Meludah di Pura itu dilarang, termasuk kencing, “metenges” membuat Pura “leteh” atau tidak suci. Siapa yang melihat ini mestinya melarang, jangan dibiarkan saja. Apa saja yang keluar dari badan manusia di Pura adalah “leteh” misalnya selain ludah, kencing, ingus, juga: darah, keringat, air susu.
Makanya ibu-ibu jangan menyusui anak di pura apalagi di Utama Mandala. Di Madya Mandala saja tidak boleh. Hal-hal itu dibolehkan di Nista Mandala. Itulah gunanya ada ruangan-ruangan: nista, madya dan utama mandala, agar secara bertahap kita mensucikan diri sebelum masuk ke Pura. Read more » Meludah di Pura
QUESTION:
Kita ketahui bersama Pura pada umumnya dibagi menjadi tiga sekat, yaitu sekat pertama (UtamaningMandala), sekat kedua (Utamaning Madya) dan sekat ketiga (…), menurut bhagawan yang dikatakan Pura itu dalam arti yang dijaga kesuciannya
Ketika saya me-tirtayatra ke Nepal dan India tahun 2004, saya melihat tatanan ‘Pura’ di Nepal dan di Bali sama, yakni menyatu dengan alam.
Bentuk ‘pelinggih’ di Nepal yang disebut ‘Nyatapol’ serupa dengan di Bali yang kita sebut ‘Meru’. Bedanya, Nyatapol beratap beton sedangkan di Bali beratap ijuk, lalang, atau genting (genting tidak disarankan). Read more » Model Pura di Bali dan Nepal
QUESTION:
Saya ingin menanyakan pada Ida Pandita bagaimana seharusnya etika berbusana ke pura yang baik dari sudut pandang agama, etika, filosofis, dan opini Ida Pandita sendiri?
Saya berpendapat bahwa saat ini kebanyakan pemuda atau bahkan orang tua saat sembayang ke pura terkesan seperti menampakkan modernitas dalam berbusana, asal pake kebaya meski brokat dan terlihat transparan, ketat tidak apa2 dan sah2 saja, terlebih untuk kaum perempuan. Read more » Etika Berbusana ke Pura
QUESTION:
Saya sedang penelitian perencanaan kawasan suci Pura Rambut Siwi, saya ingin sedikit bertanya tentang Pura Dang Khayangan.
Setahu saya Pura Rambut Siwi termasuk dalam Pura Dang Khayangan, kemudian dalam bhisama PHDI dijelaskan bahwa dalam radius kesucian pura (2 km) dari pura tsb tidak diperbolehkan ada bangunan yang tidak terkait dengan kegiatan keagamaan. Read more » Perencanaan Kawasan Suci Pura Rambut Siwi
Sebuah pertanyaan menggelitik pernah diajukan kepada saya oleh seorang pemuda dengan jujur dan terbuka: “Mengapa Pura harus dijaga kesuciannya, dan apa pula kriteria kesucian itu” dilanjutkan dengan pertanyaan yang lehih sulit dijawab: “Bukankah Sanghyang Widhi ada di mana-mana, walaupun di tempat kotor dan nista sekalipun?”
Pertanyaan anak muda ini tentu tak bisa diabaikan hanya dengan menjawab singkat “Ya, memang harus begitu!” Read more » Menjaga Kesucian Pura
QUESTION:
Mengenai meajar-ajar telah dijelasan bahwa umat Hindu Bali diwajibkan untuk mengunjungi pura-pura wajib sebagai kegiatan ngaturang suci penerus untuk ngiringin Bhatara Raja Dewata dengan tujuan untuk mapiuning karena sudah selesai melaksanakan upacara Pitra Yadnya.
- Pertanyaan saya adalah mengenai pura-pura yang diwajibkan tersebut. Dijelaskan bahwa pura-pura itu termasuk ke dalam Pura Sad Kahyangan, lalu mengapa ada Pura Silayukti di dalamnya? Lalu mengapa Pura Batur, Andakasa, Batukaru, Puncak Mangu, Uluwatu tidak diwajibkan? Atas dasar apakah penentuan pura-pura Lempuyang, Silayukti, Dasar Bhuwana Gelgel, dan Besakih itu ditentukan sebagai pura wajib untuk ber-ajar-ajar? Read more » Pura-Pura Dalam Prosesi Meajar-Ajar
|
|
Recent Comments