Kasta, dalam Dictionary of American English disebut: Caste is a group resulting from the division of society based on class differences of wealth, rank, rights, profession, or job.
Uraian lebih luas ditemukan pada Encyclopedia Americana Volume 5 halaman 775; asal katanya adalah “Casta” bahasa Portugis yang berarti kelas, ras keturunan, golongan.
Bangsa Portugis yang dikenal sebagai penjelajah lautan adalah pemerhati dan penemu pertama corak tatanan masyarakat di India yang berjenjang dan berkelompok; mereka menamakan tatanan itu sebagai casta.
Tatanan itu kemudian berkembang di Eropa terutama di Inggris, Perancis, Rusia, Spanyol, dan Portugis. Sosialisasi casta di Eropa tumbuh subur karena didukung oleh bentuk pemerintahan monarki (kerajaan) dan kehidupan agraris.
Para elit ketika itu adalah the king (raja), the prince (kaum bangsawan), dan the land lord (tuan/ pemilik tanah pertanian); rakyat jelata kebanyakan buruh tani misalnya di Rusia disebut sebagai kaum proletar adalah kelompok mayoritas yang hina, hidup susah, dan senantiasa menjadi korban pemerasan kaum elit.
Lama kelamaan tatanan ini berubah karena tiga hal utama, yaitu:
- Revolusi Perancis dan Bholshevik (Rusia) yang menghapuskan monarki dan the land lord
- Industrialisasi yang mengurangi peran sektor agraris
- Pengembangan Agama Kristen yang menonjolkan segi kasih sayang diantara umat manusia
Walaupun demikian casta tidak hilang sama sekali; ia berubah wujud sebagai “Class System” yang didefinisikan sebagai:
A differentiation among men according to such categories as wealth, position, and power.
Class System ini dianalisis secara ilmiah oleh berbagai tokoh masyarakat; yang terkemuka adalah Karl Marx dengan teorinya: The relations of production.
Inilah embrio pemahaman sosialis komunis yang ingin meniadakan perbedaan kelas masyarakat, di mana pemerintah menguasai sumber-sumber kehidupan dan mengupayakan perimbangan income yang wajar diantara rakyatnya.
Peredaran zaman menuju ke abad 20 membawa Class Theory yang klasik seperti pemikiran Karl Marx berubah menuju era baru seperti apa yang disebut sebagai Class Mobility, yaitu pengelompokan sosial karena kepentingan profesi.
Kini kita biasa mendengar kelompok-kelompok: usahawan, birokrat, intelektual, militer, dan rohaniawan; mereka kemudian mengikat diri lebih khusus kedalam organisasi-organisasi seperti: IKADIN, IDI, ICMI, ICHI, MUI, PHDI, dll.
India yang disebut dalam berbagai sumber sebagai asal Kasta Stelsel, sebenarnya mempunyai sekitar 3000 kelompok sosial masyarakat, namun pada umumnya dapat dibedakan menjadi empat.
Pengelompokan ini di India tidak hanya ditemukan pada masyarakat yang beragama Hindu saja, tetapi juga pada masyarakat yang beragama lain misalnya penganut Islam berkelompok pada: Sayid, Sheikh, Pathan, dan Momin; penganut Kristen berkelompok pada: Chaldean Syrians, Yacobite Syrians, Latin Catholics, dan Marthomite Syrians; penganut Budha berkelompok pada: Mahayana, Hinayana, dan Theravadi.
Istilah pertama yang digunakan di India bukan kasta tetapi “varnas” Bahasa Sanskerta yang artinya warna (colour); ditemukan dalam Rig Veda sekitar 3000 tahun sebelum Masehi yaitu Brahman (pendeta), Kshatriya (prajurit dan pemerintah), Vaishya (pedagang/ pengusaha), dan Sudra (pelayan).
Tiga kelompok pertama disebut “dwij” karena kelahirannya diupacarai dengan prosesi pensucian.
Dalam Bhagavadgita percakapan ke-IV sloka ke-13 ditulis:
CHATUR VARNYAM MAYA SRISHTAM, GUNA KARMA VIBHAGASAH, TASYA KARTARAM API MAM, VIDDHY AKARTARAM AVYAYAM
artinya: catur warna adalah ciptaan-Ku, menurut pembagian kualitas dan kerja, tetapi ketahuilah walaupun penciptanya, Aku tidak berbuat dan mengubah diri-Ku.
Warna adalah profesi atau bidang kerja yang dilaksanakan seseorang menurut bakat dan keahliannya; tidak ada perbedaan derajat diantaranya karena masing-masing menjalankan karma dengan saling melengkapi.
Mantram-mantram dari Yajurveda sloka ke-18, 48 antara lain berbunyi:
RUCAM NO DHEHI BRAHMANESU, RUCAM RAJASU NAS KRDHI, RUCAM VISYESU SUDRESU, MAYI DHEHI RUCA RUCAM
artinya: Ya Tuhan Yang Maha Esa bersedialah memberikan kemuliaan pada para Brahmana, para Ksatriya, para Vaisya, dan para Sudra. Semoga Engkau melimpahkan kecemerlangan yang tidak habis-habisnya kepada kami.
Yajurveda Sloka ke 30, 5 berbunyi:
BRAHMANE BRAHMANAM, KSATRAYA, RAJANYAM, MARUDBHYO VAISYAM, TAPASE SUDRAM
artinya: Ya Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan Brahmana untuk pengetahuan, para Ksatriya untuk perlindungan, para Vaisya untuk perdagangan, dan para Sudra untuk pekerjaan jasmaniah.
Profesi yang empat jenis itu adalah bagian-bagian (berasal) dari Tuhan Yang Maha Esa yang suci, diibaratkan sebagai anatomi tubuh manusia dalam tatanan masyarakat, sebagaimana Yajurveda sloka 31, 11 menyatakan:
BRAHMANO ASYA MUKHAM ASID, BAHU RAJANYAH KRTAH, URU TADASYA YAD VAISYAH, PADBHYAM SUDRO AJAYATA
artinya: Brahmana adalah mulut-Nya Tuhan Yang Maha Esa, Ksatriya lengan-lengan-Nya, Vaisya paha-Nya, dan Sudra kaki-kaki-Nya.
Selanjutnya doa yang mengandung harapan agar masing-masing profesi/ warna melaksanakan swadharma yang baik terdapat pada Yajurveda sloka 33,81:
PRAVAKAVARNAH SUCAYO VIPASCITAH
artinya: para Brahmana seharusnya bersinar seperti api, bijak, dan terpelajar;
Yajurveda sloka 20,25:
YATRA BRAHMA CA KSATRAM CA, SAMYANCAU CARATAH SAHA, TAM LOKAM PUNYAM PRAJNESAM, YATRA DEVAH SAHAGNINA
artinya: di negara itu seharusnya diperlakukan warga negaranya sebaik mungkin, di sana para Brahmana dan para Kesatriya hidup di dalam keserasian dan orang-orang yang terpelajar melaksanakan persembahan (pengorbanan).
Kesimpulannya adalah Warna itu realistis dan idealnya semua profesional berbuat sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama dan kesejahteraan umat manusia.
Warna seseorang tidak selamanya tetap apalagi turun temurun; misalnya seorang petani (berwarna sudra) karena ketekunannya berhasil menyekolahkan anaknya kemudian hari menjadi bupati maka anaknya sudah menjadi warna Ksatriya; demikian sebaliknya seorang keturunan Brahmana yang tidak lagi berprofesi sebagai Wiku tidak dapat disebut sebagai warna Brahmana.
Perubahan status pada seseorang bahkan dapat terjadi setiap saat menurut bidang tugasnya, misalnya seorang pesuruh di suatu Kantor yang merangkap menjadi Pemangku di Pura/ Sanggah Pamerajan; ketika bertugas sebagai pesuruh dia berwarna Sudra, tetapi jika bertugas nganteb piodalan di Pura dia berwarna Brahmana.
Warna yang diabadikan bahkan diwariskan turun temurun terjadi di India, sebagai usaha kelompok elit mempertahankan status quo, yang sebenarnya sudah sangat menyimpang dari ajaran suci Weda.
Gejala mengabadikan warna inilah yang dilihat oleh orang-orang Portugis sehingga timbullah istilah “casta” seperti yang diuraikan di atas.
Penerapan kasta stelsel di India menimbulkan pengkotak-kotakan masyarakat sehingga mereka saling bertikai. Dalam kondisi seperti ini jiwa nasionalisme pudar sehingga India mudah dipecah belah dan akhirnya dijajah Inggris.
Perjuangan Mahatma Gandhi membangkitkan nasionalisme India dibayar sangat mahal yaitu dengan jiwanya sendiri ketika dia ditembak oleh seorang fanatikus kasta.
Agama Hindu kemudian menyebar ke Indonesia lengkap dengan tatanan masyarakat menurut “warna” masing-masing. Mula-mula di Jawa tatanan masyarakat masih murni menurut Weda yaitu tatanan menurut profesi atau “Warna”.
Ketika Majapahit hendak meluaskan kerajaan dengan cita-cita menyatukan Nusantara yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya Gajahmada, maka Majapahit menundukkan Kerajaan Bali Dwipa pada abad ke-13.
Para “penjajah Majapahit” membawa serta kaum elit yang memimpin kerajaan Samprangan. Kaum elit itu dinamakan Triwangsa, yaitu Brahmana, Kesatria, dan Wesya. Semua penduduk Bali-asli yang dijajah, dikelompokkan sebagai Wangsa Sudra.
Tujuan politik Gajahmada adalah agar kaum Bali-asli tidak bisa eksis, sehingga kelanggengan pemerintahan Samprangan dapat berlanjut terus.
Sejak masa itulah “Warna” di Bali berubah menjadi “Wangsa” atau “Kasta” karena hak-hak kebangsawanan diturunkan kepada generasi seterusnya.
Setelah kerajaan-kerajaan di Bali runtuh, kemudian Indonesia menjadi negara Republik, hak-hak kebangsawanan mereka dengan sendirinya hilang. Namun demikian titel-titel nama depannya masih digunakan, sekedar untuk mengenang kejayaan masa lalu dan mungkin dengan alasan lain yaitu menghormati leluhur.
Sekarang tinggal masyarakat saja yang menilai kedudukan seseorang. Tinggi rendahnya status sosial seseorang di masyarakat ditentukan pada peranan pengabdiannya kepada kepentingan masyarakat, bukan pada embel-embel predikat nama itu.
Mereka yang bijaksana akan senantiasa menjauhkan perilaku feodalisme, karena feodalisme itu membodohi diri sendiri.

brahmana wangsa……….
he he he he he he
mungkin kl ga salah itu cerita (mitos) Danghyang Nirartha, Dalem akhirnya setuju untuk mengangkat I Kelik sebagai pengganti Ida Bhujangga ya…
sehubungan blm ada sumber yg jelas, blm bs kiranya kita terima secara umum…
mengenai tuntunan dr ISWW.. smua meditator memperolehnya.. tp prl diingat, sistim kepercayaan kita itu berdasarkan Tri Pramana. disamping mempercayai WAHYU tp mst berdasarkan SASTRA juga…
itu pegangan kita sbg umat beragama bukan sekedar kepercayaan saja
salam _/\_
@Budi: tetapi anda salah dalam satu hal. Hanya berdasarkan sastra di zaman sekarang tentulah akan menjadi susah. Karena sastra zaman dahulu berbeda dengan pemikiran manusia di zaman sekarang.Dan juga sastra tidak sepenuhnya menjadi patokan. Hendaknya dalam memcaca sastra haruslah dipilah-pilah, mana yang sesuai dengan pemikiran orang di zaman sekarang dan mana yang tidak sesuai. Kepercayaan tidak hanya berbatas Tri Pramana(Bayu, Sabda, Idep).
Kalau hanya berbatas Tri Pramana, seseorang tidak akan menemukan sesuatu yang sejati.
Tidak hanya berbatas Tri Pramana tetapi juga Dharma Yoga(Yoga yang sejati dan utama).
Zaman sekarang tidak akan ada sumber yang jelas, karena sumber yang jelas itu masih disembunyikan dan berusaha untuk dihilangkan oleh beberapa pihak. Dan juga masih belum bisa dibaca seutuhnya dan dalam mengartikannya masih banyak diperkirakan.
Sekarang Aku hanyalah bisa menunggu kapan Beliau akan datang dan mengatakan apa yang sebenarnya. Yang ada akan tetap ada, dan yang tiada akan tetap menjadi tiada…………Terima kasih atas sarannya.
om swastiastu, saya berasal dari tabanan tetapi sejak kecil merantau di denpasar bersama orang tua saya. saya melihat postingan tentang riwayat kasta di Bali sepertinya menarik, wah…ternyata setelah saya buka, bukan hanya menarik saja tetapi sangat-sangat menarik. karena disini berisi pemprofokasian, apalagi yang membuat saya lebih tertarik lagi yang menjadi profokatornya adalah seorang pandita. jadi saya berpendapat bahwa yang sekarang bergelar sebagai bhagawan dwija tidak pantas menjadi seorang pandita, cocoknya anda menjadi politikus. Karena yang saya tahu dalam ajaran agama hindu seorang pandita harus mendalami tentang kerohanian dan sudah terputus dari masalah duniawi, tapi anda itu berbeda, bahkan sangat berbeda karena anda mahir sebagai seorang profokator. apakah ini tujuan anda untuk menjadi seorang pandita???? dan diatas termuat kalimat “seorang bisa dikatakan brahmana jika budi dan karmanya adalah brahmana/baik” jadi yang ingin saya tanyakan adalah : jika ada seekor kera yang budi dan karmanya seperti manusia, apakah dia bisa dikatakan sebagai manusia sejati? dan contoh yang nyata, seekor burung beo bisa menirukan suara manusia dan berbicara layaknya manusia apakah bisa burung beo itu dikatakan manusia sejati?
om suastiastu,
bagi saya apa yang disampaikan dalam artikel blog ini mungkin terkesan memprovokasi, tapi menurut saya Ida sekedar berbagi informasi yang sekiranya mungkin, saya katakan mungkin karena tidak tau, mungkin didapatkan dari sumber yang Ida percaya sehingga disampaikan ke umat.
tapi menyanggah pertanyaan soal bisakah kera berbudi luhur disebut manusia, saya pikir bisa. Bahkan mungkin jadi dewa atau sungsungan. Saya pikir semua pasti mengenal salah satunya Hanuman. Betul, menurut cerita berbagai versi kelahirannya ada yang bilang putra Siwa, ada yang bilang Siwa sendiri yang inkarnasi, namun terlepas dari itu wujudnya Kera, budinya luhur, kesetiaan dan pengabdiannya tidak tertandingi, hari ini Hanuman disungsung, dihormati, tentu bukan karena sekedar titisan Siwa atau putra Siwa, tapi karena keluhuran budinya.
atau dari legenda negeri seberang, Sun Go Kong, siapa yang tidak kenal kera satu ini? mungkin hanya mitos tapi nama Sun Go Kong tentu dihormati.
Garuda, siapa yang tidak kenal atau pernah mendengar cerita Garuda yang mencari Amerta dari Wisnu untuk menebus perbudakan ibunya oleh ibu tirinya dan para naga? Hari ini Garuda digunakan sebagai lambang negara Indonesia karena sifatnya, pengorbanannya, keteguhannya, kekuatannya dan sifat mulianya yang lain. Salah satu Garuda lain yang berbudi luhur adalah Jatayu. Seekor burung yang bahkan dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah melebihi seorang pengabdi dan pemuja Siwa yang taat (Rahwana). Nama seekor burung lebih abadi dan dihormati daripada nama seorang manusia biasa seperti saya.
kalo jaman sekarang, mungkin hewan-hewan unik yang berani menyelamatkan majikannya pada saat majikannya tidak berdaya dapat disebut melebihi sifat manusia. Cari-cari di internet atau media televisi yang menampilkan hal-hal tersebut, tentunya tidak sedikit cerita seperti itu akan ditemukan.
Jadi saya pikir hewan pun dapat sangat dihormati bahkan dipuja bila berbudi luhur. Sebaliknya, manusia dapat dicaci dan dimaki jika berbudi jahat. Katakanlah orang-orang seperti diktator, koruptor, psikopat, teroris, dan sebagainya.
tapi kalo beo yang hanya bisa bicara manusia apalagi cuma bisa niru, atau bilang selamat pagi, pagi bos, apalah itu, itu sich bukan sebuah contoh nyata hewan dapat dikatakan manusia.
om shanti shanti shanti om
maaf saudari @adhiayu. kamu salah mengartikan maksud saya! kalau contonya Sang Hyang Hanuman beliau memang titisan dewa begitu pula dengan garuda (jatayu) yg memang adalah dewa dan juga Sun Gokong beliau berasal dari sari pati Dewi Niwa jadi beliau juga berasal dari dewa/dewi akan tetapi beliau memperlihatkan kesaktiaannya dalam wujud seperti itu, tetapi beliau tidak berasal dari binatang. dan memang pantas beliau disungsung, dan saya tidak mengatakan burung beo itu bisa dikatakan sebagai manusia! saya hanya bertanya seekor binatang yg memang berasal dari binatang! bukan para dewata yg menampakkan diriNYA seperti wujud binatang. dan malah sekarang banyak orang seperti rahwana yg memuja siwa hanya untuk mendapatkan kesaktian agar bisa menguasai dunia, suksma
kalo manusia sifat nya seperti kera, penuh dengan sifat sifat binatang apa bisa juga di sebut manusia sejati?
@Wayan Sudharma: ia masih tetap disebut manusia, akan tetapi manusia yang berwatak binatang. Dan ia bukanlah binatang!!
trus bagai mana dengan derajatnya di masyarakat? hina atau mulia?
@Wayan sudharma: ya jelas hina, mana mungkin mulia?
Sebagai contoh: jika kau berwatak seperti binatang, apakah kau mau dipanggil binatang?(hanya perumpamaan, di sini Aku tidak mengejek kau)
Diri sendiri saja dipakai contoh!!
Masak hal ini harus ditanyakan lagi??
OSA
suksma bagi stiti Dharma, bagi tiang pribadi artikel ini sangat menarik dan bermanfaat, diperlukan pengetahuan terutama keberanian yang lebih untuk menulis artikel tentang KASTA dibali, karena bagi golongan fanatik kasta dan bagi golongan yang merasa tertinggi dan terberhak karena hanya se-mata2 berasal dari kelahiran dari golongan Kasta tertentu, maka artikel ini akan terasa sangat provokatif dan membahayakan dan juga akan bereaksi sangat reaktif, tapi bagi pencari kebenaran yang tidak fanatik kasta dan kasta2 bawah seperti tiang terasa sangat bermanfaat untuk mengetahui makna dan arti CATUR VARNA yang sebenarnya dalam memilih pemimpin duniawi maupun spiritual.
menurut tiang, orang yang telah lepas dari keduniawian bukan berarti tidak boleh mencerahi umat, malah itu termasuk kewajiban mereka bagi umat yang masih terikat ilusi duniawi, jadi aneh kalau orang yang masih terikat ilusi duniawi dicerahi oleh mereka yang masih terikat ilusi duniawi juga, jadi seperti orang buta dituntun orang buta, takutnya salah2 bisa masuk jurang bareng2.
harap dimengerti, disini permasalahannya KASTA antara sesama MANUSIA, bukan antara binatang dengan binatang apalagi antara manusia dengan binatang, seperti contoh kera dan beo anda
jika kera bertindak luhur layaknya manusia sejati, itu urusan kera dengan umat kera, tapi jika manusia berbudi rendah dan bertindak kebinatangan layaknya kera maka itu menjadi urusan kita sebagai umat manusia
begitu pula jika beo berbicara layaknya manusia itu urusan beo dengan spesies beo, tapi jika manusia ASAL bicara layaknya beo maka itu menjadi urusan kita sebagai umat manusia, suksma.
@bli yoga…
bner juga sie… sastra jaman skg mungkin diragukan… tp sastra yg sudah adan (veda) mungkin bs mencerahkan…
trus hubungannya…
kl Veda menjelaskan ttg “Warna” kenapa msh fanatik “wangsa”..?
mslh tri pramana mksdnya…
1> Agama Pramana adalah suatu ukuran atau cara yang dipakai untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan mempercayai ucapan- ucapan kitab suci, karena sering mendengar petuah- petuah dan ceritera para guru, Resi atau orang- orang suci lainnya.
2> Anumana Pramana adalah cara atau ukuran untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan menggunakan perhitungan logis berdasarkan tanda- tanda atau gejala- gejala yang dapat diamati. Dari tanda- tanda atau gejala- gejala itu ditarik suatu kesimpulan tentang obyek yang diamati tadi.
3> Pratyaksa Pramana adalah cara untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan cara mengamati langsung terhadap sesuatu obyek, sehingga tidak ada yang perlu diragukan tentang sesuatu itu selain hanya harus meyakini.
terlepas dr profokasi…
adakah yang salah dari tulisan tersebut..?
adakah sastra weda yg diplintir dlm mengartikan shg saudara2 kita yg baca menjadi bingung? atau menjadi salah paham karena penafsiran tsb…
mari kembali ke ajaran terdahulu agar Hindu Bali tidak dikikis jaman.. om santih…
@Budi Bagus: Ya kamu benar banyak orang yang bingung karena salah menafsirkan arti dan makna dari weda itu, dan juga memang ada yang sengaja diplintir…..Dan apa kamu tahu apa arti dari fanatik tersebut..Fanatik berarti membela yang tidak sebenarnya pantas untuk dibela…….Kamu memang benar kalau dalam Weda tidak dijelaskan mengenai Wangsa, akan tetapi sebelum membaca Weda hendaknya kamu tahu apa inti permasalahan yang tercantum dalam weda tersebut….Kalau kamu tidak mengetahui inti permasalahan setiap weda yang kamu baca, tentu kamu akan menjadi bingung dan salah menafsirkan arti, isi, dan makna dari Weda tersebut…Akan tetapi di zaman sekarang sangat susah membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan juga akan sangat susah untuk membuktikan sastra” yang sengaja diplintir.
Hindu memang akan kembali seperti dahulu, dan Beliaulah yang akan segera menjawabnya……Om Awignamastu
@Budi Bagus: dan untuk Tri Pramana yang kamu maksud itu semua benar, tetapi apakah Tri Pramana itu bisa menjamin sebuah kebenaran yang sejati???????
1> Agama Pramana adalah suatu ukuran atau cara yang dipakai untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan mempercayai ucapan- ucapan kitab suci, karena sering mendengar petuah- petuah dan ceritera para guru, Resi atau orang- orang suci lainnya.
“dalam masalah ini banyak orang masih belum mengerti akan ucapan-ucapan kitab suci yang mereka baca karena ada yang salah menafsirkannya dan juga ada bagian yang kurang. Dan juga salah menafsirkan petuah-petuah yang diajarkan oleh gurunya, Maharsi atau Orang-orang yang memang benar-benar suci.”
2> Anumana Pramana adalah cara atau ukuran untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan menggunakan perhitungan logis berdasarkan tanda- tanda atau gejala- gejala yang dapat diamati. Dari tanda- tanda atau gejala- gejala itu ditarik suatu kesimpulan tentang obyek yang diamati tadi….”Sebenarnya sudah ada gejala-gejala yang dapat diamati, akan tetapi orang-orang yang berkeinginan keras untuk menghilangkan Wangsa sengaja tidak memberikan dan mengikut sertakan contoh-contoh tersebut agar mereka bisa menang. Dan juga sengaja untuk disembunyikan.”
3> Pratyaksa Pramana adalah cara untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan cara mengamati langsung terhadap sesuatu obyek, sehingga tidak ada yang perlu diragukan tentang sesuatu itu selain hanya harus meyakini….”Sama hal yang kedua…..!”
Apakah kurang jelas….???
kl bgt.. mohon penjelasan universal ttg strata kehidupan di bali.. apakah sudah sesuai dg sastra…?
mohon jg dalil weda yang membenarkan hal2 tersebut…
kl kita tidak mempercarai seseorang, guru ataupun wahyu.. tentu kita harus merujuk pada sastra weda.
mohon diberikan penjelasan tentang hal tersebut.. agar smua permasalahan ini tidak saling menyalahkan, tp dasar pijakan tidakpunya…
seperti halnya HUKUM, tentu ada payung hukum yg harus kita percayai dan harus di ikuti, yaitu WEDA
buat saudara2 sedharma…
berikut tyg coba kumpulkan bbrp artikel yg tyg kemas menjadi satu.. bila berkenan silahkan baca, semoga tulisan ini be membantu membuka pikiran kita semua tentang kesalahpahaman ini..
semoga bermanfaat..
mohon masukannya.. kalau bisa yang berbobot via sastra weda minimal ada sumber lontar yang menjadi acuan
untuk menghindari “persepsi” dan pendapat2 pribadi yang diragukan keselarasannya dengan sumber kitab suci kita WEDA
salam damai.. smoga pikiran yang baik datang dari berbagai penjuru.
Om Swastiastu…artikel dari Sdr Budi Bagus sungguh Berbudi dan Bagus sekali…membuka mata dan pencerahan untuk sesama umat yang mungkin lagi pangling dan bingung melihat apa itu kasta, apa itu warna, apa itu wangsa yang telah salah kaprah selama berabad abad dibali..maklum dulu siapa yang berani melawan karena masalah ini berada pada kekuasaan kerajaan…kalau sekarang?
kita hanya bisa berdoa agar bagi yang pangling diberikan tuntunan yang sebenar-benarnya…Kitab Suci Wedha hendaknya menjadi acuan dan pegangan..jangan lontar-lontar yang bisa saja dibuat berdasarkan “pesanan” penguasa jaman dulu..
Selamat merayakan Galungan & Kuningan. Damai, Damai, Damai
Om Swastiastu..bagi tiang lebih baik menilai seseorang dari perbuatannya dan yang disampaikan Ida Beghawan dalam blog ini adalah sebuah pengetahuan yang membawa pencerahan, terlepas dari segala perdebatan yang ditimbulkan. Saya rasa dan yakin mayoritas umat Hindu tidak setuju dengan sistem kasta ini. Di bali kasta hanyalah kesalahpahaman menahun yang dipakai kelompok-kelompok yang diuntungkan untuk melanggengkan status quo. Lebih baik berbuat daripada hanya berteori dan mendebat dengan analogi maupun sastra agama yang multi tafsir.
Om shanti..Om
@ Mahendra:
Saya lebih yakin dan sangat yakin bahwa masih banyak orang/umat Hindu Bali dan bahkan lebih banyak yang masih menghormati wangsa seperti halnya menghormati catur guru.
Wah memang benar ya kalau bukan inangnya yang dihabisi terlebih dahulu maka anak buahnya akan selalu ada dan menyebar untuk menginfeksi orang lain.
Dan juga bukankah saudara mahendra juga hanya bisa bertoeri saja tanpa berbuat apa-apa?
Kalau memang lebih banyak masyarakat Hindu Bali yang membenci wangsa, maka sudah dari dulu wangsa hilang dan bukannya sekarang. Apapun yang lebih banyak pasti akan menang(hanya untuk di jaman sekarang). Jadi coba berpikir kritis ya?
Banyak kok kejadian-kejadian yang berhubungan dengan wangsa, seperi komentarnya yoga dan lain”. Apakah anda itu menutup diri dengan kejadian tersebut??
Atau merasa itu hanya sebuah kebohongan belaka??
Atau karena takut kebenaran akan terungkap??
Sejujurnya ya mengapa kita yang dari wangsa sudra ngongkong nagih menekan pang dadi patuh ngajak wangsa ane mula tegehan?
Padahal wangsa ane tegehang nengil gen sing ngudiang-ngudiang. Dan juga mereka kebanyakan hidup dengan tentram melihat kita yang berdebat mempermasalahkan ini. Nak santee gen wangsa ane tegehan nyingakin iraga makejang merebat ulian satu masalah. Ngudiang ne ruet-ruetang, streees nyen!!!!!
Kene suba awak kedis perit dot dadi garuda, apa buin awak panak kedis perit ngaku panak kedis garuda, apa buin kedis perit ngelekadin kedis garuda. Jek sing ada anak ngugu :P
Dan juga sebenarnya sastra agama memang untuk sekarang ini multi tafsir, tapi kebanyakan tafsiranne pelih-pelih. Jek paksoange apang tafsiranne to beneh, cara ane baduwuran to!!!!
Apo buin jek Belanda sambatange ane ngae wangsa anggon memisahkan Raja dengan Rakyat, padahal di sejarah itu tidak benar. Malah Belanda yang mengadu domba para Raja untuk saling berperang dan menghancurkan, agar Raja tidak lagi ada untuk memimpin rakyat, sehingga Belanda menjadi mudah untuk menguasai rakyat.
Tolong ya bagi yang berkomentar di sini jangan memutar balikkan fakta yang sebenarnya dan juga jangan merubah sejarah. Karena sekarang banyak sejarah yang telah dirubah.
Sekian dan terima kasih :P