Pada abad ke-4 M di Kutai (Tenggarong), Kalimantan Timur berdiri sebuah kerajaan Hindu dengan Rajanya bernama Kudungga. Menurut beberapa ahli sejarah, Kudungga adalah penduduk asli, kepala suku Kutai. Ia mengawini seorang putri dari Campa (Muangthai) keturunan Raja Bhadawarman. Karena cintanya yang kuat, Kudungga mengikuti agama istrinya, dan ketika anak lelakinya lahir dinamai Aswawarman, mengambil nama marga “Warman” dari leluhur mertuanya di Campa.
Selanjutnya Aswawarman berputra tiga lelaki yakni: Mulawarman beristana tetap di Kutai (Tenggarong), sedangkan kedua adiknya yakni Purnawarman mendirikan Kerajaan Tarumanegara di Jawa-Barat (dekat Bogor) dan Mauli Warmadewa mendirikan kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan (dekat Palembang). Pada abad ke-10 salah seorang keturunan Mauli Warmadewa bernama Sri Kesari Warmadewa datang ke Bali, dan mengalahkan raja yang berkuasa saat itu: Sri Ratu Ugrasena yang dikenal dalam mitologi sebagai Mayadenawa.
Sri Kesari Warmadewa kemudian menobatkan diri sebagai Raja dengan gelar: Sri Wira Dalem Kesari. Selama kurun waktu hampir 100 tahun, dinasti Warmadewa memegang tampuk pimpinan, walaupun dibeberapa periode pernah direbut oleh Raja-Raja dari dinasti lain.
Darma Udayana Warmadewa adalah keturunan Sri Kesari Warmadewa. Ia memerintah bersama-sama istrinya: Gunapria Darmapatni atau juga bernama Mahendradata, yakni putri Mpu Sindok, Raja Mataram (Jawa Tengah). Dari perkawinan ini mereka mempunyai dua anak lelaki yakni Erlangga dan Anak Wungsu. Anak Wungsu tetap di Bali menggantikan kedududkan ayahnya, sedangkan Erlangga pergi ke Jawa Timur dan pada tahun 1016 menikahi putri Darmawangsa (Raja Medangkemulan di Pasuruan). Pada tahun 1019 Erlangga menjadi Raja menggantikan mertuanya dengan gelar: Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Teguh Wikramottunggadewa.
Keturunan Erlangga yang pertama kali datang (kembali) ke Bali (tanah leluhurnya) adalah: Sire Arya Buru, Sire Aryeng Kepakisan juga disebut Arya Kepakisan atau Nararya Kepakisan, Sira Arya Kutawaringin, Sira Arya Gajahpara, Sira Arya Getas, dan sira Kebo Anabrang. Mereka adalah panglima-panglima perang Gajahmada yang turut dalam ekspedisi militer I dan II menundukkan Bali yang ketika itu dipimpin Raja: Sri Hyang Ning Hyang Adi Dewa Lancana (Ekajaya Lancana).



Bagus sekali infonya. Sayang tidak ada petuah dari Leluhur para Arya, bahwa penyerangan ke Bedahulu adalah menyerang rumah sendiri. Mungkin para Arya kena tipu muslihat Gajah Mada seperti Super Hero ” Kebo Iwa “
Om Swastyastu,
Betul sekali pendapat anda. Namun di zaman dahulu juga ada politik. Politik adalah kekuasaan. Kekuasaan diperoleh karena ambisi. Dan ambisi berwujud kekerasan baik terlihat maupun tidak terlihat.
Om Santih, santih, santih, Om
trima kasi ts infonya sangat berharga bagi saya n umat hindu, untuk menggugah bagi setiap orang untuk tidak terlalu mengagungkan klannya bahwa kita semua sama,,,,, GAPAR…
Om swastyastu bhagawan,
Indik kaon ipun sri ratu ugrasena, tiang naanin ngewacen ring sumber siosan tur saking tutur pare penglingsir sane naanin piragi tiang wantah kekaonang olih ida bhatara indra nenten je sri kesari warmadewa. Nunas baos mangda tatas uning?