Kitab Sarasamuscaya adalah tuntunan bagi mereka yang sudah meliwati Grhasta Asrama, atau tepatnya sudah meningkat ke Wanaprasta Asrama, apalagi sudah menjadi Sanyasin/ Bhiksuka.
Khusus mengenai wanita, demikian dianggap ‘berbahaya’ bagi kedua Asrama itu, misalnya seperti apa yang diuraikan dalam pasal 80, 81,82, 83, 84, 85, 86, 87, dst. Read more » Sarasamuscaya dan Manawa Dharmasastra
Cara mendapatkan sumber kehidupan bagi umat Hindu diatur dalam Manawa Dharmasastra *) Buku ke-4 “Atha Caturtho ‘Dhyayah” antara lain pada pasal 3 berbunyi:
YATRAM ATRA PRASIDDHYARTHAM, SWAIH KARMABHIRAGARHITAIH, AKLESENA SARIRASYA KURWITA, DHANASAMCAYAM
artinya: Untuk tujuan mendapat nafkah guna menunjang kehidupan, seseorang hendaknya mengumpulkan penghasilannya dengan menjalankan usaha yang tidak tercela sesuai dengan swakarma-nya tanpa membuat dirinya terlalu payah tidak menentu. Read more » Cara Mendapatkan Sumber Kehidupan
Buku Manawa Dharmasastra yang ditulis oleh G. Puja MA dan Tjokorda Rai Sudharta MA pada kulit luarnya tertera: Manawa Dharmasastra (Manu Dharmasastra) atau Weda Smrti, Compendium Hukum Hindu, dicetak tahun 1973 oleh Lembaga Penterjemah Kitab Suci Weda.
Menarik untuk dikaji kalimat: COMPENDIUM HUKUM HINDU karena jika kita menyimak lebih jauh bab demi bab akan menimbulkan pertanyaan, apakah kaidah-kaidah itu masih relevan di zaman millennium ini. Read more » Manawa Dharmasastra
Dalam Kitab Suci Hindu: Manawa Dharmasastra ada delapan cara perkawinan, yaitu: Brahma Wiwaha, Dewa Wiwaha, Arsa Wiwaha, Prajapatya Wiwaha, Asura Wiwaha, Gandharwa Wiwaha, Raksasa Wiwaha, dan Paisaca wiwaha.
Diantaranya ada tiga cara yang tidak sesuai dengan zaman sekarang karena bertentangan dengan hukum positif, yaitu: Asura Wiwaha, Raksasa Wiwaha, dan Paisaca Wiwaha, karena itu tidak dibicarakan di sini. Read more » Sekilas Pawiwahan Menurut Manawa Dharmasastra
|
|
Recent Comments