Suatu kajian singkat mengenai keberadaannya, yang perlu dipikirkan dalam upaya pencerahan Agama Hindu di Indonesia, khususnya di Bali
Disampaikan pada Seminar Mahasabha ke-8 PHDI Wilayah Bali dan sekitarnya bertempat di Natour Bali Hotel, Jalan Veteran No. 3, Denpasar.
1. PENDAHULUAN
Gairah generasi muda Hindu di Indonesia khususnya di Bali untuk mempelajari dan meresapkan ajaran-ajaran Agama Hindu, sejak beberapa tahun terakhir ini menunjukkan peningkatan yang menggembirakan.
Gairah ini diwujudkan antara lain dalam kelompok-kelompok yang mempelajari Weda, Ashram-ashram, Dharma Wacana dan Dharma Tula, Penyebaran buku-buku Agama, Penyebaran gambar-gambar Dewa-Dewi, Pengenalan kidung-kidung dan ritual-ritual baru (atau yang diperbaharui), dan lain-lain.
Pemeluk Hindu di Bali yang awam tentang fenomena ini melihat ada bentuk kegiatan yang berbeda dengan apa yang diketahui dan diwariskan oleh leluhurnya sejak berabad-abad lampau. Beberapa orang menuding bahwa kelompok-kelompok ini adalah suatu sekta Agama Hindu yang baru berkembang di Bali, namun mereka menangkis dengan istilah Sampradaya.
Pro-kontra di masyarakat hingga kini belum ditangani oleh PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) secara tuntas. Oleh karena itu kajian singkat ini mencoba untuk menyumbangkan acuan pembahasan.
2. LATAR BELAKANG DAN TUJUAN PENULISAN
Pemimpin umat (para Pandita) yang rajin menyampaikan darmawacana dan darmatula sering tidak dapat menjawab pertanyaan tentang Sampradaya karena belum ada bisama yang tegas/ formal dari PHDI.
Sangat diharapkan agar pada Mahasabha ke-8 PHDI dapat merumuskan lebih rinci tentang corak Hindu yang berkembang sejak abad ke-8 di Indonesia, dan corak Hindu yang dikembangkan akhir-akhir ini oleh Sampradaya.
3. SEJARAH SINGKAT PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDONESIA
Penganut Hindu di India sejak berabad-abad telah berkelompok-kelompok menjadi ratusan sekta antara lain: Siwa Sidanta, Pasupata, Linggayat Bhagawata, Waisnawa, Indra, Saura, dll.
Maharesi Agastya seorang pemimpin sekta Siwa Sidanta menyebarkan pahamnya ke Indonesia pada abad ke-8, selanjutnya masuk ke Bali pada abad ke-10 kemudian disempurnakan oleh Mpu Kuturan pada abad ke-11 dan Danghyang Nirarta pada abad ke-14.
Sekta Siwa Sidanta menekankan pemujaan Lingga dengan tokoh Trimurti (Brahma, Wisnu, Siwa) dan Tripurusa (Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa) sebagai inti.
Kitab suci Weda yang digunakan disebut Weda Sirah (pokok-pokok Weda). Setelah kedatangan Mpu Kuturan dan Danghyang Nirarta, mayoritas penduduk Bali adalah Sekta Siwa Sidanta.
4. SAMPRADAYA ADALAH SEKTA
Dr. I Made Titib dalam bukunya: Ketuhanan dalam Weda, Pustaka Manik Geni, 1994 di halaman 78 menyatakan bahwa sampradaya adalah sekta. Cuplikan kalimatnya sebagai berikut:
… Kitab-kitab seni sastra dalam bentuk puisi Sanskerta semakin banyak lagi setelah berkembangnya gerakan Bhakti melalui Sampradaya-sampradaya atau sekta-sekta yang berkembang pada masa sesudahnya …
Dictionary of American English, Longman, 95 Church Street, White Plains, NY 10601, 1983 menyatakan arti kata sekta sebagai berikut: Sect, agroup of people, sometimes within a larger group, having a special set of (esp. religious) beliefs.
Sampradaya-sampradaya yang ada di Bali dewasa ini dapat dikatakan suatu sekta baru (baca: lain dari Sekta Siwa Sidanta) jika mempunyai “special set of religious beliefs” yang berbeda dengan Sekta Siwa Sidanta, terutama yang menyangkut Tattwa, Susila, dan Upacara.
Indikasi perbedaan-perbedaan perlu didiskusikan dengan teliti dan hati-hati.
5. SARWA SADAKA VERSUS TRISADAKA
Sejak 1999 di Bali muncul istilah Sarwa Sadaka sebagai cetusan keinginan kelompok-kelompok warga mendudukkan Sulinggih mereka sejajar dengan Pedanda (yang lebih populer sebagai Pendeta sejak zaman Dalem Waturenggong di abad ke-15). Kelompok ini menggunakan istilah Sarwa Sadaka sebagai counter Trisadaka.
Istilah Trisadaka sejak berabad-abad telah ditafsirkan keliru, jika mengacu pada Lontar Eka Pratama yang menyatakan bahwa tiga kelompok Sadaka adalah: Sadaka yang berpaham Siwa, Sadaka yang berpaham Bauddha (Boddha), dan Sadaka yang berpaham Mahabrahmana (Bujangga).
Kekeliruan tafsir itu terjadi karena Sadaka yang berpaham Siwa dan Bauddha terlanjur diterjemahkan sebagai Pedanda Siwa-Boddha. Keterlanjuran itu membuat gerah para sisia Pandita Mpu, Rsi, Bhagawan, Dukuh, dll. yang juga disyahkan sebagai Sulinggih yang berpaham Siwa. Yang dimaksud dengan berpaham Siwa adalah penganut Sekta Siwa Sidanta.
Penggunaan istilah Sarwa Sadaka sebagai counter Trisadaka dalam upaya menunjukkan eksistensi Pandita Mpu, Rsi, Bhagawan, Dukuh, dll.
Sebenarnya kurang tepat, karena pengertian Sarwa Sadaka dapat dirumuskan sebagai Semua Pendeta dari berbagai Sekta, kecuali kalau memang ada terkandung maksud di kemudian hari bila Sampradaya eksis sebagai Sekta, maka para Pendetanya mempunyai legitimasi yang sama dengan Sulinggih/ Sadaka yang ada sekarang.
Jika tidak demikian, istilah Sarwa Sadaka sebaiknya tidak digunakan, cukup dengan penegasan PHDI dalam bentuk bisama, bahwa yang dimaksud dengan Trisadaka adalah Sulinggih/ Sadaka yang berpaham Siwa, Boda, dan Bujangga.
6. KESIMPULAN DAN SARAN
Perlu ada rembug tokoh-tokoh Sampradaya untuk mempertimbangkan penggunaan istilah Sekta bagi kelompok/ pengikutnya. Langkah ini perlu untuk memberi garis batasan dengan Sekta Siwa Sidanta yang telah dianut oleh mayoritas penduduk Bali sejak berabad-abad.
Ketegasan itu akan dapat meredam konflik atas dasar toleransi tinggi yang telah menjadi budaya Bali sejak lama. PHDI dapat berperan aktif dalam masalah ini.
Referensi:
- Ketuhanan dalam Weda, I Made Titib, Pustaka Manikgeni, 1994.
- Pengantar Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi, Cudamani, Yayasan Dharma Sarathi Jakarta, 1990
- Dictionary of American English, Longman, 95 Church Street, White Plains, NY 10601, 1983
- Dharmawacana Bapak Drs. I Ketut Wiana pada Paruman Sulinggih MGPSSR

SUASTIASTU MOHON BANTUANNYA BAGAIMANA ASAL MULA(SEJARAH) TERJADINYA SEKTE SIWA SIDANTA INI DAN SIAPA PENDIRINYA
SUKSMA.