Padmasana - Rewriting Version

1. Sejarah Padmasana

Pemujaan Sanghyang Widhi Wasa sebagai Bhatara Siwa berkembang di Bali sejak abad ke-9. Simbol pemujaan yang digunakan adalah Lingga-Yoni. Keadaan ini berlanjut sampai abad ke-13 pada zaman Dinasti Warmadewa.

Sejak abad ke-14 pada rezim Dalem Waturenggong (Dinasti Kresna Kepakisan), penggunaan Lingga-Yoni tidak lagi populer, karena pengaruh ajaran Tantri, Bhairawa, dan Dewa-Raja. Lingga-Yoni diganti dengan patung Dewa yang dipuja sehingga cara ini disebut Murti-Puja. Read more » Padmasana – Rewriting Version

Prosedur Membangun Pelinggih

QUESTION :

Bagaimana prosedur membangun pelinggih?

ANSWER :

Sebuah pelinggih (apalagi Pura) harus dibangun menurut prosedur sbb:

Pada awal pembangunan:

  1. Ngereruak, mecaru brunbun
  2. Mulang batu dasar

Read more » Prosedur Membangun Pelinggih

Padmasana

Mengingat rekan-rekan sedharma di Bali dan di luar Bali banyak yang membangun tempat sembahyang atau Pura dengan pelinggih utama berupa Padmasana, perlu kiranya kita mempelajari seluk beluk Padmasana agar tujuan membangun simbol atau “Niyasa” sebagai objek konsentrasi memuja Hyang Widhi dapat tercapai dengan baik. Read more » Padmasana

Merenovasi Bangunan

QUESTION:

Di kampung, saya mempunyai bale dangin dengan 8 saka, saya bermaksud untuk merenovasi bangunan tersebut, namun tidak semua saya ganti.

Ke 8 saka-nya masih bagus dan akan digunakan lagi, yang mungkin diganti adalah canggah wang, iga-iga atap dan sedikit diberi hiasan. Mengenai ukuran semuanya tetap. Read more » Merenovasi Bangunan

Bencana Alam dan Caru - Part I

Ada teman yang bertanya, mengapa bila ada bencana alam, lalu umat Hindu di Bali mengadakan ‘pecaruan’? Jawabannya:

1. Caru, dalam bahasa Jawa-Kuno (Kawi) artinya: korban (binatang), sedangkan ‘Car’ dalam bahasa Sanskrit artinya ‘keseimbangan/ keharmonisan’. Read more » Bencana Alam dan Caru – Part I