QUESTION:
Saat saya dalam perjalanan dari Malang ke Surabaya, saya sempat ditanya seseorang yang bukan beragama Hindu. Kenapa di Hindu sangat kuat sistem kastanya dan terkesan membeda-bedakan?
Menurut Ida pandita sendiri kesalahpahaman yang mengakar membuat orang lain menjadi terpengaruh bahwa dalam hindu ada pelapisan sosial, yaitu kasta.
Padahal yang saya tahu hal tersebut tidak ada, yang ada hanyalah Ajaran Catur Warna yang terbentuk berdasar guna dan karmanya. Mohon penjelasannya. Terima Kasih Sebelumnya.
ANSWER:
Masalah “kasta” memang menjadi “penyakit” menahun yang tak kunjung sembuh pada beberapa kelompok umat Hindu di Bali. Betul dalam agama Hindu, sistem kasta tidak ada; yang ada sistem warna seperti yang anda katakan.
Namun sejarah telah mengukir jalannya sejak abad ke-14, di mana tatanan masyarakat diubah dari warna ke kasta, untuk menguatkan status quo penguasa ketika itu.
Padahal sebelum abad ke-14, kasta tidak dikenal di Bali/ Jawa. Penjajah Belanda, selama 350 tahun menguatkan sistem kasta karena ini sesuai dengan politik divide et impera – nya.
Namun demikian saya yakin lama-kelamaan sistem kasta akan hilang ditelan jaman, karena umat Hindu di Bali akan semakin terdidik, dan juga karena pengaruh globalisasi.
Misalnya di Buleleng, mayoritas masyarakat tidak menyenangi sistem kasta, dan mereka tidak memperhatikannya. Sistem kasta masih agak kuat di Klungkung, Gianyar, Badung, Tabanan, Karangasem. Itupun sporadis.
Bagaimana kiatnya “memerangi” sistem kasta? Ya, perlakukan orang-orang berkasta itu biasa-biasa saja. Hormati mereka berdasarkan inteligensi dan pengabdiannya kepada masyarakat. Bukan karena titel kebangsawanannya.
Mudah-mudahan berhasil.

beh terpancing juga akhirnya emosiku sama si yoga yang lagi sakit ini…semoga wejanganku ini membuatmu menjadi lekas sembuh … oya apakah kamu sudah bercermin?? apa yang kamu lihat saat bercermin?..
kalau kamu nga bisa dgn jelas melihat wajah asli dirimu yang sejati, berarti dihati dan pikiranmu masih dipenuhi dgn kekotoran2 serta banyak emosi2 negative.
kalau kamu bisa melihat dirimu dalam berbagai rupa apakah kamu sbgai laki2, wanita dengan berbagai peranan bahkan sebagai binatang/tumbuh2an, berarti tingkat spiritualmu sudah tinggi dimana kamu telah dianugrahi TUHAN penglihatan akan dirimu pada kehidupan-kehidupan kamu sebelumnya.
terus kalau kamu bisa melihat sinar cahaya dirimu sendiri….yah cari tahu sendirilah…mungkin ada di kitab primbon yang kamu sakralkan itu…
ada satu kisah yang aku mau cerita ke kamu:
dikisahkan pada jaman dulu ada seorang Brahmana yang kebetulan bernama Yoga. dia sangat sosial suka menolong, berbudi luhur, suka bertapa dan sudah mencapai tingkat sempurna, suka berdharma wacana dan pencerahan kepada umat. akhirnya Brahmana Yoga mendirikan pasraman untuk murid-muridnya. singkat cerita, suatu hari turunlah hujan lebat berhari2 sehingga datanglah banjir. semuanya panik ingin menyelamatkan diri. semua murid minta petunjuk Brahmana Yoga. sang BRahmana berkata, “wahai murid-muridku, pergilah kalian menyelamatkan diri. Aku akan tetap disini, TUHAN pasti akan menyelamatkan diriku”…satu persatu muridnya pergi meninggalkan sang Brahmana dan Brahmana Yoga sangat yakin akan pertolongan TUHAN.
tinggi air sudah mencapai 1 meter, dan saat itu salah seorang murid datang menghampiri Brahmana Yoga dengan perahu dan mengajaknya keluar Pesraman. Tapi sang Brahmana menolak untuk ikut diperahunya. “Wahai muridku, pergilah cepat sebelum air meninggi. selamatkan dirimu sendiri. TUHAN pasti menolongku”…akhirnya si murid dengan berat hati meninggalkan gurunya…
air semakin meninggi, sudah mendekati 2 meter. datanglah helikopter utk menjemput sang Brahmana Yoga. satu anggota Kopassus turun dari tali dan sudah menarik tangan dari Brahmana Yoga. tetapi sang Brahmana menolak, “lekaslah pergi, aku menunggu pertolongan TUHAN yang pasti akan menyelamatkanku. akhirnya dgn terpaksa helikopter meninggalkan sang Brahmana.
singkat cerita, Pasraman akhirnya rata dengan air…sampailah “sang Jiwa dari Brahmana Yoga” dialam Surga dan bertemu dengan TUHAN. “Wahai TUHAN, aku sudah bertapa bertahun-tahun selama hidupku memujaMU. Aku sudah melihat CahayaMU dalam diriku. Kenapa engkau tidak menolongku saat terjadi banjir?.
lalu TUHAN bersabda…”ketahuilah anakKU, AKU sudah mengirim bala bantuan kepadamu sebanyak 3 kali. Pertama saat murid2mu mengajakmu untuk keluar menyelamatkan diri. Kedua saat AKU mengirim salah seorang muridmu dengan perahu untuk menolongmu. Ketiga saat AKU kirim helikopter tetapi kamu tetap menolak semua bantuanKU”.
akhirnya dengan menangis, sang Brahmana Yoga baru menyadari akan kekeliruannya yang sudah sangat, sangat, sangat terlambat..
@IB Jaya: Hahahahaha…..apa kau kira aku tertipu dengan cerita bohongmu itu?. Wah cerita yang dibuat-buat dengan pemikiran yang bodoh!!!
Kalau Aku sebagai brahmana itu, Aku tidak akan menyesali kematianku, justru Aku akan lebih berbahagia dan bangga karena Aku dapat langsung bertemu dengan-Nya. Justru kaulah yang tidak mengerti dengan cerita yang kaubuat sendiri itu. Dari ceritamu itu saja sudah tidak nyambung, suba zaman dahulu ngudiang buin misi ada anggota kopasus?, aruuh paling kene ceritane!!!
Satu hal yang belum kau ketahui akan seseorang yang melaksanakan Yoga, bahkan hal ini tertera di Bhagavad Gita , seseorang yang mendalami betul akan Yoga tidak akan tergoyahakan oleh keadaan sedih, senang, lahir, mati dan kebahagiaan yang bersifat duniawi. Karena seorang Yogin sejati sudah mengetahui akan segala sesuatu yang bersifat rahasia, baik yang hidup maupun yang mati. Hendaknya kalau kau ingin membuat cerita pikir-pikirlah terlebih dahulu, kengkene tungkule nyambatang gen dewekne melajahin Yoga?, sakewala artin nak ane ngalaksanayang Yoga sing tawang’e. Setelah Aku membaca ceritamu itu aku bisa melihat kekeliruan yang sangat-sangat keliru yang ada di otakmu. Apakah kau yang tidak bercermin???…Dan satu lagi yang harus kau tahu seorang Yogin sejati tidak akan pernah menangisi ataupun menyesali kematiannya.
Haaaduuuuuuuuh kecewa Aku jika memang kau ini melaksanakan Yoga?
Kalau dari cerita yang kau buat itu, jujur ya Aku mengatakan si Brahmana Yoga itu bodoh, itu karena yang membuatnya bodoh.
Dan juga di cerita itu si brahmana yoga itu terlalu percaya diri seperti dirimu, karena orang yang membuatnya terlalu percaya diri. Kalau kau ingin membuat cerita yang mengejek Aku, hendaknya pikir terlebih dahulu!!! Pakailah otakmu itu, pang sing karatan nyen dadine.
Memang niat dari ceritamu itu baik, akan tetapi jalan ceritanya paling dan cerita itu lebih cocok untuk orang-orang yang mendalami yoga seperti dirimu yang terlalu percaya diri.
Jujur ya kalau sifatku itu tidak seperti itu, orang yang sangat percaya diri dan bodoh!!!. Aku tahu niatmu itu untuk mengejek diriku, akan tetapi tidak berhasil, kau kira Aku akan tergoyahkan oleh cerita palsumu yang paling itu???
Ane ngae gen paling apa buin ceritane, mingki’e paling!!. Coba teliti lebih lanjut, apakah zaman dulu ada kopassus?
Ne gen nak mara-mara ada kopassus!. Berarti cerita itu tidak zaman dulu, artine cerita to paling!!!.
Orahin yang jani nah, satondene kau melajahin yoga, pelajahin malu dasarne…! Jani yang metakon, apa dasar dari pelaksanaan yoga?
Yen dasar kau sing nawang, badaaah gede gaene, beneh paling dadine!.
Hahahaha suba pang kuda kaden yang mesuluh? bahkan setiap hari, setiap menit, setiap detik….Kaulah yang harus banyak-banyak bercermin dari kata-katamu itu.
Aku sudah melihat diriku bahkan sering dalam berbagai rupa seperti yang kau bilang. Karena itulah Aku bisa melihat kebodohanmu, dan keiri hatian serta ambisi orang-orang yang ingin menghancurkan wangsa di Bali. Aku sudah melihat diriku sebagai orang yang lebih rendah di antara orang-orang rendahan, bahkan sebagai yang tertinggi di antara orang-orang yang tinggi, serta berada di tengah-tengah. Oleh karena itu Aku mengetahui betul bagaimana kehendak orang-orang yang ingin menghancurkan dan melenyapkan wangsa, bahkan keinginannya yang paling busuk Aku sudah ketahui. Juga orang-orang yang hanya ikut-ikutan, dan yang masih bingungpun Aku sudah ketahui. Dan juga Aku sudah sangat mengetahui bagaimana menjadi seorang Brahmana, Ksatrya, Waisya dan Sudra yang sejati, akan tetapi meskipun Aku mengetahunya Aku tidak memanfaatkannya sebagai acuan untuk menyebut diriku sebagai seorang Brahmana, Ksatrya, ataupun Waisya meskipun Aku tahu bagaimana seharusnya menjadi seorang Brahmana, Ksatrya, ataupun Waisya karena Aku hanyalah seorang Sudra, dan juga Aku menyadari bagaimana seharusnya Aku menjalani hidupku sebagai Sudra yang sejati. Justru di zaman sekarang banyak yang bisa melaksanakan dan mengamalkan laksana seorang Brahmana, Ksatrya, Waisya, ataupun Sudra namun lupa akan jati dirinya dan siapa sebenarnya ia, bukan berarti bisa mengamalkan dan melaksanakan laksana seorang Brahmana ataupun Ksatrya “akan tetapi kau bukan salah satu dari Wangsa Ksatrya atau Brahmana” hal itu tidak akan bisa menjadikanmu sebagai Brahmana ataupun Ksatrya, akan tetapi bisa menjadikanmu sebagai seorang yang sejati.
Om Suastiastu
Inspiring story…
Inspiring story….
nah aku semakin bersyukur sudah dapat merasakan kesembuhan dari penyakit darah tinggimu itu…ada lho obat mujarab yang alami biar terhindar dari penyakit…yakni jangan terlalu dibawa emosi seperti suka marah2, masih ego, sombong dan bertutur kata yang lebih sopan..ketahuilah energy/aura dari pikiran negative yang kamu buat sendiri akan mempengaruhi kesehatan …banyak senyum, gembira dan hidup kita pasti akan semakin damai, bijaksana dan berbahagia..
aku senang kamu dapat menikmati ceritaku itu. jujur saja bahwa cerita itu bukan dari karanganku sendiri aku petik dari bacaan buku2 spiritual utk diskusi kami. memang aku edit sedikit mengenai kopasus dan helikopter..jaman dulu mana ada helikopter?..tapi makna dibalik cerita itu adalah TUHAN telah mengirim “bantuan khusus” NYA untuk menolong sang Brahmana….jadi mirip2 dikitlah..Tapi syukurlah, tangapan kamu yang kedua lebih tepat yakni walaupun sang Brahmana sudah melaksanakan Yoga, namun masih “menutup” diri akan datangnya pertolongan TUHAN. Masih belum dapat memasrahkan seluruh hati dan dirinya kepada Sang PENCIPTA.
Lihat perbedaan kalimat yang aku katakan dengan yang kamu katakan. Kamu bilang bahwa Brahmana tersebut “bodoh”…
Aku tidak ada secuilpun maksud utk mengejek apalagi mencelamu, semoga aku dijauhkan dari sifat2 negative tersebut, karena seperti yang pernah aku katakan, sifat2 negative duniawi, ikatan2 dll tersebut akan mengotori hati dan menghambat perjalanan spiritual..
aku bersyukur pula bahwa kamu sudah rajin bercermin, ngaca utk nyisir rambut ato potong kumis biar rambutmu tidak acak2an dan tampil lebih ganteng…..mengenai peryataan kamu sudah dapat melihat kekehidupan kamu sebelumnya, jujur aku tidak percaya sama sekali dengan cerita bohongmu itu..tahapan itu adalah tahapan evolusi perjalanan spiritual yang sudah sangat tinggi..dengan memakai “kesadaran universal” aku dapat merasakan bagaimana “pancaran cahaya” didirimu…aku dapat merasakan bagaimana “kebijaksanaan” didirimu!..jadi saranku mulailah rajin melihat cermin kedalam…kedalam “keheningan diri sendiri”..banyak misteri yang akan terungkap..lebur dalam kesadaran universal…tiada ego, tiada kesombongan, tenggelam dalam samudra kedamaian yang tak terlukiskan indahnya sebagai anugrah TUHAN…
Kepada Yth Ratu Bhagawan Dwija, ampurang tityang niki dan kelancangan tityang..tiada maksud lain tyang hanya utk saling sharing dari berbagai keterbatasan pandangan dan pengertian tyang sendiri. Rahajeng.
@IB Jaya: Hahahaha tumben ya kau nyambung diajak berbicara….? Aku dari awal memang tidak sakit, hanya dirimu saja yang menganggap Aku ini sakit, dan kalau memang AKu sakit Aku seharusnya berada di rumah sakit. Padahal kaulah yang sebenarnya yang sakit, pembicaraanmu saja kebanyakan tak terarah alias paling…….Aku ini marah karena ada orang yang ingin menghilangkan wangsa di Bali tercintaku ini, apakah Aku harus membiarkan mereka berbicara seenaknya bahkan dengan kata-kata yang tidak beretika seperti yang Aku contohkan di atas?. Oleh karena itu, untuk apa Aku bertutur kata yang halus dan sopan kepada mereka? percuma saja jadinya kalau Aku bertutur kata yang sopan dan halus dengan mereka.
Apa kau tidak bisa bercermin? bahkan kau sendiri lebih emosi dari pada Aku…Dengan mengatakan diriku seperti ini ““setelah baca2 tulisannya yoga gendeng, Bangsat kamu yoga, si mulut buaya nga punya otak, apa kerjaanmu mu sebenarnya? kacung apa tukang bersih WC??
heran saya tumben ketemu orang bali yang linglung sok suci kayak kamu….jujur tulisanmu itu nga berarti dan rendah sekali nilainya, mengulang-ngulang serta mencaci maki …jangan2 kamu nga tamat sma sehingga omonganmu ngawur.
Tolong kepada admin bog ini, bloking ato delete saja accountnya yoga brengsek.. mengganggu sekali dengan komentarnya yang tidak membangun dan gila hormat…” Apa kau tidak merasakan bahwa kau pernah berbicara seperti itu dan melupakannya?. Kau tidak akan pernah terlepas dari sifat2 negative duniawi, ikatan2 dll tersebut akan mengotori hati selama kau ini masih bodoh.
“aku bersyukur pula bahwa kamu sudah rajin bercermin, ngaca utk nyisir rambut ato potong kumis biar rambutmu tidak acak2an dan tampil lebih ganteng…..mengenai peryataan kamu sudah dapat melihat kekehidupan kamu sebelumnya, jujur aku tidak percaya sama sekali dengan cerita bohongmu itu..tahapan itu adalah tahapan evolusi perjalanan spiritual yang sudah sangat tinggi..dengan memakai “kesadaran universal” aku dapat merasakan bagaimana “pancaran cahaya” didirimu…aku dapat merasakan bagaimana “kebijaksanaan” didirimu!..jadi saranku mulailah rajin melihat cermin kedalam…kedalam “keheningan diri sendiri”..banyak misteri yang akan terungkap..lebur dalam kesadaran universal…tiada ego, tiada kesombongan, tenggelam dalam samudra kedamaian yang tak terlukiskan indahnya sebagai anugrah TUHAN…”. Aku bahkan sudah lebih tahu diriku yang dulu, karena yang temitis menjadi diriku dan beliau”Ida Sang Hyang Parama” yang memberitahukan Aku akan kehidupanku yang dulu. Jadi Aku lebih mengerti akan jati diriku yang sebenarnya. Aku sudah tahu banyak misteri yang belum diketahui manusia, akan tetapi Aku tidak akan mengatakannya kepadamu. Percuma juga Aku mengatakannya kepada orang bodoh seperti dirimu, nanti ujungnya juga kau akan mengatakan Aku sombong karena Aku lebih tahu darimu!. Bahkan ajaran Yogapun kau tidak tahu sepenuhnya. Aku mengetahui itu karena kau sempat mengatakan bahwa yang kekal abadi adalah perubahan!. Itu adalah sesuatu yang terbodoh yang pernah Aku dengar!. Dan kemarin Aku bertanya apa yang kau pakai dasar untuk melaksanakan Yoga? Lalu kenapa kau belum menjawabnya? sama seperti biasanya kau kebanyakan tidak menjawab pertanyaanku!. Apakah kau ini tahu atau pura-pura tahu, atau juga tidak tahu!. Karena dari hasil yang Aku amati, setiap Aku menanyakan sesuatu apabila kau tidak bisa menjawabnya pasti kau akan membawanya ke arah yang berbeda!…Sekarang jawablah pertanyaanku itu…..!
Dan mengenai kata-katamu di atas tadi, apakah kau sudah seperti yang kau katakan?,tiada ego, tiada kesombongan, tenggelam dalam samudra kedamaian yang tak terlukiskan indahnya sebagai anugrah TUHAN…apakah kau sudah seperti itu?. Jangan hanya bisa mengatakannya saja, akan tetapi tidak melaksanakannya!!!!!!!.
Dan saranku banyak-banyaklah belajar dari kata-katamu, karena kata-katamu bisa menusuk dirimu sendiri.
Om Suastiastu
Tapa = api
tapa yang dilakukan sesorang pada tingkatan tertentu akan menghidupkan api dalam diri.
api itu sifatnya netral
ada yang menggunakan api tersebut untuk memuaskan ego
ada yang menggunakan api tersebut untuk membakar ego
Moksa akan dicapai jika ego sudah dibakar sehingga spirit/atman
bisa mersatu dengan brahman.
Merasakan samudra kedamaian menjadi jiwa yang tenang.
@IB jaya opini anda tentang meditasi dan yoga = teori yang saya baca di buku2 atau blog yang ditulis para guru spiritual yang masih ada di bali skr.
Om santih santih santih Om
@De Oka: Pendapatmu memang benar adanya seperti itu, tapa= api, api=agni, agni=nitya , dan di sini nitya berarti cahaya, dan cahaya berarti terang”widya”. Apabila melaksanakan Tapa sama dengan menghidupkan cahaya dalam diri, yang bisa berupa aura-aura positif dan juga kewibawaan. Api yang muncul dalam melaksanakan tapa yang benar tidak akan menimbulkan ego, karena api ini bersifat bagaikan cahaya yang akan melenyapkan segala kegelapan”awidya”, seperti halnya Sang Surya yang menerangi dunia dan melenyapkan malam. Sama seperti saat Sang Surya menyinari jagat ini pada waktu pagi hingga sore, seperti itulah saat kita melaksanakan Tapa.
Dan moksa hanya bisa dicapai jika seluruh unsur awidya bisa kita lenyapkan dengan cahaya yang timbul saat kita melaksanakan Tapa dan Yoga maupun saat kita tidak melaksanakannya.
Sedangkan api yang kau maksud untuk memuaskan ego adalah kroda”amarah”, dan saat kroda ini menguasai diri manusia maka timbulah kebingungan.
Om Swasti Astu, saya haturkan kepada kalian semua, sebelum saya menuntun anda sekalian pada jalan kebenaran, saya memperkenalkan diri terlebih dahulu, Nama lengkap saya Ni Made Putri Adnyani , Asal Gianyar tetapi dari kecil di Yogyakarta karena Bapak saya tugas disana, tetapi sekarang tinggal di Denpasar karena suami saya dari Denpasar.
Walaupun saya dari kecil di luar Bali, disana tetap diajarkan Agama Hindu. Yang saya tahu di Yogyakarta masih melekat system kasta/darah kebangsawanan, apalagi disana banyak sekali terdapat Keraton/Kerajaan. Di Jogja masih sangat menghormati para keturunan Bangsawan bahkan disana tidak sembarangan berani masuk ke daerah/wilayah Keraton. Dan cara berpakaian, contohnya memakai kain Batik tidak sembarang orang boleh menggunakan motif-motif batik. Jika Keturunan Bangsawan/Berkasta motif batiknya berbeda dengan rakyat jelata.
Jadi bukan hanya di Bali saja ada kasta/keturunan Bangsawan, bahkan di luar negeri pun masih ada seperti di Belanda, Inggris, Jepang, Korea, Malaysia, Brunei Darrusalam dan masih banyak lagi. Di Negara2 tersebut masih kuat system kastanya/bangsawan. Jika memang anda sekalian yang ingin menghilangkan kasta/keturunan bangsawan yang ada di Bali, saya sangat setuju dengan saran yang diucapkan (kalau tidak salah) oleh saudara Made Bagas. Saya menuntun anda semua untuk mengingat ajaran agama Hindu yang ada pada kitab suci yaitu veda/weda yang berisi tentang EMPAT ZAMAN (CATUR YUGA).
1. Satya Yuga atau Krita Yuga, Kerta Yuga
2. Treta Yuga
3. Dwapara Yuga
4. Kali Yuga
Jika diibaratkan seperti Lembu Dharma (simbol perkembangan moralitas), keempat siklus Yuga (Catur Yuga) seperti lembu yang berdiri dengan empat kakinya, dimana setiap zaman berganti, kaki lembu juga ikut berkurang satu (simbol moralitas yang berkurang setiap zaman). Zaman Satya Yuga seperti lembu yang berdiri dengan empat kaki, moralitas mantap. Sedangkan zaman Treta Yuga seperti lembu yang berdiri dengan tiga kaki. Masa Dwapara Yuga dengan dua kaki, dan masa Kali Yuga hanya dengan satu kaki. Pada zaman itu, moralitas tidak bisa berdiri lagi dengan mantap.
1. Pada masa Satya Yuga, kesadaran umat manusia akan Dharma (kebenaran, kebajikan, kejujuran) sangat tinggi. Budaya manusia sangat luhur. Moral manusia tidak rusak. Kebenaran sangat dijunjung tinggi sebagai aturan hidup. Hampir tidak ada kejahatan dan tindakan yang melanggar aturan. Zaman tersebut disebut juga ‘zaman keemasan’.
2. Masa Treta Yuga merupakan zaman kerohanian. Sifat-sifat kerohanian sangat jelas tampak. Agama menjadi dasar hidup. Meskipun begitu, orang-orang mulai berbuat dosa dan penjahat-penjahat mulai bermunculan. Pada zaman ini, seseorang yang pandai, memiliki pengetahuan dan wawasan luas, serta ahli filsafat akan sangat dihormati.
3. Pada masa Dwapara Yuga, manusia mulai bertindak rasional. Penjahat-penjahat dan orang-orang berdosa bertambah. Kelicikan dan kebohongan mulai tampak. Yang diutamakan pada zaman ini adalah pelaksanaan ritual. Asalkan mampu melaksanakan upacara, maka seseorang akan dihormati. Akhir zaman Dwapara dimulai ketika Kresna meninggal, setelah itu dunia memulai zaman terakhir, Kali Yuga.
4. Kali Yuga, uang dan kekayaan yang paling diuatamakan. Asalkan seseorang memiliki uang, maka ia akan dihormati dan berkuasa. Budi pekerti tidak lagi dihiraukan malah orang yang pandai akan menjadi bahan ejekan. Pada masa itu, dengan uang seseorang dapat membeli kehormatan.
Tanda-tanda zaman Kali Yuga
Dalam kitab Wisnu Purana dituturkan:
“ Pada masa Kali Yuga, ada banyak aturan yang saling bersaing satu sama lain. Mereka tidak akan punya tabiat. Kekerasan, kepalsuan, dan tindak kejahatan akan menjadi santapan sehari-hari. Kesucian dan tabiat baik perlahan-lahan akan merosot….. Gairah dan nafsu menjadi pemuas hati di antara pria dan wanita. Wanita akan menjadi objek yang memikat nafsu birahi. Kebohongan akan digunakan untuk mencari nafkah. Orang-orang terpelajar kelihatan lucu dan aneh. Hanya orang-orang kaya yang akan berkuasa.”
Pada zaman Kali Yuga, banyak perubahan tak diinginkan yang akan terjadi. Tangan kiri akan menjadi tangan kanan, dan tangan kanan menjadi tangan kiri. Orang yang kurang terpelajar akan mengajari kebenaran. Yang tua kurang sensitif terhadap yang muda, dan yang muda akan berani melawan yang tua.
Pada zaman Kali Yuga, orang-orang yang berbuat dosa akan bertambah berlipat-lipat, kebajikan akan meredup dan berhenti berkembang.
Pada zaman Kali Yuga, kehamilan di usia remaja bukanlah hal yang asing lagi. Penyebab utamanya kebanyakan karena dampak sosial dari pergaulan yang dijadikan salah satu kebutuhan utama dalam hidup.
Pada zaman tersebut, umur manusia menjadi semakin pendek, raganya melemah secara mental dan rohaniah.
Pada zaman Kali Yuga, para guru akan dilawan oleh para muridnya. Mereka perlahan-lahan kehilangan rasa hormat. Pelajarannya dan Agama akan dicela dan Kama (nafsu) akan mengontrol/mengendalikan semua pikiran dan perbuatan manusia.
Semakin bertambahnya orang-orang berdosa, keadilan menjadi ternoda, dan kemarahan Tuhan akan mendera. Orang-orang berdosa akan dihukum melalui kejadian yang disebabkan oleh kuasa Tuhan, tetapi orang-orang yang masih hidup dan sempat menyaksikannya masih punya kesempatan untuk bertobat, atau tidak bertobat dan ikut dihukum bersama orang-orang berdosa yang lain.
Ketika pohon-pohon berhenti berbunga, dan pohon-pohon buah berhenti berbuah, maka pada saat itulah masa-masa menjelang akhirnya Kali Juga. Hujan akan turun bukan pada musimnya ketika akhir zaman Kali Yuga sudah mendekat. Jadi renungkanlah dan ingat baik-baik perkataan saya ini, terutama yang berfikir Tuhan tidak bisa Murka. Suksma
selama api ego masih belum dipadamkan di hati maka kasta akan tetap hidup..
@Mahendra: Selama ambisi, dan iri hati masih melekat orang yang ingin menghancurkan wangsa akan tetap ada.
wah ini si putri baru bangun ya…jadi masih kiap2…nga apa bagus juga komentarnya..saranku kepadamu, mumpung katanya kamu baru di Bali, coba banyak bergaul dimasyarakat Bali dan gali apa yang bisa kamu petik hikmahnya (termausk ada sekat2/konflik tersembunyi)..
mengenai praktek kasta, aku nga mau komentar lagi, buang waktuku dan akan banyak mengotori emosi, pikiran dan hati dalam menapaki perjalanan spiritual kita..
akulah salah satu yang mengatakan TUHAN tidak bisa murka, karena dari buku2 spiritual yang aku baca dan secuil sangat kecil “berkat” yang diberikan TUHAN padaku, bahwa TUHAN Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha SegalaNya, Berkat dan Anugrah TUHAN Tiada Terkirakan dan Tiada Batasnya…”
satu katapun aku tidak temukan ada kalimat “TUHAN MURKA, TUHAN MARAH2, TUHAN MENGANCAM, TUHAN MENGUTUK DSB….”, hematku itu adalah suatu pandangan atas keterbatasan dari manusia itu sendiri..
@IB Jaya: Hahahahahaha kaulah yang baru bangun. Kau bilang TUHAN tidak bisa murka????. Itu artinya kau menentang isi dari Veda. Bukankah di Veda tertulis seperti itu, seperti yang saudari putri katakan. Lalu kau masih ingin kukuh terhadap pendapatmu itu. Apakah TUHAN masih megasihi orang-orang yang berbuat jahat?
“satu katapun aku tidak temukan ada kalimat “TUHAN MURKA, TUHAN MARAH2, TUHAN MENGANCAM, TUHAN MENGUTUK DSB….”, hematku itu adalah suatu pandangan atas keterbatasan dari manusia itu sendiri..” Hahahahaha berarti kau ini tidak pernah mengerti isi dari Weda…!. dari kata-katamu itu terlihat sekali bahwa dirimulah yang selalu mencari pembenaran, di Weda tertulis TUHAN akan murka apabila umat manusia lebih banyak melaksanakan adharma, dan penyusun Weda itu adalah Maharsi penerima Wahyu, jadi kau berpendapat seperti itu sama artinya kau adalah penentang Weda dan meremehkan para Maharsi yang telah berjasa menyusun Weda.
Dan sekarang kau mengaku sebagai seorang yang mempelajari spiritual?. Apakah dengan meremehkan isi Weda itu adalah pembelajaran spiritualmu?
Karena pikiran dan hatimu yang selalu kotor dan dipenuhi ambisilah yang membuatmu tidak mengerti isi dari Weda. Baca terlebih dahulu komentar saudari Putri….
Kau mengatakan TUHAN tidak bisa murka, maka kau salah besar!!!!!!!
Kaulah sebenarnya manusia yang terbatas, dan pertanyaanku yang sebelumnya saja kau belum menjawabnya…Dan sekarang kau ingin menceramahi orang lain lagi?????. Sementara dirimulah yang sebenarnya pantas untuk diceramahi…
Maaf ya bagi yang mengatakan saya baru bangun, kalau saya memang baru bangun tidak mungkin saya bisa dan berfikir seperti yang saya sampaikan. Mungkin anda sendiri yang tidak mau bangun dari tidur anda saudara IB. Jaya makanya anda tidak bisa merenungkan dengan baik perkataan saya. Saya sudah sering berkecimpung dengan masyarakat Bali, walaupun tinggal di Jogja disana juga banyak masyarakat Bali dan di sana dapat pelajaran tentang Agama Hindu.
Janganlah anda mengira saya tidak tahu tentang ajaran Agama Hindu. Walaupun sejak kecil tinggal di luar Bali saya sangat paham tentang ajaran agama Hindu. Lain halnya dengan anda, sejak kecil tinggal di Bali wawasan Agama Hindu anda sangat dangkal.
Anda mengatakan pernah membaca buku kecil disana tidak ada tulisan/bacaan tentang Tuhan bisa murka, yah jelas buku kecil yang anda baca ! cobalah baca buku gede/besar sekali2 seperti yang saya katakan sebelumnya, Yaitu dalam kitab Wisnu Purana. Yah beginilah otak-otak/watak manusia dizaman Kali Yuga sulit diberikan pemahaman tentang kebenaran. Dari melihat watak/perkataan anda saudara IB Jaya, saya menjadi yakin tentang zaman Kali Yuga seperti yang ada pada Kitab Wisnu Purana/bagian dari Veda. Yaitu pada zaman Kali Yuga tangan kanan akan menjadi tangan kiri dan sebaliknya, kepala akan dijadikan kaki dan sebaliknya, kehormatan bisa dibeli dengan uang contohnya prasasti yang palsu, ingin dihormati dan ingin dikatakan/diakui sebagai keturunan raja makanya membeli prasasti palsu, kan ada buktinya di Bali kasus seperti itu baru2 ini, apa kamu tidak mendengarnya saudara IB. Jaya, atau mungkin anda memang belum bangun dari tidur anda/ anda memang tidak akan pernah mau bangun lagi karena takut dengan kenyataan?
@Putri: Hahahaha Anda memang sangat pintar, sampai-sampai @IB Jaya tidak bisa menjawab. It’s amazing…….Memang seperti yang Anda katakan dan seperti yang ada di dalam Visnu Purana dan juga yang Ida Sang Hyang Parama katakan kepadaku, manusia di zaman sekarang kebanyakan terbalik, yang kiri menjadi kanan dan yang kanan menjadi kiri, kepala dijadikan kaki dan kaki dijadikan kepala..Kebanyakan manusia di zaman sekarang bagaikan rayap, apabila diberikan naik ke atas maka hanya aka menjadi perusak….Mungkin sebagian para pengunjung blog ini mengerti dengan apa yang saya katakan.Dan sementara tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini, karena tidak ada yang mengomentari termasuk yang memiliki blog ini…..Dan satu lagi,,,,
@Bhagawan Dwija: Sampai kapan lagi kau akan merusak tatanan Wangsa di Bali???
…..Aku sangat menanti jawaban darimu dan pengikutmu…..Sampai kapanpun Wangsa tidak akan pernah lenyap dan hilang, sebelum Ida Sang Hyang Parama mengkehendakinya, dan bukan berdasar pada kehendak manusia…
hai yoga and putri, sorry nih baru datang dari luar negeri…masih capek.
heran aku kamu masih seneng ngomongin “kulit” ketimbang “isi”. yoga aku bertanya sekarang…apakah kamu tahu perbedaan jiwa, diri sejati, roh serta hati nurani??? apa yang diperlukan selama kita hidup didunia dan kemana tubuh non fisik tersebut pergi setelah seseorang meninggal??
kalau pengetahuan kamu masih belum cukup dalam apalagi kitab sucimu paramadharma yang kamu sanjung2 itu belumlah lengkap alias terbatas, maka kamu pasti tidak bisa menjawabnya dengan benar…
pertanyaanku ini ada kaitannya dgn pemahaman kasta yang keliru selama berabad-abad di Bali…
i wanna take a rest..talk 2 u soon
@IB Jaya: Hahahahaha dasar pengecut kau mengelak pernyataanku lagi rupanya….Untuk apa Aku menjawab pertanyaanmu, sementara kau belum menjawab pertanyaanku…Hahahaha…Baiklah agar menjadi lebih menarik Aku akan menjawabnya dan akan terlihat kembali sisimu yang sangat bodoh…..
Jiwa itu adalah atman yang berada dalam diri setiap mahkluk hidup, akan tetapi tidak semua atma itu sama. Atma itu layaknya api, semakin besar api maka semakin banyak dan cepat api itu akan bisa membakar..api yang kecil tidak akan bisa membakar kayu yang besar…dan api yang besar sangatlah mudah untuk membakar ranting…..Jika kau mengerti dengan pernyataanku ini, maka kau akan tahu mengapa Wangsa haruslah ada…
Sedangkan roh adalah atma yang gentayangan karena tidak mendapatkan tempat setelah ia meninggalkan badan kasar manusia..Namun sekarang banyak orang menyalah artikan atma dan roh, mereka pikir atma dan roh itu sama, padahal berbeda…Dan hati nurani adalah pikiran yang masih bisa terpengaruh oleh unsur awidya..Jadi hati nurani manusia bisa berbeda dengan apa yang dikehendaki oleh TUHAN, jadi hati nurani manusia berlandaskan apa yang ia kehendaki, jadi berhati-hatilah denga hati nurani,,,karena hati nurani bisa menipu….Dan mengenai tubuh non fisik itu pergi kemana??…Itu tergantung dari apa yang diperbuat sekarang, di kehidupan ini, dan di dunia yang fana dan maya ini…
“kalau pengetahuan kamu masih belum cukup dalam apalagi kitab sucimu paramadharma yang kamu sanjung2 itu belumlah lengkap alias terbatas, maka kamu pasti tidak bisa menjawabnya dengan benar…”
Hahaha pikiranmulah yang masih sangat terbatas, ibarat sebesar lubang semut…Sehinggga kau belum mengetahui apa-apa…Bahkan karena keterbatasanmu kau mengatakan bahwa perubahan itu kekal abadi, di sanalah keterbatasan pikiranmu yang kolot dan bodoh…Wangsa bukanlah kekeliruan, namun kepastian…Hanya orang-orang yang iri karena tidak dilahirkan di Wangsa yang lebih tinggi menyatakan bahwa Wangsa itu adalah kekeliruan…Dan hanya orang-orang yang memaksakan dirinya menjadi terhormatlah yang mengatakan bahwa Wangsa itu keliru..Padahal pikiran merekalah yang keliru, bahkan sangat keliru…..Dan satu lagi, hanya orang-orang temitisan Detya, Gandarwa, dan Soroh Denawalah yang mengatakan bahwa Wangsa itu keliru seperti yang BELIAU sabdakan kepadaku…….Dan satu lagi PARAMADHARMA bukanlah sebuah kitab akan tetapi kebenaran yang sejati dan kebenaran yang sesungguhnya, kebenaran yang mutlak dan tidak bisa ditentang oleh siapapun termasuk para DEWATA sekalipun dan hanya SATU yang bisa menentang dan mematahkan-NYA hanyalah BELIAU sendiri, dan siapa sebenarnya BELIAU kau tak akan mengetahuinya…Dan kau bahkan belum paham akan kebenaran yang sejati…Dan pembenaran apa lagi yang akan kau katakan kepadaku??..Dan bagaimana lagi kau akan mengelak pernyataanku ini……..AKU MELAWAN DAN MENENTANG KALIAN YANG INGIN MELENYAPKAN DAN MENGHAPUS WANGSA BERDASARKAN PADA WEDA DAN AJARAN MAHAGURUKU”PARA DEWATA YANG AGUNG” DAN PARAMAGURUKU….kalian yang ingin menghilangkan dan menghapus Wangsa hanya berpatokan pada beberapa bagian pada weda, namun melupakan bagian yang lainnya yang juga bisa mematahkan semua teori-teori kalian…Akan tetapi apakah kalian sengaja melewatinya atau memang karena tidak tahu dan tidak mengerti akan isi WEDA itu…Bahkan dalam kitab SARASAMUSCAYA dan BHAGAVAD GITA sangat jelas tertulis, akan tetapi haruslah dimengerti terlebih dahulu…..Banyak orang yang hanya berkedok para Filsafat, Guru, Dosen, Profesor, Pejabat dan bahkan Sulinggih sekalipun, namun keinginannya hanyalah satu”INGIN MENIADAKAN YANG TIDAK PANTAS UNTUK DITIADAKAN, AKAN TETAPI MENGADAKAN YANG TIDAK PANTAS UNTUK DIADAKAN” seperti itulah mereka….Kebanyakan perkataanmu seperti perkataan Duryodana yang selalu mengelak akan kebenaran….
yoga..ha..ha..ha..hi..hi..hi..cuma segitu jawabanmu?? apakah ada lagi tambahan penjelasan yang kamu bisa berikan SUPAYA TIDAK KELIRU??? coba buka lagi kitab primbonmu itu ato tanyakan langsung ke gurumu?? siapa tahu masih ada penjelasan tambahan..ato emang sudah tidak ada lagi alias amonto dogen level ajarannya..! (ssstt sebenarnya aku tidak mau lho ketawain kamu lagi seperti kebiasaan kamu menertawakan, mencela ato mencemooh orang lain. bukan sifatku spt kamu.. ha..ha..ha…)..
kamu belum menjelaskan apa artine DIRI SEJATI?? ape karene sing nawang dan sing ade dikitabnya? ha..ha..ha…
pun kamu sebenarnya belum menjelaskan dengan rinci apa itu HATI NURANI alias apa yang kamu coba jelaskan itu adalah SALAH BESAR dan tidak berdasar!!…sebenarnya sebelum memahami akan arti HATI NURANI, kamu semestinya juga harus tahu dan mampu menjelaskan tentang HATI..
HATI adalah pusat dari seluruh perasaan-perasan manusia…sedangkan HATI NURANI adalah bagian terdalam sebagai inti dari HATI. HATI NURANI tidak pernah salah! camkan ini! HATI NURANI selalu mengetahui kebenaran dan selalu mengarahkan kita kepada TUHAN..
Jadi HATI NURANI SEPERTI YANG KAMU KATAKAN, BISA SALAH (????!!!) ha..ha..ha…Oya, tahukah kamu dimana keberadaan tubuh non fisik tersebut berada seperti jiwa, hati, hati nurani, roh dan Diri Sejati itu??
HATI NURANI adalah inti dari ROH kita dan yang merupakan percikan dari TUHAN itu sendiri (kesadaran yang sejati)….kebanyakan orang sekarang ini HATInya dipenuhi oleh kekotoran/kegelapan, emosi2 negative, nafsu dan sejenis negative lainnya yang menutup hatinya dan sudah tentu akan menutup HATI NURANINYA…contohnya sudah ada koq nga jauh2!!
Terus kamu belum jelaskan apa yang harus dilakukan selama hidup didunia untuk dapat “memurnikan dan menerangi” tubuh2 non fisik tersebut sehingga dapat terhubung lebih dekat lagi dengan TUHAN.
kemudian kamu tidak menjelaskan kemana perginya tubuh2 non fisik tersebut setelah meninggal?…untuk pertanyaan ini aku tunggu jawabanmu!
ha..ha..ha…bagaimana ini kamu sudah salah dan keliru besar….mapi-mapi duweg, udah gitu ngomongnya ngaco dan mencela lagi..lain kali tolong bersikap lebih sopan sedikit kenapa sih….jangan suka mencela orang apalagi dengan ilmu terbatas !!!!
bisa dibayangin kalok model kamu aja pengetahuannya “terbatas” begini, bagaimana dgn “yang lainnya”??
ketahuilah nga ada hubungannya hati, hati nurani, kesadaran jiwa, maupun kesadaran ROH dengan wangsa! camkan itu! aku dah bilang berkali2, wangsa/kasta di Bali itu buatan manusia pada jamannya itu! sama kayak proklamasi 17 agustus 1945 yang diumumkan oleh duet bung Karno & Bung Hatta..syukur sekali Bung Karno yang sudah terbukti sangat berjasa bagi Bangsa dan Negara Indonesia karena pengetahuannya luas sehingga tidak membuat Bhisama Proklamasi untuk kepentingan pribadinya..
kalau pengetahuan dan pemahaman kita terbatas, maka cara pandang kita terhadap suatu masalah (termasuk kasta/wangsa) juga menjadi terbatas. camkan itu yoga!!
aku mo cerita lagi tentang 3 orang yang buta sedang memegang gajah dan bercerita tentang bentuk seekor gajah….yang satu mengatakan gajah itu kecil memanjang, karena dia sedang memegang belalainya, yang satu bilang gajah itu kecil berbulu dan suka bergerak2, karena dia memegang ekornya, dan yang satu bilang gajah itu seperti tiang rumah, karena memegang kakinya….
@IB Jaya : Hahahahhahahahahahahahahaha sperti itukah jawabanmu yang sangat mengecewakan…Aku tidak perlu lagi menjelaskan DIRI SEJATI keada orang bodoh sepertimu, karena AKU sangat yakin bahwa kau tidak akan mengerti dengan apa yang akan AKU jelaskan…Karena secara tidak langsung AKU sudah menjelaskannya dari awal….Dan tentang HATI NURANI itu bahkan sudah AKU jelaskan, akan tetapi perlu sedikit pemahaman dalam mengartikan beberapa kalimatku itu……HATI NURANI manusia timbul berdasarkan pikiran dan apa yang dirasakan, secara lebih jelasnya perasaan timbul dipengaruhi oleh panca indria terutama penglihatan dan pendengaran….Dan dari PANCA INDRIA inilah timbul perasaan akan suka dan benci yang bisa mempengaruhi hati nurani seseorang…Secara ringkasnya apa yang kau lihat berdasarkan PANCA INDRIAmu itu tergantung dari sesuatu yang KAU lihat, dan apabila sesuatu yang KAU lihat itu tidak baik di matamu maka kau akan membencinya dan tidak menyukainya, dan apabila baik terlihat di matamu maka kau akan menyukainya. Namun apa yang kau lihat dan rasakan bisa berbeda dengan apa yang orang lihat dan rasakan, oleh sebab itu HATI NURANI setiap manusia bisa berbeda tergantung dari apa yang ia lihat dan rasakan dan berdasarkan PANCA INDRIAnya. Dan di sanalah hati nurani akan berkata seperti apa yang kau lihat dan kau rasakan, dan ingatlah PANCA INDRIA masih bisa dipengaruhi oleh unsur AWIDYA..Dan oleh sebab itu HATI NURANIpun juga bisa dipengaruhi oeh unsur AWIDYA..Oleh sebab itu hanya ada satu tolak ukur untuk membuktikan bahwa HATI NURANImu salah atau BENAR itu tergantung dari PARAMADHARMA..Dan kau bilang HATI NURANI tidak pernah salah??, itu tergantung kepada diri setiap manusia, artinya apa yang ia anggap benar hanya untuk dirinya semata, dan bukan kebenaran yang mutlak dan utama….Oleh karena itu mengapa MAHAGURUKU dan PARAMAGURUKU mengatakan bahwa HATI NURANI manusia tidaklah sepenuhnya benar menurut BELIAU, dan itu tergantung kepada diri setiap manusia….Karena MAHAGURUKU dan PARAMAGURUKU adalah PARAMADHARMA.
Dan kau menanyakan di mana keberadaan tubuh non fisik, hati nurani, diri sejati dan roh??…Semua itu berada dalam diri setiap makhluk(untuk lebih jelasnya AKU tidak akan menjelaskannya kepada orang bodoh seperti kau)….Dan satu lagi roh adalah atma yang telah meninggalkan badan kasar dan tidak mendapatkan tempat baik di NERAKA LOKA ataupun SWARGA LOKA…Karena roh adalah atma yang gentayangan alias lontang-lantung….Kau bilang tidak ada hubungannya atma dengan Wangsa????…Hahaha Kau ini bodoh, bahkan sangat bodoh….Wangsa di Bali bukanlah buatan manusia, yen sajan keto Wangsa binatang dan Wangsa tumbuh-tumbuhan nyen ngae PEKA K kau’eee???…..Hahahaha apabila kuitnya adaah kulit jeruk isinya tidak mungkin semangka dan juga sebaliknya. Kalau kulit sudah kulit jeruk maka isinyapun juga jeruk, meskipun jeruk itu sudah busuk akan tetap dibilang jeruk…Camkan kata-kataku itu, dan mengertikanlah setiap kata-kataku agar kau menjawabnya tidak kebingungan…Kau yang sebenarnya mapi-mapi duweg, yen sajan kau to dueg kau sing nyambatang sing ane kekal abadi to perubahan….Uli ditu suba kau to maciri belog…….Hahahahaha….Dan satu lagi bukannya kau yang terlebih dahulu mencela PARAMADHARMA, oleh sebab itu AKU juga mencela dirimu,,dan sekarang Kau tidak terima???….Hahahaha memang sifat manusia bodoh itu seperti itu, yen ibane nyacadin nak dadi, sakewala yen didiane cacadinne teken anak len sing dadi…Hahahaha sangatlah anehhhh…..Kengkene terbukti sudah bahwa sebagian besar kata-katamu itu sudah jauh panggang dari api..Bukannya kau juga yang mencela orang dengan ilmu yang sangat-sangat terbatas dan lebih terbatas dari panjang lubang semut….Kene suba wih jeruk minum jeruk….Bagaimana sudah puaskah dirimu dengan jawabanku, dan juga kau akan mencela jawabanku lagi berdasarkan otakmu yang terbatas itu…Hahahahahaha apa ye kal buin jani orahange teken I Bellog Jaya..Pertama yang kekal abadi adalah perubahan yang kedua TUHAN tidak bisa murka…..Hahahaha apa lagi ya yang akan berbeda berdasarkan WEDA dan juga PARAMADHARMA….????
“Terus kamu belum jelaskan apa yang harus dilakukan selama hidup didunia untuk dapat “memurnikan dan menerangi” tubuh2 non fisik tersebut sehingga dapat terhubung lebih dekat lagi dengan TUHAN.”…Haruskah Aku menjelaskannya beulang-ulang?,,Bacalah terllebih dahulu kitab SARASAMUSCAYA karena dalam kitab itu tertulis bagaimana menjalani hidup di dunia maya ini, dan ke mana atma akan pergi setelah meninggalkan badan kasar”Angga Sarira”, baca kapah-kapah SARASAMUSCAYA do bantenang’e di plangkiranne, sakewala yen maca benehang do ulah-ulah maca gen……Bagaimana teruslah mencari pembenaran yang kau anggap benar menurut dirimu sendiri…Karena apa yang AKU katakan sekarang adalah apa Yang dikatakan oleh MAHAGURU dan PARAMAGURUKU, intinya apa yang Aku katakan juga beliau katakan, apa yang Aku pikirkan juga beliau pikirkan, akan tetapi apa yang beliau pikirkan Aku tidak bisa perkirakan dan memiirkannya sekalipun….Pikiranku dan perkataanku adalah milik BELIAU, namun PERKATAAN dan PIKIRAN BELIAU bukanlah milikku….
Waaahhh seru sekali ya perdebatannya, tapi mengapa perdebatan ini hana didominasi oleh Yoga dan IB Jaya?. Sementara Bhagawan sendiri tidak berkomentar apa-apa????…Kok aneh ya????
Dan juga kepada Yoga dan IB Jaya, sampai kapan lagi nie kalian akan bertengkar lebih2 pembicarannyaa sudah jauh dari topik.
Yang satu ngebet akan komentarnya dan satu lagi berdasar pada ajaran paramadharma!!!!
Waaduuuh jadi bingung nie mana yang bener?
Dan satu lagi mesti ya masalah Wangsa/Kasta/Warna atau apalah harus dibahas dengan cara kayak gini?
Gak ada gunanya bahas masalah Wangsa/Warna/Kasta cuma buang-buang tenaga ajha!!!!
Dan juga menurut pandangan saya sendiri nie Warna juga membeda-bedakan sama kayak Wangsa dan Kasta, tapi mengapa itu diperdebatkan lagi? kalo emang pengen damai dan tentram? Apakah setelah Wangsa atau Kasta ini hilang dan diganti dengan Warna, masyarakat Bali bisa damai, tentram dan harmonis???
Ada beberapa perkiraan yang saya pikirkan dan renungkan dari masalah ini:
1. Kalau Wangsa sudah hilang maka warna yang berlaku, dan masyarakat Bali bisa menentukan ke mana atau apa profesinya? Tapi menurut saya nie, kalau misal warna yang berlaku terus bebas memilih pekerjaan sesuai yang dikehendaki (Brahmana, Ksatria, Wesia dan Sudra) itu tetap juga membeda-bedakan, lalu di mana berlaku arti tat twam asi itu kalau masih membeda-bedakan??
2. Sebagai contoh katanya menurut guru saya yang bersekolah di UNDIKSA kalau pergaulan di Buleleng itu memakai bahasa yang kasar dan tidak memandang wangsa atau kasta. Sedangkan pergaulan memakai bahasa yang kasar itu dianggap buruk, terus berarti kalau wangsa hilang pergaulan masyarakat di Bali akan seperti itu. Tentu hal ini akan membuat kemerosotan pada nilai-nilai etika dan moral. Buktinya sudah nyata dan jelas bahwa di desa saya sudah mulai seperti itu, dalam artian tidak lagi memandang wangsa dalam pergaulan. Truus jadinya ya seperti itu dalam bergaul memakai bahasa yang kurang sopan dan etika dalam bergaul sudah semakin merosot, serta tidak lagi memandang status atau apalah. Mungkin karena zaman sudah Kali Yuga ya? jadinya seperti ini?
3. Dan satu lagi, kalau wangsa hilang maka penghormatan terhadap para leluhur juga akan hilang. Karena wangsa berhubungan langsung dengan para leluhur.
#Hanya sebagai masukan dan bukan berarti membela wangsa, bagi saya sistem wangsa ini secara tidak langsung sudah ada dari zaman dahulu dan bukan buatan manusia. Setelah saya telaah lebih lanjut mengenai cerita-cerita zaman dahulu bahwa wangsa itu sudah ada semenjak dunia ini ada. Seperti dalam kisah Mahabarata, Ramayana dan lain-lain dalam cerita itu selalu memakai sistem berdasarkan atas darah keturunan. Dan juga memang ada beberapa bagian cerita yang berisi tentang pencuri bisa menjadi orang suci, pembunuh bahkan perampok bisa menjadi raja, akan tetapi berdsarkan kelompok cerita itu hanyalah mitos dan juga legenda yang bisa benar dan juga bisa salah. Karena menurut buku yang saya baca mitos dan legenda adalah sebuah cerita yang dituturkan untuk dapat dimengerti makna yang tersirat dalam cerita itu. Sebagai contoh seorang pencuri bisa menjadi orang suci”brahmana”, tentu dalam kenyataan tidak ada yang seperti itu, karena kalau sudah terbuti pernah melakukan tindak kejahatan idak akan bisa menjadi orang suci”brahmana”. Itu berarti kisah tersebut mengajarkan kita sesuatu yang berbeda dari isi cerita tersebut, dan dalam kisah itu diajarkan bahwa kita meskipun pernah melakukan kesalahan dan kejahatan, apabila kita ikhlas untuk bertobat dan menebus dosa kita maka kita bisa menjadi orang yang lebih baik. Dan mengapa dalamkisah itu yang dipakai patokan adalah orang suci atau brahmana karena pada zaman dahulu yang dianggap suci itu adalah brahmana. Coba kalian pikir lagi, mitos bangsa Yunani bahwa para dewa akan kehilangan kekuatannya karena manusia jarang dan hampir tidak pernah menyembah para dewa, dan saat kekuatan para dewa hilang maka Dinding Tartarus”tempat dikurungnya para iblis” akan hancur dan jatuh, dan para iblis akan kelar serta merusak dunia. Dari mitos tersebut, tentu cerita itu sudah keliru, karena para dewa tidak akan pernah kehilangan kekuatannya. Dan dari sana saya berpikir bahwa cerita tersebut mengajarkan kita agar selalu menyembah para dewa untuk keselamatan. Dan saya mohon untuk tidak mengikut sertakan cerita-cerita mitos semacam itu yang belum terbukti kebenarannya.
Dan satu lagi menurut saya wangsa itu ada karena beberapa faktor, seperti adanya raja dan rakyat. Kalau tidak ada rakyat maka tidak ada raja, dan kalau tidak ada raja maka tidak ada rakyat.
Intinya setiap wangsa saling membutuhkan datu sama lain. Apabila tidak ada brahmana siapa yang akan muput karya, jika tidak ada ksatria siapa yang akan menjadi pemimpin, jika tidak ada wesia siapa yang akan berniaga, dan juga bila tidak ada sudra siapa yang akan menjadi pengayah. Kalau semua sudra siapa yang patut kita abdikan?
Memang dari beberapa pihak merasa rugi dengan adanya wangsa dan pihak lain merasa masih layak karena adanya beberapa faktor.
Janganlah memperdebatkan hal ini lagi karena setiap wangsa punya kewajiban masing-masing, seperti yang dikatakan mantra dan god slave yang sempat saya baca.
Dan satu lagi seperti yang dikatakan mantra setahu saya juga yang masih awam bahwa seorang sulinggih tidak akan mengajarkan profokasi. Maaf saja di sini saya tidak membela siapa-siapa meskipun Yoga atau IB Jaya, kalau di antara kalian masih ada yang merasa dibela berarti pikiran anda-anda ini buruk. Saya di sini berpendapat sesuai dengan apa yang saya lihat dan amati. Dan maaf apabila ada pihak yang merasa tersinggung.
Salam damai peace…
Om Namo Bhudaya namah
Om Namo Sivaya namah
Om Siddhirastu tat astu astu Svaha
Om Santi Santi Santi Om
Perdebatan wangsa memang seru…
lanjutkan…
jangan dilihat sisi verbalnya… tapi amati substansi dari statemen mereka.
menang kalah tetep friend ya.
@pak yoga saya ngga akan menentang pendapat anda soal wangsa. bisa minta tolong dijelaskan ngga:
1. apa kriteria wangsa itu, kalau keturunan, dihitung dari siapa?? mengingat babad bali sudah beredar luas di dunia maya… keturunan Sapta Rsi juga dihitung sebagai wangsa brahmana. pada kenyataannya sekarang mereka ngga pake titel triwangsa. apa wangsa mereka?
2. apa wangsa mereka yang kalah perang pada jaman dulu yang notabene sampai saat ini nyineb wangsa? (temen2 saya ada yang turunan Dalem tarukan dan Nararya benculuk tegeh kuri… ada sebagian ngga pakai titel triwangsa.)
3. jika wangsa yang lebih rendah harus mengabdi kepada wangsa yang lebih tinggi, bagaimana jika seorang bertitel “dewa” menjadi pimpinan penjahat atau anak agung menjadi pimpinan preman. dalam kehidupan sehari hari mereka bukanlah panutan masyarakat. bagaimana cara mengabdi kepada mereka?
Suksma atas jawabannya pak yoga.