Surya di Pura

QUESTION:

  1. Apa fungsi surya di pura yang letaknya di samping padmasana, apakah jumlahnya harus 3? Masing-masing punya fungsi sendiri?
  2. Kalau mendirikan pura, apakah ada aturan-aturannya? Apakah seperti membangun bangunan biasa?
  3. Apakah kelak setiap upacara tetap harus memakai banten seperti sekarang ini?
  4. Apakah ada aturannya?
  5. Aturan tentang banten upacara tertentu ada di mana?
  6. Orang Bali bisa menentukan banten harus seperti ini dan itu awal mulanya dari mana apakah hanya murni dari tradisi turun temurun?
  7. Pemeluk Hindu wajib ber-trisandya, untuk waktunya apakah ada ketentuannya? Misal kita melewatkannya satu atau dua kali apakah ada cara untuk menebusnya? Misal mengucapkan mantranya dobel?

ANSWER:

1. Biasanya Padmasana itulah Surya (menurut paham Siwa Siddhanta). Kalau ada tiga bangunan suci, itu bukan Surya, tetapi:

  1. Kemulan Rong 1
  2. Limascari (Purusha-Gunung Agung)
  3. Limascatu (Pradana, Gunung Lebah)

2. Aturannya ada dalam Lontar-lontar: Gong Besi, Sanghyang Aji Swamandala, Tutur Kuturan, dan Dwijendra Tattwa.

3. Ya, itulah tradisi beragama Hindu di Bali, karena Bali artinya = Banten.

4. Ada pada Lontar Markandeya Tattwa

5. Di Lontar Yadnya Prakerti

6. Berdasarkan wahyu Sanghyang Widhi yang diterima oleh para MahaRsi di Bali:

  1. Rsi Markandeya
  2. Mpu Lutuk
  3. Mpu Jiwaya
  4. Manik Angkeran
  5. Danghyang Nirartha

7. Agama Hindu bukan Agama Doktrin, artinya Agama Hindu (Bali) memberikan kebebasan sepenuhnya kepada pemeluknya untuk menyembah Sanghyang Widhi menurut keyakinan dan kepercayaannya masing-masing.

Bila me-Trisandya tidak perlu harus tepat jam-jamnya. Cukup: pagi, siang, sore. Kalau tak sempat pagi, ya siang, kalau tak sempat siang ya malam, dst.

9 comments to Surya di Pura

  • 1
    Md dhanan jaya says:

    1. Utk mslah ngaben, adakah banten yang paling sederhana, sebab yang berkembang slama ini di masyasrakat, umat hindu klo ga menjual warisan dari leluhur, semisal tanah ga bs mlakukan proses dari ngaben secara tuntas.
    2. Adakah dari parisada hindu untuk merehab/perbaikan aturan banten yang slalu mengikuti perkembangan jaman yang smakin maju hingga krama bali yang kurang berada tetap bisa melakukan yadnya semampunya tanpa harus berhutang.

    • 1.1

      1. Banten pitrayadnya lengkap yang alit/sederhana kini harganya sekitar Rp.6 juta
      2. Kalau mau ikut upacara pitrayadnya massal (gotong-royong) yang sering diadakan di lingkungan banjar/desa adat biayanya sekitar Rp.1 juta

      Yang masih suka jual tanah warisan untuk upacara pitrayadnya, mohon tidak lagi melakukannya, karena nanti tanah kita di Bali habis terjual kepada para pendatang yang biasanya dengan semangat membeli tanah-tanah kita. Nanti kita (orang Bali) menjadi penduduk yang mengungsi ke pinggiran atau terpaksa bertransmigrasi ke pulau lain.

  • 2
    Prof. Oka Manik Mas says:

    Om Swastyastu

    Agama Hindu di Indonesia sangat unik ada agama Hindu Bali, agama Hindu Kaharingan di Kutai, agama Hindu Toba di Sumut, agama Hindu Jawa. Tetapi agama Hindu di luar Indonesia di benua Asia, Eropa, Amerika, Australia sama yaitu sama dengan India yang sepenuhnya mengacu kepada kitab suci Weda dan Bagawadgitha. Pengamat asing menilai agama Hindu di Indonesia khususnya di Bali lebih dekat kepada budaya yang mendapat pengaruh agama hindu. Antara tattwa, upacara, dan susila lebih dominan upacara. Konversi pemeluk agama Hindu ke non hindu dewasa ini sangat deras dan memprihatinkan terutama generasi muda Hindu. Salah satu penyebabnya adalah kondisi di atas. Iming-iming berbagai jenis bantuan seperti kesehatan, biaya sekolah dan bantuan sosial lainnya oleh agama Kristen dan Katolik seperti di kabupateen Badung bagian Barat dan Utara. Memang agama Hindu bersifat universal dan fleksibel tetapi ini sepertinya alasan kita untuk keluar dari permasalahan ini. Mohon komentar Sri Bhagawan. Suksma

    Om Shanti Shanti Shanti Om

    Mk. Manik Mas
    (Prof. Oka Manik Mas)
    Bogor

    • 2.1

      Om Swastyastu,

      1. Agama Hindu di Indonesia benar beragam menurut local genius setempat. Bagaikan bola salju yang menggelinding dari puncak Himalaya, dalam perjalanannya memungut apa-apa yang dilewati seperti dedaunan, kerikil, dll., sehingga ketika tiba di akhir gelindingnya, bola salju itu menjadi besar ditempeli berbagai macam benda. Demikian pula Hindu di Nusantara yang awalnya dibawa dari Koromandel (tenggara India) oleh para pedagang di abad ke-4 M kemudian disempurnakan menjadi siwa sidantha oleh Maha Rsi Agastya dari Madya Pradesh India. Di Jawa siwa sidantha berbaur dengan Budha dari sekte Mahayana. Kemudian ketika tiba di Bali Siwa-Bodha itu berbaur lagi dengan sekte Hindu lainnya : Pasupata, Bhairawa, Waisnawa, Brahmana, Resi, Sora, dan Ganapatya (Dr. R. Goris : 1926) Hal demikian bisa terjadi karena keyakinan Hindu adalah Sanatana Dharma. Berbeda dengan India, yang pernah diserang dan dikuasai selama 10 abad oleh suku bangsa Moghul yang beragama Islam, sedikit banyaknya mendapat pengaruh Islam baik dalam srada misalnya adanya Allopanishad, maupun dalam bangunan/arsitektur misalnya bentuk Mandir dan Taj Mahal. Disamping itu Agama Hindu di India terpecah menjadi puluhan sekte, karena berkembangnya perguruan/sampradaya/ashram. Masing-masing mengembangkan Hindu menurut tafsir Weda yang berbeda.
      2. Agama Hindu di Indonesia khususnya di Bali menggunakan upacara/upakara sebagai sarana pembelajaran dan penghayatan Weda. Methoda ini berhasil menyerap ke masyarakat, sehingga agama Hindu di Bali mampu bertahan berabad-abad hingga kini dan sampai dimasa y.a.d.
      3. Dugaan derasnya konversi Hindu ke Non-Hindu perlu dikaji lebih akurat dengan data statistik. Sedangkan konversi sebaliknya-pun cukup deras pula, terbukti dari seringnya para Sulinggih/PHDI melakukan upacara Sudhi Waddani. Kedua konversi itu sekali lagi perlu dikaji secara akurat agar mendapat gambaran yang jelas.
      4. Iming-iming material sebagai aktivitas Missionaris Kristen/Katolik memang banyak dijumpai di Bali. Ini perlu diwaspadai oleh PHDI.

      Demikian tanggapan saya, Terima kasih

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 3
    Prof. Oka Manik Mas says:

    Om Swastyastu

    Dalam tahapan hidup agama dikenal dengan catur asrama yaitu Brahmacarine, grahasta, wanaprasta Dan sanyasin. Sekarang cukup banyak Sanger sane sampun meraga sanyasin kembali ke brahmacarin katakana kuliah program S1, S2, bahkan Ada yang program Doktor atau S3. Titiyang wantah dozen ring IPB Bogor sering membimbing mahasiswa S2 dan S3, jika mahasiswa kerjanyan kurang ulet sesuai dengan teori yang kami ajarkan pasti dikritik dan “dimarahi” bila perlu dgn maksud baik. Jika seorang sampan meraga sanyasin Malay dimarahi, disuruh suruh bahkan dikritik oleh dosennya? Catur asrama menjadi tidal jells makna Dan falsafahnya. Mohon komentar Sri Bhagawan. Suksma.

    Om Shanti Shanti Shanti Om.

    Mk. Manik Mas

    • 3.1

      Om Swastyastu,

      Catur Asrama tidak dapat dikaitkan langsung dengan usia manusia. Maksudnya, Brahmacarin Asrama tidak berarti proses pembelajaran hanya dilakukan dimasa anak-anak saja, tetapi berkelanjutan sepanjang usia. Di Asrama yang lain, misalnya Gryasta Asrama, ada batasan awal dan akhir. Ketika memasuki Asram Wanaprastin, sebaiknya masa gryasta sudah selesai. Jadi dengan demikian, catur asrama lebih mendekati petunjuk pola hidup dan spiritual ideal yang bertingkat untuk mencapai moksah. Atau dengan kata lain. tak mungkin Moksah tercapai bila tidak melalui catur asrama. Sedangkan jenjang pendakian itu disetai pula dengan catur purusha artha dalam kehidupan sehari-hari : dharma, artha , kama, moksah.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 4
    Prof. Oka Manik Mas says:

    Om Swastyastu

    Titiang pernah satu pesawat dengan searing Pndita Istri seorang bule dari UK yang ke Jakarta dgn Pandita lanang. Dawege kantun ring Bali ring Bandara Ngurah Rai masih sangat sopan. Namun setelah me carat di Cengkareng, berjalan bergandengan tangan dan saling cubit sepertinya pengantin anyar. Ampura Sri Bhagawan cihnayang napi puniki. Mohon komentar Sri Bhagawan. Suksma

    Om Shanti Shanti Shanti Om

    Prof. Oka (Mk. Manik Mas).

    • 4.1

      Om Swastyastu,

      Yening sekadi punika menawi Ida lali ring daging sastra lontar Silakrama. Napi karmaphalan ipun, wantah Ida Sanghyang Parama Kawi sane uning.

      Om, Santih, santih, santih, Om

  • 5

    OM SUASTIASTU

    Darimanakah kata “sang hyang widhi dan betara” berasal?
    bukankah itu merupakan kata-kata yang bersifat sakral?
    namun kenapa sangat lumrah di gunakan seperti pada pembuatan nama seseorang dsb?

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting