Manyi

Kokok ayam bersahut-sahutan menyongsong terbitnya sang surya di pagi yang dingin membangunkan seisi rumah keluarga petani Pan Geredeg. Istrinya yang dipanggil lebih akrab dengan nama Kelepon dari pada nama aslinya Luh Sukaesih, sudah terbangun sejam lalu.

Ia sudah menyelesaikan tugasnya sebagai istri, memasak nasi serta lauknya, serta menyediakan kopi buat suaminya. Hari itu ia akan bekerja keras, manyi (panen padi) di sawahnya, Subak Bedugul. Read more » Manyi

Penderita Tiga Buta Malu Belajar

“Tiga buta”, meminjam istilah Bapak Romi Sudhita dari Undiksha Singaraja, yaitu: buta aksara/ angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar, terkadang mengherankan sekaligus menggelikan.

Betapa tidak, di zaman milennium ini masih juga ada penderita tiga buta. Apalagi disebut, Kabupaten Buleleng mempunyai penderita tiga buta yang paling banyak di Bali. Read more » Penderita Tiga Buta Malu Belajar

Lek

Lek, hendaknya dibaca dengan mengucapkan “e” seperti “endapan” dalam Bahasa Indonesia. Di Buleleng, lek artinya “malu”. Bisa digunakan untuk memaki atau memarahi seseorang karena rasa kesal. Misalnya kalimat: “Cai sing nawang lek!” artinya: Kamu (laki-laki) tidak tahu malu!

Tiga huruf ajaib ini yang terangkai menjadi satu, ternyata besar sekali pengaruhnya pada perilaku manusia. Ia bisa menghentikan pembicaraan, menghentikan gerakan, atau bisa juga membuat gerakan seketika atau terencana. Read more » Lek

Mamandung

Ketut Sutrisna sejak di Sekolah Dasar terkenal sebagai anak yang rajin, tekun, ulet, jujur, dan sopan santun. Mungkin karena “karma wasana” dan pengaruh horoskop bintang kelahirannya Pisces maka ia tumbuh menjadi anak yang baik, berbudi luhur, dan pintar.

Temannya pun banyak karena dia pandai bergaul, suka menolong, dan tidak segan berkorban bagi orang lain. Ayah-Ibunya sangat sayang, ke mana-mana mereka selalu mendengar buah bibir orang, Sutrisna anak panutan di Desa Sepang, 40 kilometer arah barat Singaraja. Read more » Mamandung

Kokokan

Mengajar di kursus pemangku memerlukan berbagai variasi methoda untuk menjaga agar peserta tidak jenuh atau cepat lelah lalu mengantuk dan tertidur. Yang perlu diperhatikan pula adalah dasar pendidikan formal mereka beragam, ada yang hanya SD, ada yang Sarjana (S1) bahkan ada yang tidak sekolah.

Pekerjaannya juga macam-macam, ada petani, buruh, pedagang, guru, dan ada penganggur alias tidak punya pekerjaan tetap. Jadi mengajarkan sesuatu harus pelan-pelan, diulang-ulang, dengan bahasa campuran, Bali dan Indonesia. Read more » Kokokan