Belog Polos

Sifat perilaku kebanyakan orang Bali yang tidak suka menonjolkan diri, menunjukkan kelebihan, apalagi bertingkah sombong, mungkin didasari kesadaran penuh pada hakekat ke-Tuhan-an yang maha kuasa di mana ada unsur keyakinan bahwa apapun yang dimiliki dan diketahui umat manusia sangat tidak berarti jika dibandingkan dengan-Nya.

Tetua di jaman lampau suka menasihati anak-anak agar selalu bersikap, berkata dan berpikir sederhana, tidak mengada-ada, tersirat dari lagu anak-anak: Read more » Belog Polos

Gerbang Hindu Di Kedung Gebang

Wawan Adi Prastiyo, sosok pemuda Hindu yang energik mengajak saya pulang ke kampungnya di Tegaldlimo, Banyuwangi, di awal Juni 2004 bertepatan dengan Hari Pagerwesi dan Piodalan Agung di Pura Swadharma, Desa Kedung Gebang, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi.

“Umat Hindu di sana sangat mengharapkan Romo berkunjung untuk muput Piodalan dan menyampaikan dharma wacana” pintanya melalui telpon. Read more » Gerbang Hindu Di Kedung Gebang

Ait... Ait... Aaaan !

“Ait… Ait… Aaan!”, desis Si Bogel sembari memegang botol bir kosong di tangan kirinya dan tangan kanannya menggapai-gapai seolah mencari pegangan karena sempoyongan mabuk alkohol.

“Apa?” tanya teman di sebelahnya dengan julukan “Kasor”. “Ait… Ait… Aaan!” sekali lagi Bogel mengguman, mengacungkan botol bir kosong kepada cewek café bernama Nining. Read more » Ait… Ait… Aaaan!

Ngambul

Sebuah kisah nyata, namun identitas ‘pasien’ saya rahasiakan. Yang perlu dikemukakan adalah kasusnya, untuk pengalaman teman-teman. Ada ortu yang amat kaya di suatu Desa di Buleleng. Dia punya anak lelaki 3 dan anak perempuan 1. Anak-anak lelaki semuanya diberikan warisan berupa tanah kebun, rumah, dan mobil. Si anak perempuan tidak dapat apa-apa.

Ketika ia bertanya “Kenapa”, si ortu dengan ketus menjawab: “Nyai awak luh, mula tusing maan ape-ape, buin pidan kurenan nyaine ane mertenin” (artinya: kamu anak perempuan, memang tidak dapat apa-apa, kemudian hari suamimu yang akan mengurus dirimu). Read more » Ngambul

Penderita Tiga Buta Malu Belajar

“Tiga buta”, meminjam istilah Bapak Romi Sudhita dari Undiksha Singaraja, yaitu: buta aksara/ angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar, terkadang mengherankan sekaligus menggelikan.

Betapa tidak, di zaman milennium ini masih juga ada penderita tiga buta. Apalagi disebut, Kabupaten Buleleng mempunyai penderita tiga buta yang paling banyak di Bali. Read more » Penderita Tiga Buta Malu Belajar

Sengsara

Kisah hidup keluarga Putu Sutisna dari Desa Pemaron, Singaraja, mungkin dialami pula oleh banyak umat Hindu di Bali. Seolah-olah dia ditakdirkan untuk hidup dalam keadaan susah di awal kehadirannya di dunia.

Ketika lahir di tahun 1970, ibunya meninggal dunia karena komplikasi penyakit kandungan, pendarahannya tidak berhenti. Hanya dua hari ibu yang malang itu sempat menatap wajah anak satu-satunya, sebelum ia meninggalkan dunia yang fana ini. Read more » Sengsara

Sing Dot

Gede Madia bekerja serabutan, artinya mau dan mampu bekerja apa saja. Tentu bagi rakyat kecil seperti dia, kalimat bekerja apa saja artinya terbatas pada jenis pekerjaan kasar.

Lebih lugas lagi, jenis pekerjaan yang mengandalkan tenaga dan bukan mengandalkan kepintaran otak. Maklum saja, karena dia hanya sempat menikmati pendidikan formal sampai SD kelas 4 di desa. Read more » Sing Dot

Page 1 of 512345