Sapi

Sapi dalam Agama Hindu adalah binatang suci “Nandini” sebagai palinggihan Ida Bhatara Siwa oleh karenanya disakralkan, bukan diharamkan seperti babi dalam Agama Islam.

Pantangan menyakiti, membunuh, memakan dagingnya adalah dalam kaitan sujud bhakti kita ke hadapan Ida Bhatara Siwa (Tuhan Yang Maha Esa). Bagaimana mungkin setiap hari kita memuja-Nya, lalu di kesempatan lain kita memakan daging binatang suci kesayangan-Nya?

Aturan-aturan mengenai tidak menyakiti, membunuh, dan memakan daging sapi ada dalam Parasara Dharmasastra (Smrti Kaliyuga) Bab IX.

Pasal 37:

IA YANG MENDORONG SEEKOR SAPI KE DALAM KOLAM ATAU SUMUR ATAU MENINDIH PUNGGUNGNYA DENGAN POHON ATAU MENJUALNYA KEPADA PENGGEMAR DAGING SAPI DINYATAKAN BERDOSA MEMBUNUH SAPI.

Pasal 62:

IA YANG TELAH MEMBUNUH SEEKOR SAPI MENCOBA MENYEMBUNYIKAN DOSANYA DALAM KEHIDUPAN INI SETELAH MATI DICAMPAKKAN DALAM KEPEDIHAN NERAKA KALASUTRAM.

Pasal 63:

TERLEPAS DARI NERAKA ITU IA DILAHIRKAN SEBAGAI SEORANG YANG DIKEBIRI (WANDU?) ATAU SEORANG PENDERITA PENYAKIT KUSTA (ATAU AIDS?) ATAU SEBAGAI SEORANG YANG MISKIN PADA TUJUH PENJELMAAN SECARA BERTURUT-TURUT.

Bagi seorang Pendeta/ Pandita (Brahmana Dwijati) tercantum dalam Bab XI pasal 1:

SETELAH (DENGAN TIDAK SENGAJA) MAKAN DAGING SAPI ATAU NASI SEORANG CANDALA ATAU MATERI ORGANIK KOTOR SEPERTI SPERMA DSB. SEORANG BRAHMANA HARUS MELAKUKAN UPACARA PENEBUSAN DOSA CANDRAYANA.

Selanjutnya unsur-unsur sapi disakralkan dalam upacara pembebasan dosa antara lain tercantum dalam Bab XI pasal 27:

KESUCIAN DAN PEMBEBAS DOSA ADALAH PANCAGAVYAM, YANG MERUPAKAN CAMPURAN DARI AIR KENCING SAPI, TAHI SAPI, SUSU SAPI, SUSU SAPI BEKU, MENTEGA MURNI DARI SUSU SAPI, DAN AIR CUCIAN RUMPUT KUSA.

Dalam lontar-lontar Kusumadewa dan Silakrama dicantumkan bahwa seorang Ekajati (Jero mangku) apalagi seorang Dwijati (Pandita) dilarang untuk: memegang tali sapi, melangkahi tali sapi, menginjak tahi sapi, dan kencing di atas tahi sapi, di samping larangan-larangan dalam Parasara Dharmasastra tersebut di atas.

Sikap kita adalah menjalankan swadarma sebagai pemeluk Hindu yang baik antara lain meyakini kebenaran sastra Agama tersebut.

Untuk kesehatan dan pertumbuhan badan masih banyak sumber protein selain daging sapi yang bisa dimakan. Susu, mentega, dan keju dari sapi boleh diminum-dimakan. Juga masih ada kambing, bebek, ayam dan hewan lainnya.

Bagi mereka yang sudah mewinten (Ekajati) dan yang sudah madiksa (Dwijati) selain daging sapi juga dilarang memakan daging babi, ayam, binatang melata, dan binatang lain yang tidak wajar dimakan dagingnya seperti anjing, kucing, tikus, dll.

Daging yang dimakan mempengaruhi perilaku yang memakannya, misalnya jika memakan daging babi akan menjadi malas seperti babi (tamas); jika makan daging ayam akan suka berkelahi seperti ayam (rajas); jika makan daging anjing akan terjangkit sipilis, dll.

Sesungguhnya menjadi vegetarian bagus, selain mencegah penumpukan kolesterol, juga menurut beberapa akhli kedokteran dikatakan bahwa manusia diciptakan sebagai mahluk yang tidak memakan daging karena susunan gigi dan sistem pencernaan ususnya tidak sesuai.

Yang cocok adalah makan biji-bijian (beras, ketan, injin, tahu, tempe, dll), umbi-umbian (kentang, ubi, wortel, dll), sayur-sayuran, buah-buahan, susu, dan madu.

7 comments to Sapi

  • 1
    ngurah says:

    sangat membantu ketika ada orang yg nanya ke saya kenapa saya tidak makan daging sapi

  • 2
    wayan sukanyar says:

    berhubung membahas tentang sapi,, cuman sebatas berbagi pengalaman, Orang tua saya tdk memakan daging sapi,begitupun saya, pada suatu ketika saya sengaja mencoba memakan-nya namun saya sakit kepala,perut sakit dan merasa tdk nyaman secara tiba-tiba,,,,

  • 3
    adhiayu says:

    Om Suastiastu,

    terima kasih atas penjelasan Bhagawan tentang sapi, tapi ada yang ingin saya tanyakan terkait dengan artikel di atas,
    yaitu tentang makan daging yang boleh dan tidak boleh bagi ekajati dan dwijati. Apakah ada sastranya yang menyebutkan demikian ini:

    “Bagi mereka yang sudah mewinten (Ekajati) dan yang sudah madiksa (Dwijati) selain daging sapi juga dilarang memakan daging babi, ayam, binatang melata, dan binatang lain yang tidak wajar dimakan dagingnya seperti anjing, kucing, tikus, dll.”

    “Daging yang dimakan mempengaruhi perilaku yang memakannya, misalnya jika memakan daging babi akan menjadi malas seperti babi (tamas); jika makan daging ayam akan suka berkelahi seperti ayam (rajas); jika makan daging anjing akan terjangkit sipilis, dll.”

    benarkah demikian?dari sastra apakah filsafat seperti itu (daging yang dimakan mempengaruhi perilaku yang memakannya)?adakah ditunjukkan dalam sastra bahwa hewan2 itulah hewan yang tidak boleh dikonsumsi oleh ekajati dan dwijati?apakah hanya mereka yang ga boleh memakan itu?jika iya, lalu mengapa yang lainnya dibenarkan atau tidak disalahkan memakan mereka?

    terima kasih Bhagawan

    Om Shanti Shanti Shanti Om

    • 3.1

      1. Tentang sapi, ada dalam buku : Keagungan sapi menurut Weda, Made Darmayasa, pengantar Drs. Ketut Wiana M.Ag. Penerbit PT Pustaka Manikgeni, 2005

      2. Makanan yang dilarang dan boleh dimakan, ada dalam Manawa Dharmasastra, buku ke-V halaman 284

      Terima kasih.

  • 4
    kadek Mas says:

    Om Suastiastu,

    Lalu bagaimana halnya dengan pembunuhan pemenggalan sapi untuk Yajna?

    • 4.1

      Jenis-jenis Sapi : lembu berwarna putih mulus; banteng berwarna merah/coklat/hitam. Yang dinamakan lembu (nandhini) yang berwarna putih. Tentang pembunuhan binatang, lihat Manawa Dharmasastra Buku ke-5 : Atha Pancamo’dhyayah

  • 5

    [...] Dharmasastra (Smrti Kaliyuga) Bab IX Pasal 37, 62, 63 dan Bab XI pasal 1 dan 27 (sumber dari sini).Penghormatan terhadap Sapi dalam ajaran Hindu juga sebagai cerminan penghormatan pada Ibu Pertiwi. [...]

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting