Mi Si La Re (3762)

3762 bukan nomor telepon atau nomor “togel” (totto/ judi gelap) tetapi bila dibaca dengan not lagu berbunyi: 3 = mi, 7 = si, 6 = la, dan 2 = re. Jadi 3762 dibaca cepat: misi lare, atau misi rare, artinya berisi bayi, alias hamil.

Diucapkan bisik-bisik sambil cekikikan oleh anak-anak muda Buleleng yang jahil. Ditujukan pada “gadis” yang mendapat “kecelakaan” yaitu hamil sebelum nikah. Read more » Mi Si La Re (3762)

Penderita Tiga Buta Malu Belajar

“Tiga buta”, meminjam istilah Bapak Romi Sudhita dari Undiksha Singaraja, yaitu: buta aksara/ angka, buta bahasa Indonesia, dan buta pengetahuan dasar, terkadang mengherankan sekaligus menggelikan.

Betapa tidak, di zaman milennium ini masih juga ada penderita tiga buta. Apalagi disebut, Kabupaten Buleleng mempunyai penderita tiga buta yang paling banyak di Bali. Read more » Penderita Tiga Buta Malu Belajar

Ngambul

Sebuah kisah nyata, namun identitas ‘pasien’ saya rahasiakan. Yang perlu dikemukakan adalah kasusnya, untuk pengalaman teman-teman. Ada ortu yang amat kaya di suatu Desa di Buleleng. Dia punya anak lelaki 3 dan anak perempuan 1. Anak-anak lelaki semuanya diberikan warisan berupa tanah kebun, rumah, dan mobil. Si anak perempuan tidak dapat apa-apa.

Ketika ia bertanya “Kenapa”, si ortu dengan ketus menjawab: “Nyai awak luh, mula tusing maan ape-ape, buin pidan kurenan nyaine ane mertenin” (artinya: kamu anak perempuan, memang tidak dapat apa-apa, kemudian hari suamimu yang akan mengurus dirimu). Read more » Ngambul

Supli, BJ

Odalan di Pura yang jatuh pada hari Buda, Umanis, Prangbakat, sangat ditunggu-tunggu oleh krama (penduduk) desa yang terletak di lembah Bukit Mungsu. Krama desa sebanyak 550 kepala keluarga itu menyambut hari odalan dengan berbagai harapan, keinginan, dan rencana.

Kelian (kepala) dan prajuru (pengurus) desa sudah tiga kali mengadakan perarem (rapat) membahas rencana odalan, yakni urutan upacara, banten yang dibuat, dan tentu saja yang paling penting adalah dana yang tersedia. Read more » Supli, BJ

Spanyol

The next story after: Gerbang Hindu di Kedung Gebang

Kunjungan kedua kali tanggal tujuh belas September ke Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi membawa kenangan lain, lebih indah dari kunjungan pertama bulan April yang lalu. Selain keramahan penduduk yang menyambut, juga kenalan-kenalan lama berebut menjabat tangan saya.

Pembicaraan lebih akrab, lebih ramai, tidak sungkan-sungkan lagi, dan lebih terbuka. Saya juga lebih berani dan lugas menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi tanpa menyinggung perasaan mereka. Read more » Spanyol