QUESTION:
Apa yang harus dilakukan kalau mengalami kesulitan sembahyang?
ANSWER:
Kesulitan sembahyang bisa diatasi dengan ‘berjapa’, yaitu mengulangi mantram Gayatri seberapa kali mampunya setiap ada kesempatan, termasuk menjelang tidur.
|
||||
|
QUESTION: Apa yang harus dilakukan kalau mengalami kesulitan sembahyang? ANSWER: Kesulitan sembahyang bisa diatasi dengan ‘berjapa’, yaitu mengulangi mantram Gayatri seberapa kali mampunya setiap ada kesempatan, termasuk menjelang tidur. QUESTION: Ida Pandita yang saya hormati, terkadang saya main dan bermalam di rumah sahabat karib saya yang tidak sewarga (soroh) dan bila pada hari odalan di Sanggahnya saya merasa tidak enak kalau tidak turut sembahyang. Pertanyaan saya, apakah saya boleh bersembahyang di Sanggah Pamerajan orang lain yang tidak sewarga (soroh). Atas jawaban Ida Pandita, saya ucapkan terima kasih. Read more » Sembahyang di Sanggah Pamerajan Orang Lain yang Tidak Sewarga (Soroh) Menurut Lontar Tutur Kuturan, ada istilah “hulu” dan “teben”. Istilah ini muncul karena keterbatasan pikiran kita, kemudian memandang bahwa Tuhan itu seperti organ manusia, ada kepala, badan/ tangan, kaki. Lihatlah misalnya lambang acintya, toh berbentuk manusia. Dari sini berkembang bahwa hulu itu kepala, teben itu kaki. Selanjutnya ini juga menjadi patokan utama, madya, dan nista mandala dari sebuah bangunan suci/ pura/ sanggah pamerajan. Read more » Sembahyang Menghadap Mana? |
||||
|
Copyright © 2013 Stiti Dharma Online - All Rights Reserved. |
||||
Recent Comments