QUESTION:
Saat saya dalam perjalanan dari Malang ke Surabaya, saya sempat ditanya seseorang yang bukan beragama Hindu. Kenapa di Hindu sangat kuat sistem kastanya dan terkesan membeda-bedakan?
Menurut Ida pandita sendiri kesalahpahaman yang mengakar membuat orang lain menjadi terpengaruh bahwa dalam hindu ada pelapisan sosial, yaitu kasta.
Padahal yang saya tahu hal tersebut tidak ada, yang ada hanyalah Ajaran Catur Warna yang terbentuk berdasar guna dan karmanya. Mohon penjelasannya. Terima Kasih Sebelumnya.
ANSWER:
Masalah “kasta” memang menjadi “penyakit” menahun yang tak kunjung sembuh pada beberapa kelompok umat Hindu di Bali. Betul dalam agama Hindu, sistem kasta tidak ada; yang ada sistem warna seperti yang anda katakan.
Namun sejarah telah mengukir jalannya sejak abad ke-14, di mana tatanan masyarakat diubah dari warna ke kasta, untuk menguatkan status quo penguasa ketika itu.
Padahal sebelum abad ke-14, kasta tidak dikenal di Bali/ Jawa. Penjajah Belanda, selama 350 tahun menguatkan sistem kasta karena ini sesuai dengan politik divide et impera – nya.
Namun demikian saya yakin lama-kelamaan sistem kasta akan hilang ditelan jaman, karena umat Hindu di Bali akan semakin terdidik, dan juga karena pengaruh globalisasi.
Misalnya di Buleleng, mayoritas masyarakat tidak menyenangi sistem kasta, dan mereka tidak memperhatikannya. Sistem kasta masih agak kuat di Klungkung, Gianyar, Badung, Tabanan, Karangasem. Itupun sporadis.
Bagaimana kiatnya “memerangi” sistem kasta? Ya, perlakukan orang-orang berkasta itu biasa-biasa saja. Hormati mereka berdasarkan inteligensi dan pengabdiannya kepada masyarakat. Bukan karena titel kebangsawanannya.
Mudah-mudahan berhasil.

Wah…wah…wah!!! ternyata masih saja memperdebatkan masalah yang tidak perlu didebatkan. komentar saya sebelumnya saja tidak ada yang menjawab!!!, “jek mideh ten lakune pembicaraanne”. lagi kepolitik, lagi ke ekonomi, lagi ke masalah mistik, yang mana sebetulnya akan dibahas?.
Dari komentar kalian semua yang ada pada blog ini, saya kembali berfikir dan berpendapat. Dikatakan bahwa sistem Kasta/Wangsa/Warna dsb terutama di Bali adalah penyakit turun-temurun yang tidak kunjung sembuh sampai sekarang. pendapat saya hanya segelintir orang yang mengatakan/berpendapat bahwa itu adalah penyakit, jadi membuat orang yang lain untuk malas dan enggan untuk mencari obat/pemecahannya. bagi saya kalian yang ingin melenyapkannya lah sebenarnya yang berpenyakitan terutama otak/fikiran kalian, jadi kalianlah yang sebetulnya perlu diobati karena otak kalian tidak bisa dipakai untuk berfikir yang waras. saya sudah menganjurkan sebelumnya berfikirlah seperti saya!!! (santai gen ngudiang ruet-ruet stress nyen, suud stress struuk nyen, suud struuk ke setra nyen terakhir). Dan bedikan nyemak gae ane sing berguna. suksma
Wah ternyata begini rupanya “pola pikir sempit” dari sesama kaumku yang mengatakan dirinya Brahmana. Syukur aku lama dirantau jadi lebih terbuka pikiranku. Heran sama kamu tidak mau menerima pendapat orang lain termasuk utk membuka diri misalnya mau membaca buku karya Bpk Wiana hanya karena Bpk Wiana bukan dari golongan Brahmana. Ataukah kamu merasa ketakutan akan terbongkarnya???. Coba saya tanyakan kamu, waktu pelajaran agama Hindu di SMP, apakah kamu keluar kelas saat diajar oleh seorang guru agama yang bukan Brahmana?? Ataukah saat kamu beli nasi be guling, kamu pasti tidak mau makan karena disediakan oleh orang bukan Brahmana ( karena 100% Haram). Tapi lucunya kamu mau makan bakso yang disediakan oleh pendatang…cek..cek..cek… hari gini!!!!
Beh, kene ternyata implementasi ajaran Hindu di Bali..malu dengan kemantapan dan kemajuan yang sudah dicapai oleh sesama umat Hindu lainnya diluar daerah Bali…dengan segala kekurangan prasarana mereka bisa tetap bertahan dari gempuran masalah sosial ekonomi dan iming-iming ekonomi untuk berpindah agama..Sukeh sajan merubah yen sudah begini…baru aku sadar lho sikon diBali kayak gini bener2 miris hatiku…kalo begini Hindu di Bali tidak akan cepat maju deh (mudah2 aku total salah),….kelihatan sekarang banyak pembangunan yang bersifat fisik (dibagun pura, merajan dll) akan tetapi sepertinya kurang pemahaman akan ajaran Hindu yang sebenarnya …karena didalamnya masih terdapat sekat-sekat diantara sesama umat sendiri…padahal sujatinya yang disembah adalah TUHAN Yang Maha Esa…TUHAN Yang Satu dan Sama itu……bagaimana ini ??????(khusus bagi kaumku yang merasa diri paling benar tapi aku yakin sekali tidak semua nya begitu lho)…..
Oh TUHAN…berkatilah kami semuanya utk dapat semakin membuka hati dan diri kami dari belenggu ketidak tahuan kami…
Kamu bilang kamu sering ngiring Ida Peranda…..tolong tanyakan mengenai Meditasi yang pernah aku sampaikan kepadamu (aku nga sombong lho, mudah2 aku dijauhkan dari sifat kesombongan yg tidak berarti itu). Apakah yang aku sampaikan itu benar adanya atau tidak?..Kamu tidak kasi komentar apa2, apakah kamu bisa meditasi apa tidak? Seorang Brahmana tentu juga harus bisa melakoninya jangan hanya ngurus banten melulu, malu donk kalau meditasi yang ngetrend dijaman sekarang ini malahan dikuasai oleh umat lainnya. Satu lagi, menurutku, Meditasi itu adalah pintu gerbang dan salah satu inti dari ajaran agama Hindu yang kita cintai ini. Coba renungkan, melalui kegiatan apakah para MahaResi kita yang terkenal jaman dulu menerima Wahyu Tuhan tentang ajaran-ajaran Wedha?. Apakah kamu sepakat dengan pendapatku atau seperti biasa kamu punya pengertian lain?
Aku tentu menghormati para leluhurku dan ajarannya tetapi jujur aku katakan bahwa aku lebih “menyukai dan menikmati” dengan cara yang aku baru temukan yang aku rasa lebih cocok bagiku dalam mendekatkan diri kepada Tuhan melalui kegiatan Meditasi . Jadi berbagai istilah yang kamu ajarkan kepadaku itu tidaklah menjadi begitu penting bagiku. Dalam hidup kita yang singkat ini, aku berupaya lebih mencari “ISI” ketimbang “KULIT”.
Yoga, tampaknya kita memang tidak akan bisa mencapai titik temu dalam diskusi ini karena sama-sama ingin mempertahankan prinsip. Tapi bagaimanapun kita tetap sebagai sahabat. Kata SBY, silahkan sama-sama dilanjutkan, yang satu maju dan yang lain masih dibelakang.
@IB Jaya: Hahahahaha….beginilah orang belog blogan, selalu mengelak….Hahahaha guruku yang bukan seorang brahmanalah yang mengajari aku untuk selalu mengabdi kepada warih Brahmana. Bahkan guruku juga adalah seorang yang taat akan Agama dan mengerti tentang dharma. Dia tahu bagaimana cara menjalankan dharma yang benar, dan bahkan dia tidak pernah berfikir untuk menghapus atau bahkan melenyapkan Wangsa. Karena dia sudah mengetahui apa yang sebenarnya harus dilakukan, termasuk mengabdi kepada Wangsa yang lebih tinggi…Aku sudah banyak membaca buku seperti itu, dan ternyata kebanyakan dari mereka itu iri terhadap Wangsa yang lebih tinggi. Itulah yang selalu diajarkan guruku, janganlah terlalu mempercayai orang-orang di zaman sekarang. Apalagi yang ingin melenyapkan Wangsa. Mereka hanyalah orang-orang yang iri, dengki, benci kepada orang-orang yang berwangsa lebih tinggi darinya.
Hahahahaha… bukan aku yang takut membaca buku seperti itu, tapi kamulah yang takut dengan kenyataan, makanya kamu tidak mau membaca Dwi Jendra Tatwa yang asli. disana banyak bhisama2 leluhurmu menyangkup tentang bagaimana menjadi keturunan Beliau. jika kamu memang keturunan brahmana asli aku sangat prihatin sekali setelah membaca komentarmu, apalagi kamu memang sangat memprihatinkan. Kamu mengaku meditasi??? jika kamu memang bersungguh2 menekuni meditasi dan yang kau pakai untuk meditasi itu memang benar jalan menuju dharma, pastilah kamu tahu bagaimana sekarang murkanya Beliau (Leluhur Wangsa Brahmana) melihat damuh2 dan Warih Beliau yang tidak mau Ngajegang raga dan tidak mengindahkan/menuruti Bhisama Beliau. Jadi dari prinsipmu itu aku yakin kamu bukan Ida Bagus (keturunan wangsa Brahmana) melainkan I Belog Jaya. Dan mudah2an doa mu itu terkabulkan jadi matamu/pikiranmu bisa melek dan tahu mana yang benar dan mana yang salah. Aku,beserta keluagaku dan Ratu2/Siwa ku (Ida Peranda, Ida bagus/Ida Ayu) yang masih Menuruti bhisama Ida Dhang Hyang Nirartha beserta Leluhur Wangsa Brahmana lainnya akan sabar menunggu saat dimana Zaman Kali Yuga ini akan diakhiri.
Baiklah yoga, aku sudah mencoba utk dapat menyadarkanmu dari beberapa komentarku yang terkait satu sama lainnya. Namun kamu masih tetap kolot nga mau membuka hatimu dan selalu berpandangan bahwa derajatmu lebih tinggi dari kaum lainnya (padahal kenyataannya tidak!). Aku sangat malu melihat kaumku merendahkan sesama umat seDharma. Tingkat kesadaranmu belumlah cukup tingi sehingga masih berputar-putar dan yakinlah aku, bahwa orang-orang seperti kamu akanlah terus bereinkarnasi kedunia utk dapat memperbaiki dan meningkatkan “kesadaran diri sejatimu” kedimensi yang lebih tinggi lagi dimana segala rasa keegoan dan kesombongan sudah jauh berkurang.
Janganlah kamu sangsi apakah aku seorang Brahmana atau bukan, hanya karma dan hasil perbuatan nyata kitalah sebagai manusia dikehidupan ini yang pantas dan dapat menunjukkan apakah kita berada distrata Brahmana, Ksatria, Waisya ataupun sudra. Bukan karena sebab kelahiran garis keturunan. Esensi Tuhan berada disetiap makhluk, berhakkah kita merendahkan Tuhan yang berada di mahkluk lainnya?. jika iya, sesuai dgn konsep pola pikiranmu itu, maka sebenarnya kamu belum paham benar akan ajaran Hindu. Hormatilah “Tuhan” yang berada disemua mahkluk apapun itu. Kamu akan mencapai kesadaran universal, kesadarannya Tuhan. MUngkin kalimatku ini tidak pernah diajarkan oleh Perandamu itu sehingga kamu masih kukuh bahwa wangsamu derajatnya ketinggian…(hati2 ntar jatuh lho…direinkarnasi nanti)
Sekarang aku akan bukakan sedikit rahasia akan perbedaan Wahyu TUhan dengan Bhisama Kasta/Wangsa yang kamu anggap sebagai Wahyu dari Tuhan juga. Mari kita bandingkan. Tapi tolong jangan erosi dulu, tenangkan pikiran dan baca pelan2 dengan batinmu.
1) Contoh Wahyu langsung dari Tuhan misalnya adalah Gayatri Mantra sbb:
OM Bhur Bvah svah, tat savitur varenyam
bhargo devasya dimahi, diyoyonah pracodayat
artinya:
Ya Tuhan Pencipta tiga loka ini,
Engkaulah sumber segala cahaya,
engkau sumber kehidupan
Pencarkanlah pada budhi nurani ini, SinarMu yang maha suci
2) aku copy paste tulisanmu sebelumnya sbb:
“bhisama Beliau kene nyen Bhisamane pang kamu nawang nah singkat kata intinya saja “wahai engkau keturunnanku wangsa brahmana (Ida Bagus/Ida Ayu) jika engkau tidak ingat pada leluhurmu, wangsamu, swadarmamu, sebagai keturunan Brahmana Wangsa pada saat itu pula wibawamu akan hilang dan AKU akan sangat murka”.
Pada contoh nomor (1), dgn memakai perasaan hatiku, aku dapat merasakan betapa indah dan murninya Wahyu Tuhan tersebut yang dapat menuntun ketulusan hati semua mahkluk dalam berdoa memohon berkat, bimbingan dan perlindungan dari Tuhan utk kebahagiaan dan kemakmuran semua mahkluk dan keberadaanNya. Tidak bisa dilukiskan bagaimana kita bisa bersyukur memiliki Gayatri Mantra tsb. tidak ada ancaman, tidak ada kutukan, tidak ada syarat yang menakutkan!.
Coba bandingkan dgn contoh nomor (2). apakah getaran-getaran emosi yang bisa didapat?. aku bebaskan kamu utk memberi penilaian sesuai dengan tingkatan spiritualmu.
Aduh, lagi kamu membuatku yakin bahwa kamu itu memang bukan Ida Bagus melaikan memang benar2 I belog bahkan keliwat belog. Jangan kamu sembunyi di balik nama IB ( Ida Bagus) itu ya, dan kamu juga mengatakan bahwa Aku merasa derajatKu lebih tinggi disbanding kaum lain? Kau ini ternyata tidak memperhatikan apa yang Aku katakana, kalau memang derajatKu lebih tinggi mengapa Aku harus menyembah RatuKu (Ida Sang Brahmana “Ida Bagus/Ida Ayu”), jangan kamu nebak2. Kamu mengatakan bahwa aku akan berainkarnasi terus menerus sampai kesombonganku hilang.
Aku akan sangat bangga apabila Aku diizinkan untuk renkarnasi kembali, agar Aku bisa menjadi seseorang yang lebih baik dari sekarang, dan meskipun sekarang Aku ini melaksanakan Paramadharma. Apalagi kamu yang belum paham betul dengan pemikiran Ida Sang Hyang Widhi dan Paramadharma.
Dan juga kata-kata yang kau katakana itu sudah sangat sering Aku dengar, namun tidak ada orang yang bisa mengartikannya dengan benar seperti dirimu.
Kamulah yang akan bereinkarnasi supaya kamu tahu bagaimana menjadi manusia yang sebenarnya. Dan jangan aku diajarkan perbedeaan Bhisama dengan Mantram Gayatri, aku sudah lebih dulu tahu perbedaannya Jika Bhisama seperti (Bhisama Ida Dhang Hyang Nirartha) itu untuk keturunan beliau agar ngajegang angga/raga, sedangkan Mantram Gayatri itu untuk sembahyang/mengheningkan pikiran agar tenang. Saya sangat paham betul akan itu, Kamu jek bo sing ngelah kata2 biin do ngangsehang ngalih saih mideh, Bhisama dibandingkan Mantram Gayatri sing jek bo jelas beda sekali.
Dan dari komentarmu itu aku menyimpulkan bahwa kamu itu berfikir Bhisama itu adalah suatu ancaman, kutukan, syarat yang menakutkan. Dan dengan hal itu Aku sangat yakin bahwa kamu tidak sunguh-sunguh untuk menyembah Tuhan, kepada bhisama Ida Bhatara Lelangitpun kamu tidak percaya apalagi dengan Tuhan???
Kalau guruku bilang, sebelum kita menyembah Tuhan hendaknya terlebih dahulu menyembah para Leluhur dan menaati bhisamanya, karena para Leluhurlah yang lebih dekat dengan kita. Dan bukti kamu tidak menaati bhisama Leluhurmu(jika memang kamu benar-benar Ida Bagus), itu berarti kamu ini tidak akan bisa menyembah Tuhan, karena Tuhan tidak akan menerima sembahmu apabila kamu tidak menuruti/menaati bhisama Leluhur. Karena dari sanalah Tuhan(Ida Sang hyang Parama) tahu kalau kamu tidak menaati bhisama Leluhur, itu artinya kamu campah pada leluhur,karena kamu campah terhadap Leluhur maka Tuhan tidak akan menerima persembahanmu.. Bagi orang yang kolot, memprihatinkan, hina,/nista seperti kamu memang patut berfikir seperti itu dan memang patut untuk dikutuk. Kamu tahu manusia lahir kedunia itu ada syaratnya???. Tentu ada. Dan aku menyuruhmu mencari jawaban apa persyaratan manusia lahir ke dunia!!! Jadi dari situlah kamu belajar berfikir yang benar, Bahwa Sang Pencipta juga memberikan syarat pada kita(manusia/mahkluk hidup lainnya).
Satu lagi aku membantah bahkan sangat membantah kata2mu yang mengatakan hormatilah Tuhan yang berada di semua mahkluk, apa kamu yakin Tuhan itu berada pada semua Makhluk apalagi pada binatang??? Jika Yakin, berarti kamu memang sangat2 Belog. Jangankan pada binatang, pada manusia saja belum tentu Tuhan itu ada. Contoh : orang yang sering berbuat jahat, hina/nista, dll apakah didalam dirinya ada Tuhan?. Dan jika memang Tuhan berada di setiap makhluk maka Tuhan juga berada pada binatang. Kalau kamu berfikir seperti itu, berarti di dalam diri anjing, babi, sapi, dsb ada Tuhan, lalu seharusnya kamu menyembah anjing, babi dsb, dan jangan susah2 membuat Sanggah Kemulan/Pemerajan untuk memuja Tuhan, cicing je sembah ditu mo, celeng buin, apa jek soroh-soroh buron sembah suba ditu. Ngudiang buin keweh-keweh ngae Merajan/Sanggah? Koneh di setiap makhluk ada Tuhan, jadi sembah saja semua makhluk2 yang ada di rumahmu itu, jawate cicing ditu nyen, jawate leak, detya , ghandarwa, setan, hantu dan semacamnya, semua itu namanya makhluk. Dan jika memang fikiranmu ada Tuhan pada setiap mahkluk ciptaannya berarti kamu tidak akan memakan daging dan sayur dll ( mahkluk ciptaan Beliau lainnya).
Aduh, lagi kamu membuatku yakin bahwa kamu itu memang bukan Ida Bagus melaikan memang benar2 I belog bahkan keliwat belog. Jangan kamu sembunyi di balik nama IB ( Ida Bagus) itu ya, dan kamu juga mengatakan bahwa Aku merasa derajatKu lebih tinggi disbanding kaum lain? Kau ini ternyata tidak memperhatikan apa yang Aku katakana, kalau memang derajatKu lebih tinggi mengapa Aku harus menyembah RatuKu (Ida Sang Brahmana “Ida Bagus/Ida Ayu”), jangan kamu nebak2. Kamu mengatakan bahwa aku akan berainkarnasi terus menerus sampai kesombonganku hilang.
Aku akan sangat bangga apabila Aku diizinkan untuk renkarnasi kembali, agar Aku bisa menjadi seseorang yang lebih baik dari sekarang, dan meskipun sekarang Aku ini melaksanakan Paramadharma. Apalagi kamu yang belum paham betul dengan pemikiran Ida Sang Hyang Widhi dan Paramadharma.
Dan juga kata-kata yang kau katakana itu sudah sangat sering Aku dengar, namun tidak ada orang yang bisa mengartikannya dengan benar seperti dirimu.
Kamulah yang akan bereinkarnasi supaya kamu tahu bagaimana menjadi manusia yang sebenarnya. Dan jangan aku diajarkan perbedeaan Bhisama dengan Mantram Gayatri, aku sudah lebih dulu tahu perbedaannya Jika Bhisama seperti (Bhisama Ida Dhang Hyang Nirartha) itu untuk keturunan beliau agar ngajegang angga/raga, sedangkan Mantram Gayatri itu untuk sembahyang/mengheningkan pikiran agar tenang. Saya sangat paham betul akan itu, Kamu jek bo sing ngelah kata2 biin do ngangsehang ngalih saih mideh, Bhisama dibandingkan Mantram Gayatri sing jek bo jelas beda sekali.
Dan dari komentarmu itu aku menyimpulkan bahwa kamu itu berfikir Bhisama itu adalah suatu ancaman, kutukan, syarat yang menakutkan. Dan dengan hal itu Aku sangat yakin bahwa kamu tidak sunguh-sunguh untuk menyembah Tuhan, kepada bhisama Ida Bhatara Lelangitpun kamu tidak percaya apalagi dengan Tuhan???
Kalau guruku bilang, sebelum kita menyembah Tuhan hendaknya terlebih dahulu menyembah para Leluhur dan menaati bhisamanya, karena para Leluhurlah yang lebih dekat dengan kita. Dan bukti kamu tidak menaati bhisama Leluhurmu(jika memang kamu benar-benar Ida Bagus), itu berarti kamu ini tidak akan bisa menyembah Tuhan, karena Tuhan tidak akan menerima sembahmu apabila kamu tidak menuruti/menaati bhisama Leluhur. Karena dari sanalah Tuhan(Ida Sang hyang Parama) tahu kalau kamu tidak menaati bhisama Leluhur, itu artinya kamu campah pada leluhur,karena kamu campah terhadap Leluhur maka Tuhan tidak akan menerima persembahanmu.. Bagi orang yang kolot, memprihatinkan, hina,/nista seperti kamu memang patut berfikir seperti itu dan memang patut untuk dikutuk. Kamu tahu manusia lahir kedunia itu ada syaratnya???. Tentu ada. Dan aku menyuruhmu mencari jawaban apa persyaratan manusia lahir ke dunia!!! Jadi dari situlah kamu belajar berfikir yang benar, Bahwa Sang Pencipta juga memberikan syarat pada kita(manusia/mahkluk hidup lainnya).
Satu lagi aku membantah bahkan sangat membantah kata2mu yang mengatakan hormatilah Tuhan yang berada di semua mahkluk, apa kamu yakin Tuhan itu berada pada semua Makhluk apalagi pada binatang??? Jika Yakin, berarti kamu memang sangat2 Belog. Jangankan pada binatang, pada manusia saja belum tentu Tuhan itu ada. Contoh : orang yang sering berbuat jahat, hina/nista, dll apakah didalam dirinya ada Tuhan?. Dan jika memang Tuhan berada di setiap makhluk maka Tuhan juga berada pada binatang. Kalau kamu berfikir seperti itu, berarti di dalam diri anjing, babi, sapi, dsb ada Tuhan, lalu seharusnya kamu menyembah anjing, babi dsb, dan jangan susah2 membuat Sanggah Kemulan/Pemerajan untuk memuja Tuhan, cicing je sembah ditu mo, celeng buin, apa jek soroh-soroh buron sembah suba ditu. Ngudiang buin keweh-keweh ngae Merajan/Sanggah? Koneh di setiap makhluk ada Tuhan, jadi sembah saja semua makhluk2 yang ada di rumahmu itu, jawate cicing ditu nyen, jawate leak, detya , ghandarwa, setan, hantu dan semacamnya, semua itu namanya makhluk. Dan jika memang fikiranmu ada Tuhan pada setiap mahkluk ciptaannya berarti kamu tidak akan memakan daging dan sayur dll ( mahkluk ciptaan Beliau lainnyaa).
Beh, sudah kuduga dari caramu menjawab aku bisa tahu dilevel mana kamu sekarang ini berada, hanya sebatas ini toh “ilmu dan tingkat kesadaranmu”!..jadi menurutku adalah wajar saja.. kenkenan ngomong ajak anak belog ane ngaku duweg care kamune…kalau aku kasi contoh tingkat evolusi jiwa mahkluk, mungkin kamu baru menjelma jadi manusia dari tingkat bawah (alam binatang)…sehingga masih memerlukan kelahiran berulang2 kali sampai bisa kedimensi2 yang lebih tinggi lagi dan lebih memahami kesadaran universal…. (aku tidak mau ceritain tentang ini lagi, karena pastilah diluar jangkauan pikiran dan daya nalarmu )..
namamu yoga tapi kamu mungkin tidak tahu betul artinya…yoga artinya penyatuan antara kesadaran unit dan kesadaran kosmik, kembalinya sang Roh kepada TUHAN…jangan pikir tubuh fisik kamu yang akan bertemu dan bersalaman dgn Tuhan..
sangat disayangkan sekali, bagaimana kamu yang mengaku2 duweg menyangsikan esensi Tuhan yang berada dalam setiap mahkluk hidup?..jika ini peryataan dari kamu sendiri, yah aku bisa maklumi karena kamu baru menjelma jadi manuse,.
oya, mengenai bhisama dan Gayatri Mantram, sebenarnya aku hendak memberikan kamu tuntunan yang sebenarnya dari pernyataan kamu sebelumnya. Kamu bilang Bhisama Wangsa itu adalah wahyu langsung dari Tuhan tapi aku bantah dengan perbandingan fakta. jadi kalo ngomong jangan bisanya membelokkan kalimat (cek lagi moh postingan kamu sebelumnya!)..
sebagai generasi muda apalagi dari kaum Brahmana, kita harus berani ungkapkan kalau ada “ajaran” yg keliru utk diluruskan..jangan takut..hanya kekuatan Tuhanlah yang terbesar tiada bandingnya dan yang kekal abadi, dari sejak dulu, sekarang dan sampai akhir jaman..hanya kepada Tuhanlah kita bisa mendapatkan kebahagiaan yang Sejati..
kupikir sudah smakin nga bermutu dan berbobot lagi diskusi ama kamu yang hanya bisa membolak balik kata-kata utk mencari pembenaran sendiri!!..
@ Belog Jaya : aku yang sebenarnya ngekoh ngorahin nak belog seperti kamu ane ngaku dueg. kamu bilang aku yg membalikkan Fakta, kamu sendiri ane sing bisa ngomong dan otak kamu /IQ mu jongkok bahkan lebih parah lagi, merayap seperti siput. Dan aku tidak perlu tuntunan dari kamu, milu nyen IQ ku merayap seperti kamu, Karena aku sudah tahu/paham betul tentang Tuhan. Suba kudang Peranda kaden aku suba nunas ajah-ajah sik Ida, kanti Ida Bhatara sane ledang micang ajah-ajah sik aku’eee. Ulian tuntunan Ida Bhatara suba sangkale aku bani ngalawan orang-orang cara kamu ne, ane maidep Bhuta Kala beneh. Kan aku sudah bilang/menjawab perbedaan antara Bhisama dengan Mantram Gayatri, kamu sing mengerti? kene be anak otakne bubul sing ngerti ngajak munyi. Ajak memunyi nganginag jek ngauhang lakune. Aduuuuuh,,,, ajan nak otak ne bubul bahkan keliwat bubul sesai anggona megaang otakne, keliwat bubul kanti.
jek legu ngajak ngit bisa kedek melihat/tahu ada manusia yang otakne merayap/bubul. Dan aku berpesan padamu “buktikanlah nanti yang sebenarnya mana yang benar pendapatmu atau perkataanku, semoga kamu masih lama hidup untuk menyaksikan akhir/penghapusan dari Zaman Kali Yuga ini”.
Untuk semua yang masih ada di blog ini
Saya memberi saran lagi kepada anda sekalian, dan saya mohon dimengerti sebaik-baiknya dan disimpan dalam pikiran/otak anda sekalian selama anda masih menjadi manusia di bumi ini. Saya menyarankan kalian di bumi terutama di Bali terdapat banyak Wangsa, bisa dilihat dari Pedharman2 yang ada di Pura terbesar yang ada di Bali yaitu Pura Besakih. Jika kalian masih bersikeras untuk menghilangkan/menghapus kasta/warna/wangsa, saya sudah pernah menyarankan sebelumnya, hapuslah terlebih dahulu kasta/wangsa/warna/sorohan kita jangan mengaku soroh Pasek ini dan Pasek itu, soroh Pande ini/Pande itu dsb. Dengan cara berhebti muspa di kawitan dan Padharman2 yang ada di Pura Besakih, bila perlu buanglah kulit, kawitan/sorohan kita dll itu ke selokan (selokan yang paling dalam/paling nista)pang sing mekita nyemak biin/pang sing mekita ngakuhin biin . Itu yang saya sarankan. Do ngundukang wangsa/soroh/kasta/warna ane lenan, soroh pedidi malu undukang, toh wangsa/kasta/warna yang lainnya bisa berjalan/ngundukang diri sendiri. Ngudiang jek demen sajan berpikir ane ribet, berfikirlah yang semestinya/positif, orang2 seperti kalian yang ingin melenyapkan wangsa/kasta/warna/soroh jek care nak sing nngelah gae. Suksma tyang haturkan kepada kalian semua, mohon dimengerti dan dipahami perkataan saya itu, agar kalian bisa menjadi manusia yang berguna dan yang dikehendaki oleh Tuhan Yang Mahaesa.
ha..ha..ha… sube sing ngidang ngomong ilmiah kamu jani jeg ngabe satua ane nguluk-nguluk…apa bener kamu dapat tuntunan dari Ida Bhatara seperti postingan kamu berikut ”
Suba kudang Peranda kaden aku suba nunas ajah-ajah sik Ida, kanti Ida Bhatara sane ledang micang ajah-ajah sik aku’eee. Ulian tuntunan Ida Bhatara suba sangkale aku bani ngalawan orang-orang cara kamu ne.
hati2 lho dijaman sekarang banyak jin, setan, butha kala ane ngaku2 jadi Ida Bethara bahkan sebagai Tuhan nguluk2 manuse….
nyak gen diuluk2 ha..ha..ha…
@I.B Jaya: Hahahaha sorry gen nah ib aku ngekoh ngomong ajak nak belog cara kamu ne……Yeee aku sing sombong sing nah, aku sebenarnya tidak mau mengatakan itu tapi Ida Bhatara Lelangit suba micang aku ajah-ajah sane patut, Ida suba sane nganikin aku pang bani ngelawan wong cara kamu ne, Ida masih sane micang wewenang sik aku’e yen ada Brahmana utawi warih Ida sane cara kamu ne suba bani nyampahang dewek dadi aku ngalawan, sawireh kawibawan kamune jadi brahmana suba luntur. Yen sajan nyet kamu dot ngilangang Wangsa ngudiang kamu nu ngaku-ngaku keturunan Brahmana, entungang Wangsan kamu malu. Karena restu dari Ida Bhatara Lelangitlah dan restu dari Para Dewa lainnya, agar aku tidak takut melawan orang-orang seperti kalian. Yen sajan kamu nawang Yoga sane sujati, ngudiang kamu sing nyidang menjawab pertanyaan aku ane malunan to, tentang apa artin Paramadharma?
Hanyalah yang sesungguhnya menekuni Yoga”Paramayoga” yang tahu akan arti dari Paramadharma.
Yen ane cara smbatang kamu dimalu to, aku suba malunang nawang, sawireh suba Guru di sekolah aku nyambatang keto. To arti ane lumrah, nak ane masekolah pasti nawang, bahkan anak SD sekalipun tahu…Yen arti Yoga sane sujati, hanya orang-orang yang sudah sungguh-sungguh menjadi Yogin yang sejati, hanya mereka yang tahu arti dari Paramadharma, bahkan di Bhagawad Gita tidak dijelaskan mengenai Paramadharma, karena tidak semua ajaran-ajaran Dharma dan Yoga sepenuhnya ada di sana, dan hanya sebagian yang ada , dan sebagian lagi kau harus mencarinya sendiri.
“hati2 lho dijaman sekarang banyak jin, setan, butha kala ane ngaku2 jadi Ida Bethara bahkan sebagai Tuhan nguluk2 manuse….
nyak gen diuluk2 ha..ha..ha…”
Kamu suba to Bhuta Kala ane nemitis dadi manusa, bahkan jani liu ngaku-ngaku Bhuta Kala dadi Sri Empu da Pandita.
Ida suba sane nganikang liu Bhuta Kala nemitis dadi manusa, nyen jek manusa sane dot ngilangang Wangsa, manusa ane keto suba temitisan Bhuta Kala…….Bahkan Ida Sang Hyang Yama Murti nganikang suba kuda kaden Ida ngamicang danda teken wong-wong ane dot nguwugang utawi ngilangang Wangsa di jagate…
neh kan beneh sube….
ketahuilah, TUHAN MAHA SUCI DAN MAHA SEGALANYA, PENGUASA ALAM SEMESTA, SEMUA MAHLUK DAN SELURUH KEBERADAANNYA…TUHAN tidak memiliki sifat emosi, marah2, mengutuk apalagi nyuruh2 nglawan2…seperti yg kamu bilang dibawah ini:
” Ida Bhatara Lelangit suba micang aku ajah-ajah sane patut, Ida suba sane nganikin aku pang bani ngelawan wong cara kamu ne..”
Knapa nga dari dulu nglawan Penjajah?..haaaiiiyaaaaa hari gini