QUESTION:
Saat saya dalam perjalanan dari Malang ke Surabaya, saya sempat ditanya seseorang yang bukan beragama Hindu. Kenapa di Hindu sangat kuat sistem kastanya dan terkesan membeda-bedakan?
Menurut Ida pandita sendiri kesalahpahaman yang mengakar membuat orang lain menjadi terpengaruh bahwa dalam hindu ada pelapisan sosial, yaitu kasta.
Padahal yang saya tahu hal tersebut tidak ada, yang ada hanyalah Ajaran Catur Warna yang terbentuk berdasar guna dan karmanya. Mohon penjelasannya. Terima Kasih Sebelumnya.
ANSWER:
Masalah “kasta” memang menjadi “penyakit” menahun yang tak kunjung sembuh pada beberapa kelompok umat Hindu di Bali. Betul dalam agama Hindu, sistem kasta tidak ada; yang ada sistem warna seperti yang anda katakan.
Namun sejarah telah mengukir jalannya sejak abad ke-14, di mana tatanan masyarakat diubah dari warna ke kasta, untuk menguatkan status quo penguasa ketika itu.
Padahal sebelum abad ke-14, kasta tidak dikenal di Bali/ Jawa. Penjajah Belanda, selama 350 tahun menguatkan sistem kasta karena ini sesuai dengan politik divide et impera – nya.
Namun demikian saya yakin lama-kelamaan sistem kasta akan hilang ditelan jaman, karena umat Hindu di Bali akan semakin terdidik, dan juga karena pengaruh globalisasi.
Misalnya di Buleleng, mayoritas masyarakat tidak menyenangi sistem kasta, dan mereka tidak memperhatikannya. Sistem kasta masih agak kuat di Klungkung, Gianyar, Badung, Tabanan, Karangasem. Itupun sporadis.
Bagaimana kiatnya “memerangi” sistem kasta? Ya, perlakukan orang-orang berkasta itu biasa-biasa saja. Hormati mereka berdasarkan inteligensi dan pengabdiannya kepada masyarakat. Bukan karena titel kebangsawanannya.
Mudah-mudahan berhasil.

Om Swastiastu
Nu gen jelema Bali uyut metegehin kasta jak wangsa. cara katak dalam tempurung. lek atine jak agama lenan. asane tuah Hindu Bali gen demen mendriskriminasi nyamane pedidi, padahal pada pada jelema Bali, pada pada makan nasi, pada pada muspa di padma tiga Besakih. Jeg pada uyut dot negehang iba. yen landung jak endepan mula ada. tapi kan faktor fisik dan genetis to. yen sesolahne jele, kadung wangsa apa orang ibane jek tetep je masyarakat ne menilai. kadung kenken baan menjelekkan sulinggih anak lenan, masyarakat sube melek jani. IT suba masuk desa ka leke-leke. nak bali nak suba ink aluh belog-belogina.rage suba saingina jak nak dauh tukad. gaene suba pada jemakina. kayang bule megarang ngalih gae di bali. yen globalisasi suba berjalan kar joh lebih berat persaingane. dadi wangsa kar anggo ngalih payuk jakan?.. nothing last forever bro. changes and evolution is a must.
Suksma ring Ida Bhagawan sampun mabligbagan indik kasta puniki.
Om awighnam astu nama siddham
Om shanti shanti shanti Om
sajan nto orahange ajake mahendra…banggiang sube masalah kasta/wangsa yang sampun salah kaprah berabad-abad pelan-pelan akan tergilas oleh kemajuan jaman dan kemajuan pendidikan…apalagi jaman persaingan globalisasi nanti..mari sareng sami jemet megae apang dueg bisa ngalih gae…sing ade jaman jani ane interview ngalih karyawan metakon apa kastane irage…karena mereka pasti ngalih kecakapan, keduegan iragene, bisa bhs inggris, komputer…
banggiang sampun sane enu demen bermimpi dgn kasta…semakin bermimpi dengan mimpi-mimpi indahnya…padahal itu jelas sudah keliru sakewale dibela mati-matian seolah2 itu sudah sesuai dgn ajaran agama Hindu..bertopeng tradisi adat istiadat sane sujatine nenten beneh pisan..
PHDI punapi niki koq diem2..ten nyiar-nyiar Bhisama kastane sapunika? napi ngamolehan kebrebehan lan penolakan sakeng semeton sane lenan?..
sampun je jaman berubah nanging jatme sane ngubah jaman.mawosan tes ajeng bali.mangkin mideh ideh manusa nakonin kawitan nanging yen di sube bakat kawitan ne beh dados rage ne sore kene.soroh keto….teknologi boleh maju iptek,jaman globalissi dan sebagainya tapi rage ten patut lali uli dije rage berasal…sejarah adalah bagian dari perjalan umat manusia dari dulu sampai sekarang yang di jadikan sesuluh oleh semua orang,bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para leluhurnya..maosin tes niki bisame…atau apalah, wangsa boye anggo ngalih payuk jakan nanging sebagi dasar rage pepikayun lakar nyalanin swadarma masing masing kenten yen menurut tiang ampura yen ten munggah ring adyana..
Om Swastyastu Ida Bhagawan sane suciang tityang..
Mengenai penerapan kasta ini, tyang tertarik utk melihat dari sisi historisnya, dimana seperti yg Ida Bhagawan sampaikan bahwa kasta diterapkan setelah Bali tunduk oleh expansi Majapahit. Berdasarkan beberapa refrensi, masa itu tepatnya adalah pada saat pemerintahan Raja Dalem Waturenggong dengan penasehatnya Dang Hyang Nirartha. Hal menarik disini adalah, konsep kasta ini diperkenalkan oleh Dang Hyang Nirartha yg mana tujuannya adalah untuk bertahan dari kepungan konversi kaum Islam. Dimana pada saat itu memang trjadi peralihan agama besar-besaran pasca kedatangan kaum Islam di Tanah Jawa seiring memudarnya kejayaan Majapahit sampai akhirnya runtuh oleh kerajaan Demak. Yang ingin saya tanyakan, apakah korelasi dari penerapan kasta ini dengan upaya utk bertahan dari kepungan konversi kaum Islam ? Bahkan pada refrensi lain saya juga pernah baca bahwa Dang Hyang Nirartha juga menerapkan aturan bahwa umat yg boleh mempelajari Weda hanyalah para keturunan/wangsa “Brahmana”. Mungkin Ida Bhagawan memiliki penjelasan terkait hal tersebut ?
Namun terlepas dari segala konsekuensi sosial yg muncul, yang paling diuntungkan dari penerapan kasta ini adalah bangsa Belanda karena system kasta merupakan umpan yang sangat matang utk politik devide et empera sehingga dengan mudah mereka bisa berkuasa sekian lama di Nusantara.
Demikian Ratu Beghawan, mohon koreksinya bila terdapat pernyataan yang kurang sesuai.
Suksma…
Om Swastyastu,
Para Maha Rsi yang datang ke Bali pra atau paska keruntuhan Majapahit/masuknya pengaruh Walisongo bertekad untuk mempertahankan Bali agar tidak terkena pengaruh walisongo. Beliau-beliau antara lain : panca tirta. Keturunan Mpu Bharadah (panca tirta yang terkecil) adalah Ida Danghyang Nirartha, disebut sebagai Pedanda Sakti Wawu Rawuh (pendeta sakti yang baru datang) karena kesaktian beliau di niskala dan skala. Di skala, beliau mempunyai pemikiran-pemikiran yang suci dan diaplikasikan ke masyarakat, misalnya tentang pelinggih Padmasana. Oleh karena itu beliau diangkat oleh Dalem Waturenggong sebagai pendeta kerajaan (purohita). Beliau mengatur tatanan masyarakat seperti yang diuraikan diatas. Penerapan sistim kasta diberlakukan di saat itu, agar rakyat mudah dipimpin secara berjenjang, sama halnya seperti sekarang ada lurah, camat, bupati, gubernur dst. Kita perlu melihat bahwa di zaman itu hampir semua penduduk tidak terpelajar alias buta huruf atau tidak berpengetahuan. Maka pemimpin-pemimpin lokal dan daerah bertanggung jawab memajukan penduduk di wilayahnya, mengajarkan agama, memimpin ritual, dll. Usaha ini berhasil menyadarkan penduduk untuk taat beragama Hindu. Walaupun beberapa ajaran yang disampaikan ada yang sifatnya menakut-nakuti, seperti yang digambarkan di lukisan wayang di Kerthagosa (Klungkung). Bagaimanapun sistim kasta di zaman itu berhasil mempertahankan Hindu di Bali. Namun ketika zaman Belanda, penyalah gunaan kasta mulai terlihat, seperti yang anda katakan diatas, karena latar belakangnya politik Belanda, divide et impera (pemecah belah kesatuan-bangsa).
Bahwa umat kebanyakan dilarang membaca/mempelajari weda, ada berbagai versi, namun sumbernya karena kekeliruan tafsir tentang kata : “Rahasya” yang ada di Weda Parikrama. Maksud sebenarnya rahasya, memang rasia, artinya tidak patut di bicarakan sembarangan karena menyangkut hal-hal suci dan tutur kedyatmikan. Disamping itu pengajar weda harus benar-benar yakin bahwa muridnya pantas/patut belajar weda dalam artian : sudah menyadari ajaran-ajaran dasar agama Hindu, mengerti dengan larangan-larangan agama, mempunyai cita-cita luhur, dll.
Namun di beberapa Gerya tafsir “rahasya” ini diaplikasikan dengan melarang mengajarkan weda, melarang orang biasa (rakyat) mendengar mantram-mantram weda, tidak boleh bertanya tt weda, dll.
Tentu saja itu tidak sesuai dengan perkembangan zaman kini, karena dunia iptek perlu digali sedalam-dalamnya oleh siapa saja yang mampu. Termasuk ajaran weda perlu dikaji, dipelajari, diaplikasikan seluas-luasnya. Makanya ada sekolah, perguruan tinggi agama HIndu, dharma wacana, dharmatula, dll.
Om Santih, santih, santih, Om
om swasti astu
dumogi kesadaran datang dari semua penjuru….
wangsa yang dulunya kasta…niki dlam perjalannya sudah banyak mengalami perubahan sejak bertambahnya pengetahuan umat.spt disebutkan tadi bahwa manusia dihadapan Tuhan itu sama dari wangsa apapun anda,adanya srada punarbawa dan reinkernasi saya rasa apabila sanat atman mendapat kesempatan untuk numadi lagi sudah barang tentu akan menuju pada keluarga atau linsehannya seperti yang di sebutkan tadi…sudah barang tentu akan menuju sesuai wangsanya…karena wangsa adalah keturunan/trah/darah ini yang kita bawa dari lahir sampai kesangkan paranin numadi…dalam perjalan selanjutnya sangat atman akan di pengaruhi oleh triguna satwam rajas tamas mana yang lebih dominan itu yang akan mempengaruhi sifat sifat manusia makanya tidak ada manusia yang sama,pewangsaan ini tidak pernah berbenturan satu sama lainya terkecuali memang sengaja di bentur benturkan….merakA berjalan sesuai dengan swadarmanya masing masing.jaman sudah berubah tetapi hal hal yang pundamental juga perlu kita pertahankan karena ini adlah local genius yang di jiwai filsapat agama hindu.apakah karena wangsanya sudra mereka merasa terhina atau karena merasa wangsanya brahmana atau stria merasa lebih tinggi derajatnya atau sebagainya,saya rasa tidak juga karena secara ekonomi sudah banyak orang orang sudra yang berhasil dalam usaha dan pendidikan.dan banyak juga wangsa brahmana yang bekerja dan menjadi bawahan yang sekiranya menjadi mata pencaharian untuk kehidupan( catur warna ) tetapi wngsa tetap melekat apabila dia balik kerumah dan mampu menjalankan swadarmanya menjdi stria atau brahmana dan mampu memberikan sesuluh kepada para sisianya….mungkin ini yang perlu menjadi kajian..jadi yang perlu kita renungkan adalah tatwamasi dan toleransi apabila kita mau di hargai hargailah orang lain dan apabila kita mau dihormati hormatialah itu yang perlu kita kedepan.ingih wantah sampun nike yening ten munggah ring adnyana nunas pengampura..
Nyame nyame ajak mekejang, de bes joh keto mekeneh, ngorahang ane ne lebih tinggi, ne len lebih rendah, wangsa prebutin, ije ke tawang wangsa A lebih tinggi ken wangsa B, pas lekad/lahir ape misi cap wangsa A lebih ririh, men nu tutur kone konden karuan beneh, isin buku gen bise pelih, toh ne ngae jeleme, pasti misi gen pelih, ne ngaku wangsa ne luungan ken wangsa lenan be taen metakon ken ne ngae wangsa ato ken ida sang hyang widi sepalan metakon pang sing nyape kadi aku, ape dasarne ngaku wangsa ne luungan, coba jelasang!, pang sing aluh ngomong cang ne dadi, cang ne patut, nanging polone mbuh, logika anggo mekeneh de ego yan,…….yen uli sumber sane len teken beduur, wangsa nto gaene waktu zaman danghyang dwijendra (nu zaman kerajaan) pang aluhan membagi tugas, makane gaene wangsa a dengn tugas a, yen zaman jani seharusne ne beneh nto trah.
berfikirlah layaknya seorang brahmana, berlakulah layaknya seorang arya, berusahalah layaknya seorang waisya dan bekerjalah layaknya seorang sudra
Semeton Bali sareng sami, berhentilah berselisih tentang kasta…marilah kita jengah bekerja dan bekerja terutama mengantisipasi persaingan global yang sudah didepan mata…jangan nanti hanya jadi penonton ditengah hiruk pikuknya dunia realita….bersyukurlah di Bali, sekarang yang menjadi pemimpin Gubernur/Wakil Gubernur adalah seorang berkasta “Pemimpin dan Pekerja”.
Semoga Rakyat Bali semakin Sejahtera, Makmur dan berbahagia.
Betul. Sistim kasta dihidupkan sejak penjajahan Majapahit di Bali (abad ke-14) dimana para petinggi Majapahit yang memegang posisi pemerintahan dan kependetaan disebut triwangsa, sedangkan orang-orang Bali-Aga dinamakan wong sudra. Padahal diantara orang-orang Bali-Aga itu ada keturunan dari dinasti Warmadewa (penguasa sebelumnya) dan para petinggi lainnya. Juga ada para Dukuh atau pendeta murid/sisya dari Maha Rsi Markandeya dan Mpu Kuturan. Sistim Kasta disenangi oleh Belanda karena sesuai dengan politik pemecah belahnya yaitu divide et impera. Jadi sejak Belanda hadir di Bali kasta-stelsel makin menjadi-jadi.
titiang umat hinhu awam yang termasuk bodoh dalam pengetahuan ajaran hindu bali,jujur titiang lebih banyak mendapat masukan agama dari kepercayyan lain karena titiang tidak pernah sekalipun membaca atau mengetahui adanya kitab kitab suci hindu bali, saya cuma tahu dari artikel atau buku hindu sekolah dulu dan adat istiadat hindu bali yang tiang tahu cuma mebakti atau mebanten sebisanya saja. kadang pengertian tiang tentang agama hindu bercampur dengan agama lainnya, tiang kurang mengerti apa yang sebenarnya menjadi landasan adanya tingkatan sosial menurut kelahiran dan keturunan yang exclusive ini? mengapa orang harus dibedakan menjadi brahmana, arya , waisya atau sudra menurut kelahirannya dan bukan menurut pencapaiannya? dan yang tiang tahu semua agama selain hindu tidak ada sistem tingkatan sosial yang exclusive menurut kelahiran atau keturunannya, menurut saya pribadi siapa saja sama tingkatan sosialnya sama di hadapan Hyang Widdhi Wasa
Maaf saya membantah pendapat anda saudara wayan sudarma mengatakan pribadi siapa saja sama tingkatan sosialnya di hadapan Hyang Widhi Wasa, jadi artinya pendapat anda itu mengatakan bahwa manusia sama di mata atau hadapan Sang Hyang Widhi Wasa? jika begitu pendapat anda salah besar!!
mengapa saya berkata seperti itu???
kalau memang kita sama di hadapan tuhan artinya beliau tidak membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana dharma dan mana adarma! artinya kan tidak ada rua bhineda dan juga manusia yang selalu berbuat baik akan disamakan dengan manusia yang selalu berbuat jahat/amoral, jika seperti itu orang yang berbuat baik akan disamakan tempatnya dengan orang yang suka berbuat jahat yaitu mendapatkan surga setelah orang tersebut meninggal, jadi kan lebih baik kita berbuat jahat dibandingkan dengan berbuat baik, toh sama-sama mendapatkan surga!!!
Begini ya saudara sudarma, saya akan memberi anda tuntunan tetapi anda boleh tidak menerima tuntuna saya. Dalam ajaran agama Hindu kita percaya dengan adanya Phunarbawa (lahir kembali), percaya dengan adanya Surga/Neraka, percaya dengan adanya karma phala dan lain-lain. Singkat kata dalam ajaran agama hindu kita percaya dengan Neraka Ciuta(hukuman yang diterima setelah lahir kembali sebagai manusia karena perbuatan sebelumnya) contoh : ada mnanusia yang cacat sejak lahir baik cacat fisik maupun cacat mental, itu adalah bukti bahwa orang tersebut kelahiran sebelumnya pastilah orang yang seering berbuat jahat/adharma.
Jadi itu suatu bukti bahwa Tuhan Yang Maha Esa memandang manusia ada bedanya baik dari segi keturunan ataupun sosialnya. suksma
Om Swastiastu, sdr pandeadi, pendapat sdr wayan sudarma sudah benar, mengapa anda paksakan salah?. coba renungkan, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Adil, Maha Pengasih dan Penyayang. kelahiran kembali/karmaphala/ke sorga/neraka adalah hasil dari perbuatan dan usaha diri manusia sendiri. tidak ada perbedaan karena faktor keturunan apalagi status sosial. maafkan saya sebelumnya, apakah setiap pagi bau dari BAB manusia berbeda-beda, yang keturunan ini harum dan keturunan lainnya busuk?.demikian juga antara yang status sosial kaya dan miskin?
kalau memandang manusia ada perbedaan dengan memakai kaca mata sebagai manusia mungkin sdr pandeadi benar. jangan samakan kacamata manusia dengan kacamata Tuhan.
Semoga pikiran bersih datang dari segala penjuru.
kalao tuhan membedakan manusia berarti tuhan nggak adil dong??
saudaraku hindu bali semuanya,janganlah bertengkar tentang kasta.mari kita semuanya bersatu untuk hindu dan bali.disini saya ingin sdikit menjelaskan arti hukum karma,rwa bineda,serta hukum2 tuhan lainnya menurut pemahaman saya.segala pelajaran tentang ajaran hindu memerlukan kepala dingin,ketenangan agar pikiran bisa menyerap makna yg terkandung di dalamnya.ini adalah sejatinya ajaran yg bersifat spiritual.sdrku sekalian,yg paham dan yg ga paham saya akan jelaskan.krn saya sadar kecerdasan seseorang berbeda tergantung evolusi jiwanya.pertama tentang tuhan menurut hindu.Tuhan dlm hindu dipahami dalam 3 aspeknya.tuhan yg bersifat personal,artinya tuhan pnya sosok seperti kita.contoh,klo kita pingin bertemu presiden RI.jadi kita akan bertemu dgn sosok personalnya yaitu sby.Tuhan bersifat impersonal,artinya beliau hadir dan ada disetiap elemen alam semesta yg memberi daya hidup.dan yg terakhir beliau ada di hati setiap insan mendampingi sang roh sebagai paramaatma.dlm tataran “ROH/ATMAN”.semua yg hidup di alam semesta ini sama dihadapan tuhan sebagai roh atau daya hidup.karena roh adalah percikan kecil dri tuhan.tpi jgn pernah menyamakan roh dgn tuhan.roh adlh percikan dan ttp akan bersifat individual.jadi percikan tak pernah akan menjadi keseluruhan ato sumber.hukum2 alam semesta dibawah kendali tuhan,melalui hukum2 inilah tuhan menjalankan pemeritahannya.dibantu oleh para menterinya yaitu para dewa.tapi tetap tuhan personal menyisih dr ciptaannya.(TUHAN=GOD,dewa=DEMIGOD artinya setengah tuhan.artinya para mahluk atas yg diberikan kemampuan seperti stgh tuhan.sama seperti pemeritahan manusia.mengenai hukum2 alam semesta:
1.hukum karma dan reinkarnasi.
hukum ini sejatinya menjadi satu tak dpt dipisahkan.karma phala=buah perbuatan artinya ini hukum sebab akibat.apa yg anda tanam itulah yg akan anda petik.hukum karma ini akan berbuah dari pikiran,perkataan dan perbuatan dan juga akibat dari berbagai penjelmaan terdahulu.sang jiwa pergi dr satu badan dan menerima badan yg baru sebagai bajunya.seperti udara membawa bau2an.setiap pindah,memakai baju yg baru sedikit memory,pola sifat dsb msih akan dibawa kekehidupan yg bru.itulah reinkarnasi,sesuai dgn karma yg anda lakukan.pertemuan,perpisahan,pembunuhan dsb adalah hukum sebab akibat.karena ketika alam material diciptakan beserta hukum2nya.jadi tuhan dalam persepektif hindu maha adil kesemua mahluk.beliau tidak menghukum anda,tetapi karena kita hidup di alam ini,kita tunduk terhadap hukum2 alam semesta.anda bebas berbuat apa saja baik maupun buruk.tpi ingat anda harus terima akibat perbuatan anda sendiri.klo tidak di kehidupan skrg,ya yg selanjutnya.hukum alam tunduk kpd tuhan.karena sejatinya secara’roh’semuanya adalah bagian dari dirinya.cuma ketika mendapatkan baju saja berbeda.ada yg dpt bju binatang.manusia dan lain2.setiap “baju”pnya kelebihan n kekurangannya.
to saudara pandeadi
seiring dengan pemerataan ekonomi dan kesadaran kesehatan masyarakat sekarang ini, orang cacat bisa lahir di wangsa manapun, apakah itu wangsa tinggi dan terhormat maupun wangsa biasa, apakah itu keluarga pendeta, raja, bangsawan maupun konglomerat bisa juga mendapat keturunan cacat yang anda katakan itu kelahiran dari neraka cyuta, tuhan tidak membedakan manusia dari status nya melainkan dari karma yang dihasilkan manusia semasa hidup karena jikalaupun ada orang berkata ia percaya pada tuhan, selalu menyebut-nyebut nama Tuhan dan sembahyang sampai beribu kali dalam sehari serta selalu membuat upakara yang berbiaya tinggi-tinggi namun jika masih sering berbuat karma buruk jauh dari Dharma semasa hidupnya dan tidak segera bertobat saya yakin hukuman Tuhan karena karma buruknya tidak akan lepas darinya
suksma
terimakasih pada saudara ketut susila atas pelurusannya karena keterbatasan kemampuan penyampaian saya, menurut anggapan saya pribadi wangsa/kasta/warna atau tinggi rendahnya tingkatan status sosial dan keagamaan seseorang menurut kelahiran/keturunannya secara turun-menurun tidak menentukan tempat manusia kelak dihadapan Hyang Widi dan menurut saya adalah karma dan bhakti kita kepada Beliau semasa kita hidup/selama masih sempat lah yang akan menentukan tempat kita kelak. masukan dari saudara pandeadi tentang punarbhawa mempertegas anggapan saya bahwa tinggi-rendah tingkatan sosial/wangsa/kasta/warna menurut kelahiran dan keturunan secara turun temurun, bukan dari Hyang Widi melainkan hanya buatan manusia dalam interaksi sosial dan keagamaan dan menurut saya Hyang Widi tidak membeda-bedakan tinggi rendahnya status sosial manusia menurut kelahirannya/keturunannya krn kelahiran orang dengan cacat fisik atau mental di bali tidak hanya terjadi pada keturunan kaum tingkatan sosial/wangsa bawah saja tapi hampir pada semua tingkatan sosial/wangsa termasuk juga pada tingkatan sosial/wangsa tinggi dan semua keturunannya. penderitaan dan kesengsaraan, kesialan, kemalangan dan musibah, sakit ringan maupun parah, sekarat, kematian tragis dan kesedihan, kejahatan dan kepalsuan, semua bisa datang dan menimpa semua tingkatan sosial/wangsa beserta keturunannya tanpa kecuali termasuk juga keturunan tingkatan sosial/wangsa tertinggi, tidak ada jaminan bahwa semua keturunan wangsa tertinggi dapat terhindar dari hal2 ini dan tidak ada jaminan menurut kelahirannya/keturunannya mereka akan otomatis mendapat tempat tertinggi dihadapan Hyang Widi kelak. maka menurut saya Hyang Widi tidak membedakan tingkatan status sosial manusia menurut kelahiran/keturunan melainkan karma dan bhakti manusia pada Beliau lah yang membedakan tempat manusia dihadapan Beliau sekarang dan kelak.
menurut hemat saya, kita jangan ter-buru2 menghakimi orang yang terlahir cacat adalah se-mata2 hukuman Hyang Widi karena siapakah kita dengan semua keterbatasan kita se-akan2 bisa mendikte semua kehendak dan rancangan Beliau yang mahasempurna bagi semua umat Nya, kadang berkah dan anugerah datang dari tempat yang tak dapat diduga bahkan dari tempat yang paling hina sekalipun.
suksme … mohon koreksi saudara sedharma jika ada kesalahan
ada ajaran kepemimpinan yang terdiri dari sama, beda, dana, danda.
sama artinya semua manusia diperlakukan sama dalam hukum termasuk hukum Tuhan (derajatnya sama)
Beda artinya Penerapan hukum dibedakan sesuai pelanggaran yang dilakukan (karmaphala)
Dhana = Yang berprestasi diberikan hadiah (strata sosial yang lebih tinggi, nama baik, posisi, kekayaan)
Danda = Yang Melanggar hukum diberikan hukuman (penjara, nama buruk, strata sosisl yang lebih rendah)
kalau dilihat dari teori ini strata sosial adalah sesuatu yang diperjuangkan.
bagi yang berupaya untuk berprestasi, yang bisa “inspiring someone else” dalam nilai yang dihormati masyarakat. akan dihadiahkan strata sosial yang lebih tinggi.
satu hal Tuhan itu maha adil.
Om Santih Santih Santih Om
@Putu: Tuhan Maha adil…akan tetapi manusia tidak sama, kalau manusia sama maka apa jadinya, tidak ada yang bisa membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya. Apakah anda ingin manusia sama???
Apa saya dan anda sama??
Tentu tidak,,saya ya saya, dan anda juga tetap diri anda. Anda tidak akan bisa pernah sama dengan saya, begitupun juga saya tidak akan pernah sama dengan anda. Tolong ya, bisakah anda menyamakan antara cabai lombok dengan cabai rawit??
Kalau sudah cabai rawit tak ada yang memngatakan cabai lombok, begitupun sebaliknya. Bukankah keduanya sama-sama cabai, mengapa tidak bisa disamakan???
Tolong berpikirlah dari sana!!!
Dan juga, kalau mebuat seruling apakah yang dipakai adalah bambu untuk membuat semat?
Tentu jenis bambu yang dipakai membuat seruling itu berbeda dengan jenids bambu yang dipakai untuk membuat semat apalagi tali yang dari semat itu.
Coba pikirkan..Terima kasih :)
Tidak semua manusia derajatnya sama. Kalau di mata hukum kepemerintahan iya, akan tetapi kalau dengan hukum Tuhan tidak. Seperti dalam cerita Mahabarata, apabila ada Brahmana yang melanggar hukum dan sama dengan sudra maka yang lebih berat menerima hukuman adalah Brahmana itu. Lalu di mananya yang sama???
Yang berprestasi diberikan hadiah, akan tetapi tidak langsung strata sosialnya tinggi, apalagi ingin menyamakan dirinya. Ekalawya bukankah berprestasi dalam memanah seperti Arjuna, apakah dia Ksatria??
Tidak, dia tetap menjadi dirinya, akan tetapi karena kemahirannya dia dianugrahi gelar seperti ksatrya, namun bukan ksatrya.
Jaya Prana bukankah dihormati sebagai prawira, akan tetapi bukan ksatria.
Bahkan mereka berdua dikenang sampai saat ini, dan apakah mereka berdua menginginkan wangsa mereka sama dengan Wangsa Ksatria, meskpin mereka berprestasi???
Sudah mengerti????
Saya banyak menemui sudra yang berprestasi, tetapi mereka yang mengerti akan Wangsa tidak mau menyamakan dirinya dengan wangsa di atasnya, meskipun berprestasi dan juga tetap dihormati.
Terima kasih :D
maaf sya agak bingung, kalo boleh tahu yang mana di sebut wanga brahmana di bali? yang saya tahu cuma ada ide pedande, ide sri empu, ide bhagawan, ide sulinggih atau yang lainnya tidak pernah saya dengar ada ide brahmana atau ide keturunan brahmana mungkin klo di tv di israel pernah saya denger ada keturunan ide abraham he3 soalnya namanya mirip tapi yang ini katanya zionis. trus apa wangsa arya yg tidak menjabat atau memimpin kerajaan atau daerah masih bisa disebut arya? krn di mahabarata dan ramayana arya itu kesannya sebagai raja atau pemimpin atau bangsawan wangsa raja yang memimpin kerajaaan atau daerah dan punya pengikut yang dipimpin. apakah ada wangsa waisya di bali? apakah konglomerat pemilik usaha besar serta keturunannya di bali masuk dalam wangsa waisya? karena sendi2 perekonimian di bali kebanyakan di pegan mereka dan bisa tuding sana-sini layaknya raja2 saja, trus sebagian besar masyarakat bali wangsa status tinggi atau rendah lebih banyak ato lebih senang bekerja di sektor pariwisata spt hotel dll yang notabena melayani orang2 seperti sudralah walaupun bukan semua wangsa sudra, mungkin lebih senang jadi sudra tp tidak senang disebut sudra he3 coz jumlah sudra di bali makin banya saja malahharus bersaing dengan sudra2luar daerah lagi. belum lagi pertumbuhan umat NON HINDU BALI yg makin pesat saja dan yang pasti pendeta agama mereka berkualifikasi ato setidaknya lulus uji kompetensi yg jelas bukan modal nepotisme ato kolusi2 alias KKN moga2 saja pendeta2 kita tak tereliminasi. walo triak kalo leluhur dari wangsa tinggi2 ato PALING BERHAK tapi kalo nyatanya sekarang kita keturunannya sudah menjadi sudra tapi masih ngaku2 lebih tinggi ato PALING BERHAK krn mimpi indah dulu2 bukannya gabung sama rata dengan sesama umat sedhrama biar tambah kuat, apakah susah bersatu samarata dan berbagi kewenangan dengan sesama umat sendiri. biar nggak terlambat takutnya keburu umat lain jadi tri wangsa di tanah kita trus keturunan kita jadi sudra di tanah sendiri, biar nggak cari gunung lagi ato cari pulo lg buat ngungsi biar gak ilang di makan zaman
Om Suastiastu.
Dalam logika hukum memang ada perlakuan beda atas warna (profesi)
Warna brahmana dikategorikan lebih paham hukum, sedangkan sudra dianggap kurang paham, makanya warna brahmana dibebani hukuman lebih berat.
liat jaman sekarang…jika aktor intelektual (misal warna ksatria) melakukan pembunuhan berencana..hukumannya lebih berat dibanding eksekutor (warna sudra)
hadiah berupa strata yang lebih tinggi sudah tentu ada.
coba kita amati stratanya sang guru wisesa Dirjen itu stratanya eselon 1 lebih tinggi dari direktur yang eselon 2) gubernur lebih tinggi dari lurah.
stratanya sang guru pengajian. Sulinggih lebih tinggi dari pemangku.
kalau misal kita dari warna sudra…tentu akan agak susah naik ke stata tertinggi dari warna ksatria. pertama jadi staf… kalau berprestasi…promosi eselon 4…berprestasi lagi naik eselon 3 seterusnya naik eselon 1. kalau ada rejeki…baru jadi menteri.
baik guru wisesa maupun guru pengajian itu ada stratanya.
kalangan pengusaha dan karyawan juga ada stratanya. mulai dari staf, management, owner…semua ada hierarkinya.
kalau masalah kawitan itu kepercayaan kita berbeda beda. sebagian orang ngga percaya bahwa maha gotra pasek sanak sapta rsi itu keturunan Mpu Gni Jaya salah satunya “yoga” yang bahkan berani bersumpah. mungkin anda juga ngga akan percaya bahwa warga bali (dominan) adalah turunan dari ksatria dinasti warmadewa dan brahmana (Hyang Pasupati)
jadi ngga ada gunanya diperdebatkan.
Selebihnya… saya percayakan masalah wangsa kepada para guru, sulinggih, dan ahli weda.
Om Santih santih Santih Om
tambahin dikit ya…sekilas saya dapat petakan seperti ini:
warna itu berdasarkan profesi melahirkan guru wisesa dan guru pengajian, wesya dan sudra
Guru Wisesa alah eksekutif menerapkan hukum (sama beda dana danda (warna ksatria)
guru pengajian (warna brahmana) meletakkan dasar dasar hukum untuk dilaksanakan oleh guru wisesa
Warna (wesya dan sudra) melakukan kegiatan di sektor privat (ekonomi perusahaan)untuk menghidupkan negara. ngga ada pro dan kontra masalah warna. anak presiden boleh kawin sama anak pengusaha. anak hakim boleh kawin sama anak petani.
wangsa itu keturunan tanpa melihat profesi (warna)
sebagian berpendapat ada perbedaan derajat antar wangsa (keturunan)jadi ada istilah nyerod, kepanesan karena nikah tidak sederajat dll
Jaman dulu (jaman kerajaan) paham wangsa sangat wookeee. yang berani menentang bisa kena masalah
Jaman sekarang…demokrasi…
wangsa mulai ada pro dan kontra.
warga bali mulai mengenal silsilah mereka.
konsep wangsa (keturunan) tidak diatur dalah hukum tata negara
jadi ini masalah keyakinan umat hindu saja jadinya. ten dados paksaang. Riantukan topik niki akeh pro dan kontra… ngiring sareng2 tunasang ring sang sulinggih, surya, utawi guru spiritual soang soang.
teman2 mohon dikoreksi kalau peta permasalahan yang saya coba buat ada kesalahan.
Matur Suksma.
Om Santih Santih Santih Om
Bayu, yoga dan pengikut..kamu ini masih terus spt katak dalam tempurung….menganggap dirimu derajatnya lebih tinggi dari orang lain (kaum sudra)..orang lain sudah pada pikiran jauh kedepan bahkan sudah sampai pergi ke Bulan…tapi kamu masih suka menghayal dan bermimpi…apa sebenarnya yg kamu sudah baktikan kepada Bali/negara/dunia??..hanya bangga dgn gelar-gelurmu itu?
itu hanyalah kulit luar semata…janganlah terlalu ego! nanti kamu2 yg penuh ego ini pasti dilindas kemajuan jaman!..tunggu saja!
@wayansudharma:
Nah agar anda tdk terus”an bngung yang dsb sbagai wangsa brahmana adalah Ida Bagus dan Ida Ayu, karena mereka adalah keturunan Brahmana yang asli dan tidak mengaku-ngaku.
Dan untuk wangsa arya yang tidak menjadi pemimpin ttp mreka dsb sbagai wangsa arya. Seperti halnya tiying tali ttp sambate tiying tali yadiastun sing anggone tali, seperti itulah wangsa, wangsa apapun mereka akan tetap seperti itu(kecuali yang nyineb wangsa)
Tolong mainsetnya diperbaiki agar tidak ngacuh ngomongnya. Sebagai contoh apakah seluruh pandawa menjadi pemimpin?? bukannya hanya satu yang menjadi pemimpin yaitu Dharmawangsa. Akan tetapi sdr” Dharmawangsa tetap dianggap ksatria meskipun tidak memimpin.
Sorry ya bukannya saya gak bsa jawab, tapi pertanyaan yg modelnya sprti ini sdah pernah dijawab oleh Yoga, akan tetapi cara bertanya dan kalimatnya saja yang berbeda, tetapi intinya sama. Apa anda ini tdk mempunyai pertanyaan yg lain??
Ehh yan kalo pekerjaan disekala itu tidak mempengaruhi darah keturunan, apalagi pkerjaan sekala itu tdk langgeng, dan jg titel sekala itu tdk langgeng. Kalau titel yang dibawa sejak lahir dari Niskala, dari lahir sampai ke akhirat dibawa. Dan itulah yang namanya wangsa. Bahkan di Bhagavad Gita lamun gede suba metulis cara kene, arruuuuh taen maca Bhagavad Gita??
Yen sing taen baca malu, pang sing keliru nyen, benehang maca!!!
Karena sering kali isi-isi lontar itu dipakai untuk menghancurkan wangsa, akan tetapi tdk pernah berhasil. Karena isi sloka trsebut tdk digunakan untuk menghancurkan/menjatuhkan wangsa…Hahahahayyy
Tidak ada keturunan Brahmana yang dulu itu sekarang menjadi sudra hanya karena pekerjaan sekala. Aduuuh komentar anda ini sangat mencerminkan bahwa anda sangat iri dan cemburu kepada wangsa yang lebih tinggi dari anda. Tidak ada yang menganggap mereka sudra selain orang-orang yang iri dan cemburu sperti anda. Dan juga anda ini sangat iri terhadap kewenangan yang lebih yang mereka miliki sejak lahir, karena anda tdk bsa mendapatkan kewenangan tersebut secara menyeluruh. Awak lingsehang tiying tali do ngaku lingsehang tiying buluh, yadiastun patuh-patuh tiying, sakewala kawigunanne len. Ada tiying petung memanakan tiying tali??
Ada punyan Jepun Bali Putih mebunga jepun barak, apa buin mebunga jepun jepang???
Pakai contoh di sekitar anda untuk bisa berpikir lebih jernih!!.
Ehh mainsetnya tolong diperbaiki, karena mainset anda sepertinya sudah karatan.
Aduuuh pantas saja orang-orang yang masih mematuhi wangsa termasuk sudra yang masih mematuhi wangsa tdk mau berkomentar di sini. Karena malas mengurus orang” yang tdk prnah mengerti seperti anda, karena mainsetnya sudah karatan alias wuuuggg.
Ingat baik” ya,,,bila perlu tulis di notebook anda biar terus ingat.
wkwkwkwkwkwkwk :P
@De’Oka;
kalau anda berpendapat demikian lalu mengapa anda mengatakan bahwa manusia selalu diperlakukan sama dalam hukum. Itu berarti mau yang antara brahmana dan sudra diperlakukan sama karena pelanggarannya sama?
“jika aktor intelektual (misal warna ksatria) melakukan pembunuhan berencana..hukumannya lebih berat dibanding eksekutor (warna sudra)”
jika anda berpendapat demikian berarti manusia tidak diperlakukan sama dalam bidang hukum, intinya sama juga dengan pendapat saya??
Apa anda ini tidak ttp pendirian??
Kalau titel sekala meaba sing kanti mati, apalagi dibawa ke akhirat?
“dan hal ini sudah pernah diterangkan oleh yoga(jangan kira saya tidak tahu??)”
Kalau wangsa, dari lahir sampai menuju ke akhirat dibawa. Bukti, sesuratan kajang Ida Sang Brahmana, Ida Sang Ksatria, Arya dan Sudra bukannya berbeda, tegarang yen ada sudra mati nyen sesuratan kajang Ida Brahmana, apa sesuratan kajang Ksatria anggon dtu nyen, ajak sesuratan Ida Pandita Putus anggon,,,engken ye kal dadine??
Yen sing tulah gen nyen, lan panesssss.
Dari sana saja sudah terbukti bahwa wangsa memang harus ada!!!
“kalau masalah kawitan itu kepercayaan kita berbeda beda. sebagian orang ngga percaya bahwa maha gotra pasek sanak sapta rsi itu keturunan Mpu Gni Jaya salah satunya “yoga” yang bahkan berani bersumpah. mungkin anda juga ngga akan percaya bahwa warga bali (dominan) adalah turunan dari ksatria dinasti warmadewa dan brahmana (Hyang Pasupati)
jadi ngga ada gunanya diperdebatkan. ”
Waahhh hebat sekali yoga ya????
Berani bersumpahhhhh,,,,,saya yakin bahwa yoga itu tahu yang sebenarnya, oleh karena itu dia berani bersumpah…Bagi saya ya untuk apa mengaku-ngaku sebagai keturunan Brahmana kalau memang betul” bukan keturunan brahmana….Saya sebagai soroh Senggu saja tidak mau ngaku-ngaku sebagai keturunan Brahmana. Kalau memang betul” keturunan brahmana nggak usah ngaku-ngaku kok, pasti orang” itu mengatakan bahwa si X sebagai keturunan brahamana. Saya juga nggak percaya, kenapa baru sekarang diketahui??
Kenapa tidak dari dulu??,,,dan kenapa baru ditemukan???,,kalau demikian, wangsa brahmana dari dulu sudah ada yang tahu kalau mereka keturunan brahmana tanpa mengaku-ngaku…Yen suba kedis perit ada sing nyambatang kedis garuda…Yen kedis siung ada ngaku-ngaku kedis Garuda ada sing anak ngugu,,,yen kedis guak yadiastun sing memunyi guakguak tetep sambate kedis guaakkk…
Dan mengenai wangsa tidak diatur oleh pemerintah tetapi Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa….
Om Suastiastu
Saya sudah coba petakan perbedaan konsep warna dan wangsa dalam diskusi ini bro…
yang diperlakukan beda atas kesalahan yang sama itu karena warna bro… bukan karena wangsa.
dalam ranah hukum…wangsa sama sekali tidak dipertimbangkan bro…. jika i ketut dan ida bagus melakukan kejahatan bersama sama dengan kesalahan yang sama hukumannya sama bro… ngga melihat wangsa…
tapi jika i ketut seorang hakim tipikor disuap sama ida bagus yang profesinya dagang… ya hukumannya i ketut yang lebih berat….karena i ketut warnanya brahmana dan ida bagus warnanya wesya… memang warna brahmana beban hukumannya lebih berat.
itu ranahnya sosial politik… dalam ranah agama…. warna ngga ada strata brow… anak presiden boleh kawin dengan anak pengusaha… ngga ada cerita kepanesan n selama ini belum pernah dipermasalahkan.
konsep wangsa ini yang pro kontra bro…. masuk ke ranah agama… ada perbedaan derajat tanpa mempertimbangkan aspek apapun. tidak memepertimbangkan aspek profesi, prestasi dan pengabdian dan serta merta derajatnya lebih tinggi antara wangsa satu dengan yang lainnya hanya karena kelahiran/keturunan.. seperti katanya yoga… jika dia angsa meskipun dia kotor dia tetep angsa… begitulah faham wangsa yang disampaikan yoga dkk.
dan anda sdr bayu lebih mempertegas lg dengan cerita kajang yang dibuat untuk masing2 wangsa. ini lebih memperkuat lagi faham wangsa.
makanya saya serahkan pada sulinggih, guru spiritual dan ahli weda…mudah2an UNHI atau IHDN menggap masalah ini penting…jadi bisa lahir skripsi, tesis, buku buku agama dengan analisa yang lebih komprehensif. karena faham wangsa ini dah masuk ranah agama.
mudah2an jelas ya…
Om Santih Santih Santih Om.
@Ketutu Susila:
Ahahahaha anda ini sudah gila apa bodo???
Woooiii tok tok tok….masih ngantuk ya??
Bayu itu kan juga kaum sudra dodol, lihat aja pernyataannya!!!
Aduuuuhh saya jadi tambah yakin bahwa anda ini sudah tidak waras…Memang ya pikirannya sudah melampaui tanduk, jadinya melayang-layang kesana kemari, gak tahu mana yang benar dan mana yang salah…Memang pikiran anda sudah jauh bahkan sampai ke Bulan, tapi di Bulan kan nggak ada apa-apa selain gersang dan tak ada udara, air, dan kehidupan…Pantas saja pikiran anda kacau, karena tak pernah di refresh dengan air…Hehehe :D
Mending pikirannya masih di bumi, dari pada anda beess johhh..jadinya bingung, menganggap siapa saja yang masih mebela wangsa itu lebih tinggi derajatnya dari anda(padahal sama-sama sudra)…Owh iya kan emang derajatnya lebih rendah ya?
Sama kyak katanya Pak Yoga, kalo orang2 yang ingin melenyapkan wangsa itu temitisan Detya(“”"Detya kan derajatnya lebih rendah dari manusia, bahkan lebih rendah dan lebih nista dari sudra”"”)…Wahh untung saya masih dilahirkan menjadi manusia, meskipun dari kaum sudra…Huh masih lebih mending daripada Detya/Raksasa/Gandarwa..Ahahaha :D wkwkwkwkwkwkwk
Haduuuueeeechhhh begini yeah orang2 yang suka bermimpi, ingin menjadikan dirinya lebih tinggi dari yang semestinya lebih tinggi darinya…Jadi inget sama kata ortu “Dek do nyen muruk-muruk merekak/degag teken wangsa sane tegehan teken Kadek. Sawireh ne suba cara Pak De Kadek’e, merekak teken wangsa sane tegehan, merekak/degag teken Siwa, jek sing maundukan dadine umahne. Mileh mepluasang, nganeh ane ngenah di pepluasane kene sisip dogen sawireh merekak teken Siwa. Nah ento jani dadi pepelajahan, cening nyen yen ngelah timpal uli wangsa ane tegehan do merekak nyen, ajak do degag. Yen metimpal dadi, sakewala muruk nyen maatur, pang tusing cara Pak De Kadek’e…”
Ternyata setelah saya buktikan, memang benar,,bahwa kalo kita degag/merekak dengaan wangsa yang lebih tinggi dari kita, kita sendiri yang terkena batunya, bukan orang lain/wangsa yang lebih tinggi dari kita….Setelah saya pelajari lebih lanjut, Tuhan tidak pernah menciptakan segala jenis binatang/tumbuhan itu semuanya sama dan sejenis, pasti ada yang berbeda…Contoh; Bunga anggrek kan tidak semuanya sama(ada anggrek hitam, bulan, kataleya dll) apakah semua itu sama???
Kalau dibilang wangsa itu nepotisme…saya tanya apa itu arti nepotisme??
Nepotisme itu kan berhubungan dengan sistem pemerintahan, perekonomian dan politik. Dan bukan terhadap wangsa???
Nepotisme hanya terjadi apabila pekerjaan yang semestinya bisa dikerjakan oleh semua orang, hanya diambil alih oleh satu kelompok tertentu yang memonopoli pekerjaan tersebut. Jika dikaitkan dengan wangsa, kalo wangsa brahmana lebih berhak menjadi Ida Pedanda daripada wangsa yang lain serta kewenangannya menyeluruh, sedangkan apabila dari kaum sudra seperti pasek, pande, senggu dll hanya memiliki kewenangan sedikit. Itu dikarenakan memang wangsa brahmana itu lebih berhak diantara wangsa yang lain, dan bukan berarti wangsa brahmana itu nepotisme/memonopoli kewenangan dan kekuasaan. Sebagai contoh Pak Yan saya pernah merasakannya, waktu melaksanakan piodalan di sanggah seharusnya yang dihaturkan untuk muput upakaranya adalah Ida Pedanda dari Surya, akan tetapi Pak Yan saya malah selalu menghaturkan muput upakaranya kepada Sri Empu dan jarang mendak Surya/Ida Pedanda dari Surya. Setelah seringnya dilaksanakan upkara di Sanggah Kemulannya tidak dihaturkan kepada Ida Pedanda, Bhatar Hyang Guru kami murka(karena tidak pernah menghaturkan kepada Ida Pedanda). Bhatara Hyang Guru beserta leluhur kami tidak mau menerima upakara yang dipuput oleh Sri Empu, karena yang seharusnya muput adalah Ida Pedanda. Dengan demikian kami menghaturkan Guru Piduka kepada Hyang Guru kami dan melaksakan ulang upakara di Sanggah dengan Ida Pedana yang muput,,,Saya ingin bertanya kepada anda kenapa bisa demikian????
Hal itu selalu terselip di pikiran saya!!!
Mengapa Bhatara Hyang Guru saya tidak mau terlalu sering menerima kalau upakara di Sanggah kami selalu dipuput oleh Sri Empu(padahal itu juga dari sorohan saya) tanpa pernah dipuput oleh Ida Pedanda??
Katanya menurut buku agama yang saya baca semua Sulinggih itu sama, akan tetapi mengapa buktinya tidak sama??
Dan yang semakin membuat saya bingung ketika upakara di Sanggah kami dipuput oleh Ida Pedanda tak ada istilah sarana bebantenan yang kurang atau hilang, semuanya berjalan dengan lancar dibanding sebelumnya??
Jadi menurut saya, apabila ada orang yang mengatakan bahwa Surya itu memonopoli kewenangan, itu tidak benar!!
Bahkan Surya kami tidak mengetahui hal ini, dan juga tidak pernah menyuruh kalau Ida Pedanda dari Surya kami yang harus muput upakara di Sanggah Kemulan kami!!
Ini sangat berbeda dengan yang dikatakan orang yang ingin menghancurkan dan melenyapkan wangsa bahwa Surya itu curang dalam hal ini.
Dan yang lain lagi, tetangga sebelah saya juga berasal dari sorohan pasek akan tetapi pasek yang berbeda. Pada saat mereka melaksanakan upakara juga terjadi hal yang sama, dan dari pihak Surya tidak ada yang menuntut kalau upacaranya mesti dipuput oleh Ida Pedanda dari Suryanya, akan tetapi Bhatara Hyang Gurunya yang menginginkan harus!!
Bisakah anda menjelaskan ini Bapak Ketut Susila?
Dan yang terselip di pikiran saya selanjutnya adalah, bahwa wangsa itu tidak memonopoli kewenangan apalagi nepotisme, karena hanya wangsa-wangsa tertentu yang memiliki kewenangan tersebut dan tidak boleh dari wangsa yang lain yang melaksanakannya, seperti Ida Pedanda yang saya sebutkan tadi. Hal semacam ini saya lihat seperti pada saat kita membuat penglukatan, kan sarana penglukatan itu harus dari klungah nyuh gading(apabila penglukatannya yang biasa), bunga sandat, bunga Jepun Bali Putih, bunga pucuk bang, ambengan/ilalang, dan juga daun dadap. Bukankah sarana penglukatan itu tidak boleh dirubah?
Apakah boleh bungan jepun bali putih dirubah dengan bunga jepun merah?
Meskpiun sama-sama jepun tapi dalam sarana penglukatan berbeda fungsinya..Lalu apakah jepun bali putih itu nepotisme/memonopoli?
Dan juga dengan ambengan, mengapa harus ambengan?
Mengapa tidak diganti saja dengan sorohan padi-padian yang lain, seperti padang gajah, atau rumput mutiara?
Lalu mengapa harus pucuk bang(kembang sepatu yang berwarna merah)?
Mengapa tidak boleh pucuk kuning?
Mengapa harus daun dadap?
Mengapa harus bunga sandat??
Mengapa tidak bunga anggrek?, kan lebih bagus bunga anggrek dari sandat?
Mengapa tidak boleh daun kembang kertas?
Dan mengapa harus klungah nyuh gading?
Mengapa tidak klungah nyuh bojog atau nyuh rangda mungkin?
Dan mengapa ilalang dengan daun dadap harus diikat dengan benang tebusan, mengapa tidak benang biasa/tali?
Apakah klungah nyuh gading, jepun bali putih, pucuk bang, ambengan, sandat, dan juga daun dadap itu memonopoli/nepotisme?
Karena hanya mereka yang dipakai dalam saran penglukatan?
Dan juga pejati yang dihaturkan ke Ulu/Para Dewa, mengapa harus memakai telur bebek?
Mengapa tidak telur ayam?
Apakah telur bebek itu memonopoli juga?
Dan juga mengapa sangat membuat caru tertentu harus memakai hewan tertentu untuk yadnya??
Seperti darah ayam hitam mengapa tempatnya harus di utara?
Mengapa tidak diselatan?
Mengapa darah siap biying yang harus ditempatkan di selatan?
Dan lain2…Dan juga mengapa yang hanya dipakai caru itu hanya ayam-ayam sejenis, siap selem, siap biying, siap putih, siap brumbun???
Mengapa tidak sembarangan darah ayam yang digunakan??
Hal tersebut membuktikan bahwa, Tuhan tidak pernah menciptakan ciptaannya itu hanya satu jenis atau satu sorohan atau satu wangsa, pasti ada yang berbeda…Apakah hanya hewan dan tumbuhan yang beliau ciptakan berbeda sorohannya, apakah manusia tidak?
Berati Tuha itu tidak adil kepada tumbuhan dan hewan?
Ini membuktikan bahwa meskipun manusia terlihat sama, pasti ada yang berbeda dan tidak sepenuhnya sama!!
Kalau ingin menyamakan manusia samakan terlebih dahulu semua hewan dan tumbuhan hanya menjadi satu sorohan hewan atau tumbuhan saja, agar tidak ada lagi yang namanya siap biying/siap selem dll, agar semua ayam bisa dipakai caru.
Dan kalau kalian memang benar ingin menghilangkan wangsa, mengapa ada diantara kalian yang mengaku-ngaku sebagai keturunan ini atau itulah, kan kalian juga namanya menginginkan wangsa?
Kalau memang ingin wangsa itu hilang, jangan mengaku-ngaku sebagai keturunan ini atau itu!!
Saya juga baru tahu dan heran mengapa pasek/pande itu dikatakan sebagai keturunan Sanak Sapta Rsi, kalau memang benar demikian mengapa kita nyokor kepada Brahmana wangsa, dan bhatara Hyang Guru sayapun menjadi pangiring Bhatara Hyang Guru Brahmana Wangsa!!!!
Sekian saja ya dari saya, saya hanya berkomentar sekali saja. Males saya berkomentar banyak-banyak, kalau ujungnya nggak pernah ngerti juga??
Apalagi ntar malah dibilang pengikutnya Yoga…issh saking irinya akan wangsa yang lebihh tinggi darinya, trus menyalahkan orang lain yang belum tentu salah, apalagi menuduh orang sebagai pengikut ini/itu?
Mungkin dirinya kali yang pengikut Detya/aliran2 sesat lainnya. Detya itu kan aliran sesat, sama kayak ilmu leak(Gak ada ilmu leak yang baik, semuanya aliran kiri/pangiwa dan menyesatkan)*hal ini sudah diakui oleh guru spiritual saya….
And @De’Oka; saya sangat setuju juga kalau masalah ini diberikan kepada para Sulinggih, guru spiritual dll yang berhubungan dengan keagamaan.
Tapi percuma juga, kalau ujung-ujungnya pasti ada pihak yang masih cemburu dan juga iri/benci kepada wangsa yang lebih tinggi tidak terima akan kebenaran dari Niskala. Karena mereka buta akan Niskala dan hanya Sekala saja yang mereka pikirkan…
Om Cantih Cantih Cantih Om :)
yang mempunyai pengetahuan tentang ketuhanan dan telah menemukan dirinya yang sejati dan mengabdikan dirinya pada tuhan dengan melayani umat di bidang ke agamaan spiritual ataupun upakara, yang tlah membersihkan dirinya dari ego akan kelekatan pada dunia dan dualitasnya bagi saya mereka2 lah disebut brahmana sejati keturunan sesungguhnya dari brahma.
buat yang masih melekat pada ego2 dunia yang tidak memiliki pengetahuan tentang ketuhanan apalagi belum menemukan sang diri sejati dan bekerja hanya demi diri,keluarga atau orang terdekat saja tidak di bidang pelayanan keagamaan bagi umat apapun gelarnya dalam masyarakat duniawi bagi saya pribadi merekalah orang yang tak tahu malu yang mengaku ngaku sebagai brahmana keturunan. maaf kalo pendapat saya salah ato pengetahuan saya tentang agama sangat kurang karena saya bukan seorang brahmana tapi cuma seorang pembhakti tuhan saja
OSA
@bayu
dalam pandangan tiang smua wangsa sama saja tingkatannya dihadapan Hyang Widi, bukan wangsa yang menjadi pembeda manusia di hadapan beliau namun menurut tiang sradha, bhakti dan sila(pikiran,ucapan dan perbuatan)semasa hidup kita sesuai jalan beliau. Hyang Widi maha adil krn hukum karma dari beliu tidak memendang tingkatan wangsa, wangsa yng dikatakan tinggi juga mendapat keturuna dari neraka cyuta krn bisa mendapat keturunan cacat dan bodoh lahir batin,bisa berkarakter dan berhati jahat, bisa berbuat jahat dan hina,bisa miskin dan kekurangan juga bisa semasa hidup dan matinya menderita intinya wangsa tinggi tidak lepas dari penderitaan pada semasa hidup sama dengan wangsa yg dikatakan lebih rendah.
tidak ada jaminan dari Hyang Widi kalau keturaunan dr wangsa tinggi akan selalu tampan/cantik, selalu tidak cacat, selalu pintar, bijak dan berkarakter mulia, akan selalu bisa mendapat keturunan sehat, akan selalu sukses, dan akan selalu hidup bahagia di dunia ataupun setelahnya, baik wangsa tinggi atau rendah sama2 bisa menderita di dunia ini.
manusia adalah manusia, sama2 bisa menderita di dunia baik dia yg mengaku lingsehan tiing buluh ataupun dikatakan lingsehang tiing tali teteplah manusia yg tidak bisa luput dari hukum karma sesuai apa yg ia tabur tak peduli seberapa tinggi wangsanya semua akan menuai hasil yg ia tabur.
Suksme, mohon maaf dan dikoreksi jika ada kesalahan
OSSSO
OSA
@: angga wiguna
dalam melakukan upacara semua terserah kepada keyakinan masing2 umat, yang memuput karya memakai ida pedanda silahkan yang memakai sri empu silahkan asalkan dilakukan secara tulus ikhlas memiliki sradha, sila dan bhakti pada pd hyang widi pasti diterima dan diberkahi oleh beliau, jnagn memaksakan ato menakut-nakuti atao bahkan memprovokasi umat. musibah dalam hidup bisa menimpa siapa saja, anda, saya atao bahkan orang palng mulia pun tidak dapat luput darinya, jika tidak ada derita darimana kita dapat mengetahui adanya kebahagiaan, setiap musibah pasti ada hikmah berharga di dalamnya, terima dan syukuri serta ambil hikmahnya, jangan terlalu sering menyalahkan hyang widi atau leluhur, anda malah mengkerdilkan dan menghina tuhan dan leluhur anda sendiri. masalah niskala adalah keyakinan individu antara umat pada hyang widi anda tak berhak menghakimi jika tak bertentangan dengan aturan agama, norma, hukum dan moral yang berlaku pada akhirnya Hyang Widi lah yang akn menentukan mana yang benar dan salah.
OSSSO
satu pertanyaan buat pak wiguna … apa dasar yang dipake buat membedakan manusia apalagi berdasarkan wangsa atau keturunan. coba beritahu sumber sastranya suksma
@ bayu … jangan lah buat ilustrasi seperti yang anda bilang karena anda salah mengerti topiknya. dimana dibali (sekala)terjadi pengklsifikasian manusia berdasarkan keturunan yang mana itu dibuat oleh manusia untuk kepentingan golongan dan pribadinya. sedangkan dihadapan tuhan (niskala) tidak ada perbedaan kedudukan manusia semuanya sama. biar anda jadi presiden anda akan perlakuan sama oleh tuahn. yang membedakan hanya buah perbuatan anda selama hidup saja sebab kita mati hanya akan berbekal karma. saja tolong renungkan kembali….
@deksu
nggih betul sekali itu pak deksu, seperti itulah maksud tiang. mari kita generasi muda bali berusaha ngajegang lan nyatuang krama bali makejang apapun soroh dan wangsa kita, agr jangan atau agar tidak sampai ada konflik internal dalam agama hindu bali kita, mengingat semakin banyaknya pengaruh dan pendatang luar bali di bali yang tidak semuanya mendatangkan pengaruh baik bagi kita maupun generasipenerus kita. agar krama bali tidak terlalu sibuk mengurusi hal2 tidak berguna seperti status soroh atau wangsa daripada mengurusi masalah spiritual dan keagamaan dan melupakan pentingnya persatuan dan kesatuan guna menjamin tetap terpeliharanya agama hindu bali serta tetap terjaminnya kesejahteraan generasi penerus kita selanjutnya di tanah kita sendiri, tanah bali.
apapun soroh ataupun wangsa kita kita tetap orang bali, penganut hindu bali coba selesaikan masalah internal dengan kepala dingin dan hati dingin, coba lihat pulau bali kita tercinta sekarang juga saudara kita di luar bali,
suksma
[...] Dalam ajaran agama Hindu (agama mayoritas di Bali), setahu saya ajaran tentang kasta (Catur Wangsa) tidaklah ada, yang ada adalah Catur Warna. Dan menurut apa yang pernah saya baca, baik di internet, koran atau pun lainnya, konon sistem kasta baru ada semenjak abad ke 14. [...]