Sistem Kasta di Hindu

QUESTION:

Saat saya dalam perjalanan dari Malang ke Surabaya, saya sempat ditanya seseorang yang bukan beragama Hindu. Kenapa di Hindu sangat kuat sistem kastanya dan terkesan membeda-bedakan?

Menurut Ida pandita sendiri kesalahpahaman yang mengakar membuat orang lain menjadi terpengaruh bahwa dalam hindu ada pelapisan sosial, yaitu kasta.

Padahal yang saya tahu hal tersebut tidak ada, yang ada hanyalah Ajaran Catur Warna yang terbentuk berdasar guna dan karmanya. Mohon penjelasannya. Terima Kasih Sebelumnya.

ANSWER:

Masalah “kasta” memang menjadi “penyakit” menahun yang tak kunjung sembuh pada beberapa kelompok umat Hindu di Bali. Betul dalam agama Hindu, sistem kasta tidak ada; yang ada sistem warna seperti yang anda katakan.

Namun sejarah telah mengukir jalannya sejak abad ke-14, di mana tatanan masyarakat diubah dari warna ke kasta, untuk menguatkan status quo penguasa ketika itu.

Padahal sebelum abad ke-14, kasta tidak dikenal di Bali/ Jawa. Penjajah Belanda, selama 350 tahun menguatkan sistem kasta karena ini sesuai dengan politik divide et impera – nya.

Namun demikian saya yakin lama-kelamaan sistem kasta akan hilang ditelan jaman, karena umat Hindu di Bali akan semakin terdidik, dan juga karena pengaruh globalisasi.

Misalnya di Buleleng, mayoritas masyarakat tidak menyenangi sistem kasta, dan mereka tidak memperhatikannya. Sistem kasta masih agak kuat di Klungkung, Gianyar, Badung, Tabanan, Karangasem. Itupun sporadis.

Bagaimana kiatnya “memerangi” sistem kasta? Ya, perlakukan orang-orang berkasta itu biasa-biasa saja. Hormati mereka berdasarkan inteligensi dan pengabdiannya kepada masyarakat. Bukan karena titel kebangsawanannya.

Mudah-mudahan berhasil.

385 comments to Sistem Kasta di Hindu

  • 61
    Dharma Putra says:

    Dari sekian banyak komentar yang saya baca di blog ini sebagian besar menentang dengan adanya Wangsa di Bali. Akan tetapi mereka semua menyalah artikannya menjadi kasta. Saya heran dengan pendapat-pendapat seperti mereka. Mengapa sangat bersi keras untuk menghilangkannya, dan saya salut akan saudara Yoga yang berani menentang pendapat-pendapat orang-orang seperti mereka, ya meskipun agak sedikit ganas dan kasar. Tapi saya salut akan keberaniannya menentang orang-orang seperti kalian yang ingin menghilangkan Wangsa. Aku seperti melihat kemurkaan para Dewata yang sedang melawan Wangsa Bhuta Kala, ibarat Dewa yang sedang murka seperti itulah saya melihat saudara Yoga. Saya bukan mendewakan saudara Yoga, akan tetapi keberaniannya seperti amarah dan kemurkaan para Dewata yang sedang menyaksikan umat manusia yang seiring waktu saling menghancurkan….Saya sangat sependapat dengan saudara Yoga meskipun dia sedikit melanggar aturan ketika mengemukakan pendapat. Untuk apa mengatakan hal yang sebenarnya mengenai keadaan para Dewata saat ini?
    Hanya untuk melawan orang-orang bodoh dan dungu seperti IB Jaya. Saya juga mengetahui akan Yoga dan Paramayoga, namun saya tidak berani mengatakannya karena itu merupakan sebuah ajaran agama yang sangat susah untuk dipelajari, apalagi dengan Paramayoga dan juga Paramadharma…Keduanya itu merupakan tingkatan Yoga yang sudah tinggi……Mengenai arti Paramayoga dan Paramadharma aku tidak bisa menjelaskannya, karena sangat sulit untuk dimengerti dan dipahami, apalagi oleh orang-orang dungu yang ingin menghancurkan dan melenyapkan Wangsa.
    Kedua ajaran itu berbeda dengan Yoga pada umumnya, karena berhubungan langsung dengan Ida Sang Hyang Parama. Ajaran ini tidak ada di weda-weda ataupun sastra-sastra lainnya, namun keberadaan Weda dapat menuntunmu ke jalan menuju ajaran ini. Dan itu hanya bisa dilaksanakan oleh orang-orang yang mengerti makna dan isi akan Weda, dan bukan karena menghafal dan juga bukan karena ambisi untuk mempelajarinya, akan tetapi dengan ketulusan dalam mempelajari Weda itu.
    Aku tidak tahu dari mana saudara Yoga tahu akan keberadaan mengenai Paramayoga?, mungkin karena kesungguhannya/ketulusannya mengabdi kepada Wangsa Brahmana(Ida Bagus/Ida Ayu) yang juga melaksanakan Paramayoga.
    Mengenai @IB Jaya, apakah kamu hanya menyontek mengenai kesimpulan dan arti dari Yoga?
    Karena yang kamu katakan itu sudah aku tahu sejak SD, karena guru agamaku menerangkannya kepadaku. Bahkan banyak buku-buku yang juga memuat yoga seperti yang kamu katakan. Dan jujur saja itu sudah umum di masyarakat, dan saya tidak heran apabila kamu menyatakan yoga seperti itu. Yang saya herankan hanya saudara Yoga yang tahu akan keberadaan Paramadharma?. Jujur pikiran seperti itu tidak akan bisa ada kalau tidak melaksanakannya.
    Mengapa kamu @IB Jaya tidak mengaku saja kalau kamu itu tidak tahu akan arti dari Paramadharma seperti yang dilakukan oleh @De Oka? dan mengapa masih saja mengelak-ngelak dengan mengatakan arti yyoga secara umum yang sudah diketahui oleh banyak orang?
    Apalagi dengan mengatakan bahwa saudara Yoga temitisan binatang?
    Kalau memang benar saudara Yoga temitisan binatang, dia tidak akan tahu mengenai Yoga dan Paramadharma.
    Apabila kamu @IB Jaya merasa dikalahkan/dihalangi oleh saudara Yoga dan tidak suka akan sikapnya yang memang kasar dan sedikit keceplosan dan juga iri, kamu tidak akan mengatakan hal semacam itu.
    Dan juga jika kamu mengelak pernyataanku ini dengan mengatakan bahwa saudara Yoga juga seperti itu karena telah mengejek Bhagawan Dwija dan yang lainnya. Saya rasa itu berbeda jauh, memang sama-sama mengejek, akan tetapi saudara Yoga mengejek karena memang benar keberadaannya seperti itu. Bahkan juga para Dewata juga demikian, akan tetapi beliau belum sepenuhnya memperlihatkan kemurkaannya kepada umat manusia.
    Hmmmmmmmmmmmm……saya sangat salut dengan saudara Yoga, karena tidak merasa takut melawan orang-orang yang salah berfikir dan bertindak…meskipun nyawa menjadi ancaman.
    Jujur saja seperti yang pernah dikatakan oleh saudara Yoga “Dan kau juga bilang bahwa yang melajah ilmu kakiwa(pangleakan) mereka harus membunuh 108 orang Triwangsa agar bisa mendapatkan kekuatan….Hahaha sejujurnya orang-orang yang ingin melenyapkan Wangsa tidak ada bedanya dengan orang-orang yang mempelajari ilmu pangiwa(pangleakan)….Hahahahahaha :D
    Karena yang mempelajari ilmu pangleakan ingin membunuh banyak orang dan juga membunuh orang-orang yang tergolong Triwangsa dan juga ingin memusnahkan/melenyapkannya Wangsa …Karena orang-orang seperti itu merasa sudah regep akan ilmunya, jadi dia fikir tak akan ada yang berani melawan….Hahahahahahahahaha :D”
    memang kenyataannya seperti itu, dari sekian orang-orang yang saya selidiki, hanya orang-orang yang merasa regep akan sabuk dan ilmu pangleakannya, dan juga orang-orang temitisan Detya, Bhuta Kala dan soroh Denawa lainnya yang sangat berambisi melenyapkan Wangsa, ukuran sing ada nak bani ngelawan keto mara isin kenehne….Akan tetapi orang-orang yang betul-betul mengabdi kepada Tuhan tidak ada berfikiran semacam itu, apalagi untuk menghilangkan Wangsa.
    Jujur saya juga ragu apakah kamu benar-benar Ida Bagus @IB Jaya?
    Kalau memang benar kamu Ida Bagus berarti memang betul seperti yang dikatakan oleh saudara Yoga. Karena dari sekian Wangsa brahmana(Ida Bagus/Ida Ayu) yang saya jumapi tidak ada seperti kamu, akan tetapi yang muda-muda memang kebanyakan tidak tahu dan tidak mengerti, akan tetapi banyak juga yang tahu dan masih mengerti. Do nyen mara cenik bani nyampahang?????? Mara cerik kadene sing nawang bebengeng cara kamu’e @IB Jaya.
    Karena kebanyakan teman-teman adik saya itu nyempahang Wangsa ane tegehan terutama Wangsa Brahmana, namun saya menyuruh agar adik saya tidak ikut-ikutan nyampahang Wangsa sane tegehan, nak man phalane nyen yen bani-bani ngawag-ngawag.
    Hanya sekian dari saya,,,Suksma….ngekoh suba ngomong lantang-lantang ajak nak ane sing ngerti!!!! :P

  • 62
    Yoga says:

    @IB Jaya: aduh kene nak belog….mapi-mapi ririh mara nawang tah bedik……kene suba sing ngelaksanang Yoga sane sujati?????
    Ida Sang Hyang Parama memang tidak murka, kalau beliau betul-betul murka dunia kan hancur seperti pada mitos tarian Sivanataraja. Namun beliau mengutus para Dewata untuk mengajarkan yang benar dan dengan cara yang agak sedikit keras, seperti Guru di sekolah apabila muridnya tueell pasti dimarah begitupun juga dengan para Dewata. Yen umat manusia’e to tueel beliau akan murka….Akan tetapi nunggu tanggal mainnya aja!!!!!!
    Weeeee belog yang hidup sing nen di zaman penjajahan, yen sajan yang hidup pas zaman penjajahan jek yang ngelawan penjajah’e to!!!!
    Aruuuuh kene maidep Detya, lan temitisan cicing berung ane rabiesan…Kene suba cara cicing rabies, yang memeliharapun diserang, seperti dirimu yang berani membantah Ida Bhatara Lelangit/Ida Bhatara Dang Hyang Nirartha.
    @Dharma Putra: Saya sangat berterima kasih dengan pendapat Saudara……….Hahahahahaha maaf saja kalau saya keceplosan mengenai keadaan para Dewata saat ini. Memang seperti yang dikatakan Guru saya dan juga Beliau yang mengatakan tidak hanya saya seorang diri yang melaksanakannya dan juga Ratu-ratu saya Ida Sang Brahmana yang saya sungsung, namun masih ada lagi….Hehehehe terima kasih ya saudara @Dharma Putra :D…Sekali lagi maaf kalau keceplosan hehehehe :D…Suksma

  • 63
    IB Jaya says:

    yah sudahlah, males ngomong ajak jelme munafik….dibi ngorahang Ida Betharane marah2, ngancam2…jani ngorahan tidak murka…ken saje ane beneh??? yen saja Ida Batharane ngancam2, ngudiang Bali bisa kene Bom 1 & Bom 2???..jangan2 karena banyak terjadi penyelewengan pelaksanaan ajaran diagama HIndu…salah satunya, ah males bein ngomong….nanti Ida Betharanya si yoga murka lagi…

    satu lagi yoga, kalo misalnya Ida Betharanya sudah mencapai tingkatan moksa (penyatuan dgn TUHAN), apakah kira2 Beliau masih punya emosi dan murka??

    utk dharma putra, ya baguslah komentarnya…yang lebih sopan ..aku sedikit komentar bahwa janganlah terlalu merahasiakan bahkan mendewakan ajaran ParamaDharma karena sesungguhnya diluaran kita sudah banyak “jalan tol” yang disediakan TUHAN..untuk membimbing umatnya akan tujuan hidup yang sejati…lebih praktis dan maknyos!! jutaan orang sudah dapat merasakan dan terhubung lebih dekat dgn TUHAN..tahukan kamu apa kuncinya??

    • 63.1
      De'Oka says:

      om Suastiastu

      Perbedaan pendapat itu biasa dalam diskusi.
      Tuhan itu ngga bisa dibuktikan secara empiris/ilmiah
      kalau bisa tentu ngga ada banyak agama.

      yang dipakai acuan oleh umat hindu adalah tri pramana.
      jadi kesimpulan sesorang dengan orang lain bisa berbeda2
      dengan tri pramana nya masing masing.

      so what gitu loh….
      di era demokrasi berbeda pendapat itu boleh….
      de pusing…santai gen…stres nyanan…..
      tanah bali ne strategis be nak uli joh2 ngelahang…

      lama2 wangsa to kel transmigrasi ke sulawesi…..

      just intermeso ratu idadane sareng sami.
      Om santih santih Santih Om

      • Dharma Putra says:

        @De Oka: Hmmm pendapat anda sangat tepat, perbedaan pendapat memang ada, karena manusia itu tidak sama meskipun dihadapan Tuhan. Karena manusia memiliki banyak perbedaan salah satunya adalah Wangsa.
        Tuhan memang tidak bisa disimpulkan secara empiris, namun di sisi lain kamu bisa membuktikannya secara empiris. Namun di sisi mana itu, aku tidak akan menyatakannya!!!
        Karena kita sedang tidak berada di dunia yang nyata.
        Berbeda agama namun satu tujuan, berbeda Wangsa bukan berarti menindas, akan tetapi perbedaan Wangsa adalah sebuah warna-warni kehidupan di dunia ini. Seperti halnya bunga kembang sepatu yang tidak hanya memiliki satu warna namun berbagai macam warna dan warna-warna itu tidak bisa dirubah saat itu pula. Sebagai contoh apabila bunga itu berwarna merah dari sebelum bunga itu kembang, apakah warna merah dari bunga itu bisa dirubah?. Begitupun dengan Wangsa, apabila dari lahir dan turun temurun ber-Wangsa Brahmana, Ksatrya, Waisya maupun Sudra, selama masih hidup di dunia fana ini Wangsa itu tidak bisa berubah dan diubah. Apabila ada seseorang yang ingin merubah Wangsa itu sebenarnya dia hanyalah seorang yang dungu dan bodoh.
        Seperti itulah yang disabdakan beliau kepada diriku yang hanyalah manusia biasa yang masih terikat akan unsur-unsur awidya, namun Beliau selalu mengajarkan aku akan Paramadharma yang bisa menuntunku menuju Beliau secara langsung dan bukanlah sebuah ilusi belaka. Tak ada manusia”di zaman sekarang” yang bisa total melepaskan dirinya dari unsur-unsur awidya meskipun telah mendalami betul ajaran dharma.
        @IB Jaya: Saya kopi saja ya perkataanmu “yah sudahlah, males ngomong ajak jelme munafik….dibi ngorahang Ida Betharane marah2, ngancam2…jani ngorahan tidak murka…ken saje ane beneh??? yen saja Ida Batharane ngancam2, ngudiang Bali bisa kene Bom 1 & Bom 2???..jangan2 karena banyak terjadi penyelewengan pelaksanaan ajaran diagama HIndu…salah satunya, ah males bein ngomong….nanti Ida Betharanya si yoga murka lagi…
        Apa kamu ini tidak bisa berfikir????
        Inilah yang mencirikan bahwa kamu itu bodoh, tidak mengerti akan perkataan saudara Yoga.
        Saudara Yoga kan menyatakan “Ida Sang Hyang Parama memang tidak murka, kalau beliau betul-betul murka dunia kan hancur seperti pada mitos tarian Sivanataraja. Nnamun beliau mengutus para Dewata untuk mengajarkan yang benar dan dengan cara yang agak sedikit keras, seperti Guru di sekolah apabila muridnya tueell pasti dimarah begitupun juga dengan para Dewata. Yen umat manusia’e to tueel beliau akan murka….Aka tetapi nunggu tanggal mainnya aja!!!!!!
        Bacalah sekali lagi dengan teliti komentar dari saudara Yoga, perhatikan kata kata ini”amun beliau mengutus para Dewata untuk mengajarkan yang benar dan dengan cara yang agak sedikit keras, seperti Guru di sekolah apabila muridnya tueell pasti dimarah begitupun juga dengan para Dewata. Yen umat manusia’e to tueel beliau akan murka.”
        Apakah kamu ini tidak bisa membaca?????
        Para Dewata, jujur beliau murka karena manusia saat ini kebanyakan tidak mengerti akan dharma. Seperti kejadian Bom Bali yang kamu katakan itu, kamu bertanya kalau Tuhan murka mengapa Bali bisa terkena Bom??
        Itu dikarenakan tingkah laku manusia yang kebanyakan tidak baik, contohnya seperti kamu yang tidak bisa berfikir luas. Para Dewata justru membiarkan kejadian tersebut agar umat manusia di Bali bisa berfikir dengan jernih, mengapa kejadian seperti itu bisa terjadi????
        Apakah para Dewata telah mati??…Tidak, namun karena umat manusialah yang seiring waktu sedikit yang melaksanakan dharma yang sejati.
        Jujur beliau saat ini masih murka, akan tetapi belum menunjukkannya kepada umat manusia. Hanya tinggal menunggu tanggal mainnya saja…!
        “tk dharma putra, ya baguslah komentarnya…yang lebih sopan ..aku sedikit komentar bahwa janganlah terlalu merahasiakan bahkan mendewakan ajaran ParamaDharma karena sesungguhnya diluaran kita sudah banyak “jalan tol” yang disediakan TUHAN..untuk membimbing umatnya akan tujuan hidup yang sejati…lebih praktis dan maknyos!! jutaan orang sudah dapat merasakan dan terhubung lebih dekat dgn TUHAN..tahukan kamu apa kuncinya??”
        Untuk komentarmu yang ini, kamu terlihat sangat bodoh, ajaran Paramadharma memang pantas didewakan, karena ajaran itu diajarkan oleh Para Dewata kepadaku. Namun aku tidak akan mengatakan arti dari paramadharma. Memang banyak jalan tol yang menghubungkan langsung dengan Ida, akan tetapi seperti halnya jalan tol yang banyak terjadi kecelakaan karena kendaraan terlalu cepat melaju. Seperti itulah ajaran-ajaran yang kamu sebut sebagai jalan tol yang menghubungkan langsung dengan Ida, tapi sesungguhnya jalan tol itu bukan jalan yang sebenarnya. Karena dalam menjalani ajaran-ajaran dharma yang sejati tidaklah seperti jalan tol, haruslah selangkah demi selangkah melalui banyak rintangan untuk mencapai dharma dan tujuan sejati.
        Dan kunci agar bisa langsung terhubung dengan beliau”Ida Sang Hyang Parama” hanyalah ketulusan, kesunguhan hati, tekad yang kuat, keheningan, dan pikiran yang suci dalam mempelajari dan menerapkan ajaran-ajaran agama dan dharma.
        Beliaulah yang mengatakan padaku agar jangan terlalu kageson-geson dalam mempelajari dharma, beliau mengatakan untuk dapat sungguh-sungguh menemui beliau haruslah selangkah demi selangkah tidak seperti jalan tol.
        Apabila dalam mempelajari ajaran-ajaran itu diikuti dengan ambisi, dan ingin cepat-cepat menemukanNya maka disitulah kau tidak akan mendapatkan dharma yang sejati hanyalah sebuah ilusi yang akan kau dapat meskipun ilusi itu terasa benar dan nyata, seperti jalan tol yang kamu bilang.
        Dan satu lagi ya saudara Yoga itu tidak munafik, justru kamulah yang munafik. Beliau juga yang langsung bersabda kepadaku kalau ada orang lain yang mengerti akan Paramadharma dan Paramayoga maka orang itu juga mengetahui akan keberadaan diri-Ku yang sebenarnya, Aku adalah yang utama dari segalanya yang bersifat fana, ilusi, dan duniawi maupun yang bersifat hening, tenang, suci, dan abadi juga yang bersifat kosong maupun berisi. Karena Akulah Dharma itu dan Dharma itu adalah Aku. Hanya sampai di sana saja aku bisa mengatakannya pada orang yang bodoh seperti kamu dan juga yang lainnya dan siapa beliau sesungguhnya aku tidak bisa mengatakannya karena beliau mengajarkan aku untuk tidak mengatakan siapa beliau sebenarnya dan biarlah manusia-manusia yang belum mengetahui siapa Beliau yang mencari tau sendiri siapa beliau, namun orang hanya tahu beliau itu Tuhan, akan tetapi siapa itu Tuhan tidak ada yang tahu. Hanyalah mereka yang melaksanakan Paramayoga dan Paramadharma yang mengetahui siapa beliau. Sekian dari saya suksma

        • De'Oka says:

          om suastiastu

          @dharma putra, menurut saudara konsep wangsa itu turun temurun.
          bagaimana pendapat anda tentang maha gotra pasek sanak sapta Rsi. apa wangsanya mereka???

          dari sudup pandang anda apakah keturunan Mpu Gni Jaya perlu memasang titel wangsa???

          apakah anda tahu kalau Dhang Hyang Dwijendra itu “junior’ jauh di bawah Mpu Bharada?

          apakah anda tahu bahwa Mpu Bharada dan Mpu Gni Jaya itu Beraudara?

          apa kriteria sebuah wangsa???
          apakah anda tahu siapa lagi leluhurnya sang panca tirta??

          apakah anda pernah dengar tentang Hyang Pasupati??

          apakah anda tahu siapa yang dipuja di sad kahyangan di bali???

          saya yakin Ida bhagawan Dwija sudah mempertimbangkan semua ini sebelum meluruskan konsep wangsa ini…

          • Yoga says:

            @De Oka: Hahahahaha….anak bodoh memang selalu bodoh dan akan tetap bodoh walaupun kamu anak kuliahan. Saya tau cerita mengenai sanak sapta Rsi, tapi mengapa yang kau katakan itu beda…Di sejarah-sejarah yang lain saya membaca kalau Maharsi Bradah adalah putra dari Mpu Gni Jaya, tapi kok disini kamu bilang bersaudara?? Kok beda ya, tapi sebenarnya sih nggak kayak gitu ceritanya. Saya tahu betul siapa Maharsi Bradah beliau adalah Ratu Buyut dari Ida Dang Hyang Nirartha dan Ida Dang Hyang Angsokanatha yang adalah Leluhur Ida Sang Brahmana(Ida Bagus/Ida Ayu) dan saya tahu betul juga siapa Ayahanda dari Ida Maharsi Bradah akan tetapi Aku tidak berani mengatakan nama Beliau karena tidak ada yang mengetahui pasti siapa beliau dan yang mengetahuinya hanyalah aku Ratuku yang melaksanakn Paramayoga. Dan nama beliau bukan Mpu Gni Jaya, kalau memang dari dulu pasek itu keturunan leluhur-leluhur dari Brahmana mengapa tidak dari dulu Wangsanya Brahmana mengapa baru sekarang mengaku-ngaku?. Apakah karena baru ditemukan prasasti, lontar-lontar atau juga yang baru dibuat-buat hanya untuk meyakinkan bahwa pasek itu keturunan dari Leluhur Wangsa Brahmana, semua nama-nama Mpu/Maharsi yang ada dalam lontar-lontar, prasasti yang asli semua itu memang benar. Akan tetapi Keturunan beliau semua sudah menyatu dan berbaur dengan keturunan Ida Maharsi Asmaranatha yang adalah Ayahanda dari Ida Dang Hyang Nirartha dan Ida Dang Hyang Angsokanatha, dan keturunan beliau tidak ada yang bernama pasek/pande. Bukankah Aku sudah pernah mengatakan kengken sulure pasek/pande dadi madwijati/madiksa!, yen sing ulian ngemaling ajah-ajah utawi nguluk-nguluk Ida Peranda, nyidang sing ye jani madan diksa utawi sulinggih.
            @Dharma Putra: jangan mengomentari lagi ya, biar saya saja yang melawan mereka, anda tetaplah melaksanakan Paramayoga. Untuk mereka-mereka yang tak tahu bebengeng ini biarlah saya yang melawan.

          • made bagas says:

            untuk De Oka, saya mohon kepada anda jangan membuat malu keluarga saya (pasek)kalau anda tahu sedikit tetang sejarah jangan coba2 untuk bicara, apalagi berbicara di internet, malu saya jadinya sebab akan banyak yang menertawakan. Saya sudah pernah mengatakan, apakah ini tujuan kita (keluarga Pasek) mengaku-ngaku salah satu keturunan dari leluhur wangsa Brahmana untuk mendapatkan posisi seperti keturunan Beliau yang sebenarnya.
            Dengan cara mengatakan baru mendapatkan lelintihan/prasasti dan ingin menghapus/melenyapkan keturunan wangsa Brahmana yang asli. Aduuuuuh!!! saya sangat malu dan kecewa sekali jika memang itu tujuannya. Dan saya sudah sarankan sebelumnya bahkan sudah lebih dari sekali, jika memang masih bersikeras menghilangkan wangsa/warna/kasta di Pulau Bali yang kita cintai ini, hapus/buang/hancurkanlah sorohan/wangsa/kasta/warna/Phadarman2/yang berhubungan dengan kawitan kita terlebih dahulu dan jangan mengaku-ngaku leluhur kita adalah Mpu Gni Jaya. Jangan menyuruh wangsa/sorohan yang lain dulu untuk dilenyapkan/dihapus, Hapus/lenyapkanlah terlebih dahulu wangsa/sorohan kita dengan cara yang saya sarankan. Bedikan nyemak gae kadena sing ngelah gae lenan nyen, berfikirlah yang waras seperti saya, sekian dan terima kasih semoga anda mencermati betul perkataan saya ini dan selalu diingat dalam pikiran anda. Suksma

  • 64
    made bagas says:

    Untuk IB. Jaya, Saya yang menjawab pertanyaan anda ya! Walaupun Bhatara itu menyatu dengan Tuhan pastilah Beliau bisa murka, mengapa saya berpendapat seperti itu? Tentunya banyak contohnya antara lain : bencana alam yang ada di dunia ini seperti tsunami di Jepang, Cina, dan Negara2 maju lainnya bahkan pernah terjadi di Indonesia tepatnya di Sumatra. Apakah itu bukan kemurkaan dari TUHAN? Apakah itu kemurkaan dari kakek anda?
    Karena beliau mungkin sudah enggan melihat tingkah laku kita (manusia) yang mempunyai keinginan sangat serakah dan tidak melestarikan yang patut dilestarikan/ tidak mengindahkan anugrah Beliau.
    Saya bertanya kepada anda, mengapa Negara2 maju dalam segala bidang (IPTEK) diberikan bencana yang bisa dikategorikan amat besar oleh TUHAN? Jadi dari sanalah saya mempunyai kesimpulan bahwa Beliau tidak menginginkan suatu perubahan di dunia ini sebelum Beliau yang mengkehendakinya, walaupun manusia menginginkan suatu perubahan dari zaman ke zaman/ untuk masa depan anak cucu kita selanjutnya.
    Jadi saya sarankan ingatlah bahwa manusia memang bisa/mampu merencanakan tetapi tidak bisa menentukan, yang hanya bisa/mampu menentukan pastinya adalah TUHAN. Oleh karena itu janganlah kalian berusaha untuk membuat perubahan yang berakibat buruk di dunia ini/alam semesta karena dapat merugikan kita semua (mahkluk hidup). Apakah anda tidak pernah diajarkan seperti itu oleh guru anda sewaktu anda mengenyam pendidikan? Janganlah anda seperti orang buta, tuli dan bisu sampai2 anda tidak tahu hal yang umum seperti itu. Saya mohon maaf, jangan2 anda memang tuli dan bisu?
    Dan saya menambahkan sedikit ya, memang TUHAN memberikan banyak sekali jalan pada kita untuk mencapai kesempurnaan lahir dan batin. Semua orang sudah pasti tahu akan hal itu!. Tetapi kesempurnaan seperti itu tidaklah mudah untuk dicapai, tergantung dari kesungguhan/ketekunan/keikhlasan kita sebagai umat beragama yang menjalaninya dan tidak sembarang jalan bisa kita lewati seenaknya/kita pakai, tergantung dari anugrahNYA. Artinya jika kita menjalankan/mengajarkan Dharma hanya sebagai kedok untuk berbuat Adharma, Amoral, memprofokasi seseorang dll, tidak akan mungkin mencapai kesempurnaan lahir dan batin (moksa). Semoga anda2/saudara2 yang membaca tulisan/komentar saya ini bisa berfikir yang semestinya/dikehendaki oleh TUHAN YANG MAHAESA, supaya bisa menjadi manusia yang lebih berguna untuk selanjutnya, oleh karena itu cermatilah dengan baik membaca pernyataan saya ini agar tidak keliru. Suksma

  • 65
    IB Jaya says:

    beh..beh…jadi semakin seru nih diskusi masalah “kulit” …komentarnya dharma putra liu sajane..apa sing masuk sekolah kamu gus??

    komentar kamu yang membuat hatiku miris adalah sbb :

    Hanyalah mereka yang melaksanakan Paramayoga dan Paramadharma yang mengetahui siapa beliau.

    beh sombong sajan kamu!..emang kamu aja ane ngelah TUHAN?..aku dah bilang, diluar kita jutaan umat dari berbagai bangsa (tentunya di Bali juga) sudah dapat terhubung langsung dgn TUHAN ..apa artinya ini?..mereka toh tidak tahu/tidak mengenal tentang ajaran yang kamu sakralkan dan engkeb2ang itu..
    mereka tidak sesombong dan menyombongkan dirinya ….mereka itu bak ilmu padi, smakin berisi semakin merunduk… jadi tolong buka mata buka telinga, jangan menepuk dada sendiri….!

    jujur aku mau ngomong sekarang, walaupun aku dari golongan Brahmana, prinsip hidupku adalah keseimbangan, aku membenci jika melihat kesombongan dan keangkuhan dari sesama HIndu. Di Griya aku terkenal pemberontak karena falsafah hidupku adalah ingin menjadi alat dan pelayan TUHAN dgn keseimbangan. Seperti matahari, yang menyinari semua mahluk dan seluruh keberadaanNYA tanpa pilih kasih..semua diterangi dgn cahayanya…apakah kamu dapat menyadari hakekat ini?

    made bagas, kamu dari kampung apa dari kota sih…koq tidak mau melihat ada perubahan zaman. ingat yang kekal itu perubahan…justru bagaimana kita dengan bijaksana menerima dan mengolah perubahan disemua aspek tersebut untuk kebaikan kehidupan kita . kita tidak bisa menutup diri dari perubahan itu sendiri…kamu pernah mendengar AFTA dll?..sebentar lagi Indonesia termasuk Bali akan dibanjiri oleh tenaga kerja dari luar negeri terkait agreement pemerintah…mau siap dgn perubahan apa tidak?..

    satu lagu kamu bilang terjadinya bencana alam karena TUHAN murka??..waduh ini benar2 salah kaprah….dan menjadikan TUHAN sebagai kambing hitam….coba aku tanya, ada hujan karena apa?..terus ada banjir/tanah longsor karena apa?…apa TUHAN yang menebang pohon2 pelindung sehingga terjadi tanah longsor dsb?…banyak belajar IPA ya..

    rasa-rasanya komentar dharma putra, yoga dan made bagas koq sama yah motifnya…jangan2 kamu ini lagi ngibul…

    • 65.1
      De'Oka says:

      Om Suastiastu

      kesenjangan pengetahuan dan pengalaman akan membuat kesimpulan seseorang atas suatu perkara akan berbeda. termasuk juga cara cara menyampaikan pendapat.

      Ini web Bhagawan Dwija yang saya hormati
      semoga menjadi media forum intelektual hindu…

      @admin… mohon etika bloging, posting dan beracara ditegakkan.
      ini menyangkut nama baik umat hindu juga.

      @IB jaya. saya apresiasi pendapat anda. pendapat anda cenderung mencerminkan nilai nilai agama… ada kebijaksanaan disana.

      @yoga, dan made bagas, saya tidak mempermasalahkan opini anda.. tapi tolong disampaikan dengan cara cara yang lebih elegan…tata bahasa yang baik… terlepas dari strata yang anda yakini… di negeri ini warga negara berkedudukan sama di mata hukum dan pemerintahan. sangat tidak etis jika anda mengumpat orang dengan kata kata bodoh, tuel dll.. dimana di satu sisi anda sangat mendewakan ajaran parama dharma dan paramayoga…

      Matur suksma
      mohom maaf jika kata kata saya kurang berkenan
      Om santih Santih santih Om

    • 65.2
      made bagas says:

      untuk IB. jaya : sekarang saya yakin anda itu kurang berpendidikan, dan ternyata sama setelah saya membaca komentarmu yang lain/sebelumnya memang benar kamu itu tidak bisa membaca/mencermati kata-kata orang lain/saya. Anda bilang perubahan itu kekal, sudah jelas perubahan itu bisa berubah-ubah engkenang madan kekal!

      Dan ingat hukum sebab akibat dalam ajaran agama (HINDU), contoh : karena/sebab manusia berulah yang buruk seperti menebang pohon sembarangan akibatnya terjadi bencana tanah longsor dan banjir, Siapa yang memberikan manusia itu akibat?

      Dan ingatlah adanya hukum Karma Phala, jika anda merasa berpendidikan pastinya anda tahu apa yang dimaksud hukum karma phala itu. Memang terjadinya hujan, terjadinya gempa dan bencana lainnya bisa diprediksi oleh manusia (ilmuwan), tetapi tidak terlepas dari campur tangan TUHAN YANG MAHAESA. Mengapa saya mengatakan seperti itu? ingat kata2 saya sebelumnya yaitu manusia memang bisa/mampu untuk merencanakan tetapi tidak mampu untuk menentukan, yang bisa/mampu menentukan adalah Tuhan Yang Mahaesa, “kaden keto saya katakan”

      Sekarang ada buktinya, musim hujan terjadi di Indonesia dari bulan Oktober-April sedangkan musim kemarau terjadi dari pertengahan April-September itu prediksi dari manusia/ilmuwan (BMKG). sekarang teori itu sangat menyimpang sekali, karena pada waktu bulan/musim penghujan yang diprediksi oleh manusia ternyata bisa tidak turun hujan dan pada waktu Bulan/musim kemarau ternya bisa turun hujan yang sangat lebat, mengapa bisa terjadi seperti itu? Kalau bukan karena campur tangan Yang Maha Kuasa apakah bisa terjadi seperti itu? mohon camkan baik2.

      Dan berfikirlah seperti syair yang dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade yaitu Apakah Tuhan mulai enggan melihat tingkah kita yang selalu bangga terhadap dosa2. Apakah kamu pernah mendengar lagu itu? dari lagu itulah saya mulai mempunyai fikiran seperti syair pada lagu yang dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade tersebut. Dan saya anjurkan padamu, bertanyalah pada beliau mengapa beliau bisa membuat syair seperti itu?. Jadi beliau percaya karena adanya bencana di dunia ini tidak terlepas dari campur tangan Tuhan Yang Mahaesa karena melihat ulah manusia yang serakah dan bangga terhadap dosa2nya.

      Jadi saya simpulkan kamu itu IB. Jaya dari komentarmu itu, kamu tidak percaya dengan adanya TUHAN. Dan jangan mengelak lagi dengan cara yang tolol. Kamu boleh seenaknya ingin membuat/merencanakan perubahan kengken je keneh kamu dadi, tetapi ingatlah kata2 saya diatas yang menyatakan bahwa manusia memang mampu untuk merencanakan tetapi….. dst. Dan kamu mengatakan menjadi pemberontak di Gryamu, dari komentarmu sebelumnya yang saya baca kamu tidak pernah dididik menjadi seseorang/sesana/bertingkah laku layaknya keturunan Brahmana, mengapa sekarang kamu katakan kamu menjadi pemberontak di Gryamu itu. Sudah jelas kamu itu tidak tetap pendirian, apa mungkin kamu itu pembohong besar karena dilihat dari kata2mu sebelumnya banyak yang menyimpang dan tidak pada jalur yang sebenarnya. Dan saya tidak mengibul, mungkin kamu yang ngibul dengan mengaku-ngaku keturunan Brahmana padahal kamu itu sebenarnya bukan dari keturunan Brahmana, dan motifmu sama dengan De Oka, Bhagawan dll (yang ingin melenyapkan kasta/wangsa/warna yang ada di Bali), kan sudah saya sarankan jika memang bersikeras untuk menghilangkan kasta/warna/wangsa hapus dulu wangsa kita/wangsa sendiri dengan jangan mengaku-ngaku keturunan pasek ini dan pasek itu, bila perlu buang semua yang berhubungan dengan kawitan kita ke selokan yang paling dalam, jangan mengurus atau menghiraukan wangsa/soroh lain uruslah diri sendiri, pang sing care babakan pule pekidihang ade anggon diri sendiri sing ade. Tolong ya lain kali bacalah komentar/pendapat seseorang itu dengan cermat supaya tidak salah tafsir. Nanti malu ditertawakan banyak orang. suksma.

    • 65.3
      wayan sudarma says:

      apakah tuhan membedakan manusia menurut kastanya atau apakah ada jaminan kasta tertentu mendapat tempat tertinggi atau lebih tinggi dari kasta lainnya?

      • Dharma Putra says:

        @Wayan Sudarma: Maaf disini anda salah sedikit pengertian mengenai kasta dan wangsa. Kasta itu berbeda dengan wangsa seperti yang dikatakan yoga. Tuhan memang membedakan manusia menurut wangsanya, namun beliau membedakan manusia bukan berarti melecehkan atau merendahkan. Hanya saja beliau membedakan manusia agar manusia itu bisa belajar dari perbedaannya dan memang benar ada jaminan wangsa tertentu mendapat tempat tinggi apabila dia melaksanakan swadharmanya masing-masing dan tidak boleh melanggar ataupun menyimpang dari swadharmanya. Bagaimana seharusnya swadharma sebagai seorang Brahmana, Ksatrya, Arya, ataupun Sudra. Dan apabila tidak melaksanakan swdharma masing-masing maka wangsa itu tidak ada artinya. Sebelum mengomentari komentar saya hendaknya dimengerti terlebih dahulu apa maksud dari komentar saya!. Mohon maaf apabila ada kesalahan kata. Suksma

        • wayan sudarma says:

          nggih tiang memang agak bingung masalah catur warna atau wangsa atau masalah kasta dalam hindu bali mungkin karena pengetahuan tiang kurang tentang agama hindu bali dan sudah bercampur dengan kepercayaan dari agama lain, menurut tiang pribadi semua orang dari kasta mana saja dia di lahirkan bisa mendapat tempat tertinggi maupun terendah dalam tuhan dan menurut tiang tuhan tidak membedakan dari kasta mana orang itu lahir. menurut tiang semua golonga kasta tinggi atau rendah juga bisa sama sama sakit atau cacat ataupun sehat, sedih atau senang, sial ataupu berintung, bisa jahat atau baik, bisa bijak atau bodoh, bisa tulus atau pamrihan, atau sama sama bahagia atau menderita, menurut tiang pribadi pengkastaan atau tingkatan sosial juga ada di negara maju bahkan paling maju pun seperti penghrmatan turun tumurn menurut kelahiran keluarga raja di inggris atau kerajaan lainnya menurut kelahiran nya tapi bedanya di sana penghormatanya tidak membawa bawa agama hanya sebatas penghormatan rakyat pada penguasa atau pemerintah, tiang mohon maaf klo ada kesalahan dalam komentar tiang,

          • Dharma Putra says:

            @Wayan Sudarma: pendapat anda hampir mengena dengan maksud saya. Dan saya sangat berterima kasih karena makna yang saya maksud memang hampir betul demikian. Bagi beberapa orang TUHAN tidak memandang dari wangsa mana orang tersebut apabila orang melaksanakan kewajibannya dan swadarmanya dengan baik dan tidak menyeleweng ataupun keluar jalur dari swdarmanya. Sebagai contoh ada seorang dari Wangsa Sudra sangat setia mengabdi kepada Wangsa yang lebih tinggi darinya, karena memang kewajiban dan swadarma seorang dari Wangsa Sudra haruslah setia mengabdi baik kepada Wangsa brahmana, ksatria, dan arya seperti yang tertulis di dalam sarasamuscaya maka dia telah melaksanakn darmanya sebagai seorang Sudra, dan dari sanalah TUHAN akan memberikan tempat yang pantas”surga loka” untuk orang itu. Akan tetapi apabila seorang dari wangsa brahmana tidak melaksanakan darmanya sebagai seorang brahmana maka orang seperti itu akan mendapat tempat yang pantas”neraka loka” juga, karena tidak melaksanakan darmanya sebagai seorang brahmana. Dan mohon maaf dengan kata saya yang tadi, bukan berarti saya menjelek-jelekkan wangsa brahmana. Begitupun dengan wangsa-wangsa yang lain. Dari sisi itulah TUHAN membedakan manusia , namun dari perbedaan itu pula TUHAN melihat bagaimana tingkah laku seorang manusia baik dari wangsa yang tertinggi maupun wangsa yang terendah. Dengan TUHAN menempatkan seseorang di wangsa yang tertinggi apakah orang tersebut bisa menjadi orang yang lebih baik dari wangsa yang terendah dan bisa melaksanakan darmanya sesuai dengan wangsa yang diperolehnya sejak lahir atau tidak, dan juga apakah orang tersebut bisa menjadi panutan. Dan begitupula dengan TUHAN menempatkan seseorang di wangsa yang terendah, apakah orang tersebut juga melaksanakan darmanya sesuai dengan darma wangsanya atau tidak. Namun karena di zaman sekarang baik dari dari wangsa brahmana, ksatria, arya ataupun sudra ada yang tidak melaksanakan darmanya sesuai dengan darma wangsanya. Sebenarnya tidak ada yang dirugikan dari adanya wangsa ini dan masih bisa berjalan selaras dan saling menghormati. Dan juga seperti yang dikatakan oleh saudara Mantra sebenarnya sistem kasta tidak merugikan banyak pihak(kecuali pihak-pihak yang memaksakan dirinya dihormati dan ingin berkasta). Memang sesuai dengan pendapat anda di Inggri kasta tidak dikaitkan dengan agama, akan tetapi dalam agama hindu terutama di Bali mengenal wangsa. Dan wangsa di Bali itu berbeda dengan kasta di Inggris ataupun warna di India. Sebenarnya ya banyak perbedaan antara agama hindu di Bali dan di India, namun mengapa hanya perbedaan antara wangsa dan warna yang banyak dibicarakan?. Apakah wangsa di Bali itu berakibat buruk sekali?. Jujur semaih Bali ini belum dijajah oleh orang barat, wangsa di Bali masih bisa berjalan dengan baik. Akan tetapi mengapa beberapa pihak mengatakan bahwa wangsa di Bali ada akibat penjajah, padahal jauh sebelum itu sudah ada. Dan juga ada yang bilang bahwa pada Zaman Mahabarata dan sebelum zaman Kerajaan Majapahit tidak ada yang namanya wangsa. Akan tetapi apabila teliti dalam membaca sejarah dan cerita Mahabarata serta kitab-kitab weda yang lain, maka pengertian tentang wangsa yang sebenarnya ada atau tidak bisa ditemukan. Karena pengertian tentang wangsa tidak ditulis langsung dalam kitab weda ataupun cerita sejarah, namun adalah sebuah makna yang tersirat. Apabila ada kesalahan kata, saya mohon maaf. Suksma atas komentarnya

          • De'Oka says:

            Om Suastiastu

            Bali dulu sistem pemerintahannya feodalisme. jadi wajarlah warisannya masih ada.

            yang berkuasa yang buat sejarah.
            ketika kekuasaan berganti maka penguasa baru yang membuat sejarah.

            memang hanya waktu yang akan menjawab.
            pengakuan sesorang terhadap strata wangsa pun bisa saja berubah sesuai dengan pengalaman.

            yesterday is history…today is present and tomorow is mysteri

  • 66
    Dharma Putra says:

    @IB Jaya: Hmmmmmmm….Jadi kamu belum mengerti betul apa yang saya katakan, baca dulu sekali lagi komentar saya!.
    Kalau memang betul melaksanakan ajaran-ajaran tentang dharma dan yoga kamu pasti akan menemukan Paramayoga dan Paramadharma meskipun dengan cara yang berbeda. Bukankah saya sudak bilang Memang banyak jalan tol yang menghubungkan langsung dengan Ida, akan tetapi seperti halnya jalan tol yang banyak terjadi kecelakaan karena kendaraan terlalu cepat melaju. Seperti itulah ajaran-ajaran yang kamu sebut sebagai jalan tol yang menghubungkan langsung dengan Ida, tapi sesungguhnya jalan tol itu bukan jalan yang sebenarnya. Karena dalam menjalani ajaran-ajaran dharma yang sejati tidaklah seperti jalan tol, haruslah selangkah demi selangkah melalui banyak rintangan untuk mencapai dharma dan tujuan sejati. Kamu harus terlebih dahulu mengerti kata-kata saya itu!. Mengertikan dulu baru berpendapat, jangan hanya sekedar membaca lalu berkomentar yang jauh dari makna yang saya maksud dan sampaikan. Apakah saya ada mengatakan bahwa ajaran-ajaran yang lain itu tidak benar atau ajaran saya yang paling benar. Saya hanya menyampaikan yang beliau katakan kepada saya, dan baca ulang lagi kata-kata saya ini “Karena dalam menjalani ajaran-ajaran dharma yang sejati tidaklah seperti jalan tol, haruslah selangkah demi selangkah melalui banyak rintangan untuk mencapai dharma dan tujuan sejati”. Mengertikanlah terlebih dahulu apa maksud saya itu, dan juga komentar-komentar saya yang lain. Apakah saya pernah berkata kalau hanya saya yang memiliki TUHAN?.
    Dan saya kopi komentar kamu “diluar kita jutaan umat dari berbagai bangsa (tentunya di Bali juga) sudah dapat terhubung langsung dgn TUHAN ..apa artinya ini?”. Saya tahu maksudmu kalau kamu sebenarnya kurang setuju dengan apa yang saya katakan dan sedikit menyinggung dirimu, dan apakah mereka semua mendapatkan hasil yang sama pula?. Sama halnya seperti bersekolah, apakah semua murid yang ada di sekolah dan yang bersekolah mendapatkan hasil nilai yang sama dan makna yang sama dari hasil belajar mereka?. Nilai boleh sama, namun makna bisa berbeda juga apabila nilai yang sama itu didapat karena menyontek, sedangkan nilai yang berbeda akan mendapat makna yang sama apabila nilai yang didapat dengan usaha sendiri dan tidak menyontek. Seperti juga dengan hasil dan makna yang saya dapatkan dengan melaksanakan yoga, saya hanya menyampaikan yang beliau sampaikan kepada saya, beliau juga yang menyampaikan tentang Paramayoga dan Paramadharma kepada saya, dan beliau pula yang mengatakan “apabila sudah mengetahui keberadaan akan Paramayoga dan Paramadharma maka kau sudah mendapatkan hasil dan makna yang sesungguhnya dan hanya mereka yang mengetahui akan hal ini yang mengetahui betul siapa Aku”. Kalau kamu ingin bertanya apa artinya tanyakan kepada beliau secara langsung apabila memang betul kamu bisa terhubung dengan beliau, saya mohon maaf karena saya tidak bisa mengatakannya langsung kepada kamu, karena ini merupakan ajaran yoga yang memang amat sakral dan rahasia. Saya tidak mendewa-dewakan dan mengatakan ajaran saya ini sebagai ajaran yang memang paling benar, namun beliau sendiri yang mengatakannya kepada saya. Kalau bukan karena beliau yang juga menyuruh saya untuk mengatakan hal ini, saya juga tidak akan mau mengatakannya. Dan meskipun saya mengatakannya saya hanya akan memberikan sedikit dan tidak semua yang saya ketahui. Yang saya berikan hanyalah kunci untuk membuka jalan menuju-Nya. Dan kamu juga mengatakan “jujur aku mau ngomong sekarang, walaupun aku dari golongan Brahmana, prinsip hidupku adalah keseimbangan, aku membenci jika melihat kesombongan dan keangkuhan dari sesama HIndu. Di Griya aku terkenal pemberontak karena falsafah hidupku adalah ingin menjadi alat dan pelayan TUHAN dgn keseimbangan. Seperti matahari, yang menyinari semua mahluk dan seluruh keberadaanNYA tanpa pilih kasih..semua diterangi dgn cahayanya…apakah kamu dapat menyadari hakekat ini? “. Aku sangat menyadari hakekat itu, tetapi jangan salah mengartikannya. Apakah kamu juga mengerti dengan kata-katamu itu?. Dan saya bertanya kepadamu apa itu keseimbangan?, apakah semua yang itu seimbang saya menghormati tujuan kamu untuk menjadi pelayan TUHAN karena saya juga melakukannya dan itu juga merupakan tujuan hidup saya. Dan apa keseimbangan menurutmu?. Menjadi pelayan TUHAN bukan berarti pemberontak, akan tetapi lihatlah dan renungkanlah terlebih dahulu mengapa keluargamu mengangggapmu sebagai pemberontak?, apakah ada caramu yang tidak sesuai?. Karena tidaklah mudah untuk menjadi pelayan TUHAN, karena apabila salah langkah dan bertindak, maka tujuanmu tidak akan tercapai. Memang benar Sang Surya menyinari jagat ini tidak pilih kasih, kalau memang benar seperti itu mengapa ada tempat yang sangat panas dan ada tempat yang sangat dingin serta ada tempat yang suhunya sedang?. Seperti katamu bahwa Sang Surya menyinari jagat ini kepada semua makhluk tanpa pilih kasih, itu memang benar. Akan tetapi tidak semua makhluk dan tempat di dunia ini mendapatkan cahaya dan sinar yang sama besar dan sama intensitasnya. Dan semua itu juga tergantung kepada makhluk hidup sendiri dan tempat makhluk hidup itu berada. Sebagai contoh daratan mesir yang amat gersang di gurun Sahara dan berbeda dengan di Indonesia apalagi di Bali?, kan sama Sang Surya menyinari di Indonesia dan di Mesir dan mengapa di Mesir jauh lebih panas?. Coba jawab pertanyaanku itu dengan baik!. Saya akui tujuan kamu sangat mulia dan jujur, akan tetapi saya harap kamu tidak salah jalan. Dan juga kamu berkata bahwa yang kekal abadi adalah perubahan, cobalah baca kembali komentar kamu itu. Apakah yang kekal abadi itu adalah perubahan?
    Kalau iya mengapa demikian?
    Coba jelaskan!
    Dan satu lagi mengapa kamu mengatakan saya, yoga, dan made bagas itu seorang yang sama?. Apakah karena kami sependapat?. Itu sih terserah anda dan juga hak-hak anda jadi saya tidak mempermasalahkan itu.
    Hanya sekian terlebih dahulu dari saya. Apabila ada kesalahan kata saya mohon maaf, suksma.

  • 67
    Dharma Putra says:

    @Wayan Sudarma: tidak apa-apa apabila anda mencampur adukan pengertian mengenai agama hindu dengan agama yang lain. Asalkan pengertian itu selaras dengan ajaran agama hindu, karena menurut guru saya agama hindu itu bersifat universal. Akan tetapi meskipun bersifat universal ada juga yang bersifat mengkhusus, dan yang tidak ada di agama-agama lainnya. Seperti halnya mebanten, cara sembahyang dan juga mengenai Wangsa. Saya tidak harus mengutarakannya lagi panjang lebar karena baik saya maupun saudara Yoga sudah menjelaskannya. Kamu mengatakan bahwa menurut anda pribadi anda berpendapat tingkatan sosial manusia dihadapan TUHAN sama, ya itu sih sah-sah saja. Akan tetapi apakah benar seperti itu?, dan apakah TUHAn memang benar mau melihat umatnya sama dihadapan-Nya?. Mungkin perkataan saya ini akan banyak yang menentang apalagi yang sangat berambisi untuk menghilangkan dan menghapus Wangsa. Dan saya sarankan pikir-pikir lagi mengapa manusia di dalam agama hindu harus ada Wangsa?. Ya hanya sekian dulu dari saya gar pembicaraan ini tidak panjang lebar. Sekian dan terima kasih. Suksma

  • 68
    IB Jaya says:

    hi yoga, tambah enak rasanya aku memberikan kamu wejangan sambil minum kopi dipagi hari..

    1) mengenai perkataanku bahwa “perubahan itu yang kekal”…artinya bahwa dalam kehidupan ini, akan selalu terjadi perubahan misalnya waktu pagi, berganti siang dan malam, tubuh manusia juga mengalami proses perubahan dari menjadi janin, bayi, kecil, dewasa , tua dst…demikian juga watak manusia bisa berubah apakah memilih jalan hidup ke “kanan” atau “kekiri”…kondisi alam/bumi pun demikian..semuanya bergerak dinamis…

    dalam kehidupan spiritualpun yang namanya “Diri Sejati” juga begitu, tingkat kemurnian dapat berubah-ubah, apakah smakin terang mendekat kepada TUHAN atau semakin redup menjauhi TUHAN karena sesuai hasil dari perbuatannya…sampai diujung perjalanan spiritual jika sang ROH sudah manunggal dengan TUHAN…manunggal dengan keabadian itu sendiri.

    2) Hukum Karma pala, hasil dari perbuatan (sendiri). misalnya sudah tahu lampu merah masih tetap bengkung diterobos, ya dapat kecelakaan yang berakibat fatal!….artinya resiko ditanggung sendiri dan jangan menyalahkan TUHAN donk…? TUHAN sudah memberi rambu-rambu untuk ditaati, eee malah dilabrak yah tanggung jawab donk sebagai manusia! ini satu contoh saja..

    dalam buku spiritual yang saya baca, TUHAN tentu menyayangi semua mahluk dan melindunginya. contoh kasus diatas, apakah TUHAN tidak melindungi? hal ini bisa terjadi karena orang tersebut menjauhi larangan, menutup diri atau melarikan diri dari TUHAN sehingga sesuatu kejadian yang jelek (sengkala) dapat terjadi terhadap dirinya.

    nanti sambung lagi ya, aku harus siap2 kerja.

    • 68.1
      made bagas says:

      IB Jaya, ternyata anda memang tidak akan pernah mengerti/menyimak perkataan seseorang dengan baik dan benar. dengan mengatakan perubahan yang kekal adalah terjadinya pagi, siang, malam dan terjadinya lahir, bayi, anak2 remaja dst. Tolong hati-hatilah kau memberikan sesuatu untuk dijadikan contoh. Kamu tahu tidak terjadinya pagi,siang, malam dan terjadinya kelahiran,bayi, anak2, remaja dst itu adalah proses waktu. Proses itu terjadi semasih roda waktu berjalan.
      Dengan kau menyatakan/memberikan proses itu adalah contoh dari suatu perubahan yang kekal, terlihat sekali kamu sangat bloon. Mengapa saya katakan seperti itu karena mungkin otakmu sudah karatan ya, jadinya tidak bisa menerima yang baik dan tidak bisa memberikan contoh yang benar, saya bertanya padamu apakah waktu pagi yg sekarang sama dengan waktu pagi yang sebelumnya? Tentu tidak, karena waktu pagi ditempat saya yang sekarang mendung dan terjadi hujan sedangakan waktu pagi sebelumnya cerah. Apakah itu buktinya kekal?
      Dan saya sarankan kamu untuk belajar menyimak dengan baik perkataan seseorang ya! jangan sampai salah tafsir. Apa perlu otak kamu yang sudah karatan itu diservice karena kamu berbicara tidak menggunakan otak. Waktu ini kamu bertanya padaku apakah aku itu orang kampung atau orang kota?, saya memang orang asli kampung dan kampung saya di Tabanan tetapi sebelum saya lahir orang tua saya sudah di Denpasar. Dari kecil pula saya dididik secara keras dan tegas, oleh karena itu otak saya masih berfungsi dengan baik/waras.
      Kamu keliru, jika kamu menebak bahwa saya sama orang/ satu orang dengan saudara Yoga. Dan Sebenarnya yang saya simak pernyataanmulah yang sering bolak-balik, dan pernyataan saya saja semuanya belum kamu jawab dengan baik. Itu saja yang saya katakan padamu, karena sampai mulut saya berbusa kamu tidak akan pernah mengerti (rugi nyen keles kanti cadike ngorin kamu yang benar nu masih sing ngerti). Jadinya malas saya menyuruhmu yang baik, semasih otakmu itu tidak berfungsi dengan baik saya tidak akan berkomentar, walaupun kamu mengomentariku, karena saya sudah banyak membuang waktu saya untuk meladenimu yang tetap bloon. Terima kasih

  • 69
    Yoga says:

    @IB Jaya: Hahahahahaha kene munyin nak belog nah!!! milehang lakune. Sorry ya Dharma Putra aku yang mengomentari IB Jaya, soalnya dia berkomentar kepadaku bukan padamu. Kamu ne nak sing masekolah???. Perubahan kone kekal abadi?, kene suba nak buduh, papinehne paling. Nah jani aku ngorahin kamu apa sane abadi. Yang abadi adalah yang tidak pernah berubah dan yang akan tetap seperti semula. Sementara perubahan itulah yang bersifat maya. Ne kamu ne nak masuk apa sing. Seperti yang amu bilang :
    “1) mengenai perkataanku bahwa “perubahan itu yang kekal”…artinya bahwa dalam kehidupan ini, akan selalu terjadi perubahan misalnya waktu pagi, berganti siang dan malam, tubuh manusia juga mengalami proses perubahan dari menjadi janin, bayi, kecil, dewasa , tua dst…demikian juga watak manusia bisa berubah apakah memilih jalan hidup ke “kanan” atau “kekiri”…kondisi alam/bumi pun demikian..semuanya bergerak dinamis…Yang kamu bilang itu adalah yang bersifat maya atau ilusi dan yang bersifat maya dan ilusi itu bukanlah yang bersifat abadi. Dan apakah kamu mengatakan bahwa TUHAN abadi??. Kalau kamu mengatakan iya memang benar, akan tetapi dari pendapatmu TUHAN itu mengalami perubahan!. Lalu apakah TUHAN itu berubah?
    Hahahaha kene nak belog wih tungkule maca gen “CHATUR VARNYAM MAYA SRISHTAM, GUNA KARMA VIBHAGASAH, TASYA KARTARAM API MAM, VIDDHY AKARTARAM AVYAYAM” apa artine to, kaden kene artine “Catur warna adalah ciptaan-Ku, menurut pembagian kualitas dan kerja, tetapi ketahuilah walaupun penciptanya, Aku tidak berbuat dan mengubah diri-Ku”. perhatikan terlebih dahulu kata-kata itu, pamg sing nyen tonden mapepineh malu suba sagetang ngomong!. Kene ladne nah pemikiran orang yang menjalani Yoga yang salah?. Jani yang ngorahin masih yen perubahan zaman itu bukanlah kekal abadi karena yang kekal abadi tidak akan pernah berubah, semua yang ada di dunia ini bersifat maya. Karena bersifat maya itulah maka dunia ini disebut dunia fana, fane berarti hancur, jadi dunia ini adalah dunia yang hancur, hancur karena orang-orang seperti kau Belog Jaya. Apakah ini hasil dari pembelajaran yogamu?. Sungguh mengecewakan!!!. Orang yang seperti dirimu harus banyak belajar lagi sebelum berbiacara. Dan siapapun yang mengunjungi blog ini terutama guru agama apabila ada, tolong jelaskan kepada IB Jaya yang bodoh ini, apakah yang bersifat kekal abadi adalah perubahan?. Apabila juga kalian guru agama yang mengunjungi blog ini mengatakan bahwa yang kekal abadi itu adalah perubahan maka suud dadi guru agama. Dan juga kepada @Bhagawan Dwija apakah menurutmu juga yang kekal abadi adalah perubahan? yen kamu masih nyambatang keto suud dadi bhagawan, kutang to gelar bhagawanne!. Dan juga kepada siapapun yang mengunjungi blog ini!.
    Dan memang siang berganti malam, dan juga malam berganti siang dan memang haruslah selalu seperti itu. Lalu apakah perubahan siang dan malam itu disebut kekal abadi?. Dan sekarang aku bertanya kepada kalia semua behwa dikatakan jagat niskala tidak ada siang ataupun malam, dan jagat niskala itu kekal abadi dan apakah di jagat niskala itu ada perubahan?.
    Dan kau bilang bahwa :
    “dalam kehidupan spiritualpun yang namanya “Diri Sejati” juga begitu, tingkat kemurnian dapat berubah-ubah, apakah smakin terang mendekat kepada TUHAN atau semakin redup menjauhi TUHAN karena sesuai hasil dari perbuatannya…sampai diujung perjalanan spiritual jika sang ROH sudah manunggal dengan TUHAN…manunggal dengan keabadian itu sendiri.” Berarti roh yang sudah menyatu kepada beliau itu bisa berubah!, kan kamu bilang roh yang sudah menyatu itu kekal abadi. Kalau bisa berubah di mananya kekal abadi?
    Kene nah idep cicing berung misi rabiesan, belog ngolong len suba tuel.
    “2) Hukum Karma pala, hasil dari perbuatan (sendiri). misalnya sudah tahu lampu merah masih tetap bengkung diterobos, ya dapat kecelakaan yang berakibat fatal!….artinya resiko ditanggung sendiri dan jangan menyalahkan TUHAN donk…? TUHAN sudah memberi rambu-rambu untuk ditaati, eee malah dilabrak yah tanggung jawab donk sebagai manusia! ini satu contoh saja..”. Aku bertanya siapa yang menyalahkan TUHAN?. Ku bisa ngomong gen anggon nak, sakewala anggon padidi sing ada. Aruh belog sajanne, TUHAN nak suba ngemang rambu-rambu, jani suba manusane liu nerobos rambu-rambu to sakewala ibanne sing nawang bahwa dirinya itu menerobos rambu-rambu, cara kamu ne contohne I Belog Jaya…Hahahahahahaha :D
    “dalam buku spiritual yang saya baca, TUHAN tentu menyayangi semua mahluk dan melindunginya. contoh kasus diatas, apakah TUHAN tidak melindungi? hal ini bisa terjadi karena orang tersebut menjauhi larangan, menutup diri atau melarikan diri dari TUHAN sehingga sesuatu kejadian yang jelek (sengkala) dapat terjadi terhadap dirinya”. Bisa je kamu nyambatang keto!!. Berfikir malu sebelum ngomong!, apakah harus mendekati larangannya?, justru memang benar kita harus menjauhi larangannya, dalam artian tidak melaksanakannya. Yen melarikan diri dari TUHAN itu memang tidak benar. Orahin suba mapepineh malu satondene ngomong!!!!. Arah ne suba papinehne paling……..Megedi mo do bareng-bareng dini, len suba paling buin misi kukuh.
    Nah jani aku ngorahin kau benehang malu ngeresepang isin sastra satodene kamu ngomong!.

    @De Oka: dari awal memang pembicaraan ini tidak beetika dan bermoral, bahkan sebelum aku berkomentar!. Apakah dengan mengatakan Wangsa di Bali adalah sebuah penyakit itu adalah kata-kata yang bermoral dan beretika? dan juga kata-kata seperti di bawah ini:
    “hal semacam inilah yg akhirnya memutuskan saya memberi nama anak saya tanpa embel2 putu,made,nyoman atau ketut. krn menurut sy itu adalah penamaan bukan nama.bgtu juga kasta,tdk beda dgn honda,yamaha,suzuki dll…saya anak singaraja,so..no kasta…klo kawan2 di jogja bilang..prek su…!!makan itu kasta…suksma”

    “titiang juga menyarankan supaya suatu saat kasta di bali itu tidak ada, hal itu hanya membuat risih orang yang tidak berkasta, buat apa kita berkasta tinggi tapi pada kenyataannya kita adalah orang yang jahat,” dan pertanyaanku, apakah semua orang berwangsa itu jahat?

    Apakah kata-kata di ats beretika?
    Dan juga di postingan yang lain “Riwayat Kasta di Bali”:

    “Memang di bali, masalah kasta masih ada, tapi saya yakin semakin lama hal tersebut akan semakin hilang. Yang saya tahu, di daerah Bali Utara (Buleleng) kasta-mengkasta malah sudah di-cuek-in. Elo ya elo. Gue ya gue. Elo keturunan apa, emang gue pikirin.”

    “Kasta ada di Bali dibawa oleh Daghyang Nirarta.Nirarta mungkin terpengaruh oleh tulisan-tulisan Barat tentang Hindu. Sehingga saat diangkat jadi Bhagawanta Kerajaan oleh Dalem Waturenggong, beliau membuat kasta-kasta di bali dan di sahkan oleh Dalem Waturenggong. Sebelumnya di Bali maupun di Jawa yang beragama Hindu tidak ada yang bernama Ida bagus, Anak Agung, maupun Dewa.Zaman Hindu di jawa gelar bangsawan cukup dipanggil Sri atau Raden. Jaman Mataram Islam Kasta di Jawa menghebat dengan gelar-gelar RA.GPA,GPAA,GKR,KH,Habib dll.Coba telusuri, kapan mulai ada nama-nama Ida Bagus,Anak Agung, Igusti, I Wayan dll di Bali. Sedang di India Kasta mulai dirintis keberadaannya mulai abad 7 dan menghebat pada abad 17. kasta di India di bawa oleh pendatang Arab dan Eropa, saat mereka memperkenalkan kitab sucinya Al Quran dan Injil. dalam Al Qurang manusia dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok yaitu Rasul,Sahabat,kafilah,para budak dan orang kafir demikian juga dalam injil,ayat-ayat perbudakan sangat banyak kita jumpai.
    William Jones lah yang pertama kali mengusulkan pembagian Kasta di India.Ide Jones ini didukung Herbert Harapan Risley,administrator Inggris di India.dan di sahkan oleh raja Inggris di Awal Abad 17.Mulai saat itulah bermunculan tulisan-tulisan tentang Kasta yang dikait-kaitkan dengan Hindu dan cilakanya cendekiawan Hindu menerima begitu saja teori-teori menyesatkan tersebut,seperti yang dibuat oleh Nirarta tsb. mungkin diuntungkan kali ya…..”

    “setelah baca2 tulisannya yoga gendeng, Bangsat kamu yoga, si mulut buaya nga punya otak, apa kerjaanmu mu sebenarnya? kacung apa tukang bersih WC??

    heran saya tumben ketemu orang bali yang linglung sok suci kayak kamu….jujur tulisanmu itu nga berarti dan rendah sekali nilainya, mengulang-ngulang serta mencaci maki …jangan2 kamu nga tamat sma sehingga omonganmu ngawur.

    Tolong kepada admin bog ini, bloking ato delete saja accountnya yoga brengsek.. mengganggu sekali dengan komentarnya yang tidak membangun dan gila hormat…”

    Apakah kata-kata itu seperti itu beretika?. Justru karena tidak beretikalah aku mengimbanginya dengan kata-kata yang juga kasar dan keras. Aku tidak akan bertindak seperti orang yang dilempari batu lalu melempar orang yang melempariku kembali dengan bunga, akan tetapi dengan batu, batu yang lebih bersih. Hanyalah orang-orang bodoh yang akan bertindak seperti itu…..Oh iya aku lupa, kan memang ya apabila kata-kata itu mendukung pendapat sendiri”terutama pendapat Bhagawan Dwija” meskipun kata-kata itu kasar dan tidak beretika masih tetap dianggap beretika…Hahahaha…kalau kau tidak setuju dengan pendapatku itu, mengapa baru setelah aku mengomentari blog ini kau berkata bahwa kata-kataku tidak beretika, bahkan sebelum aku ada kata-katanya yang lebih tidak beretika dan banyak lagi. Apakah karena merasa kata-kataku ini menghalangimu dan juga Bhagawanmu untuk menghapus Wangsa?….Hahahahahaha….Dan juga @IB Jaya: kamu mengira aku ini orang yang sama dengan dharma putra dan juga made bagas. Kalau memang kau merasa seperti itu berarti melawan 1 orangpun kau tidak becus. Apalagi melawan orang lain yang juga seperti aku, karena banyak di luar sana yang berpendapat untuk tidak menghilangkan wangsa. Akan tetapi mereka kebanyakan takut, karena merasa akan ditindas. Tapi aku tidaklah takut seperti mereka yang mentalnya ciut dalam menghadapi orang-orang yang ingin menghapus Wangsa. Karena menghapus wangsa berarti menghapus agama hindu, karena semua orang meiliki wangsa meskipun sudra sekalipun begitu juga dengan wangsa binatang dan makhluk hidup lainnya. Pang tawang kau gen nah Bhuta Kala lan soroh Denawa ngelah masih Wangsa, sing manusa sing gen ngelah wangsa. Yen dot menghapus wangsa manusa hapus malu wangsa Denawa dan semua makhluk hidup lainnya. Seperti contoh bawang, jangan lagi menyebut bawang itu sebagai bawang sebutlah dengan kata yang lain agar bawang serta tumbuh-tumbuhan da makhluk lainnya seperti manusia, binatang, dan bhuta kala bisa disebut sama, dan jangan lagi jangan menyebut dirimu sebagai manusia, akan tetapi samakanlah dirimu terlebih dahulu dengan binatang, tumbuhan serta bhuta kala baru kau bisa menghilangkan wangsa. Apalagi kau masih menyebut dirimu itu Ida Bagus dan rumahmu sebagai grya, kutang to adan Ida Bagus dan gryamu itu. Suud ngorahang rumah kau itu grya dan bilanglah dengan sebutan kubu. Dan juga untuk menghindari komentarmu bahwa grya itu berasal dari bahasa sansekerta yang berarti grha”rumah”, lalu jangan menyebut rumah orang lain dengan sebutan rumah atau ku melainkan sebut semua rumah itu dengan sebutan grya. Itu berarti tidak ada yang namanyalagi grya atau puri dan jeroan sebutlah semua itu dengan grya. Dan juga ada yang mengatakan bahwa semua kelahiran manusia itu sudra, lalu mengapa namamu tetap Ida Bagus bahkan kau tetap membilang dirimu sebagai brahmana. Karena ada yang mengatakan bahwa yang pantas menjadi seorang brahmana adalah orang yang sudah didiksa, dan apakah kau sudah didiksa?. Dan sebutlah dirimu itu sebagai sudra dan jangan memakai nama IB lagi ataupun dengan menyebut dirimu itu sebagai brahmana, kalau memang kau betul-betul ingin menghilangkan wangsa.

  • 70
    IB Jaya says:

    Beh,…yoga ne mare jelme sakit….sing berubah2 watakne dari postingan awal…selalu tendisius dan suka mencela..mungkin kamu kena serangan darah tinggi sampai muncrat kepolo. dan tidak tahu bagaimana seharusnya bersikap yang baik….kamu sama sekali tidak mencerminkan seorang “agamawan yang punya pengetahuan” ataopun yang mau belajar….ajak diskusi baik2 tetap saja bersikap kasar dan mau menang sendiri…mungkin benar kamu ini baru reinkarnasi dadi jelme..jadi belum banyak tahu “isi” tapi liunan memunyi….alias tong kosong nyaring bunyinya..bisanya bolak balikin kata-kata…mungkin kamu cocok masuk ke tv ikut acara flora & fauna..dan tolong ngaca ya!!…yakin aku kamu akan menemukan “Diri mu yang sebenarnya”…

    diskusi sama kamu sama sekali tidak bermanfaat!!!

    • 70.1
      Yoga says:

      @IB Jaya: Hahahahahaahaha kengken sing bisa nyawab petakon yang’eeeee?
      Kengkenang men munyine mebading sing buin badingang pang beneh dadine, ngudiang keweh-keweh?.
      Kau yang sebenarnya tidak mau belajar dan kau ini juga sok tau…Apa sih yang sebenarnya kau pakai dasar dalam mempelajari yoga, sampai-sampai kau mendapatkan hasil yang salah. Jek jauh panggang dari api ne dadine. Sama seperti biasanya saat kau tidak bisa menjawab pernyataanku, kau selalu mengelak dan membawanya ke arah dan jalur yang berbeda…Mara metakon tuah amonto gen suba sing nyidang nyawab, apa buin ane kewehan?
      Cekcekcek…kene ngomong ajak nak belog, adane gen suba I Belog Jaya, mula setata jaya belogne.
      Kau yang sebenarnya tidak mengerti isi, bahkan isi dari perkataanmun saja kau tidak tahu. Sampai-sampai Aku yang menjelaskan isi dari perkataanmu itu. Kau ini bak air beriak tanda tak dalam…Apakah kau ini tidak bersekolah? sehingga kau tidak bisa berkata yang baik sesuai EYD…”bolak-balikin kata-kata” itu sebenarnya bahasa yang salah, seharusnya yang ditulis adalah membolak-balikan kata-kata…Dari perkataanmu yang sedikit itulah Aku sangat yakin kau tidak bersekolah, kalau kau ini bersekolah pasti tidak menyimak betul pelajaran guru Bahasa Indonesiamu, oleh karena itu jadinya kau ini tidak bisa menyimak pernyataan orang dengan baik dan benar.
      Sebenarnya diskusi denganmulah yang tidak bermanfaat, memakai tata bahasa saja sudah salah….Apalagi menyimak?.
      Kamu barangkali yang sebenarnya baru berinkarnasi menjadi manusia. Sama seperti anjing yang menggonggong tak tahu diri.
      Dan juga kalau memang Aku ini serangan darah tinggi, seharusnya Aku sudah berada di rumah sakit sekarang….Kaulah yang seharusnya terlebih dahulu mengaca di cermin. Dan juga ini sebenarnya bukan diskusi melainkan debat. Apakah kau bisa membedakan antara diskusi dan debat?
      Kalau tidak tahu bilang saja ya, jangan malu-malu kuciiiiing!!!!

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting