Bajang Colong

“Bangun, bangun, suba tengai, dong adi leplep gati je pulesne I Gde, ibisanje sube orain, de megadang; Beli, dundun je panake tunden nguling, nyanan sube rauh Ida Bhagawan tonden masi lebeng gulinge, lek atine, oo!”

(Bangun, bangun, sudah siang, wah kok nyenyak sekali tidurnya I Gde, semalam sudah diingatkan, jangan melek; Kak, bangunin anakmu itu suruh membuat babi guling, nanti sudah datang Ida Bhagawan belum juga matang babi gulingnya, kan malu lho!). Read more » Bajang Colong

Kokokan

Mengajar di kursus pemangku memerlukan berbagai variasi methoda untuk menjaga agar peserta tidak jenuh atau cepat lelah lalu mengantuk dan tertidur. Yang perlu diperhatikan pula adalah dasar pendidikan formal mereka beragam, ada yang hanya SD, ada yang Sarjana (S1) bahkan ada yang tidak sekolah.

Pekerjaannya juga macam-macam, ada petani, buruh, pedagang, guru, dan ada penganggur alias tidak punya pekerjaan tetap. Jadi mengajarkan sesuatu harus pelan-pelan, diulang-ulang, dengan bahasa campuran, Bali dan Indonesia. Read more » Kokokan

Jele Melah Gumi Gelah

Setahu saya ada dua tempat di Buleleng yang memampang slogan itu, pertama di Desa Banyuning, kota Singaraja, dekat sekolah teknik, dan di Desa Bungkulan dekat jembatan. “Jele-melah gumi gelah” begitu bunyi slogan yang terpampang gagah, besar, dipahatkan pada tembok batu. Read more » Jele Melah Gumi Gelah

Memacul

Sejak bom-Bali pertama harapan anak-anak muda pedesaan yang putus sekolah untuk mencari kerja di Denpasar sudah pupus. Banyak karyawan hotel dan pekerja sektor pariwisata terpaksa di-PHK-kan karena pasaran lesu, turis sedikit karena takut datang ke Bali.

Bom-Bali kedua menambah situasi ekonomi Bali lebih morat-marit, pengangguran makin menjadi-jadi, lalu banyak muda-mudi terpaksa gigit jari pulang kembali ke kampungnya, tak tahan lagi hidup di Denpasar dengan biaya tinggi. Read more » Memacul

Supli, BJ

Odalan di Pura yang jatuh pada hari Buda, Umanis, Prangbakat, sangat ditunggu-tunggu oleh krama (penduduk) desa yang terletak di lembah Bukit Mungsu. Krama desa sebanyak 550 kepala keluarga itu menyambut hari odalan dengan berbagai harapan, keinginan, dan rencana.

Kelian (kepala) dan prajuru (pengurus) desa sudah tiga kali mengadakan perarem (rapat) membahas rencana odalan, yakni urutan upacara, banten yang dibuat, dan tentu saja yang paling penting adalah dana yang tersedia. Read more » Supli, BJ