Riwayat Kasta di Bali

Kasta, dalam Dictionary of American English disebut: Caste is a group resulting from the division of society based on class differences of wealth, rank, rights, profession, or job.

Uraian lebih luas ditemukan pada Encyclopedia Americana Volume 5 halaman 775; asal katanya adalah “Casta” bahasa Portugis yang berarti kelas, ras keturunan, golongan.

Bangsa Portugis yang dikenal sebagai penjelajah lautan adalah pemerhati dan penemu pertama corak tatanan masyarakat di India yang berjenjang dan berkelompok; mereka menamakan tatanan itu sebagai casta.

Tatanan itu kemudian berkembang di Eropa terutama di Inggris, Perancis, Rusia, Spanyol, dan Portugis. Sosialisasi casta di Eropa tumbuh subur karena didukung oleh bentuk pemerintahan monarki (kerajaan) dan kehidupan agraris.

Para elit ketika itu adalah the king (raja), the prince (kaum bangsawan), dan the land lord (tuan/ pemilik tanah pertanian); rakyat jelata kebanyakan buruh tani misalnya di Rusia disebut sebagai kaum proletar adalah kelompok mayoritas yang hina, hidup susah, dan senantiasa menjadi korban pemerasan kaum elit.

Lama kelamaan tatanan ini berubah karena tiga hal utama, yaitu:

  1. Revolusi Perancis dan Bholshevik (Rusia) yang menghapuskan monarki dan the land lord
  2. Industrialisasi yang mengurangi peran sektor agraris
  3. Pengembangan Agama Kristen yang menonjolkan segi kasih sayang diantara umat manusia

Walaupun demikian casta tidak hilang sama sekali; ia berubah wujud sebagai “Class System” yang didefinisikan sebagai:

A differentiation among men according to such categories as wealth, position, and power.

Class System ini dianalisis secara ilmiah oleh berbagai tokoh masyarakat; yang terkemuka adalah Karl Marx dengan teorinya: The relations of production.

Inilah embrio pemahaman sosialis komunis yang ingin meniadakan perbedaan kelas masyarakat, di mana pemerintah menguasai sumber-sumber kehidupan dan mengupayakan perimbangan income yang wajar diantara rakyatnya.

Peredaran zaman menuju ke abad 20 membawa Class Theory yang klasik seperti pemikiran Karl Marx berubah menuju era baru seperti apa yang disebut sebagai Class Mobility, yaitu pengelompokan sosial karena kepentingan profesi.

Kini kita biasa mendengar kelompok-kelompok: usahawan, birokrat, intelektual, militer, dan rohaniawan; mereka kemudian mengikat diri lebih khusus kedalam organisasi-organisasi seperti: IKADIN, IDI, ICMI, ICHI, MUI, PHDI, dll.

India yang disebut dalam berbagai sumber sebagai asal Kasta Stelsel, sebenarnya mempunyai sekitar 3000 kelompok sosial masyarakat, namun pada umumnya dapat dibedakan menjadi empat.

Pengelompokan ini di India tidak hanya ditemukan pada masyarakat yang beragama Hindu saja, tetapi juga pada masyarakat yang beragama lain misalnya penganut Islam berkelompok pada: Sayid, Sheikh, Pathan, dan Momin; penganut Kristen berkelompok pada: Chaldean Syrians, Yacobite Syrians, Latin Catholics, dan Marthomite Syrians; penganut Budha berkelompok pada: Mahayana, Hinayana, dan Theravadi.

Istilah pertama yang digunakan di India bukan kasta tetapi “varnas” Bahasa Sanskerta yang artinya warna (colour); ditemukan dalam Rig Veda sekitar 3000 tahun sebelum Masehi yaitu Brahman (pendeta), Kshatriya (prajurit dan pemerintah), Vaishya (pedagang/ pengusaha), dan Sudra (pelayan).

Tiga kelompok pertama disebut “dwij” karena kelahirannya diupacarai dengan prosesi pensucian.

Dalam Bhagavadgita percakapan ke-IV sloka ke-13 ditulis:

CHATUR VARNYAM MAYA SRISHTAM, GUNA KARMA VIBHAGASAH, TASYA KARTARAM API MAM, VIDDHY AKARTARAM AVYAYAM

artinya: catur warna adalah ciptaan-Ku, menurut pembagian kualitas dan kerja, tetapi ketahuilah walaupun penciptanya, Aku tidak berbuat dan mengubah diri-Ku.

Warna adalah profesi atau bidang kerja yang dilaksanakan seseorang menurut bakat dan keahliannya; tidak ada perbedaan derajat diantaranya karena masing-masing menjalankan karma dengan saling melengkapi.

Mantram-mantram dari Yajurveda sloka ke-18, 48 antara lain berbunyi:

RUCAM NO DHEHI BRAHMANESU, RUCAM RAJASU NAS KRDHI, RUCAM VISYESU SUDRESU, MAYI DHEHI RUCA RUCAM

artinya: Ya Tuhan Yang Maha Esa bersedialah memberikan kemuliaan pada para Brahmana, para Ksatriya, para Vaisya, dan para Sudra. Semoga Engkau melimpahkan kecemerlangan yang tidak habis-habisnya kepada kami.

Yajurveda Sloka ke 30, 5 berbunyi:

BRAHMANE BRAHMANAM, KSATRAYA, RAJANYAM, MARUDBHYO VAISYAM, TAPASE SUDRAM

artinya: Ya Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan Brahmana untuk pengetahuan, para Ksatriya untuk perlindungan, para Vaisya untuk perdagangan, dan para Sudra untuk pekerjaan jasmaniah.

Profesi yang empat jenis itu adalah bagian-bagian (berasal) dari Tuhan Yang Maha Esa yang suci, diibaratkan sebagai anatomi tubuh manusia dalam tatanan masyarakat, sebagaimana Yajurveda sloka 31, 11 menyatakan:

BRAHMANO ASYA MUKHAM ASID, BAHU RAJANYAH KRTAH, URU TADASYA YAD VAISYAH, PADBHYAM SUDRO AJAYATA

artinya: Brahmana adalah mulut-Nya Tuhan Yang Maha Esa, Ksatriya lengan-lengan-Nya, Vaisya paha-Nya, dan Sudra kaki-kaki-Nya.

Selanjutnya doa yang mengandung harapan agar masing-masing profesi/ warna melaksanakan swadharma yang baik terdapat pada Yajurveda sloka 33,81:

PRAVAKAVARNAH SUCAYO VIPASCITAH

artinya: para Brahmana seharusnya bersinar seperti api, bijak, dan terpelajar;

Yajurveda sloka 20,25:

YATRA BRAHMA CA KSATRAM CA, SAMYANCAU CARATAH SAHA, TAM LOKAM PUNYAM PRAJNESAM, YATRA DEVAH SAHAGNINA

artinya: di negara itu seharusnya diperlakukan warga negaranya sebaik mungkin, di sana para Brahmana dan para Kesatriya hidup di dalam keserasian dan orang-orang yang terpelajar melaksanakan persembahan (pengorbanan).

Kesimpulannya adalah Warna itu realistis dan idealnya semua profesional berbuat sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama dan kesejahteraan umat manusia.

Warna seseorang tidak selamanya tetap apalagi turun temurun; misalnya seorang petani (berwarna sudra) karena ketekunannya berhasil menyekolahkan anaknya kemudian hari menjadi bupati maka anaknya sudah menjadi warna Ksatriya; demikian sebaliknya seorang keturunan Brahmana yang tidak lagi berprofesi sebagai Wiku tidak dapat disebut sebagai warna Brahmana.

Perubahan status pada seseorang bahkan dapat terjadi setiap saat menurut bidang tugasnya, misalnya seorang pesuruh di suatu Kantor yang merangkap menjadi Pemangku di Pura/ Sanggah Pamerajan; ketika bertugas sebagai pesuruh dia berwarna Sudra, tetapi jika bertugas nganteb piodalan di Pura dia berwarna Brahmana.

Warna yang diabadikan bahkan diwariskan turun temurun terjadi di India, sebagai usaha kelompok elit mempertahankan status quo, yang sebenarnya sudah sangat menyimpang dari ajaran suci Weda.

Gejala mengabadikan warna inilah yang dilihat oleh orang-orang Portugis sehingga timbullah istilah “casta” seperti yang diuraikan di atas.

Penerapan kasta stelsel di India menimbulkan pengkotak-kotakan masyarakat sehingga mereka saling bertikai. Dalam kondisi seperti ini jiwa nasionalisme pudar sehingga India mudah dipecah belah dan akhirnya dijajah Inggris.

Perjuangan Mahatma Gandhi membangkitkan nasionalisme India dibayar sangat mahal yaitu dengan jiwanya sendiri ketika dia ditembak oleh seorang fanatikus kasta.

Agama Hindu kemudian menyebar ke Indonesia lengkap dengan tatanan masyarakat menurut “warna” masing-masing. Mula-mula di Jawa tatanan masyarakat masih murni menurut Weda yaitu tatanan menurut profesi atau “Warna”.

Ketika Majapahit hendak meluaskan kerajaan dengan cita-cita menyatukan Nusantara yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya Gajahmada, maka Majapahit menundukkan Kerajaan Bali Dwipa pada abad ke-13.

Para “penjajah Majapahit” membawa serta kaum elit yang memimpin kerajaan Samprangan. Kaum elit itu dinamakan Triwangsa, yaitu Brahmana, Kesatria, dan Wesya. Semua penduduk Bali-asli yang dijajah, dikelompokkan sebagai Wangsa Sudra.

Tujuan politik Gajahmada adalah agar kaum Bali-asli tidak bisa eksis, sehingga kelanggengan pemerintahan Samprangan dapat berlanjut terus.

Sejak masa itulah “Warna” di Bali berubah menjadi “Wangsa” atau “Kasta” karena hak-hak kebangsawanan diturunkan kepada generasi seterusnya.

Setelah kerajaan-kerajaan di Bali runtuh, kemudian Indonesia menjadi negara Republik, hak-hak kebangsawanan mereka dengan sendirinya hilang. Namun demikian titel-titel nama depannya masih digunakan, sekedar untuk mengenang kejayaan masa lalu dan mungkin dengan alasan lain yaitu menghormati leluhur.

Sekarang tinggal masyarakat saja yang menilai kedudukan seseorang. Tinggi rendahnya status sosial seseorang di masyarakat ditentukan pada peranan pengabdiannya kepada kepentingan masyarakat, bukan pada embel-embel predikat nama itu.

Mereka yang bijaksana akan senantiasa menjauhkan perilaku feodalisme, karena feodalisme itu membodohi diri sendiri.

63 comments to Riwayat Kasta di Bali

  • 1
    arya says:

    Om swastiastu,

    saya lahir dan besar diluar bali, pendidikan mengenai kasta saya dapatkan dari buku agama, namun oleh orangtua saya dikatakan kasta di bali tidaklah sama dengan di india karena di india kasta mutlak sedangkan di bali itu dinamakan warna, namun begitu saya menetap dan bekerja di bali dan berpacaran dengan seorang dayu, (saya orang tdak bertitel kasta) orangtua saya berubah 180 derajat dalam artian mereka tidak menyetujui hubungan kami karena katanya ‘panas’ dan itu tidak boleh terjadi selain panas juga bisa menyebabkan salah seorang akan meninggal entah saya, istri saya atau orang tua saya… sekarang apa yang harus dipercayai dari sebuah buku agama mengenai kasta dan warna? kalo kenyataanya sangat bertentangan dengan realita yang ada di bali? menurut saya kasta di India adalah sama dengan kasta di Bali, kalo ada yang mengatakan warna, itu hanyalah sebuah pengungkapan (penghalusan kata) bahwa mereka belum pernah merasakan kehidupan yang sesungguhnya di bali.

    Om cantih, cantih cantih Om

    • 1.1
      Mantra says:

      Apa bedanya perbedaan kasta dan perbedaan agama dalam dunia percintaan???
      Apa dengan perbedaan agama trus kita menyalahkan seharusnya di indonesia itu satu agama, jangan ada berbagai macam agama..?
      Keduanya Sama.. Keduanya sama sama memegang resiko perlawanan dari keluarga apapun alasannya..
      Cinta itu perjuangan, semua ada resiko dalam percintaan. Kalau berani ambil resiko, renggut cinta itu dan hadapi resiko bersama kekasih.

  • 2
    life-without-kasta says:

    Om Swastyastu,

    Saya pernah mengalami seperti anda. Akhirnya sad ending. Pacar saya seorang dayu tidak kuat dan akhirnya mencari orang lain yang “sederajat”. Sakit hati ini sampai sekarang mengingat di awal hubungan dia yang mendekati saya.

    Memang di bali, masalah kasta masih ada, tapi saya yakin semakin lama hal tersebut akan semakin hilang. Yang saya tahu, di daerah Bali Utara (Buleleng) kasta-mengkasta malah sudah di-cuek-in. Elo ya elo. Gue ya gue. Elo keturunan apa, emang gue pikirin.

    Saran saya kepada anda: dengarkan kata hati anda, informasi dari luar boleh-boleh saja tapi jangan membuat anda ragu. Introspeksi hubungan dengan “dayu” tersebut, kalau sama-sama serius, saya pikir bisa lanjut. Kalau dianya ragu, saatnya anda memutuskan agar jangan sampai sakit hati.

    Maaf kalau saya memberi saran. Ini semata-mata dari pengalaman saya.

    Om Santih Santih Santih Om

    NB: sekarang saya malah beristri seorang Cokorde Istri. Tidak masalah.

  • 3
    IW.Gelgel says:

    Om Svastyastu;
    Back to content of the article !

    Setelah menyimak ulasan dalam artikel ini, tyang sangat sedih & terenyuh sekali ? Karena sudah lebih 1/2 abad Indonesia (Bali) merdeka, kenapa tetap saja gak ada perubahan perbaikan / penyadaran diri secara massal (penyadaran komunitas Kasta/Warna/Wangsa) ?

    Atau gak pernah mau buka mata (mata-hati) & telinga (kuping-rohani) untuk Pelurusan Sejarah Kasta/Warna/Wangsa, sebagai salah-1 usaha penegakan Dharma Agama kita bersama demi kepentingan yang jauh lbh besar, 1xgus untuk peleburan dosa massal akibat salah kaprah turun-temurun / akibat egoisme (status quo) komunitas masa lalu ?

    Bukankah langkah tersebut merupakan sebagai ‘salah-1 hasil perenungan bathin’ yang terpuji & seharusnya dilakukan oleh para Tokoh2 kita yang sedang duduk di kursi “Swadharma” masing2, baik yang sedang duduk jadi Pinandita (Peranda), jadi Penguasa (Pemerintahan), jadi Pengusaha/Pemborong sukses, jadi Petani/Peternak/Nelayan sukses ; apalagi yang sedang duduk di PHDI ?

    Apalagi, bila diingat fungsi/peran masing2 kasta/Warna/Wangsa tsb, sungguh amat mulia & luhur/suci, maka amat disayangkan sekali bila penyimpangan ini dibiarkan terus-menerus, spt orang gak merasa bersalah (dosa) sesuai Ajaran Kitab2 Hindu yang amat disakrarkan selama ini ?

    Kalau bukan kita2 yang memulai, lantas siapa lagi yang akan diaandalkan ? Kalau gak sekarang, kapan lagi ?????

    Semoga semua pikiran(+) datang dari segala penjuru & setiap pikiran(-) segera tersadarkan ! Mohon maaf, bila ada tutur(-) & terima kasih, bila ada manfaatnya !

    (*) khusus buat ‘Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi’ mohon maaf, karena tdk ada maksud menyinggung perorangan ; apalagi telah menjadi pelopor ‘gema reformasi’ Hindu (pelurusan)& Budaya Bali (efisiensi), justru tyang amat berterima kasih sekali !
    (+) Tyang lbh suka bicara bla-2 dgn logika (akal sehat) asal sesuai dgn realita yang ada … hanya demi Bali & Hindu, spy lbh baik & terbaik !

    Om Shanti 3x, Om.
    Pemerhati Hindu & Bali.

  • 4

    Om Suastiastu, Mamitang lugra titiang ratu hyang Baghawan.
    Titiang puniki bhkta saking Karangasem kewanten jenek mamondok ring batu bulan, geginan titiang dados perawat ring RS. Sanglah, semaliha seneng nelebin indik seni budaya(pregina) taler kasusastraan Bali. Rasa angayubagia titiang manggihin situs Hyang Bhagawan puniki, yukti akweh pisan sampun Copy titiang anggen ngerentebin buku-buku ring perpustakaan mini ring pondok titiang pinaka sarana mataki-taki ngelanturang catur asrama riwekasan. semaliha dumogi Hyang Bhagawan nenten duka, riantukan akweh pisan artikel duwene sampun sobyahang titiang ring sang sane oneng ngawacen. anggen titiang sarana nyarengin ngayah ring Sang Hyang Aji miwah darmaning Agama. kewanten antuk dahating pranamia titiang loba pisan manahe pacang ngalungsur cakepan utawi artikel sane mabuat pisan, yen wantah ledang, picain titiang artikel utawi cakepan sane ngawedarang indik pupulaning rerajahan sane madaging gambar miwah keterangan ipun, kewanten sane sampun kasurat antuk aksara latin.riantukan titiang kasor pisan ring kawentenan ngawacen aksara bali, cakepan sane mabuat pacang lungsur titiang luwir nyane pupulan sehananing rerajahan miwah ajian keputusan. kewanten sampunang sumaniya ring sajeroning kayun indik pamargi pacang nyingidang daging nyane riantukan boya pacang angen titiang sane nenten patut utawi aja wera, yen pet prade kapica, punika sami pacang anggen titang newek pinaka perbandingan ring kawentenan cakepan utawi makudang kudang lontar warisan panglingsir titiang ring pondok Karangasem. riantukan kedaut pisan manahe mangdena uning ring daging ipun sakewanten silih sinunggil akeh sane sampun nenten mresidayang ngawacen(berek). Banget yukti kedeh manah titiang sumangdena Singgih Hyang Bhagawan ledang mapaica ring padewekan titiang, waluyaning sida ngicalang dahaga ring padewekan titiang, mawastu galang apadang antuk titiang ngalanturang swadharmaning urip titiang riwekasan. yen pet prade ledang raris unggahang ring email titang utawi kontak ring HP 081 236 39181. antuk sweca turmaning ledang ratu nenten lali ngaturang suksemaning manah. menawi wenten sane nenten manut ring adnyanan Hyang Bhagawan banget titiang ngalungsur pangampura.
    “om Santi, Santi,Santi Om”

    • 4.1
      Postmaster says:

      OSA,

      Untuk semua materi tulisan Bhagawan Dwija yang ada di Stiti Dharma Online, silakan untuk di-copy-paste, diambil, disebarluaskan, dan lain-lain. Semoga bisa bermanfaat dan memberi pencerahan kepada kita semua.

      OSSSO

  • 5
    rare says:

    artikel yg patut untuk dipelajari…suksma.

  • 6
    I GEDE EDY RADITYA says:

    didalam zaman serba terbuka dan blak blakan seperti saat ini,tentunya warisan kesalahan cara berpikir dan bersikap seperti itu sudah harus mulai ditanggalkan oleh yang bersangkutan kalau tidak mau digilas zaman atau dikucilkan. dikucilkan karena minoritas versus mayoritas. diwarung duduk sendiri,dibanjar duduk sendiri,karena merasa diri eksklusive lalu dihindari,yang celakanya waktu mengadakan upacara adatpun akhirnya dikerjakan sendiri,dan lebih celaka lagi waktu meninggal jalan kekuburan sendiri…hehe. apa nikmatnya hidup seperti itu. cobalah mulai membuka mata pikiran,melihat dan menyadari,bahwa percikan ATMAN bersemayam didalam setiap individu tanpa terkecuali. itu langkah pertama yang mengharuskan kita untuk menghormati individu lain. selanjutnya adalah hormat terhadap legalitas formal dan kontribusinya terhadap tata hubungan sosial kemasyarakatan. sehingga ‘mebase alus bali’ adalah semata mata karena alasan itu tadi,dan bukan karena perbedaan nama di KTP,atau jenis kendaraan yang dibawa. mebase alus bali,hormat,dan segan,mesti dua arah dalam tatanan horizontal. secara vertikal ya satu arah saja,karena yang dari atas,jarang,bahkan tak pernah mau bicara…ampure. reformasi cara berpikir dan bertindak,dapat dimulai dari sini,didalam kerangka menerapkan ajaran suci WEDHA secara lebih murni untuk menuju bali yang SANTHI. catur warna diciptakan secara utuh untuk saling menopang satu sama lain,dan setiap bagian berperan sama besar demi eksisnya bagian yang lain. satu saja tidak ada,maka segala urusan jadi bubar. ingin bukti…coba hilangkan satu warna saja,apa akibatnya bagi ketiga warna yang lain. amburadul…jadi kesimpulannya bahwa kasta adalah PERBUDAKAN…dalam arti luas…pelecehan nilai nilai luhur kemanusiaan. siapa yang menciptakan kasta…? bukan TUHAN,karena tidak ada sumber sastranya. kasta dibuat oleh manusia yang ingin merendahkan manusia lainnya karena alasan ‘penghisapan’. ini dosa besar, karena didalam sarasamuscaya TUHAN bersabda : ‘ terlahir jadi manusia adalah langka dan sangat mulia’. tapi kemudian direndahkan oleh manusia lain karena alasan kasta. dosa besar… karena didalam bhagawadgitha TUHAN juga bersabda : AKU bersemayam didalam setiap insan. orang yang bodoh dan angkuh,tidak mengetahui dan menghormati AKU yang menghidupi semua ini,karenanya kulempar mereka berkali kali kedalam kandungan raksasa dan api neraka. mari kita mulai berbenah,memperbaiki kalau ada yang harus diperbaiki,untuk membina kehidupan secara lebih manusiawi,menuju bali yang SANTHI. OM ANO BADRAH KRETAWO YANTU WISWATAH. semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.

    • 6.1
      Mantra says:

      Biasa saja, tidak ada perbudakan dalam kasta.. Tidak ada yg perlu dihiperbolakan..
      Kalau mau menghormati yg berkasta silahkan, tidak juga silahkan. Semua kan tergantung perbuatan dan prilaku masing masing.. Baik ya dihormati, buruk ya pergi aja..
      Tp jangan sampai jadi membenci org berkasta, malah dihina dan direndahkan, itu juga salahkan.. Biasa biasa saja..
      Kaum berkasta tidak ingin tll dihormati, tp juga tidak mau dihina. Jadi.. Damailah baliku.. Jauhkan dari profokator dan pemecah belah..

    • 6.2
      Yoga says:

      Di zaman yang serba blak-blakan sperti ini, banyak sekali sekali pemikiran orang yang terbalik dan bertolak belakang dengan ajaran sastra dan agama. hendaknya dalam membaca sastra dan agama harus dimengerti secara menyeluruh dan jangan hanya sebagian.
      Dan wangsa memanglah harus ada di Bali, dan jangan coba-coba untuk menghilangkannya atau melenyapkannya.

  • 7
    guli says:

    Kasta ada di Bali dibawa oleh Daghyang Nirarta.Nirarta mungkin terpengaruh oleh tulisan-tulisan Barat tentang Hindu. Sehingga saat diangkat jadi Bhagawanta Kerajaan oleh Dalem Waturenggong, beliau membuat kasta-kasta di bali dan di sahkan oleh Dalem Waturenggong. Sebelumnya di Bali maupun di Jawa yang beragama Hindu tidak ada yang bernama Ida bagus, Anak Agung, maupun Dewa.Zaman Hindu di jawa gelar bangsawan cukup dipanggil Sri atau Raden. Jaman Mataram Islam Kasta di Jawa menghebat dengan gelar-gelar RA.GPA,GPAA,GKR,KH,Habib dll.Coba telusuri, kapan mulai ada nama-nama Ida Bagus,Anak Agung, Igusti, I Wayan dll di Bali. Sedang di India Kasta mulai dirintis keberadaannya mulai abad 7 dan menghebat pada abad 17. kasta di India di bawa oleh pendatang Arab dan Eropa, saat mereka memperkenalkan kitab sucinya Al Quran dan Injil. dalam Al Qurang manusia dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok yaitu Rasul,Sahabat,kafilah,para budak dan orang kafir demikian juga dalam injil,ayat-ayat perbudakan sangat banyak kita jumpai.
    William Jones lah yang pertama kali mengusulkan pembagian Kasta di India.Ide Jones ini didukung Herbert Harapan Risley,administrator Inggris di India.dan di sahkan oleh raja Inggris di Awal Abad 17.Mulai saat itulah bermunculan tulisan-tulisan tentang Kasta yang dikait-kaitkan dengan Hindu dan cilakanya cendekiawan Hindu menerima begitu saja teori-teori menyesatkan tersebut,seperti yang dibuat oleh Nirarta tsb. mungkin diuntungkan kali ya…..

    • 7.1

      Om Swastyastu,

      Ada baiknya kalau bisa, kepustakan sebagai sumber informasi disebutkan, agar diskusi lebih ilmiah.

      Om Santih, santih, santih, Om

    • 7.2
      Yoga says:

      Wah wah wah berani sekali ya mengatakan bahwa teori yang diajarkan oleh Dang Hyang Nirartha itu sesat dan salah?
      Sebaiknya sebelum bicara hendaknya dipikirkan terlebih dahulu.
      Apakah anda tidak pernah membaca sejarah????
      Apakah Anda tau sebelum ditanamkan Panca Datu di Besakih tidak ada manusia yang bisa tinggal di Bali. Dan karena ditanamkan Panca Datu di Besakih maka Bali ini terbebas dari segala yang bersifat negatif sehingga bisa dihuni.
      Apakah anda tidak berfikir??
      Dengan Anda mengatakan bahwa Ida Bhatara Lelangit mengajarkan ajaran dan teori sesat, itu berarti Anda berani menghina Tuhan dan para Dewata. Dan sesungguhnya orang yang menghina Tuhan dan para Dewata adalah seorang pendosa dan seorang yang hina.

    • 7.3
      Made Mudita says:

      @guli:
      Wah terlihat sekali bahwa anda sangat membenci orang-orang yang berkasta lebih tinggi dari anda. Ini sudah di luar tata krama ya anda berbicara. Apalagi sampai mengatakan Danghyang Nirartha membuat toeri yang menyesatkan, apakah anda ini masih waras atau sudah gila?

  • 8
    guli says:

    Max Muller pernah menulis surat kepada istrinya tgl 9 desembaer 1867 yang mengatakan bahwa ia telah melakukan peran seperti yang ditugaskannya, shg India yang berpendidikan tidak akan pernah bisa kembali keakar mereka 3000 tahun yang lalu.India akan menemukan akar-akar mereka melalui buku-buku kami.Baca Max Muller Wikipedia Indonesia.Kasta yang dilekatkan pada Agama Hindu berasal dari tulisan-tulisan Indolog tersebut.Kalau umat Hindu lebih cerdas, pasti tidak menerima begitu saja teori kasta itu baik yang diperkenalkan oleh Wiliiam Jones maupun Herbeit Hope Reisly. Coba amati Bahawan Wyasa/Abiyoso,yang mengkodipikasi Weda, Wiyasa berkulit Hitam,Hidung Pesek,Mata melotot jelas bukan bangsa Arya.Batara Narada, an seorang Babu/pelayan yang kemudian menjadi Muni bahkan menjadi Betara Narada.Damar Wulan< Ken Arok, Untung Surapati adalah Ksatrya yang berasal dari rakyat biasa, bahkan dari Budak. Sumber Bacaan William Jones. Herbeit H Reisly Wikipedia Indonesia.

    • 8.1

      Om Swastyastu,

      India memang telah berubah dari akar agama dan budaya asli (Hindu), karena :

      1. Invasi muslim dimasa kekuasaan dinasti Pratihara pada pertengahan abad ke-10. Klimaks kekuasaan muslim terjadi pada tahun 1526 – 1707 dimasa dinasti Mughul. Sumber : Encyclopedia Americana, buku ke-14, halaman 943 dst.

      2. Penjajahan Inggris sejak tahun 1707 – 1815. Kelompok intelektual Inggris (Indolog) mempelajari, menganalisa, kemudian merekonstruksi ajaran-ajaran Weda menurut versinya, untuk kepentingan penjajah dengan tujuan utama meng-”kristenisasi”-kan India. Sumber : Encyclopedia Americana, buku ke-14, halaman 947 dst.

      3. Missionaris kristen di masa penjajahan Inggris bahkan membuat statements yang sangat arogan tentang keinginannya menjadikan penduduk India sebagai pemeluk kristen. Mereka antara lain :
      - J.P. Leonard
      - Richard Temple
      - Francis Xavier
      - Paul Saunders
      - Lady Teresa

      4. Cita-cita para missionaris mengkristenkan India terus berlanjut hingga kini. Yang mengejutkan, bahkan Paus Yohanes Paulus II mempunyai rencana untuk mengkristenkan tidak hanya India, tetapi seluruh dataran Asia dalam milenium III. Ini terbukti ketika pada tanggal 6 Nopember 1999 di New-Delhi Paus menanda tangani sebuah dokumen yang bersifat Apostolic Exhortation (perintah ke-Pausan) yang berjudul : The Marvel of God’s plan in Asia.

      Sumber untuk butir 3,4 diatas : Veda & Injil, satu study komparatif, Kanayalal M. Talreja, editor Ngakan Made Madrasuta. Media Hindu, 2005

      Saran saya, kalau belajar Hindu, hati-hati, jangan sampai mempelajari Weda dari terjemahan bahasa Inggris, yang ditulis oleh para Indolog. Bisa keliru nantinya. Lebih baik belajar Weda dari kepustakaan Hindu-Bali.

      Om Santih, santih, santih, Om

    • 8.2
      Yoga says:

      Dimanakah Anda membaca cerita-cerita yang sangat salah besar seperti itu????
      Itu sangat memperlihatkan bahwa Anda adalah seorang yang bodoh dan tidak mengerti arti dan isi dari buku, sastra, dan agama.

  • 9
    Kadek says:

    Jika kita tidak menyadari kesalahan masalalu tentang kasta yang menjadi senjata para penjajah untuk mempecah belah bangsa indonesia dan memperbaiki diri sendiri maka pembodohan bisa saja terus berlangsung.kita semua tahu bahwa manusia di lahirkan kedunia ini dengan cara yang sama,dan setiap orang yang lahir kedunia ini berhak mengambil keputusan untuk hidup secara baik.lihat lah kehidupan ini merupakan hasil dari keputusan dari orang itu sendiri.hilangkan pemikiran pemikiran fanatik yang kurang terpelajar.apalagi secara gamblang telah di jelaskan bahwa menurut agama hindu kasta adalah pembagian warna menurut pekerjaan atau fungsi dan pengabdian seseorang terhadap kemajuan masyarakat.
    Sekarang tinggal keputusan kita untuk mengikuti ajaran agama yang maha mulia dan berada di jalur tuhan dengan mencintai sesama,atau menentang ajaran agama demi status quo dan menyesat kan masyarakat dengan politik pecah belah dari belanda dan para penjajah yang licik.saya yakin orang orang bali sekarang lebih sangat terpelajar dan dapat mengembangkan diri sehingga kita semua dapat hidup bahagia,saling mencintai sesama dan berada di jalur agama dan IDA SANGHYANG WIDHI.
    OM SHANTI SHANTI SHANTI

    • 9.1

      Om Swastyastu,

      Buah pikiran yang cemerlang, jujur, suci, berani, dan bertanggung jawab. Inilah Sanatana Dharma. Andalah generasi muda yang patut menjadi panutan, mempertahankan. melindungi dan melestarikan Hindu di Bali. Suksma.

      Om Santih, santih, santih, Om

      • Yoga says:

        Maaf jikalau saya lancang.
        Menurut saya itu memang pikiran yang cemerlang, jujur, berani, dan bertanggung jawab. Namun itu bukanlah suatu pemikiran yang berasal dari pikiran yang suci, melainkan dari ambisi, iri hati, dan kebencian.

    • 9.2
      Yoga says:

      Memang Manusia dilahirkan dengan cara yang sama, begitupula dengan bangsa burung berkembang biak dengan cara bertelur dan tidak ada urung yang berkembang biak dengan cara sperti mamalia. Tapi apakah semua burung itu sama???
      Jelas berbeda bukan???
      Tidak ada burung kenari bertelur dan menetas menjadi burung Garuda. Begitupun juga sebaliknya.
      Dan mari kita lihat ke contoh yang lebih jelas. Misalkan ayam hitam bertelur dan telur itu menetas, pasti itik dari telur ayam hitam itu akan menjadi ayam hitam pula, tidak akan bisa menjadi ayam putih.
      Kalau ditinjau dari semua makhluk ciptaan Tuhan, Tuhan selalu menciptakan tumbuhan, hewan dengan jenis yang berbeda.
      Sama seperti ayam tidak hanya ada satu jenis bukan???
      Tetapi banyak, ada ayam hitam, putih, brumbun, dan lain sebagainya.
      Dan Sekarang saya bertanya kepada Anda, apakah semua ayam itu sama?????
      Jika Anda mengatakan sama, berati Anda bodoh.
      Ayam hitam akan tetap menjadi ayam hitam, dan ayam putih akan tetap menjadi ayam putih, begitupun dengan ayam-ayam yang lain dan hewan yang lain.
      Kalau bangsa binatang kita yang bisa membedakannya, tetapi manusia Tuhan dan para Dewatalah yang bisa membedakan wangsanya.

      • De'Oka says:

        Om suastiastu
        Cerita jero jempiring ada di web ini pada menu sketsa umat. itu sangat menarik.
        itu gambaran sistem wangsa di bali.

        so… jika fanatik wangsa (spt pada cerita “jero jempiring”)…. apa kata dunia.

        • Yoga says:

          Apa kata Dunia????
          Dunia akan mengatakan apa yang memang sepantasnya dikatakan. Tetapi kebanyakan orang keliru dengan apa yang telah Dunia katakan. Kebanyakan orang zaman sekarang sekarang itu dirasuki oleh Bangsa Gandharwa, Detya, Raksasa, dan Bhuta Kala, oleh karena itu Aku terlahir di Dunia ini untuk menentang mereka yang dirasuki Bangsa Ghandarwa dan para Bhuta Kala itu. Dan orang-orang yang mengatakan bahwa semua makhluk ciptaan Tuhan itu sama dan tidak ada bedanya, dan manusia itu semua sama tidak ada yang namanya Wangsa. Maka orang-orang yang memiliki pemikiran dan berkata seperti itu adalah orang-orang yang telah dirasuki Bangsa Ghandarwa, Detya, Raksasa dan Bhuta Kala. Karena mereka tidak tahu mana yang Dharma dan Adharma, yang Dharma dikatakan Dharma, dan Adharma dikatan Dharma. Oleh karena itu Aku terlahir ke Dunia ini untuk menentang mereka, mereka yang tidak berada di jalur Dharma.
          Kalau memang Kalian ingin melenyapkan Wangsa yang ada di Bali, maka hancurkanlah terlebih dahulu Pura Besakih, karena Pura Besakih adalah Tonggak dari sistem Wangsa yang ada di Bali. Dan Toonggak semua ajaran-ajarang Dharma, Etika, Weda, Sastra dan Hukum Rta.

        • Yoga says:

          Apa kata Dunia????
          Dunia akan mengatakan apa yang memang sepantasnya dikatakan. Tetapi kebanyakan orang keliru dengan apa yang telah Dunia katakan. Kebanyakan orang zaman sekarang sekarang itu dirasuki oleh Bangsa Gandharwa, Detya, Raksasa, dan Bhuta Kala, oleh karena itu Aku terlahir di Dunia ini untuk menentang mereka yang dirasuki Bangsa Ghandarwa dan para Bhuta Kala itu. Dan orang-orang yang mengatakan bahwa semua makhluk ciptaan Tuhan itu sama dan tidak ada bedanya, dan manusia itu semua sama tidak ada yang namanya Wangsa. Maka orang-orang yang memiliki pemikiran dan berkata seperti itu adalah orang-orang yang telah dirasuki Bangsa Ghandarwa, Detya, Raksasa dan Bhuta Kala. Karena mereka tidak tahu mana yang Dharma dan Adharma, yang Dharma dikatakan Dharma, dan Adharma dikatan Dharma. Oleh karena itu Aku terlahir ke Dunia ini untuk menentang mereka, mereka yang tidak berada di jalur Dharma.
          Kalau memang Kalian ingin melenyapkan Wangsa yang ada di Bali, maka hancurkanlah terlebih dahulu Pura Besakih, karena Pura Besakih adalah Tonggak dari sistem Wangsa yang ada di Bali. Dan Toonggak semua ajaran-ajaran Dharma, Etika, Weda, Sastra dan Hukum Rta.

  • 10

    Thomas Thrautman mengatakan bahwa Arsitek rasisme/kastaisme di India adalah Max Muller dan William Jones.
    Kasta yang dilekatkan pada agama Hindu diundangkan tahun 1901 atas usaha Herbeith Hope Risley, administrator Inggris di India.
    Max Muller, anggota Gereja Kristen Oxford 1851. William Jones menantu DR. Jonathan Shipley, uskup landraff dan uskup Asaf.
    Ketut Donder dalam resensi buku “The true history and the religion of India” tulisan swami Prakashanand Saraswati, juga mengatakan peran William Jones yang sangat besar dalam mengacaukan Pemahaman Masyarakat Dunia terhadap Agama Hindu.
    William Jones dalam mengacaukan Pemahaman Dunia terhadap Agama Hindu melalui dua cara yaitu:
    pertama,mendiskreditkan kitab suci Hindu sebagai sumber kasta isme. kedua mendukung teori invasi Aryanya Max Muller.
    Cilakanya, teori-teori para sarjana pesanan misionaris tersebut laris manis dipakai acuan oleh penulis-penulis buku pelajaran sekolah.
    Saya sebagai mantan Sekjen DPP pemuda Hindu, terkadang timbul pula rasa capek untuk mengoreksi buku-buku pelajaran sekolah yang selalu memuat tulisan yang mendeskreditkan Agama Hindu. Melalui diskusi ini pula saya mengajak para Blogger dan umat Hindu terpelajar supaya memusatkan perhatiannya untuk mengoreksi buku-buku pelajaran sekolah, berkaitan dengan Kasta, politheisme,Penyembahan berhala dll yang diarahkan secara sepihak kepada umat Hindu.
    suskme sri Empu dan kawan sedharma

    Sebagai bahan bacaan coba simak:
    1. Max Muller dalam: http://www.wikipedia.org.
    2. William Jones dalam : http://www.wikipedia.org.
    3. Herbeith Hope Risley : http://www.wikipedia.org.
    4. www. Encyclopedia of Authentic Hinduism.
    5. The True History and the Religion of India oleh Swami Prakashanand Saraswati
    6. http://www.dharmagupta.blogspot.com….yang ini blog saya

  • 11

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting