Renovasi Pura/ Sanggah Pamerajan

QUESTION:

Apa yang harus diperhatikan pada waktu renovasi Pura atau Sanggah Pamerajan?

ANSWER:

Jika ‘memprelina’ Pura, harus dengan hati-hati karena di pondamen bangunan setiap pelinggih yang lama ada ‘pependeman panca-datu’ yang tidak boleh dihilangkan.

Artinya ‘pependeman’ lama itu harus dipungut dan dikembalikan ke pondamen yang baru, selain nantinya ditambah lagi dengan ‘pependeman baru’ di saat upacara ‘ngenteg linggih’.

Itu yang biasa saya lakukan di kala mengadakan renovasi Pura atau Sanggah Pamerajan umat sedharma di Bali, dengan mengacu pada:

  1. Lontar Dwijendra Tattwa
  2. Lontar Sanghyang Aji Swamandala
  3. Lontar Tutur Kuturan
  4. Lontar Tutur Gong Besi

11 comments to Renovasi Pura/ Sanggah Pamerajan

  • 1
    sanjaya says:

    om swastiastu
    ida sire bhagawan dwija sane mudrayang tiang, wenten sane pacang takenang titiang riantukan tuna tiang sane klintang niki ampura puniki majeng ida sire bhagawan dwija .
    napike merajan dados ketingkatan dados pura dadia ampura niki lungsur titiang pesan keterangan ida suksma.

  • 2
    AA OKA SUANDA says:

    ” OM SWASTI ASTU ”

    Pitaken Titiang :

    1. haruskah membuat Sedahan Karang dan Pemerajan menggunakan
    Sikut / ukuran seperti dalam sastra ? sedangkan tanah yang
    tersedia sedikit ( pekarangan yang kecil )
    2. ukuran – ukuran apa saja yang dibutuhkan bila membangun
    sedahan Karang dan Pemerajan (dlm pekarangan terbatas hanya
    2 X 2,5 m2 untuk Pemerajan dan 1,1 X 1,1 m2 untuk Sedahan
    Karang )
    3. karena dulu Sedahan Karang dan Kemulan Taksu terbuat dari
    / berbahan kayu dan triplek, apakah pada waktu memindahkan
    ketempat baru / digeser, batu dasarnya ( bata yang dirajah )
    juga ikut dipindah ?
    4. apakah wajib menggunakan tapak ida bagus ( yang napak harus
    brahmana ? )

    sekian dan terimakasih !

    ” OM SANTHI, SANTHI, SANTHI OM “

    • 2.1
      Bhagawan Dwija says:

      @AA OKA SUANDA: 1. Kalau tidak memungkinkan apa boleh buat, dari pada tidak, asal atapnya tidak tumpang tindih. 2. Cari bentuk pelinggih yang kecil/sesuai. 3. Pakai batu dasar yang baru. 4. Tidak, pakai tapak kaki anda (yang akan menempati rumah itu).

  • 3
    GekW says:

    pertanyaan tiang tentang pelinggih ??
    ada sebuah pelinggih deket rumah saya (dekat panggkung) pelinggih itu sudah lama sekali, nah ada salah satu keluarga yang menggantinya denganyang baru. hasilnya lama kelamaan setiap purnama dan tilem atau rainan ..keluarga tersebut ada yang kerauhan ato dicari (..wong samar) entah itu hentakan kaki dan lain sebagainya. Apakah ini petanda yang berstana disana tidak setuju kalau pelingginya di ganti atau bagaimana. Karena setelah pelinggih itu diganti keluarga itupun menjadi ketakutan.
    Nah sebenar nya apa yang terjadi?
    dan bagaimana penanggulangannya?

  • 4
    Yoga says:

    Apakah sudah diupacarai terlebih dahulu dan memohon yang berstana dipelinggih itu untuk ngeluwur sampai pelinggih itu selesai dibangun??
    Dan apakah sudah meminta restu kepada yang berstana di palinggih itu sebelum diperbaiki??

  • 5
    GekW says:

    nah,,,yang itu saya kurang tau karena ..itu dilakukan oleh 1 pihak keluarga saja (keluarga tetangga).
    sekarang setiap rahinan walau mereka ada didenpasar pasti ada kesurupan, kecelakaan dan lain lain….
    dulu saya lihat pelinggih itu angker sekali..setelah diperbaiki …biasa saja…
    untungnya keluarga kami tidak kenapa2…
    suksma

    • 5.1

      Om Swastyastu,

      Dugaan saya :
      1. Prosedur renovasi pelinggih itu tidak benar, baik dari segi tata caranya, banten, dan puja-mantranya
      2. Sebaiknya minta bantuan Sulingih terdekat untuk melihat dan bila perlu mengulangi upacara yang lalu.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 6
    GekW says:

    satu pertanyaan lagi..
    1. pembangunan pelinggih baru, pada upacara pemlaspasan dan mependem, didesa kami biasanya setelah upacara caru itu dibuang keluar rumah. sedangkan baru-baru ini saya melihat upacara pemlaspasan lan mependem untuk pembangunan pelinggih baru ternyata caru tersebut dibuatkan lubang dan dimasukkan kedalam lubang tersebut.

    Nah apa yang terjadi, karena kebiasaan didesakami. bagaimana sebenarnya bekas caru harusnya dipendem atau di buang keluar.
    dan apa yang terjadi nantinya, apabila bekas caru + pemlaspasan tersebut dibuang keluar.???????

    • 6.1

      Om Swastyastu,

      Lihat dulu jenis carunya :
      1. Kalau caru Rsi Gana, yang dipendem di hulu kaja-kangin utama mandala adalah caru bebek bulu sikep, sedangkan caru asu dipendem di nista mandala sebelah kiri.
      2. Kalau caru lainnya dibuang
      3. Kalau caru balik sumpah dan tawur gentuh, caru dipendem di batas-batas desa sesuai dengan warna binatang dan arah mata angin.

      Kalau dipendem seperti aturan diatas : memberi kekuatan magis pada bhuta (bhuwana agung)
      Kalau tidak, ya tidak pula

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 7
    putra bali says:

    Om swastyastu singgih Bhagawan Dwija sane wangiang titiang, santukan nambet titiang wenten sane tunasang titiang ring singgih Bhagawan mangda titiang polih pencerahan.
    1. Awal bulan agustus puniki titiang jagi mralina/ merenovasi pemerajan, taler ring akhir bln agustus puniki wenten rahinan jagat galungan lan kuningan, napi kedadosang merenovasi santukan janten durung mersidayang puput rikala rahinan punika??
    2. Taler titiang jagi merenovasi paon/ dapur. Napi dados bekas dapur punika anggen titiang genah sirep/ kamar tidur??
    Asapunika dumun atur pitaken titiang mangde titiang polih pencerahan.
    Suksma. Om santi santi santi om

  • 8
    nakbagus says:

    om swastyastu Singgih Baghawan Dwija yang saya hormati. saya bermaksud memindahkan Sanggah saya kesebelah timur bagian rumah saya,sanggah yg sudah ada kemulan rong 3,taksu,penunggu karang dan tugu. sekarang saya bermaksud menambah padmasari. yang ingin saya tanyakan tentang letak dari sanggahnya itu yg baik seperti gimana kebetulan saya memilliki lahan yg cukup luas. apakah kesemua sanggah itu bisa saya bangun dalam satu lokasi yg sama/ satu halaman tanpa penyekat atau harus saya sekat satu persatu . lalu untuk ukuran pondasinya apakah ada ketentuan ketentuan tertentu menurut aturannnya dan benarkah apabila kita ingin membangun sanggah pemerajan alit,sanggah yg kita bangun dilingkungan rumah kita kemegahannya tidak boleh melebihi sangggah dadia yang ada dirumah asal kami?
    terimakasih,
    Om shanti shanti shanti Om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting