Banten bengu (upakara/ sajen yang busuk) jelas dilarang dalam Lontar Yadnya Prakerti, di mana disebutkan bahwa banten yang sudah dihaturkan kepada Hyang Widhi atau leluhur oleh para Sulinggih hendaknya dimakan oleh para Bhakta sebagai “lungsuran” atau dalam istilah Weda disebut sebagai “Prasadham”.
Oleh karena itu tinggal mengatur caranya bagaimana agar banten tidak bengu (busuk) misalnya: Read more » Banten Bengu
Banten pada awalnya ketika diajarkan pembuatannya di Desa Puakan (Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Bali) oleh Maha Rsi Markandeya kepada penduduk setempat di abad ke-8, bernama “Bali” atau “Wali”.
Lama kelamaan tradisi yang diajarkan itu berkembang ke seluruh pulau, sehingga orang-orang yang bersembahyang menggunakan banten, dinamakan “Orang Bali” dan pulau kecil inipun bernama Pulau Bali. Read more » Banten Sebagai Pengganti Mantra
Pada Mahasabha VIII PHDI yang digelar di Hotel Radison Denpasar bulan September tahun 2001 yang lalu, saya sempat berbincang dengan saudara kita umat Hindu asal Banten utusan Jawa Barat.
Dia mengatakan bukti kita bersaudara sangat kuat, karena upakara yang dikatakan di Bali sebagai “Banten”, di Banten disebut sebagai “Bali”. Dalam Bhuwana Tattwa Maha Rsi Markandeya, disebutkan bahwa Maha Rsi bersama pengikutnya membuka daerah baru pada Tahun Saka 858 di Puakan (Taro – Tegal Lalang, Gianyar, sekarang) . Read more » Makna Banten Bagi Umat Hindu di Bali dan Masalahnya Kini
1. Nuwur tirta wangsuh-pada di Sanggah Pamerajan dan Kahyangan Tiga
2. Ngulapin di Pura Dalem.
QUESTION:
Saya dulu pernah membaca tentang artikel Ida Pandita mengenai standarisasi banten, yang ingin saya tanyakan standarisasi banten ini apakah termasuk pengaruh globalisasi yang ada di kalangan umat hindu? seperti apakah gambaran standarisasi yang ada?
Kemudian apakah juga berpengaruh pada upacara adat? Dengan adanya standarisasi yang ada apakah tidak menghilangkan makna atau hakekat tradisi yang sudah ada. Read more » Standarisasi Banten
QUESTION:
Dalam Upacara Tiga Bulanan terdapat banten “Pecolongan”. Mohon kiranya Ida Pandita memberi penjelasan tentang:
- Kenapa setiap Upacara Tiga Bulanan terdapat banten Pecolongan dan apa makna dari Pecolongan tersebut?
- Apakah arti simbol-simbol yang terdapat dalam banten Pecolongan?
- Bagaimana hubungan disahkannya nama si bayi dengan menginjakkan kaki ke tanah dalam Upacara Tiga Bulanan? Read more » Banten Pecolongan
Bhagawadgita Bab IX tentang Raja Vidyaraja Guhya Yoga, Sloka ke 26 menyatakan:
PATTRAM PUSHPAM PHALAM TOYAM, YO ME BHAKTYA PRAYACHCHHATI, TAD AHAM BHAKTYUPAHRITAM, ASNAMI PRAYATATMANAH
artinya: Siapa yang sujud kepada-Ku dengan persembahan setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, atau seteguk air, Aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci. Read more » Banten
|
|
Recent Comments