Seputar Puja Trisandya

QUESTION:

  1. Bagaimana pelaksanaan Puja Trisandya?
  2. Apakah Puja Trisandya diatur dalam Kitab Suci?
  3. Bagaimana dengan Hukum Hindu dalam perkembangan sekarang?

ANSWER:

1. Puja Trisandya adalah puja yang dilakukan umat Hindu minimal tiga kali sehari, yaitu pada saat-saat “peralihan waktu”, yaitu pagi, siang, dan sore hari.

Oleh karena pelaksanaan Agama Hindu memuat kebebasan penuh kepada setiap orang yang meyakini Veda dalam “menempuh jalan” menuju Hyang Widhi, maka apabila melakukan Puja Trisandya lebih dari tiga kali dalam sehari atau melakukannya pada saat-saat yang tidak tepat di waktu pagi, siang, dan sore, dipersilahkan saja.

Demikian pula dengan berjapa Gayatri, boleh dilakukan setiap saat.

Seharusnya Puja Trisandya dilakukan sebelum Puja Kramaning Sembah sebab Puja Trisandya mengedepankan Mantram Gayatri sebagai “Veda Utama” dan bait-bait selanjutnya adalah pujian kepada Hyang Widhi, pernyataan kita sebagai manusia sangat papa, dan mohon ampun atas pelanggaran-pelanggaran Trikaya.

Setelah itu barulah melakukan Kramaning Sembah di mana maknanya adalah memohon kehadiran Hyang Widhi dan memohon anugerah. Namun demikian Puja Trisandya masih belum populer di Bali Selatan, sehingga mungkin saja terbawa-bawa ke daerah lain di luar Bali.

2. Puja Trisandya tidak diatur secara tegas dalam Manawa Dharmasastra, tetapi diadakan dalam kesepakatan bersama pemuka-pemuka Hindu sekitar tahun 1967, kemudian disyahkan oleh PHDI dalam Mahasabha berikutnya.

Berjapa dengan Gayatri Mantram sebaiknya dilakukan 108 kali dengan bantuan Japa-mala.

3. Hukum Hindu seperti Manawa Dharmasastra dan Parasara Dharmasastra dewasa ini banyak yang kurang sesuai dengan keseharian umat.

Mengenai Hukum Warisan dan status Janda lebih banyak diatur dalam Hukum Adat, yang kadang-kadang tidak selalu identik dengan inti ajaran Agama Hindu (Veda).

8 comments to Seputar Puja Trisandya

  • 1
    Hukum Hindu says:

    Karyam so’veksya saktimca
    Desakaala ca tattvatah
    Kurute dharmasiddhiyartham
    Visvaruupam punah punah.
    (Manawa Dharmasastra VIII.10)

    Maksudnya:
    Setelah mempertimbangkan iksha (tujuan), sakti (kemampuan), desa (aturan setempat), kala (waktu) dan tattwa (kebenaran) untuk menyukseskan tujuan agama (Dharmasiddhiyartha) maka ia wujudkan dirinya dengan bermacam macam wujud

  • 2
    done saputre says:

    pa kah orang yang masuk agama hindu bisa sejah teraa

    • 2.1

      Menjadi pemeluk Agama apapun, tidak menjamin seseorang otomatis menjadi sejahtera. Itu tergantung dari (menurut keyakinan Hindu) :
      1. Karmawasana dikehidupannya yang lalu
      2. Lingkungan/pendidikan dan kebiasaan hidup berdisiplin
      3. Ketaatan beragama dalam artian melaksanakan perintah-perintah-Nya sesuai kitab suci Weda
      4. Hidup sehat dalam bidang-bidang : spiritual, emosional, inteligensial, sosial, dan physical
      5. Pola pikir : smart and simple living but high thinking
      6. Pandai dalam berkomunikasi dengan lingkungan
      7. Dan lain-lain

  • 3
    dedy paramartha says:

    makna apa yang terkandung di dalam puja tri sandya dari bait pertama hingga bait ke 6 ??

  • 4

    1. Baca di web ini tentang Puja Trisandya beserta penjelasan artinya.
    2. Tiga bait pertama adalah pemujaan pada Sanghyang Widi dalam berbagai manifestasi-Nya. Tiga bait terakhir pengakuan bahwa kita mahluk yang sangat rendah (dibanding dengan-Nya) yang penuh dosa/kesalahan, serta memohon ampun atas semua pikiran, perkataan, perbuatan yang menyimpang dari dharma.

  • 5
    komang yudiksa says:

    Om swastyastu Ida Pandita sane wangiang ttyang, mohon penjelasan tentang mulang dasar untuk pelinggih merajan alit, serta kalau boleh sekalian dengan gambar apa saja dan aksara apa saja yg ada di bata merah, batu, klungah dan lain-lain. syarat apakah seseorang boleh merajah bata dasar itu, atas bantuannya ttyang ucapkan banyak terima kasih.

    • 5.1

      Om Swastyastu,

      1. Bata-merah (kitakan) dua buah, yang satu merajah bedawang dengan aksara AH dan yang satu merajah ANG
      2. Batu bulitan merajah ANG, UNG, MANG
      3. Kelungah nyuh gading merajah DASA BAYU

      Ketiganya dibungkus kain putih, diikat dengan benang tridatu, dan diberi kwangen mejinah 11 keteng.

      Boleh dibuat oleh siapa saja, namun perlu dipasupati oleh seorang pemangku atau sulinggih.

      Om Santih, santih, santih, Om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting