Sanggah Maperucut dan Sanggah Matudung Pane

QUESTION:

Dari dahulu sekali saya mewarisi Sanggah/ Merajan jajaran dari leluhur dan boleh bilang sudah hampir memadai sesuai dengan bacakan pelinggih pengayengan baik pengayengan Bethara dari sana-sini dan saya sudah percaya betul dengan keadaan tersebut.

Yang sedikit ada rasa keraguan tentang pengayengan:

  1. Sanggah maperucut dari dahulu saya bersama keluarga ngayat Bethara dari Gunung Agung
  2. Sanggah matudung pane pengayatan dari Gunung Batur.

Nah setelah saya membaca Kitab Kusumadewa dari Sri Rsi Ananda Kusuma, dalam kitab itu diterangkan bahwa yang nomor satu (Sanggah maperucut) adalah Pesimpangan Bethara Agnimahajaya dari Gunung Uluwatu, dan yang nomor dua (Sanggah matudung pane) adalah Pesimpangan Bethara Mahadewa dari Gunung Batukaru.

Yang benar yang mana, tolong diterangkan supaya tidak ada bagi saya/ keluarga istilah gugon tuwon. Mungkin ditambah menerangkan istilah pasimpangan-pesimpangan yang lain.

ANSWER:

Kitab Kusumadewa yang dimaksud bukanlah asli terjemahan dari seluruh lontar Kusumadewa, karena penulis juga menambahkan pendapat-pendapat pribadinya seperti yang anda baca di halaman 38 buku itu pada butir 9 dan 10. Lontar Kusumadewa adalah acuan bagi sasana seorang Jro Mangku, bukan tentang posisi palinggih.

Lontar-lontar yang menyebutkan posisi palinggih-palinggih di Sanggah Pamerajan antara lain: Siwagama, Dewa Tattwa, Gong Wesi, Purwa Bumi Kemulan, dan Usana Dewa. Di sana disimpulkan bahwa yang malinggih di Gedong Maperucut adalah Ida Bethara di Gunung Agung, dan di Gedong Matudung pane adalah Ida Bethara di Gunung Lebah (Batur).

Filsafat konsep ini adalah men-simbolkan Hyang Widhi sebagai “rua bhineda” yakni salah satu bentuk pemujaan kita terhadap kemaha kuasaan-Nya.

Konsep rua bhineda ini adalah konsep penghayatan Hyang Widhi yang senantiasa menciptakan sesuatu yang berwujud berlawanan misalnya: siang-malam, laki-perempuan, baik-buruk, tinggi-rendah, panjang-pendek, panas-dingin, dan seterusnya.

Konsep rua bhineda ini kemudian berkembang di Bali karena para Maha Rsi melihat alam Bali yang unit, yaitu adanya Gunung yang tertinggi, yaitu Gunung Agung dan Gunung yang terendah, yaitu Gunung Batur atau disebut juga sebagai Gunung Lebah.

Dengan melihat keunikan alam ini kita akan menghayati betapa kebesaran Hyang Widhi yang telah menciptakannya. Tuntunan para Maha Rsi seperti Rsi Markandeya dan Mpu Kuturan kepada umat Hindu di Bali agar mewujudkan kebesaran Hyang Widhi itu dalam palinggih yang beratap Kerucut dan yang beratap Pane.

Dengan “nyasa” atau simbol itu manusia yang bersembahyang akan merasakan getaran kemaha kuasaaan-Nya.

Oleh karena itu selayaknya kita berkeyakinan bahwa Wahyu Hyang Widhi tidak hanya turun di India berupa Weda saja, tetapi juga wahyu Hyang Widhi itu turun di Bali yang diterima setidak-tidaknya oleh tiga Maha Rsi, yaitu: Rsi Markandeya yang mendapat wahyu di Gunung Raung agar semua palinggih di Bali diisi papendeman Panca datu (akah/ daging).

Mpu Kuturan yang mendapat wahyu di Samuan Tiga tentang konsep Trimurti (pemujaan Brahma-Wisnu-Siwa), agar di Bali didirikan Sanggah Kemulan Rong tiga di tiap perumahan, Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan Pura Kiduling Kreteg (pemujaan Brahma), Pura Batu Madeg (pemujaan Wisnu) dan Pura Gelap (pemujaan Siwa) di Besakih.

Danghyang Nirartha mendapat wahyu di Perancak agar di Bali didirikan Padmasana sebagai palinggih Tripurusa, yaitu Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa.

Wahyu-wahyu Hyang Widhi yang turun di Bali itu merupakan kelengkapan Weda dan karenanya merupakan keunikan tersendiri bagi Agama Hindu di Bali.

Keunikan itu jelas karena palinggih-palinggih Padmasana dan Kemulan Rong tiga serta pependeman panca datu hanya ada di Bali, bahkan tidak ada di Jawa (ketika zaman Hindu) maupun di India sejak dahulu hingga sekarang.

Demikian pula tentang palinggih-palinggih lainnya di Sanggah Pamerajan dan di Pura-Pura Sad-Kahyangan, Dang-Kahyangan, Swaguna, dll. adalah berdasarkan wahyu dan anumana pramana para leluhur kita di masa lampau yang patut kita warisi dan lestarikan.

Demikianlah penjelasan Pandita, semoga memuaskan.

2 comments to Sanggah Maperucut dan Sanggah Matudung Pane

  • 1
    putu says:

    Kawitan saya ada di karangasem kemudian karena suatu hal Kumpi saya merantau ke bangli menikah disana sampai meninggal dan diupacarai(ngaben) dibangli. Sudah ada setahun kami sekeluarga(keluarga besar) baru membuat Sanggah Pamerajan diBangli (Rambut sedana,taksu,padmasari,rong telu,dewa hyang) karena dari kumpi dahulu cuma diwariskan Sanggah Turus lumbung saja. Saat ini saya(keluaga kecil) berkeinginan untuk membeli rumah dan tinggal diDenpasar karena tuntutan pekerjaan.
    Petanyaan saya apakah perlu saya membuat Pamerajan Alit dirumah saya di Denpasar?, Apa bisa cuma membuat padmasari saja? karena dirumah Kumpi dikarangasem(kawitan) sudah ada Merajan di bangli juga sudah ada merajan

  • 2

    Om Swastyastu,

    Menurut acuan lontar Tutur Kuturan dan Sanghyang aji swamandala, disetiap paumahan perlu ada pamerajan alit medaging pelinggih-pelinggih :
    1. Padmasari (stana Sanghyang Widhi : Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa)
    2. Kemulan rong 3 (stana Bhatara Hyang Guru dan di batur kemulan stana Raja Dewata/roh leluhur yang sudah suci)
    3. Taksu (stana Dewi Saraswati)
    Dan di pekarangan rumah ada Sedahan karang (Bhatara Kala), di pinggir jalan pagar luar ada pelinggih lebuh (Bhatara Baruna).

    Om Santih, santih, santih, Om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting