1. Asal mula, sekitar abad ke-8, Bali = banten. Nama Bali pertama-tama disampaikan oleh Maha Rsi Markandeya yang datang dari Gunung Raung (Jatim) untuk menyebarkan agama Hindu di Bali dari sekte Waisnawa.
Beliau mengajarkan membuat banten lalu mengatakan itulah Bali. Sumber: Lontar Markandeya Tattwa Read more » Bali
Seseorang yang akan mempelajari kitab suci Weda/ sastra Agama wajib mensucikan diri terlebih dahulu karena dalam diri yang sudah suci akan terwujud pikiran-pikiran suci sehingga ajaran Weda mudah meresap.
Yang dimaksud dengan mempelajari Weda, adalah:
- Belajar tattwa agama, misalnya dharma gita, mendalami tattwa, dll.
- Belajar ritual agama misalnya membuat banten, tukang wadah, undagi, dalang, dll.
- Menjadi pejabat dalam lingkup agama misalnya menjadi Guru Agama, Pegawai Kantor Agama, Bendesa/Klian Adat, Jero Mangku, Jero Gde, Pandita, dll. Read more » Belajar Veda
1. Nuwur tirta wangsuh-pada di Sanggah Pamerajan dan Kahyangan Tiga
2. Ngulapin di Pura Dalem.
QUESTION:
Beberapa tahun yll. pada Harian Bali Post pernah didebatkan mengenai salam umat Hindu, yaitu: Om Swastyastu.
Ada yang mengatakan bahwa kalau kita mau memberikan salam kepada sesama manusia tidak usah menggunakan kata Om tapi cukup dengan Swastyastu saja atau dengan salam yang lain, karena Om tersebut berhubungan dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Kalau menggunakan kata Om berarti kita menyamakan manusia dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Read more » Om Swastyastu
Pengertian
Upacara pawintenan adalah upacara mensucikan seseorang oleh Nabe yaitu Sulinggih Dwijati yang sudah berwenang melakukan pawintenan. Berwenang melakukan pawintenan, berdasarkan panugrahan (ijin) dari Nabe Sulinggih itu, atas pertimbangan kemampuan spiritual yang tinggi (jnyana), lamanya mediksa, dan pertimbangan-pertimbangan lain-lain. Read more » Upacara Pawintenan
QUESTION:
1. Selama ini di Pura yang kami sungsung, setiap Tilem Kesanga selalu menghaturkan banten Caru Eka Sata (Caru Ayam Brumbun) untuk ke Bhuta Yadnya, disertai runtutan banten lain yang melengkapinya seperti pengulapan, pengambean, sorohan, peras, daksina, suci alit, Beakaonan, sesayut Durmenggala, dan prayascita dll sesuai yang tertulis di Buku Panca Yadnya.
Sedangkan untuk ke Dewa Yadnya kami hanya menghaturkan Pejati (Peras, daksina, tipat kelanan, ajuman, penyeneng alit, pesucian) dan soda/ ajuman untuk pelinggih yang keci-kecil. Read more » Banten Caru Eka Sata
|
|
Recent Comments