Manut ring Lontar Kandapat, lan Tutur Panus Karma
Kandapat artinya teman yang jumlahnya empat. Dalam bahasa kedokteran disebut plasenta. Teman maksudnya yang menemani manusia sejak embrio dalam kandungan ibu sampai meninggal dunia dan rohnya ke nirwana dalam bahasa Bali disebut: mantuk ring sunia loka. Nama kandapat berubah-ubah menurut usia bayi/manusia sebagaai tertera dalam tabel berikut ini. Nama yang dicetak tebal pada kolom 1, 2, 3, 4 adalah nama yang dikenal secara umum oleh masyarakat. Read more » Seputar Kandapat
QUESTION:
- Jika mendapat rejeki/ gaji di palinggih mana terlebih dahulu dihaturkan; bagaimana ayaban-nya.
- Jika menempati tanah baru digunakan perumahan lalu ada proses ngantukang Bethara Sri. Pertanyaannya apakah boleh tidak keantukang lalu dibuatkan pelinggih Bethara Sri saja.
- Menurut lontar Purwa Gama Sesana disebutkan tidak boleh mengambil barang-barang yang ditinggalkan di tempat upacara, lalu barang itu diserahkan ke Panitia. Pertanyaannya, bagaimana jika barang itu tidak ada yang mengambil dan dibawa oleh Panitia. Read more » Rejeki Untuk Persembahan
REFFERENCE
There are two manuscripts which tell about “Tiga Bulanan” ceremony, namely Dharma Kauripan manuscript and Tutur Panus Karma manuscript.
Dharma Kauripan says about the Manusia Yadnya ceremonies which are conducted in sequence start from the baby is still in the mother’s womb, such as: garbhadanam or magedong-gedongan which is held when the baby is seven month and still in the mother’s womb. Read more » “Tiga Bulanan” Ceremony
Pendahuluan
Dalam Bahasa Sanskerta, caru artinya cantik, indah, harmonis; dalam Bahasa Kawi, caru artinya kurban. Sebagai kata kerja, mecaru artinya menghaturkan kurban untuk memperindah dan mengharmoniskan sesuatu. Dalam arti yang lebih tegas, mecaru adalah suatu upacara kurban yang bertujuan untuk mengharmoniskan bhuwana agung dan bhuwana alit agar menjadi baik, indah, lestari.
Dengan demikian, upacara mecaru adalah aplikasi dari filosofi Trihitakarana, seperti yang disebutkan dalam Lontar Pakem Gama Tirta, agar terjadi keharmonisan dalam hubungan antara manusia dengan Sanghyang Widhi (Parhyangan), hubungan antara manusia dengan sesama manusia (Pawongan) dan hubungan antara manusia dengan alam (Palemahan). Read more » Seluk Beluk Caru dan Tawur
PENDAHULUAN
Upacara Tutug Kambuhan di tempat berbeda di Bali, disebut juga sebagai upacara: Kambuhan, Macolongan, dan Tutug Kakambuhan. Bermakna sama, sebagai suatu upacara yang dilakukan saat bayi berusia 42 hari (a-bulan pitung dina = 1 bulan 7 hari menurut perhitungan Kalender Bali).
Tujuannya adalah: membersihkan jiwa raga sang bayi dan ibunya dari segala noda dan kotoran, dan berterima kasih kepada “Nyama Bajang” si bayi atas bantuannya menjaga si bayi sewaktu masih dalam kandungan dan mohon agar mereka kembali ke tempat asalnya masing-masing. Read more » Upacara Tutug Kambuhan
QUESTION:
- Napi suksman tur falsafah guling pemapag ring upacara tiga bulanan.
- Napi wenten suksman bebangkit sareng guling bebangkit; napi falsafahne.
- Napi kasuksman Pinandita sedurung nganteb mangda ngajeng sedah/ tampinan.
- Napi suksman adigama lan dewagama pada: pamangku waktu nganteb, dan pamangku dengan para pejabat yang datang sembahyang.
- Napi hubungan antara banten jejanganan waktu manusa yadnya dengan sok cegceg pada pengabenan. Read more » Guling Pemapag Pada Upacara Tiga Bulanan
QUESTION:
Dalam Upacara Tiga Bulanan terdapat banten “Pecolongan”. Mohon kiranya Ida Pandita memberi penjelasan tentang:
- Kenapa setiap Upacara Tiga Bulanan terdapat banten Pecolongan dan apa makna dari Pecolongan tersebut?
- Apakah arti simbol-simbol yang terdapat dalam banten Pecolongan?
- Bagaimana hubungan disahkannya nama si bayi dengan menginjakkan kaki ke tanah dalam Upacara Tiga Bulanan? Read more » Banten Pecolongan
|
|
Recent Comments