A Ceeng

Sebuah alat takar yang digunakan di pasar pedesaan Bali Utara sampai sekarang, ada yang bernama ceeng (e dibaca seperti ‘enak’). Ukuran ceeng beragam mulai dari 1/4 kg, 1/2 kg, dan 1 kg. Bentuknya bulat berpinggiran setinggi 2 – 3 Cm, dari bahan aluminium.

Sebelum ada aluminium yang ringan, dahulu ceeng dibuat dari kuningan atau perunggu. Beras ditakar dengan ceeng, kemudian diratakan sebatas permukaan, maka itulah ukuran yang pasti. Di zaman Belanda kebenaran ukuran ceeng diperiksa oleh Mantri Pasar. Read more » A Ceeng

Ngambul

Sebuah kisah nyata, namun identitas ‘pasien’ saya rahasiakan. Yang perlu dikemukakan adalah kasusnya, untuk pengalaman teman-teman. Ada ortu yang amat kaya di suatu Desa di Buleleng. Dia punya anak lelaki 3 dan anak perempuan 1. Anak-anak lelaki semuanya diberikan warisan berupa tanah kebun, rumah, dan mobil. Si anak perempuan tidak dapat apa-apa.

Ketika ia bertanya “Kenapa”, si ortu dengan ketus menjawab: “Nyai awak luh, mula tusing maan ape-ape, buin pidan kurenan nyaine ane mertenin” (artinya: kamu anak perempuan, memang tidak dapat apa-apa, kemudian hari suamimu yang akan mengurus dirimu). Read more » Ngambul

Lek

Lek, hendaknya dibaca dengan mengucapkan “e” seperti “endapan” dalam Bahasa Indonesia. Di Buleleng, lek artinya “malu”. Bisa digunakan untuk memaki atau memarahi seseorang karena rasa kesal. Misalnya kalimat: “Cai sing nawang lek!” artinya: Kamu (laki-laki) tidak tahu malu!

Tiga huruf ajaib ini yang terangkai menjadi satu, ternyata besar sekali pengaruhnya pada perilaku manusia. Ia bisa menghentikan pembicaraan, menghentikan gerakan, atau bisa juga membuat gerakan seketika atau terencana. Read more » Lek

Narat

Hiruk pikuk di Pura Desa tiada henti-hentinya sejak tadi pagi. Hari ini adalah Hari Piodalan, memperingati berdirinya Pura yang megah setiap hari Umanis Galungan sejak berabad lampau.

Kemarin lambang-lambang Ida Bhatara sudah diturunkan dari Gedong Simpen, diiring mesucian ke segara. Sekitar jam sembilan pagi saya mulai muput upacara piodalan, atas permintaan panitia beberapa minggu sebelumnya. Read more » Narat

Manyi

Kokok ayam bersahut-sahutan menyongsong terbitnya sang surya di pagi yang dingin membangunkan seisi rumah keluarga petani Pan Geredeg. Istrinya yang dipanggil lebih akrab dengan nama Kelepon dari pada nama aslinya Luh Sukaesih, sudah terbangun sejam lalu.

Ia sudah menyelesaikan tugasnya sebagai istri, memasak nasi serta lauknya, serta menyediakan kopi buat suaminya. Hari itu ia akan bekerja keras, manyi (panen padi) di sawahnya, Subak Bedugul. Read more » Manyi