QUESTION:
- Ada orang berkomentar bahwa seorang Pamangku tan keneng cuntaka. Apakah hal itu benar adanya? Dan sejauh mana batasan arti tan keneng cuntaka itu.
- Apakah boleh/ tidak dibolehkan seorang Pamangku menerima hidangan/ suguhan dari orang yang sedang kena hajat atau keluarganya meninggal.
- Lungsuran dari/ apa saja yang boleh atau tidak boleh dimakan oleh seorang Pamangku.
- Apa-apa saja yang patut dibawa sebagai punia atau haturan kepada sungsungan seorang Pamangku setelah selesai menjalankan suatu upacara.
ANSWER:
1. Pamangku tergolong Sang Ekajati, masih terkena cuntaka yang disebabkan oleh keluarga dekat dalam satu rumah (meninggal dunia atau perkawinan) atau keluarga sesuai dengan tingkat kedekatannya sebagai “mindon” yang tinggal di tempat lain.
Terkena cuntaka bila mengunjungi orang yang meninggal dunia atau kawin (sebelum upacara mabeakala) untuk mudahnya sebut sebagai cuntaka pasif.
Pamangku terkena cuntaka yang disebabkan oleh dirinya sendiri, disebut sebagai cuntaka aktif misalnya pamangku yang: menikah, istri/ pamangku wanita yang datang bulan, istri/ pamangku wanita yang melahirkan, istri/ pamangku wanita yang keguguran kandungan.
Dalam hal ini pemberlakuan cuntaka berbeda yaitu bagi istri pamangku atau pamangku wanita yang mengalami hal-hal seperti tersebut di atas tidak diperkenankan masuk ke Pura/ Pamerajan-nya sendiri.
Tetapi bagi pamangku pria dan istrinya atau pamangku wanita yang mengalami kematian atau perkawinan tidak dilarang masuk ke Pura/ Pamerajannya, tetapi dilarang masuk ke Pura/ Pamerajan orang lain kecuali Pamerajan Sang Dwijati. Pamangku yang meninggal dunia menyebabkan keluarganya cuntaka dan juga orang lain yang datang ngelayat.
Yang murni terbebas dari masalah cuntaka (aktif atau pasif) hanya Sang Dwijati: Pandita/ Pedanda, karena beliau sudah terlahir kedua kali di mana kelahiran terakhir dari sastra agama.
Jadi bila sang Dwijati meninggal dunia, keluarga dan orang yang melayat tidak terkena cuntaka. Selain itu bagi Pandita Istri, pada umumnya ketika di-Diksa sudah berumur 50 tahun ke atas sehingga sudah “baki” dan bebas cuntaka.
2. Pamangku tidak diperkenankan makan/ minum di tempat orang cuntaka dan wajib menjaga dirinya tetap suci dan tidak cemer.
Waspada terhadap hal-hal yang dapat menyebabkan cemer baik dari makanan maupun dari hal-hal lain misalnya: melanggar Trikaya Parisudha, kena perkara pidana, memikul atau nyunggi sesuatu barang yang kotor (sampah, lungsuran di setra, dll) atau yang biasanya diinjak atau diduduki (tangga, kursi, alat bajak, dll) – tetapi memikul/ nyunggi pretima/ pelinggih Bethara sangat disarankan.
Cemer yang lain: memasuki warung untuk berdagang atau nganggur, memasuki tempat judian dan maksiat lainnya, bersumpah “cor”, melangkahi tali sapi, menginjak tahi sapi, memukul sapi, kencing/ buang air di: sungai, laut, air, abu/ api, dilangkahi mayat/ ngusung mayat, ngarap sawa, makan makanan yang tidak suci, atau tempat makanan yang tidak suci, memasuki rumah/ bangunan yang belum diplaspas, dll.
Pamangku yang terkena cuntaka dan cemer wajib mebersih sesuai dengan tingkatan cuntaka/ cemer-nya misalnya: mebanyuawangan, me-prayascita, mebeakala, melukat, masepuh, mawinten lagi, dst.
Oleh karena selalu harus waspada akan kemungkinan terkena cemer, maka pamangku senantiasa berpakaian putih (udeng, baju, saput dan wastra) walaupun pada saat di rumah, mengunjungi orang kawin, kematian, sangkep di Banjar, bepergian ke mana saja, dll.
Dengan berpakaian seperti itu pamangku akan selalu ingat mengendalikan diri di samping itu mencegah agar pamangku tidak di-”tebah” dengan bahasa kasar atau diperlakukan kurang baik karena orang lain tidak tahu kedudukan pamangku.
Harap senantiasa diingat bahwa pamangku adalah tapakan Ida Bethara sesuwunan; oleh karena itu pamangku wajib selalu suci dan selalu menjaga kewibawaan Ida Bethara sesuwunan.
Seseorang yang kejumput menjadi pamangku seyogyanya bangga karena menjadi kesayangan Ida Bethara, namun kesayangan itu hendaknya dipupuk dengan terus menerus meningkatkan keluhuran budi pekerti dengan cara-cara:
- Menghindari sad-ripu (enam musuh): kama = hawa nafsu, lobha = loba, kroda = marah, moha = kebingungan, mada = kemabukan, matsarya = iri hati;
- Menghindari sapta timira (tujuh kegelapan): surupa = tampan, dhana = kaya, guna = pandai, kulina = keturunan/ wangsa, yowana = keremajaan, sura = kemabukan, kasuran = keberanian.
- Menghindari dasa mala (sepuluh keburukan): tandri = malas, kleda = suka menunda-nunda, teja = pikiran gelap, kalina = suka menyakiti orang, kuhaka = keras kepala, metraya = sombong, megata = kejam, ragastri = memperkosa, bhaksa bhuwana = memelaratkan orang lain, kimburu = menipu.
- Melaksanakan yama brata: anrsangsya = tidak mementingkan diri sendiri, ksama = pemaaf, satya = jujur, ahimsa = tidak menyakiti/ membunuh, dama = sabar, arjawa = tulus hati, priti = welas asih, prasada = hati yang jernih, madhurya = pandangan yang manis dan ucapan yang menyejukkan, mardawa = lembut hati.
- Melaksanakan niyama brata: dana = pemberi, ijya = memuji Tuhan, tapa = mengendalikan nafsu, dhyana = memusatkan pikiran pada Tuhan, swadhyaya = senang belajar, upasthanigraha = mengendalikan nafsu sex, brata = mengendalikan nafsu makan, upawasa = berpuasa, mona = tidak berkata-kata/ berkata seperlunya.
Dalam Wrespati Kalpa disebutkan: manusia adalah ciptaan Tuhan yang utama; Brahmana (sulinggih) adalah manusia utama dan Brahmana yang berilmu dan mengamalkan ilmu untuk masyarakat adalah Brahmana utama. Nah, menjadilah Brahmana utama.
3. Yang boleh dimakan adalah lungsuran ayaban upacara Dewa Yadnya dan Rsi Yadnya (khusus Nabe-nya); yang tidak boleh dimakan lungsuran ayaban upacara manusa yadnya, pitra yadnya, dan buta yadnya baik dari keluarga sendiri maupun dari orang lain.
4. Tergantung besar kecilnya upacara; minimal: banten Sida Karya, Sanganan lebeng andus, Punia (uang), kain putih kuning.
Bila upacaranya besar misalnya ngenteg linggih Pura, aturan di atas ditambah dengan jejaton emas/ perak dan permata, payung, lampu templek, dan lungka-lungka.

Recent Comments