Sistem Kasta di Hindu

QUESTION:

Saat saya dalam perjalanan dari Malang ke Surabaya, saya sempat ditanya seseorang yang bukan beragama Hindu. Kenapa di Hindu sangat kuat sistem kastanya dan terkesan membeda-bedakan?

Menurut Ida pandita sendiri kesalahpahaman yang mengakar membuat orang lain menjadi terpengaruh bahwa dalam hindu ada pelapisan sosial, yaitu kasta.

Padahal yang saya tahu hal tersebut tidak ada, yang ada hanyalah Ajaran Catur Warna yang terbentuk berdasar guna dan karmanya. Mohon penjelasannya. Terima Kasih Sebelumnya.

ANSWER:

Masalah “kasta” memang menjadi “penyakit” menahun yang tak kunjung sembuh pada beberapa kelompok umat Hindu di Bali. Betul dalam agama Hindu, sistem kasta tidak ada; yang ada sistem warna seperti yang anda katakan.

Namun sejarah telah mengukir jalannya sejak abad ke-14, di mana tatanan masyarakat diubah dari warna ke kasta, untuk menguatkan status quo penguasa ketika itu.

Padahal sebelum abad ke-14, kasta tidak dikenal di Bali/ Jawa. Penjajah Belanda, selama 350 tahun menguatkan sistem kasta karena ini sesuai dengan politik divide et impera – nya.

Namun demikian saya yakin lama-kelamaan sistem kasta akan hilang ditelan jaman, karena umat Hindu di Bali akan semakin terdidik, dan juga karena pengaruh globalisasi.

Misalnya di Buleleng, mayoritas masyarakat tidak menyenangi sistem kasta, dan mereka tidak memperhatikannya. Sistem kasta masih agak kuat di Klungkung, Gianyar, Badung, Tabanan, Karangasem. Itupun sporadis.

Bagaimana kiatnya “memerangi” sistem kasta? Ya, perlakukan orang-orang berkasta itu biasa-biasa saja. Hormati mereka berdasarkan inteligensi dan pengabdiannya kepada masyarakat. Bukan karena titel kebangsawanannya.

Mudah-mudahan berhasil.

54 comments to Sistem Kasta di Hindu

  • 21
    ketut sugiarta says:

    saya pernah membaca,didalam WEDHA,kalau ndak salah bunyinya begini : Janmane Jayate sudrah,Samskarairdwija Ucyate. barangkali ini bisa dijadikan pegangan pokok untuk pembicaraan masalah kasta.

  • 22
    god slave says:

    om swastiastu…
    membahas kasta kah tujuan anda berketuhanan
    ?sepemgetahuan saya kasta itu terbentuk dari beberapa unsur…
    sama halnya dengan unsur adanya raja..
    jika memang ada raja maka ada rakyatny…jika sampai sekarang masih ada status raja maka ada rakyat yang mendukungnya,begitu pula kasta,org yang terlahir berkasta tidak minta di hormati,namun kenyattannya org masih menghormati,lain halnya,jika org yang memaksakan diri dihormati dengan cara mengkastakan dirinya..menurut saya hal ini tak perlu di perdebatkan…yang penting bagaiman urusan kita sama tuhan…kapan mau fokus berketuhanan jika terus membahas tentang kasta??lama-lama saya lihat ini bukan urusan BERKETUHANAN tapi lebih cenderung seperti dunia POLITIK
    lalu untuk apa mempropaganda masyarakat tentang masalah kasta??setau saya hal ini tidak merugikan banyak pihak(kecuali beberapa pihak yang memaksakan diri untuk minta dihormati supaya berkasta ) masih bisa berjalan selaras dan saling menghormati.
    suksma

  • 23

    Menurut tyiang, Kasta ada setelah Majapahit Runtuh, atau paling tidak di akhir Zaman Majapahit, karena pada masa Majapahit, seorang penggangon kuda bisa menjadi Raja majapahit yaitu Damar Wulan.Bahkan sebelumnya seorang penyamun Ken Arok Bisa menjadi Raja Singosari. dan Di Bali tukang gali tanah/tukang buat sumur Gali, Kebo Iwo, bisa menjadi Patih(Ksatrya).
    Di India, kasta mulai ada setelah kedatangan Bangsa-bangsa Arab,Portugis dan Inggris, Bangsa-bangsa tersebut biasa memelihara perbudakan dalam keluarganya, seperti di amanatkan dalam kitab sucinya Al Quran dan Injil( Baca An Nissaa,Al Mu’minuum,Imamat,efesus dll).
    Budak-budak tersebut didapatkan dalam peperangan sebagai tawanan perang atau lewat membeli.
    Kasta yang dikait-kaitkan dengan Agama Hindu, berkat usaha Max Muller,William Jones dan Herbeith Hope Risley,Ketiganya adalah sarjana pesanan yang membantu misionaris di India.
    Max Muller, anggota Gereja Kristen Oxford, William Jones, menantu uskup Landraff dan Uskup St.Assaf, Sedang Herbeit Hope Risley administrator Inggris di India.
    Menurut Thomas Trautman, Max Muller dan Jones merupakan Arsitek Rasis/kastaisme di India. Kasta diterapkan secara resmi di India tahun 1901 atas usaha Herbeith Hope Risley.
    Sebelumnya tidak ada Kasta yang kaku di India, sampai abad ke 6, Bukti-buktinya:
    1. Narada Muni, anak seorang babu(pembantu rumah tangga) bisa menjadi Brahmana.
    2. Radeya,sebelum diakui oleh kunti, adalah anak seorang kusir kereta, bisa menjadi ksatrya,
    3. Kresna, anak gembala sapi, bisa menjadi ksatrya.
    4. Walmiki,seorang perampok, bisa menjadi maharsi
    5.Kavash Ailush, anak sudra bisa menjadi Brahmana,yang menulis mantra-mantra dsrta untuk Rg Weda mandala 10
    6.thiruvalluar, anak penjahit/penenun bisa menjadi Brahmana, yang menulis buku Thirukural di India Selatan
    7. Maharsi Viyasa yang dianggap nabi oleh umat Hindu, berkulit Hitam, wajah menyeramkan (bukan ras Arya yang berkulit Putih, hidung Mancung), bisa menjadi Maharsi, sekligus meruntuhkan teori Invasi Aryanya Max Muller.
    Kasta di terapkan pada agama Hindu guna keperluan mengalih agamakan orang Hindu menjadi Kristen dan kolonialisme

    Baca selengkapnya di :
    1.Max Muller/William Jones/herbeit Hope Risley di http://www.wikipedia.org.
    2. www. encyclopedia authentic of hinduism
    3. Swami Prakashanand saraswati: The true history and the religion of India
    4. http://www.Dharmagupta.blogspot.com—-yang ini blog saya

  • 24
    Xerxes says:

    Asal-mula Munculnya Sistem Kasta
    Pada awalnya, dalam kebudayan asli bangsa India (bangsa Dravida) belumlah terdapat sistem kasta. Tetapi, setelah datangnya bangsa luar, yaitu bangsa Arya yang masuk ke India lewat celah Khaibar di kaki pegunungan Himalaya, maka mulailah muncul sistem penggolongan berdasarkan keturunan ini.

    Kemungkinan awal munculnya kasta karena terdapat perbedaan fisik antara suku bangsa asli dengan kaum pendatang. Orang-orang Dravida sebagai suku bangsa asli memiliki kulit yang hitam, hidung pesek, rambut keriting, dan postur tubuh yang pendek. Sedangkan orang-orang Arya sebaliknya, memiliki kulit yang putih, hidung mancung, rambut pirang, dan postur tubuh yang tinggi. Karena perbedaan bentuk fisik inilah, maka orang Arya menganggap diri mereka lebih tinggi daripada orang Dravida.

    Lebih lanjut, dalam Puruksa Sutra dari Weda diceritakan bahwa sistem kasta awal munculnya karena para dewa pada saat itu melakukan upacara kurban Makhluk raksasa bernama Puruksa ke dalam api suci. Pada saat Puruksa dikurbankan, raksasa itu dari mulutnya terciptalah kasta brahmana, dari bahu muncul kasta ksatria, dari paha muncul kasta vaisya, dan dari kaki muncul kasta sudra yang merupakan kasta terendah. Di samping empat kasta di atas terdapat juga kaum rendah, kaum yang di luar kasta yang disebut Candala atau Puruksa.

    Dalam Agganna Sutta, Digha Nikaya, terdapat penjelasan Sang Buddha yang ditujukan kepada Vasettha dan Bharadvaja tentang asal-mula munculnya `istilah’ brahmana, ksatria, vaisya dan sudra. Dalam Sutta ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa istilah ksatria diberikan kepada orang yang mampu menjadi pemimpin, yang bermoral, adil dan bijaksana. Istilah brahmana diberikan kepada mereka yang mampu memimpin upacara-upacara keagamaan, vaisya kepada mereka yang memiliki keahlian dalam berdagang, bertani, dan beternak. Sedangkan istilah sudra diberikan kepada mereka yang gemar menyakiti makhluk hidup dan memiliki moral yang rendah.
    http://tanhadi.blogspot.com/2012/01/hidup-mulia-dengan-dhamma.html

    Mengapa sampai bertahan Lama sistem kasta
    Pernahkah Anda berpikir kritis mengapa sistem yang kuno dan usang ini bisa bertahan sedemikian lamanya di India… selama ribuan tahun bahkan sampai detik ini!!! Apakah orang-orang India sedemikian bodohnya mau hidup dalam sistem seperti ini?
    Logika apa yang dipakai golongan brahmana untuk menopang cengkraman sistem kasta ini dalam alam bawah sadar masyarakat India? Tidak lain pilar utamanya adalah karma!! Kelahiran Anda sekarang tentu akibat dari karma-karma kehidupan Anda yang lalu bukan? Artinya jika Anda terlahir dalam keluarga kasta rendah seperti budak; itu karena timbunan karma-karma buruk Anda di kelahiran sebelumnya. Atas dasar itulah kasta-kasta rendah sudah selayaknya diperlakukan rendah dan hina sebagai balasan (buah) dari karma-karma buruk yang mereka lakukan pada kehidupan sebelumnya.
    Logika inilah yang membuat sistem kasta bertahan sampai dengan hari ini! Para kasta rendah yang meyakini hukum karma ini terpaksa hanya pasrah dan menerima keadaan dan perlakuan buruk terhadap mereka.
    http://dhammacitta.org/artikel/karma-dan-kasta/

    Sang Buddha Menentang Sistem Kasta
    Untuk mengecek kebenran pendapat saudara guli, salah satu cara adalah mengecek kembali sejarah kuno Hindu di India. Salah satunya adalah sejarah sang buddha, beliau dilahirkan pada tahun 563 SM bahkan beliau mengakui dirinya awalnya dari kata ksatria. Sedangkan Masa penjajahan Islam di mulai sekitar 708 M. sampai penjajah Ingrris masuk. Adapun masa penjajahan barat dimulai ketika India dijajah Inggris pada tahun 1757 M. Pada tanggal 15 Agustus 1947, India merdeka dari Britania Raya.
    Padahal sistem kasta di India sudah ada dari zaman kuno, hal ini dibuktikan ajaran sang buddha yang banyak menkritik sistem sosial kasta tsb. Sang Buddha menolak sistem kasta, Beliau juga menolak jika status kemuliaan seseorang ditentukan berdasarkan garis keturunan atau faktor biologis. Sebagai bukti nyata, Sang Buddha menerima Upali si tukang cukur masuk ke dalam Sangha. Dan lebih lanjut dalam Vasala Sutta dari Sutta Nipata, Beliau menyatakan:

    Na jacca vasalo hoti, na jacca hoti brahmano,
    Kammana vasalo hoti, kammana hoti brahmano.

    “Bukan karena kelahiran seseorang menjadi tidak mulia atau hina,
    Bukan karena kelahiran seseorang menjadi mulia,
    Tetapi perbuatan atau tingkah lakulah
    yang menentukan seseorang hina atau mulia.”
    (Vasala Sutta, Sutta Nipata 136)

    “Jika seseorang menjadi sombong karena keturunan,
    kekayaan atau lingkungannya,
    serta memandang rendah sanak keluarga dan kerabatnya,
    maka ini merupakan sebab penderitaan baginya.”
    (Parabhava Sutta, SN 104)
    Bukti lain bahwa sistem kasta sudah ada sebelum Sang Buddha adalah banyaknya dari kasta brahmana yang mengikuti ajaran sang Buddha, kemudian mereka dikucilkan dan dicaci karena melepas derajat kasta brahmana untuk menjadi petapa gundul yang dia anggap “sesat” oleh hindu saat itu. Berikut ini dialog Sang Buddha dengan mantan pendeta Brahmana:
    AGANNA SUTTA
    Sumber : Sutta Pitaka Digha Nikaya
    Oleh : Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha
    Penerbit : Badan Penerbit Ariya Surya Chandra, 1991
    Demikian yang telah kami dengar :
    1. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di Savatthi, di Pubbarama milik Migaramata. Pada waktu itu Vasettha dan Bharadvaja sedang menjalani latihan kebhikkhuan di antara para Bhikkhu, berkeinginan untuk menjadi bhikkhu. Kemudian pada malam hari itu, setelah bangkit dari samadhi-Nya, Sang Bhagava keluar dari kamar (kuti) dan berjalan ke sana ke mari (cankammana) di alam terbuka di sebelah kamar.
    2. Hal ini dilihat oleh Vasettha dan menceritakannya kepada Bharadvaja, yang selanjutnya ia berkata : “Sahabat Bharadvaja, marilah kita pergi menemui Sang Bhagava; mudah-mudahan kita beruntung dapat mendengar uraian Dhamma dari Sang Bhagava.””Baiklah, sahabat,” jawab Bharadvaja menyetujui. Maka Vasettha dan Bharadvaja pergi menemui Sang Bhagava. Setelah dekat, mereka menghormat Beliau dan berjalan mengikuti di belakang Bhagava yang sedang berjalan ke sana ke mari (cankammana).
    3. Kemudian sang Bhagava berkata kepada Vasettha: “Vasettha, engkau berasal dari keturunan dan keluarga brahmana, telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menempuh hidup tanpa rumah (anagarika) sebagai pertapa (pabbaja).Apakah para brahmana tidak mencela dan menghinamu ?”
    “Ya, demikianlah, Bhante; para brahmana menghina dan mencela kami dengan bermacam-macam makian, ejekan, serta kata-kata kasar yang tidak sopan.”
    “Bhante, para brahmana itu berkata demikian: ‘Kasta brahmana adalah yang paling baik’ ”
    “Tetapi dalam hal ini, Vasettha, dengan kata-kata apa para brahmana itu mencela dan menghinamu ?”
    “Bhante, para brahmana itu berkata demikian: Hanya kaum brahmana yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat, yang lain berkedudukan rendah. Hanya kaum brahmana yang berwajah cerah, yang lain berwajah gelap. Hanya kaum brahmana yang berasal dari keturunan murni, bukan mereka yang lain daripada kaum brahmana. Hanya kaum brahmana yang merupakan anak dari Brahma, lahir dari mulut brahma, keturunan brahma, diciptakan oleh brahma, pewaris Brahma. Sedangkan mengenai dirimu, engkau telah meninggalkan derajad yang terbaik, beralih ke golongan rendah, yaitu pertapa gundul, badut yang kasar, mereka yang berkulit gelap, keturunan yang lahir dari kaki Brahma. Keadaan seperti itu tidak baik, keadaan seperti itu tidak pantas. Dalam hal ini, bahwasanya engkau yang telah meninggalkan kasta terhormat, harus bergaul, berkumpul dengan kasta rendah, yaitu: dengan kaum pertapa gundul, pertapa palsu, mereka yang berkulit gelap, kaum rendah, yang lahir dari kaki Brahma – warga kami. Dengan kata-kata seperti itu, Bhante, para brahmana itu mencela dan menghina kami dengan makian, ejekan serta kata-kata kasar yang tidak sopan.”
    4. “Vasettha, sesungguhnya para brahmana itu telah melupakan masa lampau apabila mereka berkata seperti itu. Sebaliknya, para brahmani, istri para brahmana itu dikenal subur, kelihatan hamil, melahirkan dan merawat anak-anak. Dan masih juga para brahmana yang lahir dari kandungan itu sendiri yang berkata bahwa :Hanya kaum brahmana yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat, yang lain berkedudukan rendah. Hanya kaum brahmana yang berwajah cerah, yang lain berwajah gelap, Hanya kaum brahmana yang berasal dari keturunan murni, bukan mereka yang lain daripada kaum brahmana. Hanya kaum brahmana yang merupakan anak asli dari Brahma, lahir dari mulut Brahma, keturunan Brahma, diciptakan oleh Brahma, pewaris Brahma. Dengan cara ini mereka telah membuat tiruan terhadap sifat Brahma (abbhacikkhanti brahmanan). Apa yang mereka katakan itu bohong, dan sungguh besar akibat buruk yang akan mereka peroleh.”
    5. Vasettha, terdapat empat kasta : khattiya, brahmana, vessa dan sudda. Di sini dan di mana pun terdapat kasta khattiya yang membunuh, mencuri, berzinah, berbohong, memfitnah, berbicara kasar, omong kosong, serakah, kejam dan menganut pandangan-pandangan keliru (miccha ditthi).Vasettha, demikianlah kita lihat bahwa sifat-sifat buruk dan yang dipandang demikian, yang tercela dan yang dipandang demikian, yang tidak layak dilakukan dan yang dipandang demikian, yang tidak patut dilakukan oleh orang yang terhormat dan yang dipandang demikian, sifat-sifat celaka dan yang berakibat mencelakakan, yang tidak dianjurkan oleh para bijaksana; terdapat pula dalam diri seorang khattiya. Dan begitu pula kita dapat mengatakan hal yang lama kepada kasta brahmana, vessa dan sudda.
    6. Juga di sini dan di mana pun terdapat kasta khattiya yang menahan diri dari membunuh, mencuri, berzinah, berbohong, memfitnah, berbicara kasar, omong kosong serakah, kejam atau menganut pandangan-pandangan keliru (miccha ditthi).Vasettha, demikianlah kita lihat bahwa sifat-sifat baik dan yang dipandang demikian, yang terpuji dan yang dipandang demikian, yang layak dilakukan dan yang dipandang demikian, yang patut dilakukan oleh orang terhormat dan yang dipandang demikian, sifat-sifat yang bermanfaat dan yang mempunyai akibat yang bermanfaat, yang dianjurkan oleh para bijaksana; terdapat pula dalam diri seorang kasta khattiya. Dan begitu pula kita dapat mengatakan hal yang sama kepada kasta brahmana, vessa dan sudda.
    7. Vasettha, sekarang kita tahu bahwa sifat-sifat yang baik atau buruk, tercela atau terpuji oleh para bijaksana, adalah dimiliki oleh keempat kasta tersebut; dan para bijaksana tidak mengakui pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh para brahmana seperti tersebut di atas. Mengapa demikian ? Karena, Vasettha, siapapun dari keempat kasta ini menjadi seorang bhikkhu, arahat, orang yang telah mengalahkan noda-noda batin (jinasavo), telah mengerjakan apa yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah meletakkan beban (ohitabharo), telah mencapai kebebasan (anuppattasadattho), telah mematahkan ikatan kelahiran, telah terbebas karena memiliki pengetahuan (sammadannavimutto); maka dialah yang dinyatakan paling baik di antara mereka, berdasarkan kebenaran (dhamma) dan tidak atas dasar yang bukan kebenaran (adhamma). Sesungguhnya, Vasettha, dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.
    Selengkapnya silahkan merujuk: http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/aganna-sutta/
    Dari khotbah Sang Buddha , jelas sekali bahwa pada saat itu sudah ada sistem kasta di masyarakat Hindu, bahkan dsebutkan ada 4kasta, sedangkan yang paling tinggi adalah kasta brahmana.
    Mengenai munculnya kasta dan dampak negatifnya yang ada pada masyarakat saat itu Sang Buddha menerangkan:
    Sutta Majjhima Nikaya I; ESUKARI SUTTA (Khotbah sang buddha mengenai kasta-)
    ESUKARI SUTTA

    Sumber : Kumpulan Sutta Majjhima Nikaya I,
    Oleh : Tim Penerjemah Tripitaka,
    Penerbit : Yayasan Pancaran Dharma, Jakarta, 1992

    1. Demikian telah saya dengar:
    Pada satu kesempatan Sang Bhagava menetap di Savatthi, di hutan Jeta, di Taman Anathapindika.

    2. Ketika itu Brahmana Esukari pergi menemui Sang Bhagava dan saling bertukar salam. Setelah kata-kata ramah dan sopan diucapkan, ia duduk di satu sisi. Lalu, ia berkata:

    3.”Yang Mulia Gotama, para Brahmana menetapkan empat (tingkat) kehormatan: mereka menetapkan (tingkat) kehormatan kasta Brahmana, (tingkat) kehormatan kasta Ksatria (khattiya), (tingkat) kehormatan kasta Vessa, (tingkat) kehormatan kasta Sudda. Sekarang, (tingkat) kehormatan kasta Brahmana yang ditetapkan oleh kaum Brahmana adalah begini: seorang Brahmana dapat menghormati seorang Brahmana, atau seorang Ksatria dapat menghormati seorang Brahmana, atau juga seorang Vessa dapat menghormati seorang Brahmana, atau juga seorang Sudda dapat menghormati seorang Brahmana; demikianlah (tingkat) kehormatan kasta Brahmana yang ditetapkan kaum Brahmana; (tingkat) kehormatan kasta Ksatria yang ditetapkan oleh para Brahmana adalah begini: seorang Ksatria dapat menghormati seorang Ksatria, atau seorang Vessa dapat menghormati seorang Ksatria, atau juga seorang Sudda dapat menghormati seorang Ksatria; demikianlah (tingkat) kehormatan kasta Ksatria yang ditetapkan oleh para Brahmana; (tingkat) kehormatan kasta Vessa yang ditetapkan oleh kaum Brahmana adalah demikian: seorang Vessa dapat menghormati seorang Vessa, atau juga seorang Sudda dapat menghormati seorang Vessa; demikianlah (tingkat) kehormatan kasta Vessa yang ditetapkan oleh kaum Brahmana, (tingkat) kehormatan kasta Sudda adalah demikian: Seorang Sudda hanya dapat dihormati oleh seorang Sudda; karena siapa lagi yang akan menghormatinya? Inilah (tingkat) kehormatan kasta Sudda yang ditetapkan oleh para Brahmana. Para Brahmana menetapkan keempat (tingkat) kehormatan ini, Yang Mulia Gotama. Apakah yang dapat dikatakan oleh Yang Mulia Gotama tentang hal ini?”1)

    4. “Selanjutnya, bagaimanakah, Brahmana, apakah semua orang di dunia akan menyetujui bahwa para Brahmana layak menetapkan empat (tingkat) kehormatan itu?”
    “Tidak, Yang Mulia Gotama.”

    5. “Andaikan, terdapat seorang miskin, tak beruang, melarat, dan mereka menggantungkan seikat (daging) pada orang itu yang tak sesuai dengan kemauannya, (sambil berkata): ‘Orang baik, kamu harus makan daging ini, dan harus membayarnya dengan uang apabila kamu lakukan hal itu’; demikian pula, Brahmana, para Brahmana yang menetapkan empat (tingkat) kehormatan itu tidak memiliki wewenang untuk itu terhadap para pertapa maupun Brahmana.

    6. Aku tidak mengatakan bahwa semuanya harus dihormati, juga Aku tidak mengatakan bahwa semuanya tak layak dihormati; sebab Aku katakan bahwa ia tak layak dihormati karena dengan penghormatan kepadanya seseorang menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik; dan Aku katakan bahwa ia patut diberikan penghormatan karena dengan penghormatan kepadanya seseorang menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk.

    7. Apabila masyarakat bertanya kepada seorang ksatria: ‘Yang mana dari dua orang ini yang layak kamu hormati, yang dengan penghormatan tersebut dirimu menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk ataukah yang lebih buruk dan tidak lebih baik?’
    Kemudian, dengan benar seharusnya seorang ksatria menjawab demikian: ‘Saya tidak patut menghormati seseorang sehingga dengan penghormatan itu saya menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik; saya patut menghormati seseorang yang dengan penghormatan itu saya menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk.
    Apabila masyarakat bertanya kepada seorang kasta Brahmana ….
    Apabila masyarakat bertanya kepada seorang kasta Vessa ….
    Apabila masyarakat bertanya kepada seorang kasta Sudda ….
    Saya patut menghormati seseorang yang dengan penghormatan itu saya menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk.

    8. Aku tak mengatakan bahwa seorang lebih baik dikarenakan (sebagai) seorang dari golongan tinggi, juga Aku tak mengatakan bahwa ia lebih buruk dikarenakan (menjadi) seorang dari golongan tinggi; 2) Aku tidak mengatakan bahwa ia lebih baik dikarenakan (menjadi) golongan lebih tinggi, juga Aku tak mengatakan bahwa ia lebih buruk dikarenakan (menjadi) seorang dari golongan lebih tinggi; Aku tak mengatakan bahwa ia lebih baik dikarenakan (memiliki) kekayaan berlimpah, juga Aku tak mengatakan bahwa ia lebih buruk dikarenakan (memiliki) kekayaan berlimpah.

    9. Dalam hal ini, Aku katakan, seseorang dari golongan tinggi mungkin menjadi pembunuh makhluk hidup, menjadi pengambil barang yang tidak diberikan, memiliki kelakuan seksual yang tak senonoh, menjadi pembohong, pemfitnah, pembicaraannya kasar, pembual, bernafsu serakah, berkeinginan buruk, dan memiliki pandangan salah.
    Dikarenakan hal-hal tersebut, dan bukan dikarenakan menjadi seorang dari golongan tinggi, ia disebut buruk. Lalu, dalam hal ini, seseorang dari golongan tinggi mungkin menghindari diri dari membunuh makhluk hidup, tidak mengambil sesuatu yang tak diberikan, tidak berkelakuan seksual yang tak senonoh, tidak berbohong, tidak memfitnah, tidak berucap kasar, tidak membual, tidak bernafsu serakah, tidak berkeinginan buruk, dan tidak memiliki pandangan salah.
    Dikarenakan hal-hal ini, Aku katakan, dan bukan dikarenakan (menjadi) seorang dari golongan tinggi, ia disebut baik.
    Dalam hal ini seseorang yang memiliki kekayaan berlimpah mungkin tidak membunuh makhluk hidup …. Dikarenakan hal-hal ini, Aku katakan, dan bukan karena menjadi pemilik harta yang berlimpah, ia disebut baik.

    10. Aku tak mengatakan bahwa semua orang patut dihormati; juga Aku tak mengatakan bahwa semua orang tak patut dihormati. Karena Aku mengatakan bahwa ia layak dihormati sebab dengan menghormatinya, keyakinan seseorang dan pengetahuannya serta kemurahan hatinya dan kebijaksanaannya meningkat.”

    11. Setelah hal ini dikatakan, Brahmana Esukari berkata: “Yang Mulia Gotama, para Brahmana menetapkan empat (sumber) kekayaan: (sumber) kekayaan yang dimiliki kasta Brahmana, (sumber) kekayaan yang dimiliki kasta Ksatria, (sumber) kekayaan yang dimiliki kasta Vessa, (sumber) kekayaan yang dimiliki kasta Sudda. Sekarang, (sumber) kekayaan yang dimiliki kasta Brahmana yang ditetapkan oleh kaum Brahmana adalah mengumpulkan derma, namun kaum Brahmana yang melebihi (sumber) kekayaan yang dimilikinya dari pengumpulan derma, menyelewengkan posisinya sebagai pengumpul derma dengan mengambil sesuatu yang tak diberikan kepadanya. Inilah (sumber) kekayaan milik kasta Brahmana yang ditetapkan oleh kaum Brahmana. (Sumber) kekayaan yang dimiliki kasta Ksatria yang ditetapkan kaum Brahmana adalah tempat anak panah, namun seorang Ksatria yang melebihi (sumber) kekayaannya dari tempat anak panah, menyelewengkan posisinya sebagai seorang pengambil barang yang tak diberikan kepadanya. Inilah (sumber) kekayaan milik kasta Ksatria yang ditetapkan oleh kaum Brahmana. (Sumber) kekayaan kasta Vessa yang ditetapkan oleh kaum Brahmana adalah membajak dan beternak sapi, namun sesorang dari kasta Vessa yang melebihi (sumber) kekayaannya dari membajak dan beternak sapi, menyelewengkan posisinya sebagai pengambil barang yang tak diberikan kepadanya. Inilah (sumber) kekayaan milik kasta Vessa yang ditetapkan kaum Brahmana. (Sumber) kekayaan kasta Sudda yang ditetapkan kaum Brahmana adalah gandaran tempat memuat (panenan), namun seorang Sudda yang melebihi (sumber) kekayaannya dari gandaran tempat panenan itu, menyelewengkan posisinya sebagai seorang pengambil barang yang tak diberikan kepadanya. Inilah (sumber) milik kekayaan kasta Sudda yang ditetapkan oleh kaum Brahmana. Yang Mulia Gotama, para Brahmana menetapkan empat (sumber) kekayaan ini. Apakah yang dapat dikatakan oleh Yang Mulia Gotama tentang hal itu?”3)

    12. “Selanjutnya, bagaimana, Brahmana, apakah semua orang di dunia menyetujui bahwa para Brahmana telah menetapkan empat (sumber) kekayaan itu?”
    “Tidak, Yang Mulia Gotama.”

    13. “Andaikan, terdapat seorang miskin, tak beruang, melarat, dan mereka menggantungkan seikat (daging) pada orang itu yang tak sesuai dengan kemauannya, (sambil berkata): ‘Orang baik, kamu harus makan daging ini, dan harus membayarnya dengan uang apabila kamu lakukan hal itu’; demikian pula, Brahmana, para Brahmana yang menetapkan empat (tingkat) kekayaan itu tidak memiliki wewenang untuk itu terhadap para pertapa maupun Brahmana.

    14. Aku menyatakan Dhamma Mulia sebagai sumber kekayaan seseorang. Namun di manapun tumimbal lahir kehidupannya itu terjadi, ia dianggap memuat pandangan lama berasal dari suku orang tuanya.
    Apabila tumimbal lahir kehidupannya terjadi di kaum ksatria, ia dianggap sebagai seorang ksatria.
    Apabila tumimbal lahir kehidupannya terjadi di kaum Brahmana, ia dianggap sebagai seorang Brahmana.
    Apabila tumimbal lahir kehidupannya terjadi di kaum Vessa, ia dianggap sebagai seorang kaum Vessa.
    Apabila tumimbal lahir kehidupannya terjadi di kaum Sudda, ia dianggap sebagai seorang Sudda.
    Seperti halnya api yang diperhitungkan hanya menurut kondisi-kondisi yang mempengaruhi nyala api tersebut.
    (Apabila) api menyala tergantung pada kayu-kayu gelondongan, api itu diperhitungkan hanya sebagai api gelondongan.
    Apabila api menyala tergantung pada berkas kayu bakar, api itu diperhitungkan hanya sebagai api berkas kayu bakar.
    (Apabila) api menyala tergantung pada rumput, api itu diperhitungkan hanya sebagai api rumput.
    (Apabila) api itu menyala tergantung pada kotoran sapi, api itu diperhitungkan hanya sebagai api kotoran sapi.
    Demikian pula Aku nyatakan Dhamma Mulia sebagai (sumber) kekayaan manusia; namun di manapun tumimbal lahir kehidupannya terjadi, ia dianggap menurut pandangan lama yang berasal dari suku orang tuanya.
    Apabila tumimbal lahir kehidupannya … diperhitungkan sebagai seorang Sudda.

    15. Apabila ia memasuki kehidupan tak berumah-tangga dari kehidupan berumah-tangga, maka dalam menuju Dhamma yang dibabarkan oleh seorang Tathagata, ia menghindari diri dari membunuh makhluk hidup, dari mengambil barang yang tak diberikan, dari kelakuan yang bukan kehidupan Brahmana (aktivitas seksual yang tak senonoh), dari berbohong, dari memfitnah, dari berucap kasar, dari membual, dari bernafsu serakah, dari keinginan buruk dan dari pandangan salah dalam dirinya. Ia adalah seorang yang mulai berada di atas jalan benar dari Dhamma.
    Apabila ia memasuki kehidupan tanpa rumah-tangga dari kehidupan-berumah tangga seorang Brahmana ….
    … dari kehidupan berumah-tangga kaum Vessa ….
    … dari kehidupan berumah-tangga kaum Sudda ….
    Ia adalah seorang yang mulai berada di atas jalan benar dari Dhamma yang bermanfaat.

    16. Bagaimana pandanganmu mengenai hal ini, Brahmana, apakah hanya seorang Brahmana yang mampu mengembangkan batin yang penuh cinta kasih ke satu arah tertentu, tanpa kesombongan, dan tanpa keinginan buruk dan apakah seorang Ksatria, seorang Vessa atau seorang Sudda tidak mampu?”
    “Tidak, Yang Mulia Gotama. Seorang Ksatria, seorang Vessa atau seorang Sudda mampu melakukannya. Sebab keempat golongan tersebut semua memiliki jalan yang sama untuk itu.”
    “Demikian pula, apabila ia pergi ke kehidupan tak berumah-tangga … (ulangi alinea 15 sampai habis) … Ia adalah seorang yang mulai berada di atas jalan benar dari Dhamma yang bermanfaat.

    17. “Bagaimana menurut pandanganmu, Brahmana, apakah hanya seorang Brahmana yang mampu mengambil serbuk (kasar) dan loofah di sungai dan mencuci bersih debu dan kotoran dan seorang ksatria atau Vessa atau Sudda tidak mampu?”
    “Tidak, Yang Mulia Gotama, seorang Ksatria dan Vessa dan Sudda mampu melakukan hal itu juga. Sebab keempat golongan tersebut semua mampu melakukan hal itu.”
    “Demikian pula, apabila ia pergi ke kehidupan tak berumah-tangga … (ulangi alinea 15 sampai habis) …. Ia adalah orang yang mulai berada di jalan benar dari Dhamma yang bermanfaat.

    18. Bagaimana menurut pandanganmu mengenai hal ini, Brahmana? Andaikan ada satu upacara yang dipimpin oleh Raja Ksatria, di sini berkumpul seratus orang dari kelahiran yang berbeda (dan pimpinan itu berkata kepada mereka): ‘Kemarilah tuan, datang ke sini, mereka yang berasal dari kasta Ksatria atau Brahmana atau kerajaan mengambil batang api dari kayu Sala atau kayu cendana atau kayu padumaka dan membuat sepercik bunga api dan menyalakan api. Lalu juga biarlah mereka dari kasta rendah atau kaum penjerat atau kaum pengumpul ranting atau kaum pekerja kereta atau pemulung mengambil batang api yang lebih atas yang terbuat dari palungan tempat minum anjing, atau dari palungan tempat babi atau dari wadah kosong atau dari kayu minyak jarak dan membuat sepercik bunga api dan menyalakan api.’ Bagaimana menurutmu, Brahmana, apakah api yang dihasilkan dari percikan api yang dibuat oleh kelompok orang pertapa memiliki lidah api, warna dan jelas, dan dapatkah seseorang melakukan sesuatu yang mungkin terhadap api itu; dan apakah api yang dihasilkan dari percikan api di atas yang dibuat oleh kelompok kedua tidak memilik lidah api dan tak berwarna dan tak jelas, dan apakah seseorang tak dapat melakukan sesuatu yang mungkin terhadap api itu?”
    “Tidak, Yang Mulia Gotama, kedua jenis api itu akan sama; karena semua api memiliki lidah api, warna dan jelas, dan seseorang dapat melakukan sesuatu yang mungkin terhadap api itu.”
    “Demikian pula, ia yang pergi memasuki kehidupan tak berumah-tangga … (ulangi alinea 15 sampai habis) …. Ia adalah orang yang mulai berada di atas jalan benar dari Dhamma yang bermanfaat.”

    19. Setelah hal ini dikatakan, Brahmana Esukari berkata: “Menakjubkan, Yang Mulia Gotama … mulai sekarang biarlah Yang Mulia Gotama mengingat saya sebagai seorang pengikut yang telah datang berlindung kepada Sang Bhagava selama hidup.”
    http://buddhaschool.blogspot.com/2011/04/sutta-majjhima-nikaya-i-esukari-sutta.html
    Penutup
    Mustahil sistem kasta yang muncul dalam sejarah Hindu berasal dari barat atau luar Hindu, karena penganut hindu sangat fanatik dan kokoh dalam menjalankan ajaran Hindu. Konsep Kasta dan aplikasinya dalam sistem tata sosial di masyarakat telah diajarkan dan di”fatwakan” oleh para brahmana. Tidak mungkin mereka membuat-buat ajaran yang tidak mempunyai dasar dari weda. Andaikata kata para brahmana keliru membuat sistem kasta, lalu mengapa tidak ada bantahan dan ralat dari zaman dahulu sampai hindu masuk ke Nusantara hingga diterapkan Kasta di Bali.
    Mungkin anda menjawab bahwa sistem kasta adalah adudomba para penjajah agar ummat hindu di nusantara tidak bisa bersatu. Semua alasan-alasan tersebut terbantahkan, karena Sang Buddha sendiri sebagai Tuhan yang menjadi avatar hindu telah menyatakan memberantas sistem kasta yang ada pada saat itu, sehingga sang buddha sendiri dimusuhi dan dibenci oleh kalangan barhmana.
    Sebagai penutup, bacalah dan renungkanlah tentang khotbah sang buddha sehingga tidak membuat kambing hitam kepada kelompok lain, karena sejarah kasta dalam Hindu memang ada dan fakta

  • 25
    dayu says:

    yah dalam baagwagita juga dikatakan tidaka ada sistem kasta maka kasiahan sekali orang 2 yang sombong dengan kastanya sebagai kasta tertinggi. banyak orang yang salah mengaertikan kasta. contoh kasus kakek neneknya seoarang Barahmana(pendeta) bukan berati anak cucunya jyga berkasata brahmana, karena dia bukanlah sebagai pendeta. tapi kenyataannya mereka sombongnya luar biasa. ketia diajak belajar gak mau, baca kitab gaka mau, dibilang gak tau apa2,.. marah.. GRnya selangit.. entah gimana caranya menghadapi orang2 semacam ini yg sudah terlanjur nyaman dengan kebodohan dan kesombongannya??

  • 25.1

    Betul. Sistim kasta dihidupkan sejak penjajahan Majapahit di Bali (abad ke-14) dimana para petinggi Majapahit yang memegang posisi pemerintahan dan kependetaan disebut triwangsa, sedangkan orang-orang Bali-Aga dinamakan wong sudra. Padahal diantara orang-orang Bali-Aga itu ada keturunan dari dinasti Warmadewa (penguasa sebelumnya) dan para petinggi lainnya. Juga ada para Dukuh atau pendeta murid/sisya dari Maha Rsi Markandeya dan Mpu Kuturan. Sistim Kasta disenangi oleh Belanda karena sesuai dengan politik pemecah belahnya yaitu divide et impera. Jadi sejak Belanda hadir di Bali kasta-stelsel makin menjadi-jadi.

  • 26

    [...] Dalam ajaran agama Hindu (agama mayoritas di Bali), setahu saya ajaran tentang kasta (Catur Wangsa) tidaklah ada, yang ada adalah Catur Warna. Dan menurut apa yang pernah saya baca, baik di internet, koran atau pun lainnya, konon sistem kasta baru ada semenjak abad ke 14. [...]

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting