QUESTION:
Saat saya dalam perjalanan dari Malang ke Surabaya, saya sempat ditanya seseorang yang bukan beragama Hindu. Kenapa di Hindu sangat kuat sistem kastanya dan terkesan membeda-bedakan?
Menurut Ida pandita sendiri kesalahpahaman yang mengakar membuat orang lain menjadi terpengaruh bahwa dalam hindu ada pelapisan sosial, yaitu kasta.
Padahal yang saya tahu hal tersebut tidak ada, yang ada hanyalah Ajaran Catur Warna yang terbentuk berdasar guna dan karmanya. Mohon penjelasannya. Terima Kasih Sebelumnya.
ANSWER:
Masalah “kasta” memang menjadi “penyakit” menahun yang tak kunjung sembuh pada beberapa kelompok umat Hindu di Bali. Betul dalam agama Hindu, sistem kasta tidak ada; yang ada sistem warna seperti yang anda katakan.
Namun sejarah telah mengukir jalannya sejak abad ke-14, di mana tatanan masyarakat diubah dari warna ke kasta, untuk menguatkan status quo penguasa ketika itu.
Padahal sebelum abad ke-14, kasta tidak dikenal di Bali/ Jawa. Penjajah Belanda, selama 350 tahun menguatkan sistem kasta karena ini sesuai dengan politik divide et impera – nya.
Namun demikian saya yakin lama-kelamaan sistem kasta akan hilang ditelan jaman, karena umat Hindu di Bali akan semakin terdidik, dan juga karena pengaruh globalisasi.
Misalnya di Buleleng, mayoritas masyarakat tidak menyenangi sistem kasta, dan mereka tidak memperhatikannya. Sistem kasta masih agak kuat di Klungkung, Gianyar, Badung, Tabanan, Karangasem. Itupun sporadis.
Bagaimana kiatnya “memerangi” sistem kasta? Ya, perlakukan orang-orang berkasta itu biasa-biasa saja. Hormati mereka berdasarkan inteligensi dan pengabdiannya kepada masyarakat. Bukan karena titel kebangsawanannya.
Mudah-mudahan berhasil.

OSA
Saya yakin kalau ada orang Hindu ( khususnya Bali )masih menganggap kasta adalah ajaran Hindu, maka saya ragu mereka sebagai penganut Weda.
Sistem kasta adalah bentuk penyimpangan terbesar dalam menjalankan agama Hindu
OSSSO
Betul. Perlu pengertian, persepsi yang benar, dan kebulatan tekad dari masyarakat.
Sesungguhnya pikiran Andalah yang menyimpang. Wangsa memang harus ada, dan Hindu akan rapuh apabila Wangsa ditiadakan. Wangsa = Etika = Dharma = Hindu = Tuhan = Ida Sang Hyang Parama. Apabila Kau menentang denga adanya Wangsa maka Kau juga menentang ajaran-ajaran tentang Etika, Dharma, dan Agama, dan secara otomatis Kau menentang Tuhan. Sesungguhnya orang yang enentang Tuhan adalah seorang pendosa dan hina
quote: “Sesungguhnya pikiran Andalah yang menyimpang. Wangsa memang harus ada, dan Hindu akan rapuh apabila Wangsa ditiadakan. Wangsa = Etika = Dharma = Hindu = Tuhan = Ida Sang Hyang Parama. Apabila Kau menentang denga adanya Wangsa maka Kau juga menentang ajaran-ajaran tentang Etika, Dharma, dan Agama, dan secara otomatis Kau menentang Tuhan. Sesungguhnya orang yang enentang Tuhan adalah seorang pendosa dan hina”
Pertanyaan:
1. Dasar hukumnya apa? apa ada dijelaskan dalam weda mengenai wangsa? anda pasti banyak sumber tentang kasta dan warna dan tau bedanya, bukan?
2. Anda gila hormat ya?? dalam kehidupan sehari2 banyak orang dengan wangsa tinggi berprofesi tidak sesuai dengan wangsa artinya sistem wangsa sudah expired!
3. Dari komentar2 anda di web ini terlihat jelas, bahwa anda mempunyai ambisi yang besar. hingga anda bicara seolah anda manusia super. saya yakin anda orang berkasta. dan banyak orang2 berkasta seperti anda cara bicaranya seperti ini tidak mengerti etika diskusi yang baik dan cenderung berambisi.
4. Ini adalah kalimat paling bodoh! “Hindu akan rapuh apabila wangsa ditiadakan”. seolah wangsa adalah pilarnya Hindu ?
saran:
tenangkan diri anda, introfeksi diri. belajar diskusi yang baik.
tanpa adanya wangsa Hindu sudah mengenal toleransi, dan sudah mengajarkan bagaimana menghormati orang lain. Jadi kesimpulannya wangsa sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hindu.
mari hidup damai jangan merasa diri lebih tinggi dan orang lain lebih rendah. karena Hindu tidak mengajarkan begitu.
Ya saya memang berambisi untuk menegakkan yang benar. Ya Wangsa adalah pilar dari agama Hindu, orang-orang yang ingin menghancurkan Wangsalah yang sebenarnya merusak Agama Hindu itu. Meskipun dalam Weda tidak dijelaskan adanya Wangsa, tapi lihatlah masa lalu. Dalam kisah Mahabarata ada disebutkan Wangsa kuru, Wangsa Vrsni, Wangsa Pandawa, Wangsa Kaurawa, dan Wangsa-wangsa yang lain. Dan Mengapa tidak disebut Warna Vrsni, Warna Kuru, Warna Pandawa, dan Warna Kaurawa, dan mengapa harus Wangsa. Pikiran kaulah yang menyimpang.
Dan saranku adalah jalan terlalu terpaku sastra-sastra di zaman ini, karena tidak ada satu orangpun yang bisa menterjemahkan arti sastra-sastra dari Sansekerta itu dengan utuh, ada bagian yang hilang dan ada bagian yang dilebihkan. Kaulah yang seharusnya berpikir kalau tidak ada Wangsa tidak akan ada yang namanya sor singgih basa, dan tidak akan ada Etika dalam kehidupan ini, jika tidak ada Etika maka tidak ada Susila, jika tidak ada susila tidak ada Dharma, dan jika tidak ada Dharma tidak akan ada Agama Hindu seperti sekarang ini.
Kau harus berfikir dahulu, siapa yang membuat semua weda-weda itu, jika bukan bukan dari Maharsi-maharsi leluhur para Brahmana(Ida Bagus/Ida Ayu) kau tidak akan bisa mempelajari Weda.
Apakah kau berfikir semua cerita-cerita yang ada di dalam Weda mutlak benar????
Kau salah, setiap cerita dalam Weda memiliki arti dan makna yang sama dengan alur/jalan cerita itu.
Apakah juga akan mengatakan bahwa Maharsi Narada adalah seorang anak babu yang bisa menjadi Maharsi?
Ken Arok yang seorang penyamun bisa Menjadi Raja??
Maha Patih Kebo Iwa yang seorang gali tanah bisa menjadi Maha Patih???
Pikiranmulah yang masih diselimuti unsur-unsur Awidya sehingga kau hanya terpaku terpaku terhadap alur kisah-kisah itu, dan tidak mengerti apa makna yang tersirat dalam kisah-kisah itu. Aku telah melihat banyak orang yang sangat terobsesi terhadap kisah-kisah besar itu, dan tidak mengerti apa makna yang tersirat dalam kisah-kisah itu. Mereka hanya terpaku terhadap alur, sehingga Aku banyak melihat orang-orang seperti itu menjadi gila akan semua isi kisah-kisah itu. Apabila Kau menyalah artikan semua ajaran-ajaran Weda, Kau tidak akan mendapatkan Dharma yang sesungguhnya, Dharma yang utama (Paramadharma).
Aku telah melihat banyak orang-orang yang menjadi gila dan tidak tahu mana benar dan mana yang salah, karena menyalah artikan isi Weda.
Justru Kaulah terlalu terobsesi untuk menghilangkan Wangsa itu dari Dunia ini. Kau tidak perlu susah payah untuk menyuruhku introspeksi diri karena aku selalu melaksanakannya, kaulah yang seharusnya introspeksi diri.
Aku hanyalah sebagai penonton dari perdebatan ini, dan hanya bisa menunggu dan menghitung seberapa banyak orang-orang yang akan menjadi gila hanya untuk satu tujuan yang akan pernah dicapainya.
Wangsa tidak akan pernah hilang dan tidak akan pernah lenyap ditelan waktu.
Dimana banyak orang yang ingin menghilangkan Wangsa itu, disanalah Waktu akan berkata yang sebenarnya. Aku hanya bisa menunggu saat-saat itu. Seperti halnya Pandawa yang menunggu saat-saat berperang dengan Kaurawa di medan perang Kurusetra.
di tanah nusantara kecuali di bali, ke-exclusivan tinggi-rendah tingkatan wangsa dalam ranah agama sudah lenyap, ditinggalkan atau bahkan bergeser padahal pada zaman kerajaan hindu nusantara sistem ini sangat kuat bahkan sama kuat dengan di tanah bali.apa yang di ciptakan manusia bisa berubah atau lenyap, jangan kan cuma sistem tingkatan wangsa dalam ranah agama bahkan dewa-dewi kuno yang diciptakan manusiapun bisa lenyap, berubah-ubah atribut dan namanya karena sudah ditinggalkan pengikutnya.
Tetap atau tidak tetapnya pengakuan sistem tinggi rendahnya tingkatan wangsa dalam menentukan kewenangan dalam beragama ini, sesuatu yang tidak ada bahkan ditentang dalam agama-agama lain, bahkan dari kalangan masyarakat hindu dan hindu bali sendiri pun sudah ada yang menentang baik secara turun temurun dari zaman dulu ataupun masyarakat hindu bali sekarang ini, apalagi semakin banyaknya ilmu pengetahuan dan perkumpulan spiritual dari tanah kiblat hinduisme di india ataupun dari kontak dengan agama lain di tanah bali, tetap atau tidaknya sistem status wangsa dalam ranah agama ini tergantung pada pengakuan dari pengikut yang mengakuinya nya.
bagaimana tingkatan wangsa2 keturuna pandawa sekarang?apakah tetep menjadi raja2, apakah kerajaan mereka abadi? karana sekarang tidak ada lagi kerajaan hindu di dunia ini, kerajaan hindu terakhir nepal’ sudah dijatuhkan rakyatnya sendiri menjadi republik (yg tersisa hanya kerajaan islam dan buddha) bahkan banyak daerah india kuno(pakistan, maladewa, bangladesh)sudah menjadi negara islam,juga bagaimana juga nasib keturunan brahmana di jaman pandawa apakah wangsanya masih tinngi sperti di jaman pandawa? apakah semua itu abadi? sama juga kemana larinya wangsa tinngi kerajaan nusantara sewaktu jatuh ketangan kerajaan islam?
OSA,
Suksme, nggih seharusnya kasta jangan di bawa2 ke ranah agama, biarkan agama menjadi bersih dri hal2 berbau politik yg apalgi agama di pakai sbgai alat untuk pengukuhan penempatkan diri serta keturunannya sebagai yg paling tiggi dan berhak yg berbau kekuasaan dan kepentingan duniawi, biarkan kasta menjadi pengatur ranah pemerintahan duniawi, bukan untuk mengatur masalah keagamaan…
OSSA BAPA
” sepertinya terkesan membiarkan kasta berlarut2 dari waktu ke waktu dari generasi ke gerenasi,Next Bali akan menjadi sasaran kritik empuk umat lain . di luar Bali saodara kita Hindu fight dalam pengakuan dan penerimaan secara sosial ( realita ), Eh … kok malah di Bali masih berebut kasta . Keburu habis Bali kita ntr … ya ga Bapa ???
Bahkan kini (tahun 2010) di Bali ada gerakan sekelompok orang yang begitu ter-obsesi-nya pada sejarah masa lampau, sehingga yakin bahwa di abad ke : 14 – 15 leluhurnya berkasta “X” maka semestinya sekarang kelompok itu boleh menggunakan titel dari kasta “X” Kata salah seorang dari mereka : “Ini untuk meluruskan sejarah masa lampau, untuk menghormati leluhur, dan untuk generasi y.a.d. agar mulai memakai gelar dari kasta “X” itu”
hal semacam inilah yg akhirnya memutuskan saya memberi nama anak saya tanpa embel2 putu,made,nyoman atau ketut. krn menurut sy itu adalah penamaan bukan nama.bgtu juga kasta,tdk beda dgn honda,yamaha,suzuki dll…saya anak singaraja,so..no kasta…klo kawan2 di jogja bilang..prek su…!!makan itu kasta…suksma
@ngurah: Menamai anak itu hak azasi manusia. Namun “kebanyakan” orang Hindu-Bali menamai anaknya dengan urutan Gde/Wayan/Luh/Putu, Made/Nengah, Nyoman/Komang, Ketut dst. sebagai tanda kita orang Hindu-Bali. Bahkan mereka yang kemudian beragama Islam, juga tetap memakai urutan nama itu, Misalnya di Bali ada yang bernama : Mohammad Ketut Nurjaya. Ada juga penganut Kristen yang tetap menggunakan urutan nama itu, misalnya Nyoman Petrus Sanjaya. Indonesia Merdeka, silahkan, silahkan, yang penting tidak melanggar hukum, susila, dan norma-norma lainnya.
Yg penting sampunang mekerah. Durusan, sampunang merebat antuk kewentenan puniki yen dados sampunang mempropokasi. Mangde nenten irage rebat ring Bali. Jaman sampun merdeka kangkat ide dane kayun ngemiyikan rage ten wenten anak sane mrotes. Nike wantah hak ide dane. Yg penting irage ring Bali tetep bersatu. Masalah nama nike wantah hak Ide Dane………..
@Ida Bagus Alit: Patut sekadi punika Ratu, sekadi bebawos anake lingsir : “sagilik-saguluk salunglung sabayantaka, paras-paros sarpanaya, saling asah, saling asih, saling asuh” lan “pada liyang ngastiti dharma”
Patut sekadi penikan ratu Ida Bagus Aji lan Bhagawan Dwija, Jakti, iring je sareng sareng ngegilikin rage ngajegan Agama Hindune ring bali, sampunan ulian parab wiadin pesengan,wiadin soroh irage merebat,ten lek sareng umat tiosan, tiang miragi nak ten kedadosan mendem/ngaben layon tiang sampun lek ningehan, yen umat lianan aluh sajan ngubur jenazahne ring bali, iring sareng-sareng mulat sarire napi sampun patut tingkah laku irage meAgama Hindu???????? yen pet wenten anak MEMPROPOKASI banggiang sampunan rungune, anggap nak buduh, he…..he….he……
@adnyana: Patut sekadi punika, sakewanten ring aab jagate sekadi mangkin, akeh i manusa sampun kejarah olih rajasika sampad, katuludang olih suryak siu. Nika mawanan irage sareng sami polih kamewehan. Ngiring pada liang ngastiti dharma.
O.S.A titiang sebagai umat hindu sangat menyambut baik atas segala pendapat dari ida bhagawan,,titiang support stiti dharma…
semoga semakin banyak agama hindu yang memahami agamanya…
titiang juga menyarankan supaya suatu saat kasta di bali itu tidak ada, hal itu hanya membuat risih orang yang tidak berkasta, buat apa kita berkasta tinggi tapi pada kenyataannya kita adalah orang yang jahat,
ya titiang orang klungkung dan kebetulan juga titiang berkasta, tapi titiang tdk mendukung kalau kasta di jadikan perbedaan pendapat, dan itu benar sekali kalau di sebagian daerah klungkung masyarakatnya melihat kalau kasta itu adalah nomer 1, kemungkinan mereka lebih menjaga kastanya dari pada mempelajari dan memahami agama(hindu) nya….
ya menurut tiang akan sangat sulit untuk mewujudkan bali tanpa kasta, karna orang yg sudah berkasta tinggi akan takut kehilangan kebangsawanannya..kemungkinan mereka akan menangis?! tapi di jaman yang serba modern ini, semuanya berubah,..
selama kita tidak menghargai orang lain, orang lain juga tidak akan menghargai kita..
“titiang adalah orang biasa dan hanya ingin berbuat baik pada orang lain”
salam….
O,SSS,O
@ayu: Bila berpikir seperti itu, bagus karena sesuai denga ajaran Weda
Om swasti astu..
Tiang tinggal diluar Bali dan masyarakat yang dihadapi sehari-hari sangat beragam. Mengenai kasta sebagai nama depan dari nama yang diberikan orang tua tidak pernah saya sebutkan kecuali dalam penulisan surat resmi. Tiang setuju kalau kasta tidak dicantumkan dalam nama resmi mulai dari akta kelahiran. Cukup dengan I Wayan,I Made dan I Nengah seterusnya..Sebagai tanda adalah semeton sareng sami mempunyai leluhur di Bali.
Jika dalam perjalanan hidupnya beliau ini mampu dan berjasa secara nyata bagi para semeton semua, kelihatannya layak menyandang gelar sesuai dengan swadharma yang dijalaninya. Misalnya berhasil membangun masyarakat yang terbelakang menjadi masyarakat yang sejahtera dalam satu wilayah, untuk penghargaan pada akhir masa jabatannya berhak mendapat gelar sesui dengan tingkat wilayahnya. Pernah suatu ketika tiang ada kesempatan tangkil di Pedharman di Pura Besakih, tiang muspa bersama dengan Beliau ada yang bergelar Gusti Agung, Agung Ngurah dan I Nengah.
Berarti salah satu leluhur tiang adalah beliau yang satu dan tiang sareng sami seharusnya dengan gelar yang sama.
Pernah juga tiang ditunjukan berita yang membuat malu ketika ada seseorang bergelar Ida Bagus tertangkap melakukan kejahatan karena mereka tahunya Ida Bagus adalah kasta Brahmana yang dianggapnya tertinggi.
Salah satu contoh yang nyata ternyata sudah dilakukan oleh masyarakat di Inggris. Alex Ferguson berhasil melatih team sepak bola menjadi juara berturut turut. Beliau sekarang bergelar Sir sehingga menjadi bernama Sir Alex Ferguson
Apakah siap semeton sareng sami menerapkannya sehingga bersama dan bersatu demi kemajuan sareng sami.
Om Santi Santi Santi..
Om Suastiastu,
bicara masalah kasta, mungkin memang susah untuk diluruskan (jika memang menyimpang) oleh sebab sejarah yang sudah terlanjur terjadi dan yang turun temurun dipegang sama masyarakat Bali.
Saya setuju dengan pendapat2 di atas, namun, mohon maaf hanya sedikit masukan saja, atau boleh dibilang kritik, terhadap komentar/pendapat di atas. Saya tidak tahu siapa Ida Bagus Alit di atas, apakah memang orang yang mesti diagungkan sehingga Ida Bhagawan sendiri dan Adnyana menyapa Ida Bagus Alit dengan sebutan Ratu, sementara ke yang lain disapa biasa2 saja. Bagi saya, ini menandakan bahwa Bhagawan dan Adnyana yang notabene tidak setuju dengan kasta, sesungguhnya masih menganut sistem kasta tersebut..
Bhagawan Dwija says:
January 30, 2011 at 05:58
“@Ida Bagus Alit: Patut sekadi punika ‘Ratu’,”
mungkin sebaiknya : Patut sekadi punika Gus Alit,,,
adnyana says:
February 1, 2011 at 10:17
“Patut sekadi penikan ratu Ida Bagus Aji lan Bhagawan Dwija,”
mungkin sebaiknya : “Patut sekadi atur ipun Ida Bagus Alit lan pangandikan Ratu Bhagawan Dwija”
untuk Bhagawan Dwija, saya pikir kita wajar memanggil beliau dengan sebutan Ratu, karena saya yakin beliau telah melalui proses padiksan, mungkin mulai dari tahap Jro Mangku, Jro Gede, hingga menjadi Bhagawan Nabe…dan setiap proses mulai dari Jro Gede mengalami/melalui upacara Seda Raga yang mana berarti tingkatannya lebih tinggi dari manusia biasa, yang berarti juga kewajiban dan tugas2nya lebih berat..hehehe…
Nunas geng sinampura yening iwang atur titiyang puniki. Titiang matur sekadi puniki boya je wenten manah jagi nasikin segara, nanginin ratu sampun metangi..tetapi saya hanya ingin benar2 melihat bahwa jika memang tidak ada kasta, jangan hanya mewacanakan saja, tetapi juga melaksanakannya, mulai dari pikiran, perkataan, hingga perilaku, dan hal ini termasuk pada cara kita bicara dan menyapa manusia lainnya, baik secara lisan maupun tulisan.
Om Shanti Shanti Shanti Om
@Adhiayu : anda ,saya ,Bhagawan Dwija,Ida Bagus Alit dan lain2 sama ap g??? klu iya knap anda juga memanggil Bhagawan Dwija ratu juga???hehehehehehehe kita kan sama katnya hehehehe
Iya, saya dipanggil apa saja mau. Ada yang bilang Pak, Bapak, Jero, Ida, Ratu, Saudara, Mr, dll. Panggilan itu tidak mempengaruhi dalam artian saya tidak marah, tidak senang, bangga, kecewa, dll. Emosi seperti itu sudah lama saya tinggalkan.
Yang penting, hatinya baik. Kalau hatinya juga tidak baik, ya apa boleh buat, toh ada hukum karmaphala.
Om Suastiastu,
@god slave
Anda,IB alit,saya,dan lain2 dalam pandangan saya adalah sama karena bagi saya mereka masih welaka dan saya tidak mengenal mereka sebagai tokoh2, apakah tokoh pemimpin, agama, atau adat, atau seorang guru, atau seorang yang patut saya junjung, saya melihat mereka dan anda sebagai welaka..jadi panggilannya biasa aja..tapi tetap saya menghormati tanpa harus menyebut ratu atau berbahasa halus..berbeda halnya kepada Bhagawan, bliau adalah pemimpin umat, seorang sulinggih, sudah didiksa, dwijati, jelas berbeda..jadi saya memanggilnya Ratu, lengkapnya Ratu Bhagawan..
adhiayu saya setuju dgn masukan anda…
saya setuju dengan adhiayu
Ratu dalam bahasa kawi : Ra = terhormat; Tu = Ti = orang. Jadi Ratu artinya “yang saya hormati” Sama dengan bahasa Indonesia kalau kita berpidato : “Hadirin yang saya muliakan/hormati” Kalau Bahasa Bali : “Ratu Ida-Dane sane wangiang titiang” Kalau dulu saya di Gianyar membeli nasi be guling di Banjar Teges, si penjual menyapa : “Ratu napi sodaang titiang” padahal waktu itu (1981) saya masih walaka. Bagi saya itu hanya strategi atau tehnik marketing saja, menyenangkan pembeli. Jadi apakah saya menggunakan tehnik marketing ? Silahkan tebak. Namun bila ada koreksi dari pembaca, tentu saya berterima kasih, dan menerima dengan legowo. Saya sendiri lebih senang memakai nama Bhagawan Dwija dari pada nama Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi. Selain tidak terkesan feodalis, bukankah nama yang pendek lebih gampang diingat dan lebih cepat populer ? Dan juga tidak merepotkan imigrasi ketika membuat paspor. Ha ha ha ha what is in a name ?
Om Suastiastu,
Suksma atas penjabarannya Ratu Nak Lingsir…
Tiang bukan ingin berdebat, hanya masukan saja, jika Ida Bhagawan ingin memuliakan pembaca yang berkomentar di sini,,berhubung ini topiknya adalah masalah kasta, dan sependapat bahwa sebenarnya kasta itu tidak ada, maka sebaiknya jika ingin menggunakan kata “ratu” bukan hanya pada seorang saja, yang kebetulan pula orang tersebut punya “gelar kasta” ‘ida bagus’. Dan mengapa tidak kepada yang lain disebut “ratu”? Bahkan seharusnya kepada setiap pembaca, sebelum maupun sesudah ‘ida bagus’ itu berkomentar. Saya yakin ‘dagang nasi’ itu menyapa ‘ratu’ kepada setiap pembeli yang datang, karena pelanggan adalah raja…Sinampura Nak Lingsir, menurut tiang justru ini akan membuat kesan, setidaknya bagi tiang, seperti yang tiang sebut sebelumnya.
Tiang menangkap kesan seperti itu, sebab dari data yang tiang baca tiang mengetahui Ratu Bhagawan bukan berasal dari golongan ‘Ida Bagus’, dengan nama welaka : Putu Windu Hanaya, ga pake embel2 ‘gusti’, ‘dewa’, ‘ida bagus’, ‘cok’, ‘agung’, dsb. Dengan demikian, katakanlah tiang menganggap Ida Nabe sebelum melinggih adalah dari golongan kasta ‘sudra’, maaf kalo tiang salah. Yang tiang ketahui dari dulu ‘kasta’ sudra-lah yang menganggap ‘kasta triwangsa’ lebih tinggi daripadanya sehingga orang2 dari ‘kasta’ sudra selalu merendahkan diri di hadapan ‘triwangsa’, dengan memanggil mereka dengan sebutan ‘ratu’, ‘mecik manggis’, ‘ngih tu’, ‘tiang tu’, ‘pamit tu’, ‘sugra tu’ (jeg uyak tuu tuu kalo tiang boleh mengutip banyolannya Nardayana Dalang Wayang Cenk Blonk), bahkan oleh orang dewasa ‘sudra’ kepada anak kecil ‘menak’ (=kejadian di warung sekitar rumah tiang), bahkan juga oleh orang tua kepada anaknya yang nikah dengan golongan ‘triwangsa’ itu (=cerita seorang kawan di Ubud). Lama kelamaan, jadilah beberapa orang ‘triwangsa’ (tidak semua) merasa lebih tinggi dan ‘gila hormat’ terhadap ‘sudra’.
Masalah nama, saya rasa tidak terlalu penting seseorang mau menggunakan nama apa, panjang atau pendek, yang penting nyaman dan baik digunakan, enak di dengar, baik bagi si pembaca maupun penulis.
Om Shanti Shanti Shanti Om
dan satu lagi..selalu saja ketika seseorang berkenalan, mohon maaf khususnya orang2 tua, selalu hal yang pertama ditanyakan adalah : “Nunas genah antuk linggih”…selalu mempertanyakan dari golongan kasta mana, khususnya mereka yang dari golongan ‘kasta sudra’.
ketika diketahui ‘menak’ langsung diteruskan bahasa alusnya, bahkan mungkin jadi alus singgih ketika ternyata yang diajak kenalan itu dari golongan ‘Ida Bagus’ atau ‘Anak Agung’ atau ‘Cokorda’. Ketika ‘kasta’ nya sama jeg prejani mebasa biasa..hadeh..
Saya tidak mempermasalahkan hal-hal seperti itu. Orang mau panggil saya apa saja, silahkan. Mau bilang saya jaba, OK-Ok saja. Yang penting saya tidak melanggar hukum. Hobi saya menyenangkan orang lain.
inggih tiang juga sangat setuju dengan masukan ida bhagawan
saya juga setuju dgn masukan adhiayu
Om Swastiastu,
Wah seru juga membaca komentar-komentar diatas. saya kok jadi tambah bingung yah? apakah sarana ini untuk ajang adu argumen atau adu kritik atau adu kebolehan? kenapa harus mempersoalkan kasta atau warna? bukankah kita semua sama dihadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa? tapi tidak sama dihadapan manusia lain. kenapa mempersoalkan tutur bahasa seseorang kepada orang lain? setiap manusia punya cara sendiri untuk menghargai manusia lain atau menyenangkan manusia lain? Mohon petunjuk kepada Sang Wiku, apakah ada Ida Sang Hyang Widhi Wasa melarang ciptaannya untuk membentuk suatu kelompok tertentu? bukankah semua jalan hidup manusia sudah digariskan olehNYA? kenapa kita harus mempermasalahkannya?
Maafkan karena kebingungan saya jadi banyak bertanya. Besar harapan saya Sang Wiku mau bermurah hati untuk memberikan penerangan.
Om Shanti shanti shanti om.
Sanghyang Widhi itu “tenang-tenang saja” Mungkin kini beliau tertawa melihat tingkah polah kita. Yang pasti kalau kita sudah dead di alam sana tidak ada surga dan neraka yang berbeda untuk soroh, wangsa, kaya, miskin, berpangkat, gembel, pengemis, dll.
yang boneng… masak TUHAN TERTAWA MELIHAT hambanya yang salah jalan ?? ……….
kata orang bijak TUHAN itu bening seperti kaca. kalau kita tertawa DIA ikut tertawa,kalau kita menangis DIA ikut menangis. ndak percaya ? coba praktekkan, berdiri didepan kaca,kemudian tatap kedua matanya terus dan terus….lihat…apa yang terjadi…
[...] Dalam ajaran agama Hindu (agama mayoritas di Bali), setahu saya ajaran tentang kasta (Catur Wangsa) tidaklah ada, yang ada adalah Catur Warna. Dan menurut apa yang pernah saya baca, baik di internet, koran atau pun lainnya, konon sistem kasta baru ada semenjak abad ke 14. [...]