Sering saya dengar di acara pemuspaan (kramaning sembah) bait ke lima: “Om Dewa Suksma Parama Acintyaya Namah Swaha” didahului pengantar dari Jero Mangku:
“Inggih, penguntat mangkin ngiring ngaggen tangan kosong, ngaturang suksma ring Sanghyang Widhi”
atau ada juga memakai bahasa Indonesia: “Terakhir, mari kita menggunakan tangan kosong, mengucapkan terimakasih kepada Sanghyang Widhi”
Menurut Weda Parikrama, “suksma” tidak berarti terima kasih, tetapi artinya: “wujud Sanghyang Widhi sebagai Yang Maha Kuasa”. Ini ditegaskan dalam “Catur Dasa Siwa” atau 14 bentuk Siwa yang dipuja:
- Prasadakala
- Shtitikala
- Kalakuta
- Mahasuksma
- Suksma
- Antakala
- Adhikala
- Paramasuksma
- Atisuksma
- Suksmatara
- Suksmatama
- Sada
- Parama
- Sunia
Jadi kesimpulannya:
- Ada 6 “suksma” (lihat nomor 4, 5, 8, 9, 10, 11) di atas.
- Terjemahan mantra: Om Dewa suksama Parama Acintya ya namah swaha = Tuhan, Yang Maha Agung dan Maha Kuasa yang absolut tak dapat diucapkan, atau dipikirkan oleh pikiran dan bahasa, itulah Engkau.

Om Suastiastu.
Bebicara masalah kramaning sembah, pada sembah, yang kedua setelah muspa puyung, pasti kita dengar mengenai puja kepada sanghyang siwa raditya sebagai saksi.Apakah kalau tidak ada saksi kita ngaturang bakti tersebut, lalu dianggap tak sah bakti kita.Lagi pula dalam terjemahan doa yang berhubungan dengan sembah kepada sanghyang siwa raditya, tidak disebutkan bahwa beliau dipuja dalam kedudukan sebagai saksi, mohon pencerahan, suksma.
@w.nila: Maksudnya bukan saksi/penyaksian, tetapi sebagai sembah utama kepada-Nya. Tidak hanya dalam kramaning sembah, tetapi dalam acara muput, para Sulinggih pertama-tama harus memuja Siwa Raditya sebelum melanjutkan ke puja/weda lainnya. Ini karena kita Hindu-Bali menganut Hindu dari Siwa-Siddhanta, dimana Tuhan kita adalah Siwa.
Mohon pencerahan, pertanyaan saya, apakah pelinggih tugun karang harus ada di pekarangan?? kenapa di rumah saya di klungkung desa bungbungan tidak ada pelinggih penunggun karang?? apa perlu di buatkan pelinggih?? suksma, ampura banget yening wenten sane iwang…
@I Komang Agus Sumerta: Mestinya ada, menurut petunjuk lontar Kala Tattwa.
om swastiastu
kalo pada bait kelima bukan sebagai bentuk ucapan terimakasih (suksma) seperti yg byk salah kaprah di masyarakat, bagaimana harusnya/baiknya dalam mengantar pelaksanaan kramaning sembah utk bait kelima?
suksma
Om Swastyastu,
Ucapan pengenter acara pada sembah kelima :
“Inggih mangkin ngiring ngaturang sembah puyung ring Ida sane meraga Sanghyang Acintya”
Om Santih, santih, santih, Om
Bhagawan sane wangiang titiang
Saya sering bertugs sebagai pembawa acara dalam persembahyangan di pura Cirebon.
Saya telah membaca pengantar yang pas untuk sembah terakhir dari kramaning sembah di Web ini.
Bagaimana sebaiknya pengantar untuk sembah pertama dari kramaning sembah?
Matur suksma Bhagawan
IDM Budiana – CIREBON
Bagaimana cara yang benar dalam melaksankan persembahyangan di Penunggun Karang? Apakah kita harus muspa di depan Penunggun Karang? Matur suksma.