QUESTION:
Mohon penjelasan Ida Pandita mengenai: 1) Pura Kahyangan Tiga di setiap Desa Adat/ Pakraman, 2) Pelinggih Prajapati.
ANSWER:
1. Pura Kahyangan Tiga di setiap Desa Adat/ Pakraman adalah: Pura Desa sebagai stana Bhatara Brahma, Pura Puseh, sebagai stana Bhatara Wisnu, dan Pura Dalem sebagai stana Siwa/ Bhatari Durga.
Kahyangan tiga bisa dalam wujud tiga buah Pura, tetapi bisa juga dalam dua buah Pura saja, di mana Pura Desa dan Puseh menyatu, biasanya disebut Pura Puseh-Desa Bale Agung. Pura Dalem menyendiri karena letaknya di teben dekat Sema atau Tunon (Kuburan).
2. Palinggih Bhatara Mrajapati/ Prajapati sebagai pepatih Bhatari Durga, bisa berada di dalam Pura Dalem, bisa berada di sema/ tunon.
Bila areal sema/ tunon menyatu dengan Pura Dalem, maka palinggih Prajapati berada di dalam Pura Dalem. Tetapi bila antara sema/ tunon dengan Pura Dalem ada pemisah (misalnya jalan, sungai atau tanah kosong/ perumahan) maka di sema/ tunon harus ada palinggih Prajapati, sedangkan di Pura Dalem tidak perlu ada.
Lontar-lontar acuan: Tutur Kuturan, Gong Besi, dan Sanghyang Aji Swamandala.

OM Swasti Astu Ida Pinandita. Saya mau tanya hubungan pura prajapati dengan pura dalam, fungsi pura prajapati itu apa dan yang bersentana disana Dewa Siwa atau Dewa Brahma, kalau saya mau sembahyang ke pura dalem biasanya saya kepura prajapati terlebih dahulu ( pura prajapati ada didalam areal pura dalem ) baru kepura dalem apa betul alurnya seperti itu.Suksma. Om Shanti Shanti Shanti Om
om swastiastu ida pinandita. titiang jagi metaken. sapunapi sejarah ne seuningan titiange ring desa desa sane wenten ring bali kewentan pura desa, dalem, puseh. inggih asapunika manten pitaken titiang….!
Om Swastiasru ida peranda. Ampura titiang jagi metaken ngange bahasa Indonesia.
Pertanyaan saya, Kenapa Pura Desa menggunkan konsep Dwi Mandala, sedangkan Pura puseh dan Dalem menggunakan Tri Mandala?
Dan apa makna dari Bedawang Nala dalam Padmaasana?
Om Swastiasru ida peranda. Ampura titiang jagi metaken ngange bahasa Indonesia.
Pertanyaan saya, Kenapa Pura Desa menggunkan konsep Dwi Mandala, sedangkan Pura puseh dan Dalem menggunakan Tri Mandala?
Dan apa makna dari Bedawang Nala dalam Padmaasana?
Inggih suksma ratu peranda..
@Ayu Qireina: Sebenarnya semua Pura dianjurkan mempunyai trimandala. Namun ada yang tidak, mungkin karena keterbatasan lahan. Uraian tt Bedawangnala dan Padmasana, cari di blog ini, ada.
“Om Swastiastu”
Ida Peranda, bagaimana penulisan yang benar mengenai “Om Swastiastu” dan “Om Shanti, Shanti, Shanti, Om”?
Di kehidupan masyarakat saya menemukan banyak versi…
ada “Om Swastyastu” “Om Santih, Santih, Santih, Om”
ada “Om Swasti Astu” dan “Om Çantih, Çantih, Çantih, Om” dan banyak lagi….
Saya sebagai warga Bali bingung dengan ini….
Suksme.
“Om Shanti, Shanti, Shanti, Om”
@Adi: Om Swastyastu. Om Santih, santih, santih, Om Lihat SK Mahasabha PHDI tgl 13 September 1991. Tidak usah bingung asal rajin membaca.
Om suastiastu,
Sebagaimana jawaban ida diatas, antara lain menyebutkan adanya pura desa puseh dalem berfungsi sebagai pelinggih Tri Murti /Ida Sang Hyang Widi Wasa. Pertanyaannya, mengapa di pura desa, tempat saya, ada lagi padmasana, yang biasanya disebut sebagai pelinggih Ida Sang Hyang Widi wasa
Sebagaimana literatur yang ada, konsep tri kahyanagn di ajarkan oleh Mpu Kuturan, untuk memuja Sang Hyang Widi wasa. Sedangkan Konsep Padmasana diajarkan oleh Danghyang Nirarta setelah masa Mpu Kuturan. kelihatannya danghyang dwijendra telah merusak sistem pemujaan yang sudah diberikan oleh Mpu Kuturan. Bagaimanakah Pendapat Ida Pandita, Sukma, Om santi santi santi Om.
Om Swastyastu,
Sebaiknya tidak menggunakan kata “merusak” Wahyu yang diterima oleh Ida Danghyang Nirartha (Danghyang Dwijendra, Mpu Dwijendra, Pedanda Sakti Wawu Rawuh) di Purancak sekitar abad ke-14, adalah agar pelinggih sanggah pamerajan atau pura, dilengkapi dengan padmasana, sebagai stana Sanghyang Widhi : siwa – sadha siwa – parama siwa atau dikenal sebagai tripurusha (vertikal). Karena sebelumnya niyasa Sanghyang Widhi hanya trimurti (horizontal). Dengan demikian kombinasi trimurti dan tripurusha melengkapi seluruh pengider-ider dewata nawa sanggha, yakni ada yang berkedudukan secara horizontal (sa ba ta a i na ma si wa ya)dan ada yang berkedudukan vertikal. Kedudukan vertikal ini juga sebagai keyakinan utaprota Sanghyang Widhi dari nirguna-brahman ke saguna-brahman. Kedudukan saguna-brahman inilah yang menciptakan bhuwana agung dan bhuwana alit scara keseluruhan.
Namun demikian penduduk Hindu-Bali ada yang masih tetap berpegang pada mashab Mpu Kuturan dan ada yang sudah mengadopsi mashab Danghyang Nirartha dalam penempatan pelinggih padmasana. Sesuai dengan prinsip-prinsip sanatana-dharma, hal itu diserahkan kepada keyakinan/kepercayaan masing-masing pemeluk Hindu-Bali.
Om Santih, santih, santih, Om
Om suastiastu
Apa makna dari barong dan rangda yang distanakan di pura dalem?
rangda ada 3, ada yang berambut putih, cokelat, dan hitam.
wujudnya menyeramkan.
pertanyaan saya apakah dewa2 di hindu di alam niskala itu wujudnya seram2?
yang saya lihat petapakan beliau dibuat seram2.
terima kasih ratu Bhagawan.
Om Swastyastu,
Niyasa yang berwujud serem adalah peninggalan dari Hindu sekte Bhairawa, yang di abad ke-11 telah membaur kedalam sekte Siwa Sidantha seperti yang kita peluk dewasa ini. Pemersatunya adalah Ida Mpu Kuturan. Keberadaan barong dan rangda di Pura Dalem diyakini sebagai pengaruh sekte Bhairawa, untuk niyasa dharma dan adharma sebagai ardanareswari ciptaan Sanghyang Widhi.
Om Santih, santih, santih, Om
om swastiastu
maaf saya memakai bahasa indonesia
di setiap desa kan ada yg disebut bale agung,,, seperti yg ada didesa saya,,,, bale agung itu tempatnya di jabe tengah pura…. bahkan di sanggah dadie saya juga ada yg namanya bale agung…
nah yang mau saya tanyakan,,, apa fungsi bale agung tersebut?
di setiap waktu kan diadakan upacara di bale agung tersebut,,, dewa apa yg di puja disana?
trimakasih atas kesempatanya
om santi santi santi om
Om Swastyastu,
1. Tempat pesamuan Jero Mangku dan ulu-ulu desa
2. Ida Bhatara Bhagawan Panyarikan.
Om Santih, santih, santih, Om
Om swastyastu
nawegan titiang ratu sang bhagawan, titiang jagi metaken kidik antuk pura prajapati, nunas ampura yening bahasa titiang campur-camur dengan bahasa indonesia.
puniki ratu:
titiang pernah mendengar kalau bangunan tembok penyengker pura prajapati punika ten dados lebih tinggi dari pelinggih didalamnya atau dengan kata lain pelinggih didalamnya haruslah kelihatan dari luar. yening tembok penyengkernya lebih tinggi maka akan ada kematian berentetan (dalam selang sehari,2hari,seminggu dan seterusnya)di desa tersebut. kebetulan pura prajapati titiang tembok penyengkernya tinggi dan pelinggihnya cuman atapnya saja yang kelihatan dari luar…(bukan setengah badan pelinggih didalamnya) nah didesa kini tiang rasakan ada aja kematian/ngaben mulai orang tua bahkan ada juga remaja… mohon pencerahanya ratu Bhagawan…. suksma
Om Santih, santih, santih om…
Om Swastyastu,
Aturan membangun Pura ada di Lontar Gong Besi, Tutur Kuturan, dan Sanghyang Aji Swamandala. Betul penyengker Pura tidak boleh lebih tinggi dari pelinggih yang ada di jeroan.
Om Santih, santih, santih, Om
Mohon Maaf Tiang tidak bisa bahasa bali oleh tiang kelahiran dan besar dikalimantan,,,dan yang jadi pertanyaan tiang,di desa tiang rencana merehab padma yang ada di pure desa,tapi ada perbedaan pendapat sesama tetua – tetua adat,ada yang bersikeras untuk membangun padme sari yang hanya menggunakan patung angsa dan naga,dan ada yang bersikeras untuk membangun padmasana lengkap(benawang nala,angsa,garuda wisnu dll nya)yang jadi pertanyaan tiang padma yang harus dibangun untuk di pura desa itu padma yang seperti apa ? Suksme atas tanggapannya .
Padmasana, yakni yang memakai dasar bedawangnala, dipuncaknya bagian belakang ada garuda/wisnu dn angsa