAJAN

Pura dan Sanggah Pamrajan adalah tempat suci oleh karena itu maka sebelum masuk hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Bersih lahir bathin; lahir: sudah mandi, pakaian bersih dengan tata cara pakaian yang wajar untuk bersembahyang; bathin: pikiran yang hening, tenang, tentram dan siap memusatkan pikiran untuk berbakti kepada Yang Maha Kuasa.
  2. Tidak dalam keadaan cuntaka, kecuali kematian dan perkawinan, boleh masuk ke Sanggah Pamrajan keluarga sendiri.
  3. Bayi yang belum diupacarai tiga bulanan tidak boleh masuk karena masih “leteh”.
  4. Wanita yang rambutnya diurai (“megambahan”) tidak boleh masuk karena rambut yang diurai menyiratkan: keasmaraan (birahi), marah, sedih, dan mempelajari ilmu hitam.
  5. Ibu yang sedang menyusui bayi boleh masuk dengan syarat tidak boleh menyusui bayi di dalam (jeroan) karena air susu Ibu yang menetes akan “ngeletehin” Pura dan Sanggah Pamrajan, di samping itu dipandang tidak sopan mengeluarkan buah dada.
  6. Mereka yang sedang sakit, baik sakit badan maupun sakit ingatan, atau yang terluka tidak boleh masuk karena dapat ngeletehin.
  7. Tidak dalam keadaan mabuk atau “fly”

Pintu/ Pemedal dibuat sempit, cukup untuk satu atau dua orang berbarengan, maksudnya agar masuk ke dalam Pura dan Sanggah Pamrajan secara tertib tidak terburu-buru. Setelah berada di dalam Pura dan Sanggah Pamrajan tata tertib yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Tidak melakukan perbuatan yang dapat mengganggu ketentraman bersembahyang.
  2. Tidak makan/ minum berlebih-lebihan
  3. Tidak membuang kotoran
  4. Tidak bertengkar/ berkelahi
  5. Tidak berbicara keras/ memaki, memfitnah atau membicarakan keburukan orang lain.
  6. Tidak bersedih, menangis/ meratap.

4. FUNGSI PURA DAN SANGGAH PAMRAJAN

Selain sebagai tempat suci untuk bersembahyang, fungsi Pura dan Sanggah Pamrajan berkembang menjadi beberapa fungsi ikutan, yaitu:

  1. Pemelihara persatuan; di saat Odalan, semua warga dan sanak keluarga berkumpul saling melepas rindu karena bertempat tinggal jauh dan jarang bertemu namun merasa dekat di hati karena masih dalam satu garis keturunan.
  2. Pemelihara dan pembina kebudayaan; di saat Odalan dipentaskan tari-tarian sakral, kidung-kidung pemujaan Dewa, tabuh gambelan, wayang, dll.
  3. Pendorong pengembangan pendidikan di bidang agama, adat, dan etika/susila; ketika mempersiapkan Upacara Odalan, ada kegiatan gotong royong membuat tetaring, menghias palinggih, majejahitan, mebat, dll.
  4. Pengembangan kemampuan berorganisasi; membentuk panitia pemugaran, panitia piodalan, dll.
  5. Pendorong kegiatan sosial; dengan mengumpulkan dana punia untuk tujuan sosial baik bagi membantu anggota keluarga sendiri, maupun orang lain.

5. ODALAN

Odalan berasal dari kata “Wedal” atau lahir; hari Odalan = hari wedal = hari lahir = hari di-stanakannya Ida Bethara di Pura dan Sanggah Pamrajan. Yang menjadi patokan adalah hari upacara Ngenteg Linggih yang pertama kali.

Istilah lain yang digunakan untuk hari Odalan adalah hari: Petirtaan (karena di saat itu kepada Ida Bethara disiratkan tirta pebersihan dan dimohonkan tirta wangsuhpada), Petoyaan (sama dengan Petirtaan), Pujawali (karena di saat itu diadakan pemujaan “wali” = kembali di hari kelahiran = wedal).

Hari-hari menurut pawukon yang digunakan sebagai hari odalan (enam bulan sekali) adalah:

  1. Buda Kliwon: Sinta, Gumbreg, Dungulan, Pahang, Matal, Ugu
  2. Tumpek: Landep, Wariga, Kuningan, Krulut, Uye, Wayang.
  3. Buda Wage: Ukir, Warigadean, Langkir, Merakih, Menail, Klawu
  4. Anggarakasih: Kulantir, Julungwangi, Medangsia, Tambir, Prangbakat, Dukut.
  5. Saniscara Umanis: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung.

Susunan upacara Ngaturang Piodalan adalah sbb.:

  1. Mapiuning di Sanggah Pamrajan bahwa akan ngaturang Piodalan
  2. Macaru, bersamaan dengan Newasain/ Nanceb tetaring
  3. Nuwur tirta ke Pura-Pura lain menurut tradisi
  4. Nedunang pratima-pratima Ida Bethara
  5. Mamendak Ida Bethara
  6. Makalahias
  7. Ngewangsuh dan masucian
  8. Ngadegang Ida Bethara
  9. Ngaturang Piodalan, pemuspaan
  10. Nyineb Ida Bethara
  11. Masidakarya
  12. Makebat don

6. MLASPAS

Mlaspas asal kata dari “paspas” artinya membersihkan atau membuang yang tidak perlu; di sini dimaksudkan bahwa bahan-bahan yang digunakan sebagai palinggih: batu, pasir, semen, besi, kayu sudah ditingkatkan statusnya, tidak lagi bernama demikian, tetapi sudah menjadi satu kesatuan dengan nama palinggih.

Sebelum upacara mlaspas, untuk bangunan baru, diadakan upacara:

  1. Memangguh: asal kata: “pangguh” = menemukan tanah baru yang sesuai.
  2. Memirak: asal kata: “pirak” = nebus-menebus di niskala kepada Sedahan Karang/ Carik pemilik tanah pekarangan semula.
  3. Nyikut karang: mengukur panjang/ lebar karang yang akan digunakan sebagai lokasi pelinggih dengan berpedoman pada asta bumi dan asta kosala-kosali.
  4. Macaru asal kata dari “car” = harmonis, yaitu menciptakan keharmonisan antara Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit sesuai dengan konsep Tri-Hita-Karana (tiga penyebab kesempurnaan)
  5. Ngararuwak asal kata “wak” = membuka, yaitu membongkar tanah untuk pondasi
  6. Mendem dasar dengan batu tiga warna (merah merajah “Ang”=Brahma, hitam merajah “Ung”= Wisnu, putih merajah “Mang”=Siwa)
  7. Mamakuh asal kata “bakuh” = kuat; mengokohkan pondamen, bangunan lanjutan, sendi-sendi, paku-paku, atap dll.
  8. Ngurip asal kata “urip” = hidup; menghidupkan bangunan dengan mohon restu Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam wujudnya sebagai Brahma (tetoreh warna merah – di atas), Siwa (tetoreh warna putih – di tengah), dan Wisnu (tetoreh warna hitam – di bawah).
  9. Mendem pedagingan; asal kata “daging” = isi = jiwa bagi palinggih, yaitu Pancadatu, bersamaan dengan memasang Orti, asal kata orta = berita, mengandung simbol agar karya di Sanggah Pamrajan menjadi berita seketurunan, dan memasang Palakerti, asal kata Pala = pahala, Kerti = perbuatan, mengandung simbol buah perbuatan yang patut menjadi contoh bagi keturunan berikutnya. Selanjutnya memasang Bagia, asal kata bagia = landuh = makmur, mengandung simbol mohon kemakmuran kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Pada waktu mendem pedagingan semua keluarga agar menyiapkan takir berisi: kalpika, bija, jinah sesari dengan maksud agar dikaruniai umur panjang (kalpika), kemakmuran (bija) dan hasil kerja yang baik (sesari).
  10. Memasang ulap-ulap; asal kata ulap = panggil. Simbol ulap-ulap maksudnya memohon kehadiran Ida Bethara agar berstana di palinggih yang sudah disiapkan.

Setelah itu barulah dilaksanakan upacara melaspas, dan seterusnya Ngenteg Linggih.

7. TATA CARA DAN UPACARA MEMUGAR PURA DAN SANGGAH PAMERAJAN

1. Tahap Pertama (membongkar bangunan lama dan meletakkan batu pertama):

  1. Mareresik
  2. Mapiuning
  3. Macaru Pancasata
  4. Ngadegang Ida Bethara di Daksina linggih
  5. Maguru Piduka
  6. Mlaspas dan masupati batu papendeman
  7. Masupati trisarana (takir berisi: kalpika, beras, jinah)
  8. Ngingsirang Daksina linggih ketempat darurat (asagan)
  9. Mralina palinggih-palinggih lama yang akan dibongkar
  10. Ngereruak pondamen palinggih-palinggih lama
  11. Mendem batu papendeman, takir caru, dan takir trisarana
  12. Persembahyangan
  13. Dharma Wacana tentang: 1] Pura dan Sanggah Pamerajan. 2] Baberatan preti sentana.

2. Tahap Kedua (mlaspas):

  1. Mareresik
  2. Mapiuning
  3. Macaru Resi Gana
  4. Mlaspas dan masupati pedagingan, bagia/ orti/ palakerti, ulap-ulap
  5. Memakuh palinggih-palinggih
  6. Maurip-urip palinggih-palinggih
  7. Mlaspas palinggih-palinggih
  8. Mendem pedagingan dan memasang bagia/ orti/ palakerti/ ulap-ulap
  9. Ngambe-ulap
  10. Nuntun Ida Bethara ke Palinggih-palinggih baru.
  11. Ngaturang ayaban, pemuspaan, Dharma wacana

Demikianlah sekelumit tentang Pura dan Sanggah Pamerajan.

17 comments to Pura dan Sanggah Pamrajan

  • 1
    I Dewa Ketut Sidiyasa says:

    Om Suastiastu,

    Nawegang Ratu Pedanda
    Tyang mau bertanya apakah bisa merubah tegak odalan terus bagaimana prosedure atau tata caranya? Sekedar informasi, melihat penjelasan Ratu Pedanda di atas tentang hari-hari baik/rainan yang biasanya digunakan sebagai tegak odalan, di rumah kami sedang dilakukan pemugaran total (ngebet dasar dan memperluas areal merajan). Menurut ingatan orang tua kami, tegak odalan yang dulu adalah Hari Kamis, Wrespati Umanis Ugu (29 April 2004)- dan sebenarnya waktu itu sih bukan Odalan dalam ari sebenarnya-melainkan hanya upacara pemelaspasan saja. Menurut saran tetua-tetua kami, bahwa untuk Merajan yang baru tegak odalan harus tetap sama diambil pada hari (Wrespati Umanis Ugu)itu juga, yang pada bulan Januari ini jatuh pada Hari Kamis, 28 Januari 2010. Mengingat mendesaknya hari tersebut, mohon kemurahan hati Ratu Pedanda untuk sesegeranya berkenan memberikan pencerahan kepada kami mangda kami ten wenten salah pengerian.

    Suksam banget

    Om Santih, santih, santih, om.

    • 1.1
      Postmaster says:

      Om Swastyastu.

      Silakan langsung kontak ke email atau facebook Bhagawan Dwija (infonya ada di halaman depan).
      Jika mendesak bisa langsung telpon beliau di
      Rumah: 0362-22113, 0362-27010
      HP: 081-338-423720

      Om Santih Santih Santih Om

    • 1.2

      Om Swastyastu,

      Hari odalan ada dua cara : 1. Menurut perhitungan wuku (berarti dalam setahun mengadakan 2 x odalan). 2. Menurut perhitungan sasih (berarti dalam setahun hanya mengadakan odalan sekali) Hari apa yang digunakan, tergantung kesepakatan keluarga/penyungsung. Bila ingin mengadakan perubahan hari odalan, lakukan dengan menghaturkan banten guru piduka di saat hari odalan, selnjutnya lakukan odalan berikutnya sesuai dengan hasil kesepakatan dengan pesemetonan.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 2
    gede eka says:

    Om swastyastu,
    tyang jagi metaken indik sanggah pakurena. ampura tyang ngangge bhs Indonesia. sapuniki, tyang tinggal di BTN, tapi tyang bingung di mana posisi yang tepat membuat sanggah pakurenan, boleh tyang membangun sanggah di depan rumah tapi posisinya Kelod Kangin.kalo ada sumbernya tyang mohon bhagawan ngicen jawaban.
    suksma. Om santih, Santih, Santih, Om.

    • 2.1

      Om Swastyastu,
      Letak area suci (sanggah alit) adalah di-”hulu”. Pengertian hulu dalam tradisi beragama Hindu di Bali, adalah arah “kaja” dan “kangin” sehingga posisi sanggah alit berada di “kaja-kangin” dari halaman rumah. Namun kalau keadaan tidak memungkinkan, ambil arah kangin saja.
      Om Santih, santih, santih, Om

    • 2.2
  • 3

    Om Swastyastu
    Sang Sulinggih sane baktinin titiang.Titiang nakenang indik mendem pedagingan duwaning titiang sampun suwe ngentosin sanggah alit nanging durung mepedaging. sapunapi dudonan upakaranyane?Tur sapasira sane patut muput? dwaning wenten bebaos kocap sanggah punika sampun suung. wantah asapunika pitaken titiang.
    Om santi,santi,santi Om

    • 3.1

      Om swastyastu,

      Upacarane kewastanin : Numpuk/Mupuk pedagingan dudonan acarane :
      1. Memanagguh.
      2. Memirak.
      3. Mecaru
      4. Melaspas, mendem akah lan numpuk pedagingan
      5. Memendak
      6. Mekalahyas
      7. Ngaturang ayaban piodalan
      8. Muspa
      Patutu kapuput oleh Sulinggih Dwijati

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 4
    kadeksri says:

    om swastyastu.

    Nawegang Ratu Pedande,
    tiang kadek sri.

    tiang mau bertanya, rencananya tiang mau membongkar tembok rumah karena mau tiang rubah posisinya.
    1) apa harus menggunakan banten waktu membongkarnya, dan namanya banten napi.?
    2) untuk sanggah lebuh posisi sebenarnya harus dimana, dikiri napi di kanan pintu masuk.?
    3) untuk sanggah penunggunkarang/jerogede, posisi wajahnya harus menghadap kemana?
    4) untuk penunggunkarang/jerogede apakah harus ngaturang piodalan dan jatuh pada rahinan napi?

    tiang ngaturang sukseme sebelumnya Ratu Pedande, semoga Ratu Pedande Berkenan.

    Om Santih, santih, santih, Om

    • 4.1

      Om swastyatsu,

      1. Banten caru ekasata dan banten prelina
      2. Dikiri pintu masuk arah keluar dari pekarangan ke jalan raya
      3. Menghadap ke pemedal/jalan
      4. Tidak, tetapi ngerasakin pada Tumpek Wariga (6 bulan sekali)

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 5
    Wayan Win says:

    Om Swastiastu, tiang mau bertanya kepada Bgawan, apakah makna papah jake (pelepah enau)? adakah punya bukunya? karena tiang masih belum mendapatkan refrensi untuk menunjang pembuatan skripsi tiang…suksam
    Om Santi, Santi, Santi< Om

    • 5.1

      Om swastyastu,

      Papah jaka digunakan untuk penyeeb atau peneduh tulang belulang mayat setelah di bakar/ngaben. Acuannya ada pada lontar Taru Premana, coba cari di Gedong Kirtya, Singaraja.

      Om Santih, santih, sntih, Om

  • 6
    I Gst Ngr Tanaya says:

    Om Swasti Astu
    Ratu Pedanda, sebelumnya titiang nunas sinampura, len tiang iwang, tiang metaken indik genah mendem dasar tur mendem pedagingan ring soang-soang pelinggih, napi dados genah dasar miwah pedagingan sama-sama dibawah asapunika pitaken titiang tu pedanda, mohon walesan I ratu, Om santih, santih, santih Om, suksma

    • 6.1

      Om Swastyastu,

      1. Akah mependem ring pertiwi/dasar wewangunan asing-asing pelinggih
      2. Pedagingan megenah ring madya pelinggih
      3. Orti lan ulap-ulap megenah ring luhur pelinggih

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 7

    Osa, suksma atas info sane megune pisan ring ajeng, salam saking carangsari!

  • 8
    susanta bagus says:

    mohon penjelasan ratu Bhagawan:
    Bgaimana semestinya orang harus bergama yang praktis dan benar teruma umat yang tidk punya tempat dan biaya.

    Suksma Ratu Bhagawan

    • 8.1

      Om Swastyastu,

      Pelajari agama : tattwa, susila, dan upacara dan laksanakan dalam kehidupan sehari-hari dengan penekanan pada “para-bhakti”
      Buku panduan yang saya sarankan : BUKU PENDIDIKAN AGAMA HiNDU UNTUK PERGURUAN TINGGI OLEH DRS I GUSTI MADE NGURAH, DKK, PENERBIT PARAMITA, SURABAYA, 1999

      Om Santih, santih, santih, Om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting