Sistem Kasta di Hindu

QUESTION:

Saat saya dalam perjalanan dari Malang ke Surabaya, saya sempat ditanya seseorang yang bukan beragama Hindu. Kenapa di Hindu sangat kuat sistem kastanya dan terkesan membeda-bedakan?

Menurut Ida pandita sendiri kesalahpahaman yang mengakar membuat orang lain menjadi terpengaruh bahwa dalam hindu ada pelapisan sosial, yaitu kasta.

Padahal yang saya tahu hal tersebut tidak ada, yang ada hanyalah Ajaran Catur Warna yang terbentuk berdasar guna dan karmanya. Mohon penjelasannya. Terima Kasih Sebelumnya.

ANSWER:

Masalah “kasta” memang menjadi “penyakit” menahun yang tak kunjung sembuh pada beberapa kelompok umat Hindu di Bali. Betul dalam agama Hindu, sistem kasta tidak ada; yang ada sistem warna seperti yang anda katakan.

Namun sejarah telah mengukir jalannya sejak abad ke-14, di mana tatanan masyarakat diubah dari warna ke kasta, untuk menguatkan status quo penguasa ketika itu.

Padahal sebelum abad ke-14, kasta tidak dikenal di Bali/ Jawa. Penjajah Belanda, selama 350 tahun menguatkan sistem kasta karena ini sesuai dengan politik divide et impera – nya.

Namun demikian saya yakin lama-kelamaan sistem kasta akan hilang ditelan jaman, karena umat Hindu di Bali akan semakin terdidik, dan juga karena pengaruh globalisasi.

Misalnya di Buleleng, mayoritas masyarakat tidak menyenangi sistem kasta, dan mereka tidak memperhatikannya. Sistem kasta masih agak kuat di Klungkung, Gianyar, Badung, Tabanan, Karangasem. Itupun sporadis.

Bagaimana kiatnya “memerangi” sistem kasta? Ya, perlakukan orang-orang berkasta itu biasa-biasa saja. Hormati mereka berdasarkan inteligensi dan pengabdiannya kepada masyarakat. Bukan karena titel kebangsawanannya.

Mudah-mudahan berhasil.

385 comments to Sistem Kasta di Hindu

  • 11
    Komang says:

    benar sekali Bhagawan, saya sangat setuju akan hal itu.
    menurut hemat saya istilah surga dan neraka itu diciptakan/dikondisikan oleh ciptaanNYA (manusia) yang telah mendalami tingkatan spiritual yang sangat tinggi dengan memberikan contoh agar ciptaanNYA yang lain mau berbuat baik dan benar mau bekerja kerasa dengan cara yang baik sehingga ajaran Dharma bisa ditegakkan. Mohon kemurahan hati Sang Wiku memberikan pencerahan lebih lanjut apabila apa yang sama sampaikan diatas keliru.

  • 12

    Selama masih menjadi manusia, pasti masih bisa berbuat salah, bahkan berdosa. Dengan kata lain, tiada manusia yang tak berdosa. Bacalah Mahabharata, bahkan Bhagawan Drona, Bhgawan Bisma, dll. pun pernah berbuat dosa. Dosa menurut keyakinan Hindu tidak dapat dihilangkan, ia akan melekat dan membungkus atman/roh selamanya. Namun dosa dapat diimbangi dengan dharma, ibarat matahari (simulasi dosa) yang terik (selalu panas) akan berkurang/tak terasa bila ada angin berhembus dan awan yang menutupi (dharma).
    Rohaniawan sebagai Sang Acarya Dewa Bhawa, adalah sosok yang menyebarkan ajaran suci dan memimpin umat dalam pendalaman Agama dan pendakian spiritual. Seorang siswa/pengikut/sisia hendaknya melakukan pendalaman dan pendakian spiritual dengan usaha sendiri atas arahan rohaniawan. Jangan meniru/mencontoh begitu saja ke sosok “guru”-nya, agar ia memperoleh widya/penerangan langsung dari kitab suci.

  • 13
    Komang Armawan says:

    Benarkah yang berbuat baik masuk sorga dan yang tidak baik masuk neraka? seperti apakah yang dimaksud sorga dan neraka itu? kenyataan yang saya tahu didunia ini adalah banyak orang yang berbuat tidak baik mendapatkan kehidupan yang enak, hidup mewah, serta berpoyah-poyah.

    • 13.1

      Surga dan Neraka itu tidaklah suatu “tempat” di alam nirwana, tetapi itu sesuatu yang membelenggu atman/roh sebagai akibat subha-asubha karma ketika ia msih hidup di dunia. Subha karma atau perbuatan dharma akan membawa surga pada atman berupa ketenangan/ketentraman dan jalan menuju moksah atau aworing acintya, bersatunya atman dengan brahman. Namun asubha karma atau perbuatan adharma akan membawa neraka pada atman berupa kegelisahan/ketidak puasan dan jalan menuju purnabhawa atau reinkarnasi, karena tidak memenuhi syarat aworing acintya (moksah). Tingkatan adharma ada yang sedikit, ada yang parah. Maka purnabhawa-nya juga bisa menjadi manusia dan bisa menjadi binatang. Tergantung.
      Kenyataan di dunia orang yang adharma bisa hidup mewah ? Apakah hidup mewah itu membawa angin surga ? Belum tentu. Lihatlah contoh orang-orang kaya karena korupsi; apa jadinya sekarang ? atau nanti ? Tentramkah hatinya ?. Maka yang kita ingin capai adalah : Mokshartam jagaditaya ca iti dharmah. Kebahagian lahir-bathin di dunia dan akhirat. Carilah rezeki dengan prinsip catur purusha arta : dharma, artha, kama, dan moksah. Urutannya tidak boleh ditukar. Maka dharma-lah yang diutamakan. Nanti pahalanya berupa artha akan diberikan oleh-Nya. Selanjutnya kama (kebutuhan hidup) akan terpenuhi dan kebahagiaan (moksah) akan tercapai.

    • 13.2
      Ni Putu Cahyani says:

      FAKTANYA, sorga (alam dewa) dan neraka (alam baka), maupun alam yang berwujud (manusia dan hewan), dan alam siluman, adalah alam yang ditempatkan bagi kita untuk merefleksikan diri, bukanlah suatu hukuman, melainkan pembelajaran. terbayang tidak mengapa kita hidup di jaman sekarang? atau, siapakah saya sebelum ini, dan setelah ini saya akan jadi apa? pada intinya, roda karma terus berputar, tiada yang berhenti dan kekal selama kita masih melakukan “perbuatan”. apa yang dimaksud “perbuatan”? ialah segala sesuatu yang kita perbuat baik ataupun buruk. perbuatan baik akan mendapat karma yang baik, dan perbuatan buruk mendapatkan yang setimpal pula. lalu, bagaimana kita bisa mencapai kesempurnaan jika kita terus mendapat “imbalan”? yah, buatlah hal yang bajik (bajik dan baik adalah hal yang berbeda), agar setelah ini kita tidak menjadi hewan, atau tinggal di alam baka, atau alam siluman, atau bereinkarnasi menjadi wujud yang lain, sekalipun itu manusia ataupun dewa. karena yang kekal hanya bisa diberikan oleh Yang Kekal, yang tidak kekal diberikan oleh yang tidak kekal. Jalan menuju Kekekalan diberikan oleh Tuhan sendiri, bukan manusia, bukan pula diteruskan oleh manusia atas nama Tuhan. Kasta tiada artinya, agama hanya perantara, TAO adalah Jalan Kebenaran menuju kepada yang Maha Bajik. cobalah untuk mencari TAO.

      • ketut sugiarta says:

        maaf…TAO itu apa ya ?

        • TAO adalah suatu filosofi dan keyakinan yang awalnya berkembang di Cina. Tao-isme menguatkan Confucianism yang menjadikan Agama Budha sebagai dasar keyakinan. Taoism kemudian menjadi inspirasi spiritual dan dasar-dasar moral rakyat Cina. Taoism juga merambah budaya lain dibidang kesenian misalnya : sastra, lukisan, yang mencerminkan kecintaan pada alam semesta dan umat manusia. Diakui bahwa Taoism telah membentuk karakter bangsa Cina untuk menjadi bangsa yang kuat, dinamis, sopan, taat pada peraturan, kasih sayang, dan yang terpenting : menjadi pemimpin yang mengabdi kepada kepentingan bangsa dan negara.
          Uraian lebih lanjut, lihat Encyclopedia Americana, buku ke-26, halaman 276-277
          Komentar saya :
          TAO-isme sekarang sudah berkembang di Bali, umumnya dikalangan anak-anak remaja/mahasiswa-mahasiswi. Pengembangnya adalah tokoh-tokoh spiritual Budha. TAO-isme baik, namun jangan meninggalkan srada-srada kita sebagai pemeluk Agama Hindu di Bali.

  • 14
    Komang says:

    Ratu Bhagawan mohon pencerahannya bagaimana kita bisa mengetahui bahwa manusia saat punarbawah dia menjadi manusia atau menjadi binatang?

  • 15

    1. Kita tidak mungkin bisa mengetahui karena itu adalah “pekerjaan” Yang Maha Kuasa.
    2. Kalau maksud anda bagaimana bisa menduga/mengetahui bahwa seekor binatang “mungkin” dulunya atman manusia yang dihukum oleh-Nya karena karmanya, ada dalam kisah Ida Danghyang Nirartha. Cari, baca buku : Babad Warga Brahmana Pandita Sakti Wawu Rawuh. Jero Mangku Gde Ketut Soebandi, PT Pustaka Manik Geni, 2004. Dihalaman 34.

  • 16
    Komang says:

    Suksma atas pencerahannya Ratu Bhagawan. Om Shanti Shanti Shanti Om

  • 17
    virna says:

    saya di sekolah diberi tugas dari guru sosiologi saya untuk mengkaji kasta di Bali. lalu saya mau bertanya, apakah kasta di Bali sampai sekarang masih terus berjalan?

    • 17.1

      “Berjalan” itu maksudnya apa ? Kenyataannya, kasta di Bali kini hanya sebagai pengingat/penghormat kepada leluhur saja. Kalau eksistensinya sebagai mendapat hak-hak istimewa dari Pemerintah, tidak ada lagi. Demikian pula dalam jabatan-jabatan di Pemerintahan, kasta tidak berperan apa-apa.

  • 18
    gus dana says:

    coba saling menghargai baik berkasta maupun tdk, hargai sesama umat sendiri dulu ,maka hindu akan tambah berjaya. mengerti dan mengalah sesama hindu.kami d negri rantau di sini, saling paham dan mengalah,serta saling menghargai, warga lokal pun segan thdp bali kami di tanah rantau.mengapa bali asli ku tidak ? salam bali lombok,rantau yg damai.suksma .om santi..santi..santi..om.

  • 19
    made pranama says:

    knapa harus di perdebatkan seperti ini??kenapa tidak langsung dipublikasikan apa yang benar dan salah tentang kontroversi pemahaman catur varna dan wangsa ini di media elektronik seperti televisi??dari pada seperti ini,masalah tidak akan bisa selesai karena tidak adanya publikasi yang lebih luas dan umum…saya sbg remaja bali butuh kejelasan dr hal ini,.begitupun meluruskan orang-orang primitif yang terlalu merendahkan seseorang yang berkasta lbh rendah….

    • 19.1

      Kalau sudah begitu, di media, seminar, loka-karya, lalu apa ?
      Siapa yang mengambil prakarsa ? Mudah-mudahan ada ide yang bagus.

    • 19.2
      ketut sugiarta says:

      mungkin sebaiknya dianggap sebagai dinamika sosial saja,dan setiap pihak perlu tau diri,mawas diri,dan menahan diri. seleksi alam akan berjalan dengan sendirinya. kalau itu diwacanakan,diperdebatkan secara terbuka dan dalam komunitas besar,besar kemungkinan akan mengarah ke revolusi sosial…..nah kalo sudah ribut,nyemak gae buung,turis sing bani teke ke bali,hotel dan restaurant gulung tikar. irage jak onyang jeg pasti nganggur…hehe. masalah nama kan karena dari kk orangtua ; ida ayu,ida bagus,cokorda anu,igusti anu,iketut sugiarta, kalau sekolah toh semua bayar spp,sama sama bayar listrik,air,telp,beli beras,minyak,dll. sembahyang di pura pun tak ada aturan tertulis siapa yang duduk didepan,siapa yang dibelakang. TUHAN tahu siapa yang datang ke pura dengan maksud berbakti dan memuja DIA secara tulus,dan siapa yang datang kepura hanya untuk jual tampang dan segala macam atribut kedaluwarsa yang kini sudah tak laku lagi. mari kita jalankan swadharma masing masing dengan pengabdian yang tulus sesuai dengan sifat dan peruntukannya. semua peran adalah penting dan saling terkait dengan kontribusi yang sama besarnya. kesimpulannya; jangan ribut,mari bekerja. maafkan jika ada kata yang tak berkenan. OM ANO BADRAH KRETAWO YANTU WISWATAH. OM SANTHI SANTHI SANTHI OM.

  • 20
    Mantra says:

    omswastyastu Bhagawan,
    Mohon maap bhagawan.. Setelah kasta dihilangkan dari bali, apa keuntungan yg didapat dari kita semua?
    Apa dengan dihilangkannya kasta bisa menjadi hidup lebih bahagia dan damai, ataukah sebaliknya?

    Inti dr permasalahan kasta adalah kaum yg berkasta tidak bs mjd contoh, krn sikap dan perbuatannya yg kurang baik sehingga menimbulkan anggapan sedikit kurang adil krn semena mena. Org berkasta harus sanggup mjd penengah dan membantu menyelesaikan permasalahn di msyarakat, contoh baik.. Akhirnya Jika org berkasta bisa menjaga sikap dan perbuatan, saya pikir tidak akan Ada permasalahan ini. Bahkan org biasapun yg bisa menjaga sikap dan perbuatan sehari hari saya yakin akan dihargai layaknya org berkasta. Dan akan tercipta suasana saling menghargai dan damai..
    Jika seseorg akhirnya merasa seharusnya berkasta, krn dr sejarah bla bla bla, itu hak mereka, masyarakat dan alam yg akan menjawab..

    Kecuali….

    Perbedaan yg menonjol terdapat pada seseorang yg sudah menjadi sulinggih akan tetapi tidak bisa menjadi pedande atau muput acara tertentu yg disyaratkan harus berkasta brahmana. Ini menjadi polemik awal dr perdebatan kasta..
    Akan susah dibicarakan dan didiskusikan, krn Ini masalah rasa, kepercayaan seseorang.
    Dimungkinkan semua org mempunyai hak utk menjadi pedande, asalkan masyarakat bali mengakuinya dan mau menjalaninya. Akan tetapi jgn masalah kasta yg diangkat, angkatlah masalah persamaan hak menjadi pedande.
    Dan akhirnya mjd suatu hal yg membingungkan saat seseorg berebut mjd pedande tetapi kita tahu mjd pedande itu tidak mudah hidupnya dan terlalu banyak larangannya..

    Hidup ini indah, jgn mencari masalah dgn menyalahkan sejarah yg hasilnya masalah hny meninggalkan perpecahan.. Hargai org yg patut dihargai..
    Jangan sampai dengan adanya masalah ini, org yg berkasta disiniskan, dicibir dan dibenci bahkan direndahkan layaknya org biasa. Jadi biasa biasa saja, saling menghargai saja..

    • 20.1
      Mantra says:

      Maksud saya diatas tidak semua org berkasta tidak baik tindakan dan perbuatannya, tidak bs menjadi contoh, hanya bbrp dan segelintir org akan tetapi seakan imbasnya ke semua yg berkasta..

      Sebagai kata penutup :
      Biasanya Seorang sulinggih yg saya kenal mulia hatinya, suci tutur katamya.. tidak ada satu sulinggih yg mengajarkan profokasi dan perpecahan..
      Damai.. Damai.. Damai..

    • 20.2

      Betul : The Singer is not the song

    • 20.3

      Profokasi itu berbeda dengan dharma wacana. Seorang Sulinggih di zaman globalisasi ini harus aktif terjun ke masyarakat untuk membantu umatnya menghadapi berbagai masalah kehidupan. Jadi tidak hanya muput-muput upacara saja. Bagaikan seorang petani,bila ia jijik kakinya terkena lumpur, maka ia tidak akan berhasil menanam padi. Demikian pula seorang Sulinggih yang medharma wacana dan medharma tula, tidak jarang diduga macam-macam, bahkan diomeli, dicaci, dituduh pemecah belah, dituduh provokator, dll.
      Namun kita semua toh bertanggung jawab kepada Tuhan. Biarkan Tuhan yang mengadili nantinya siapa yang berdosa, siapa yang berbuat dharma.

    • 20.4
      Ida Bagus Wisnu says:

      Namun Anda salah dalam satu Hal, tidak semua orang bisa jadi Pedanda. Apabila maksud Anda semua orang bisa menjadi Pedanda itu berisi makna yang tersembunyi?, maka saya akan mengartikan makna itu.
      Pedanda adalah pengayom masyarakat yang mengajarkan ajaran-ajarn Dharma, Etika, Susila, dan Agama. Sesungguhnya makna yang tersembunyi dari kata-kata Anda adalah “Semua orang bisa menjadi pengayom dan penerang di masyarakat jika memang dia pantas, dan mengajarkan ajaran-ajaran Dharma. Namun masih dalam batsan-batasan tertentu, dimana batasan-batasan tersebut tidak boleh dilanggar”. Seperti itulah yang tersirat dalam benak Saya. Mungkin uraian Saya sedikit agak membingungkan, namun cermatilah dengan baik. Dan tidak semua orang bisa jadi Pedanda, karena menjadi seorang Pedanda haruslah dari keturunan Brahmana.

      • wayansudarma says:

        apakah benar hanya semua keturunan brahmana saja memiliki kemampuan untuk bisa menjadi pedanda? menurut anda apa arti sebenarnya dari gelar brahmana dan yang membedakannya dengan bukan brahmana? apa yang membedakan seorang keturunan brahmana dan bukan keturunan brahmana? dan apa yang membuat hanya keturunan brahmana saja yang bisa menjadi pedanda sedangkan yang bukan keturunan brahmana tidak bisa menjadi pedanda?

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting