Sandat

Pesawat Garuda nomor penerbangan GA 347 mendarat dengan mulus di Bandara Ngurah Rai Denpasar tepat pada jadwal yang tertera pada tiket Jakarta – Denpasar yakni 22.30 Wita.

Nyoman Sedana tak sabar menungu antrean penumpang yang turun. Semua bawaannya sudah dijinjingnya dengan hati-hati. Di tas kecil ada beberapa botol parfum bermerk Extreme Bvlgari yang masih utuh terbungkus rapi seperti semula dibeli siang tadi di Singapore.

Parfum itu oleh-oleh untuk adik perempuannya, Ni Luh Wangi yang kini pasti sedang remaja putri, duduk di SMA.

Setelah kakinya menginjak lapangan di tangga pesawat, hati Nyoman berdegup keras. Dibelai angin sepoi basa dengan aroma bunga dan getaran kesucian yang terpancar dari bumi Bali, hatinya terharu setelah kembali ke pulau Dewata hampir lima tahun.

Makin mendekati pintu keluar keharuan Nyoman makin menjadi, setelah mendengar percakapan bahasa Bali, bahasa ibu, yang sudah lama tak merasuk ke telinganya. “Sampun wenten mendak, tu?” (sudah ada yang menjemput pak?), Tanya sopir taksi dengan sopan. “Dereng” (belum), jawab Nyoman dengan singkat seraya memberikan tas kopernya. “Ngiring titiang ngayah, jantos iriki jebos” (mari saya antar, tunggu di sini sebentar).

Sopir taksi dengan cekatan berlari menuju mobilnya dan sesaat sudah berhenti tepat di depan Nyoman. Ia membuka pintu bagasi dan memasukkan koper serta menyilahkan Nyoman naik ke Corolla DX 1981. Nyoman bergegas, duduk di jok depan, sebelah sopir. “Kije iringang titiang tu?” (ke mana saya antar pak?), tanya si sopir dengan hormat.

“Ke Beleleng” (ke Buleleng/ Singaraja – arah ke utara dari Denpasar), jawab Nyoman. “Sampun suwe ten budal tu? (sudah lama tidak pulang pak?) . “Ade limang tiban” (kurang-lebih lima tahun). “Mimih dewa-ratu, dados sue pisan tu?” (ya Tuhan, kok lama sekali pak?). “Tiang mesekolah di Phillipina” (saya bersekolah ke Phillipina).

“Sekolah napi nike tu, dados doh pisan, napi iriki ring Indonesia durung wenten sekolah sapunika” (sekolah apa itu pak, kok jauh-jauh, apa di sini di Indonesia sekolah seperti itu belum ada). “Ade, kuwale sing cara ditu luungne; yen mesekolah ditu seken, buine Pemerintahe mayahin” (ada, tetapi tidak sebagus di sana; kalau di sana fasilitasnya lengkap, dan lagi Pemerintah yang memberikan beasiswa).

Percakapan Nyoman Sedana terhenti karena perhatiannya pada perubahan suasana kota Denpasar sejak ditinggalkan lima tahun lalu. Denpasar kini berkembang pesat oleh bangunan rumah, toko, industri, dan kegiatan bisnis lainnya. Mobil semakin banyak dan lalu lintas macet di sana-sini. Ya, Denpasar sedang menjadi kota metropolitan. Kota Denpasar dengan kota-kota lainnya seperti Gianyar, Mengwi dan Tabanan telah menyatu, seperti Jabotabek di Jakarta.

Sebagaimana halnya suatu kota metropolitan, pasti ada dampak positif dan negatifnya. Dampak positifnya yakni semua kebutuhan hidup tersedia di berbagai mal – supermarket, fasilitas dengan mudah didapat, atau dengan kata lain pasar penawaran barang makin tinggi, baik tingkat kuantitas maupun kualitasnya.

Namun dampak negatifnya menyusul, misalnya persediaan lahan terbatas, meningkatnya harga tanah, terjadi urbanisasi, kasus kriminal bertambah, dan masyarakat yang sebelumnya hidup dalam suasana paguyuban, kini menjadi individualis dan materialistis.

Nyoman Sedana terkejut ketika taksi berbelok ke sebuah jalan yang lebar dan lurus. “Jalan ape ne pak?” (jalan apa ini pak?) tanyanya kepada sopir taksi. “Niki jalan Sunset Road wastanne” (Ini jalan Sunset Road namanya). Wah kok seperti di luar negeri saja, memakai istilah asing, begitu pikir Nyoman kebingungan. “Margine niki malih jebos tembus ke Dalung, terus sampun ke Kapal, ngambil jalan memotong ke Beleleng” (jalan ini tembus ke Dalung, terus pula ke Kapal, mengambil jalan potong ke Buleleng).

Udara semakin sejuk ketika perjalanan sampai di Baturiti; lembah hijau dan bukit indah menambah kesegaran, dan Nyoman terkesima dengan deretan Gunung Agung, Gunung Abang, dan Gunung Batur di latar belakang.

Bali memang indah, tiada duanya, namun rasa khawatir mengejar pikiran Nyoman, sampai kapankah Bali bisa bertahan seperti ini? Tiba di Candi Kuning, Nyoman tersentak oleh suara azan dari sebuah masjid di pinggir danau Beratan. Heran, di lingkungan indah seperti ini dan di tempat yang penduduknya mayoritas beragama Hindu, kok ada masjid besar dengan suara speaker Toa yang keras berkumandang seperti ini. Apa tak ada aturannya dari Pemerintah?

Belum habis keheranan Nyoman, taksi tiba di pinggir Danau Bulian (Buyan). Dia heran, rasanya permukaan air danau sangat banyak menurun, karena pinggiran danau lima tahun lampau masih lebar, namun sekarang bekas pinggiran danau itu sudah kering, bahkan ditanami sayuran oleh penduduk setempat. “Kenken adi kekene danune jani pak?” (bagaimana kok begini jadinya danau ini pak?) Tanya Nyoman kepada sopir, tak sabar menanti jawaban.

“Kenten sampun tu, indayang cingakin, nike alase sampun akeh telas anggene umah, vila, proyek geothermal, sekadi ten wenten pidabdab saking Pemerintah” (begitulah, coba lihat pak, hutan-hutan itu sudah banyak di babat untuk rumah, vila, proyek geothermal, sepertinya tidak ada perhatian dari Pemerintah).

Nyoman menggelengkan kepala berkali-kali, heran bercampur khawatir dan tidak puas melihat kerusakan alam yang demikian hebatnya. Hanya dalam waktu lima tahun, sudah parah, bagaimana nanti sepuluh tahun mendatang? Bisa-bisa air danau ini kering kerontang. Tidakkah Pemerintah sadar bahwa air danau ini menjadi sumber kehidupan bagi rakyat di Kabupaten Buleleng, Badung, dan Tabanan?

Tadi siang sebelum pesawat menjejakkan roda pendaratan di Ngurah Rai dia sudah melihat sekilas abrasi pantai-pantai di Pulau Bali, dan gundulnya hutan-hutan bakau di pesisir selatan. Sekarang ditambah dengan pemandangan danau Buyan yang merana, hati Nyoman benar-benar sangat prihatin.

Tak terasa taksi sudah membelok ke barat di terminal Sangket. Jalan menurun menuju Desa Sambangan dikenali dengan baik, hanya bedanya, lima tahun lampau jembatan di atas sungai belum ada. Sekarang jalan sudah diaspal, dan memudahkan mencapai rumah orang tuanya di Desa Kedu.

Berhenti di depan rumah tua itu, hati Nyoman berdegup keras. Rumah penuh kenangan masih seperti sedia kala. Halaman tanah yang di kiri-kanan jalan setapak ditumbuhi bunga mawar menandakan bahwa adiknya Ni Luh Wangi masih rajin memelihara tanaman.

Aroma pedesaan yang segar di senja hari menyambut kedatangan Nyoman seketika ia membuka pintu mobil. Sopir taksi membantu menurunkan koper-kopernya. Masih belum ada gerakan dari dalam rumah yang hening sepi. Ke mana gerangan penghuninya, pertanyaan Nyoman belum sempat terjawab, ketika anjing kesayangannya bernama I Mopi menggonggong seraya berlari dengan ekor berkibas menyambut kedatangan Nyoman Sedana. Penciuman I Mopi sangat tajam, masih mampu mengenali bau majikannya walau sudah lima tahun tak jumpa.

Mendengar I Mopi menggonggong, seisi rumah berhamburan keluar dengan teriakan gembira. Paling depan Ni Luh Wangi seperti pemenang lomba lari 100 meter, segera memeluk kakaknya, menjerit-jerit kegirangan, tak terasa meleleh air matanya, tanda kerinduan yang sangat.

Ayahnya, Pan Sedana dan Ibunya, Men Sedana menyusul terengah-engah, berdiri kagum memandang buah hatinya pulang dengan sehat, segar dan sukses dalam studinya di luar negeri. Rasa bangga menyesakkan dada kedua orang tua itu dan senyum sayang merebak di bibir-bibir mereka.

Sopir taksi menonton atraksi itu dengan gembira, turut merasakan kebahagiaan keluarga sederhana itu. Nyoman segera merogoh kantongnya dan memberikan biaya taksi ditambah tip yang lumayan. Sopir taksi memohon diri untuk kembali ke Denpasar.

Bagaikan panglima perang pulang dari medan yuda, Nyoman Sedana dielu-elukan oleh semua tetangga dan kerabatnya. Men Sedana segera menyiapkan upakara untuk menyambut kedatangan anak lelaki satu-satunya ini. Dia masih ingat kebiasaan Nyoman Sedana bila pulang kampung, selesai mandi langsung bersembahyang di Sanggah Pamerajan di hulu pekarangan rumahnya.

Untuk kali ini Men Sedana menambahi dengan banten prayascita, pengulapan, pengambean, dan banyu pejati. Maklum karena lama merantau, dan untuk menyucikan stula sarira anaknya, dibuatlah banten sederhana itu atas petunjuk Ida Bhagawan Dwija beberapa hari lalu.

Selesai sembahyang, Men Sedana sudah menyiapkan makan malam dengan menu kesenangan anaknya: jukut gerang asem dengan lalapan kemangi dan tak ketinggalan sambel tomat mesere. Keluarga kecil itu makan dengan lahap, terutama Nyoman Sedana yang sudah tahunan tak merasakan nikmat masakan ibunya.

“Beh yen kudang tiban kaden kat ipi-ipiang sambelne I Meme ene” (wah sepertinya sudah berapa tahun aku memimpikan sambel Ibu ini). Guman Nyoman Sedana di sela-sela mulutnya yang penuh berisi nasi. “Men yen ditu ape dogen ajengane beli?” (lalu kalau di sana apa saja makanmu kak?) Tanya Ni Luh Wangi ingin tahu.

Belum sempat dijawab, ia menambahkan dugaan: “Musti roti teken keju dogen oo” (pasti roti dan keju saja ya). “Tusing, yen di asrama, semengan beli baange breakfast buah apukat, mebasa bawang matah, teken susu a gelas” (tidak, kalau di asrama, pagi-pagi aku dikasi sarapan buah apukat dengan bumbu bawang mentah, dan segelas susu).

“Mimih, kenken ye asanne keketo, adi sing baange nasi, beli?” (waduh, bagaimana ya rasanya seperti itu, kenapa tidak dikasi nasi, kak?) tengadah Ni Luh Wangi keheranan, mulutnya menganga dan wajahnya yang bersemu merah, menambah kecantikan gadis remaja ini di keremangan malam. “Tengai mara baange nasi!” (siang baru dikasi makan nasi) jawab Nyoman Sedana agak ketus karena kesal mengenang kehidupannya di asrama selama lima tahun.

“Anak mule keto, tusing ade jaanan teken medaar jumah, kadong je gerang dogen” (memang begitu, tidak ada yang lebih nikmat dari makanan di rumah, walaupun hanya ikan asin saja) celetuk Pan Sedana, mengakhiri makan malam pertama di hari kedatangan Nyoman Sedana.

Selesai makan ia berjalan-jalan digandeng adiknya berkeliling halaman rumah. Di sudut tenggara Nyoman berhenti. Matanya berkaca-kaca memandang sebuah pohon Sandat yang rimbun dan berbunga lebat. Keharuman aromanya menggetarkan hati Nyoman dan membawa kenangan masa silam.

Sejak SMP sampai SLTA, Nyoman bersekolah dengan biaya dari hasil menjual bunga Sandat ini. “Luh, nyai nu inget nuduk-nudukang beli bungan sandat?” (Luh, kamu masih ingat memunguti bunga-bunga sandat-ku?) “Adi tusing beli, tiang bareng bangun semengan, ngabe keranjang nudukin sandat, tur marengin beli kepeken ngadep bunga” (kenapa tidak kak, saya turut bangun pagi, membawa keranjang memunguti bunga sandat lalu menyertai kakak ke pasar menjual bunga).

Keharuan Nyoman dilampiaskan dengan memeluk sayang si-pohon sandat seraya sesambatan: “Wahai pohon sandat, aku berterima kasih kepadamu, karena bunga-mu yang membayar uang sekolah, uang kuliah, sehingga aku berhasil menjadi orang seperti ini sekarang”

Kepada adiknya ia berpesan: “Luh, melaang punyan sandate ene, beli mautang urip, yen sing ade I punyan sandat, sing je saja beli ngidaang dadi Doktor cara jani ene!” (Luh, jaga dan rawat pohon ini, karena kakak berhutang kehidupan kepadanya, kalau tidak ada dia, tak mungkin aku bisa menyandang gelar Doktor seperti sekarang).

“Keto masi nyai, sesenggak bungan sandate anggon tetimbangan” (begitu juga kamu, pepatah bunga sandat gunakan sebagai pedoman hidup). “Kenken nto beli?” (bagaimana itu kak?) Tanya adiknya ingin tahu. Nyoman Sedana bersiap mengatur nafas, lalu metembang pupuh sinom:

YEN ANGDEANG URIPE, ADI
JEGEG MIIK CARA SANDAT
YADIASTUN YE SUBA LAYU
ENU MASIH MIIKE NGALUB-ALUB

(Jika diandaikan hidupmu sayang, bagaikan bunga sandat yang cantik dan harum, walaupun kelak akan layu, namun bau harumnya masih semarak)

Artinya, ketika kamu gadis peliharalah kecantikan dan budi pekerti yang baik, sehingga kelak bila kamu sudah tua, namamu masih harum tak tercemar.

Luh Wangi menganguk-angguk mengerti dan berjanji menuruti nasihat kakaknya. Kedua kakak beradik itu masuk ke rumah, melanjutkan kisah Nyoman menuntut ilmu di University of Phillipines at Los Banos.

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting