Tahun Saka dan Hari Raya Nyepi

Astronomi (Ilmu perbintangan) yang menjadi patokan perhitungan untuk hari-minggu-bulan-tahun bagi umat manusia sebenarnya sudah dikenal di India sekitar 12.000 tahun Sebelum Masehi (SM). Dari India astronomi ini menyebar ke benua Eropa dan Asia.

Weda yang diwahyukan sekitar 3000 tahun SM disebut sebagai Weda Sruti. Sifat-sifat kebenaran Weda Sruti menurut para Maha Rsi adalah:

  1. Pratiyaksa (dapat dirasakan/ diamati),
  2. Adhiyatmika (dapat dipikirkan/ direnungkan), dan
  3. Paroksa (dapat dipelajari/ didiskusikan).

Walaupun demikian tetap saja Weda sulit dipahami oleh umat Hindu kebanyakan. Untuk dapat dipahami, Weda Sruti kemudian dijelaskan dengan pengertian sederhana dan lebih gamblang ke dalam tulisan-tulisan yang disebut: Upaweda, Wedangga, Itihasa, dan Purana.

Salah satu Wedangga yang menjelaskan tentang astronomi adalah Kitab Jyotesha, yang terdiri dari Surya Siddhanta, Paitamaha Siddhanta, Wasista Siddhanta, Paulisa Siddhanta, dan Romaka Siddhanta.

Sekarang diceritakan tentang keadaan sebelum Masehi, yaitu para penguasa (Raja) yang silih berganti di India oleh berbagai suku, yaitu: Pahlawa, Yuehchi, Yuwana, Malawa, dan Saka.

Diantara suku-suku itu yang paling tinggi tingkat kebudayaanya adalah suku Saka. Ketika suku Yuehchi di bawah Raja Kaniska berhasil mempersatukan India maka secara resmi kerajaan menggunakan sistem kalender suku Saka. Keputusan penting ini terjadi pada tahun 78 Masehi.

Sejak itu sistem kalender Saka digunakan terus menerus hingga saat ini yang disebut Tahun Saka. Itulah sebabnya sistem kalender Hindu “seolah-olah terlambat” 78 tahun dari kalender Masehi.

Pada tahun 456 M (atau Tahun 378 S), datang ke Indonesia seorang Pendeta penyebar Agama Hindu yang bernama Aji Saka asal dari Gujarat, India. Beliau mendarat di pantai Rembang (Jawa Tengah) dan mengembangkan Agama Hindu di Jawa. Sekaligus beliau mengajarkan sistem kalender Saka pada murid-muridnya.

Ketika Majapahit berkuasa, (abad ke-13 M) sistem kalender Tahun Saka dicantumkan dalam Kitab Nagara Kartagama. Sejak itu Tahun Saka resmi digunakan di Indonesia. Masuknya Agama Hindu ke Bali kemudian disusul oleh penaklukan Bali oleh Majapahit pada abad ke-14 dengan sendirinya membakukan sistem Tahun Saka di Bali hingga sekarang.

Perayaan menyambut Tahun Baru Saka sejak di India sampai ke Jawa dan kemudian ke Bali, selalu meriah dan sakral. Agama Hindu menyiratkan bahwa tibanya Tahun Baru Saka hendaknya disambut dengan penyerahan total ke hadirat Hyang Widhi, serta berdoa semoga kehidupan di masa datang senantiasa dalam petunjuk Hyang Widhi.

Kehidupan umat Hindu diatur dalam Catur Purusaartha, yaitu: Dharma, Artha, Kama, dan Moksa. Tentang hal ini ada dalam Lontar Brahma Sutra sloka 45 dan 228, Sarasamuscaya sloka 135.

Di sana disebutkan bahwa Catur Purusaartha dapat dicapai jika dilaksanakan Yadnya yang bertujuan menghubungkan kekuatan Hyang Widhi (Prajapati), Praja (manusia), dan Kamadhuk (alam).

Lebih tegas Lontar Sanghyang Aji Swamandala menyebutkan bahwa Yadnya hendaknya dimulai dari Kamadhuk (alam) yang diwujudkan dalam Bhuta Yadnya.

Pentingnya Bhuta Yadnya juga ditegaskan dalam Sarasamuscaya 135 dan Bhagawadgita III.14 sebagai berikut:

Sarasamuscaya 135:

DHARMARTHAKAMAMOKSANAM PRANAH SAMSTHITIHETAVAH, TAN NIGHNATA KIN NA HATAM RAKSA BHUTAHITARTHA CA

Artinya: usahakanlah kesejahteraan (kelestarian) alam karena mereka menyebabkan tegaknya dharma, artha, kama, dan moksa.

Bhagawadgita III (percakapan ke-3) sloka ke-14:

ANNAD BHAVANTI BHUTANI, PARJANYAD ANNASAMBHAVAH, YAJNAD BHAVATI PARJANYO, YAJNAH KARMA SAMUDBHAVAH

Artinya: karena makanan mahluk hidup, karena hujan makanan tumbuh, karena persembahan hujan turun, dan persembahan lahir karena kerja.

Tata cara Bhuta Yadnya (Tawur kesanga) yang diadakan tepat pada Tilem Kasanga diatur dalam Lontar-lontar: Sanghyang Aji Swamandala, Agastya Parwa, Usana Bali, dan Ekapratama.

Filsafat tentang Tawur sebagai berikut: Tawur artinya membayar atau mengembalikan. Apa yang dibayar dan dikembalikan? Adalah sari-sari alam yang telah dihisap atau digunakan manusia. Agar terjadi keseimbangan maka sari-sari alam itu dikembalikan dengan upacara Tawur.

Upacara Tawur menurut Lontar Ekapratama, dipimpin oleh Sadaka-Sadaka (Pendeta) yang berpaham Siwa, berpaham Boddha, dan berpaham Bujangga masing-masing dengan tugas: Sadaka-sadaka Siwa mensucikan Akasa (Swahloka) dengan Agniangelayang, Sadaka-sadaka Boddha mensucikan Atmosfir (Bhuwahloka) dengan Agnisara, dan Sadaka-sadaka Bujangga mensucikan Sarwaprani (Bhurloka) dengan Agnisinararasa.

Upacara Tawur dilaksanakan di Catuspata (Perempatan Agung) pada siang hari, kemudian di setiap rumah tangga diadakan juga Bhuta Yadnya yang lebih sederhana, yaitu dengan cara membuat sanggah cucuk di luar rumah berisi banten: tegteg daksina peras ajuman, dandanan, tumpeng ketan, sesayut, panyeneng, jangan-janganan, tipat kelanan, sujang arak tuak berem, segehan aperancak (segehan agung), nasi warna 9 tanding dan nasi cacahan 100 tanding.

Setelah itu semua anggota keluarga yang sudah ketus gigi mabeakala/ maprayascita, kemudian barulah ngerupuk dan menebarkan nasi Tawur yang diperoleh dari Catuspata tadi.

Sebelum upacara Tawur terlebih dahulu diadakan upacara Melasti. Melasti berasal dari kata Mala = kotoran/ leteh, dan Asti = membuang/ memusnahkan.

Pelaksanaan melasti dengan mengiring pratima Ida Bethara ke segara atau segara alit (sungai) untuk mesucian. Jumputan tanah di setiap sudut pekarangan rumah turut dihanyut di segara sebagai simbol membuang keletehan.

Lontar Sanghyang Aji Swamandala menyebutkan tujuan melasti sebagai berikut:

ANGLUKATAKEN LARANING JAGAT, PAKLESA LETUHING BHUWANA

artinya: melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan, dan ke kotoran alam.

Lontar Sundarigama menyebutkan:

AMET SARINING AMERTHA KAMANDALU RING TELENGING SAGARA, MANUSIA KABEH NGATURAKEN PRAKERTI RING PRAWATAK DEWATA

artinya: mencari sari kehidupan di tengah-tengah laut, dan manusia mempersembahkan bhakti kepada Hyang Widhi.

Selanjutnya dijelaskan bahwa setelah melasti, Ida Bethara nyejer di Pura untuk memberkati pelaksanaan Tawur Kesanga yang bertujuan memelihara keharmonisan Prajapati, Praja, dan Kamadhuk seperti yang diuraikan di atas, di samping itu untuk mensucikan jagat raya sebelum pelaksanaan Nyepi yang akan diadakan keesokan harinya.

Pada penanggal apisan (tanggal 1) Sasih Kadasa, yaitu esok hari setelah Tawur Kasanga, tibalah hari Sipeng, seperti kutipan Lontar Sundarigama:

ENJANG NYEPI AMATIGNI TAN WENANG SAJADMA ANYAMBUT KARYA SAKALWIRNIYA AGNIGNI SAPARANIYA TAN WENANG, KALINGANIYA WENANG SANG WRUH RING TATTWA GELARAKEN SAMADI, TAPA, YOGA AMETITIS KESUNYATAAN

artinya: besok Nyepi, tidak menghidupkan api, tidak dibolehkan manusia bekerja apapun, atau berapi-api dalam bentuk apapun, sebaliknya turutilah petunjuk Hyang Widhi, gelarkan samadi, tapa, dan yoga.

PHDI kemudian mempertegas tentang Brata Penyepian sebagai 4 (empat) pantangan, yaitu:

  1. Amati gni (tidak menghidupkan api)
  2. Amati karya (tidak bekerja)
  3. Amati lelungaan (tidak bepergian)
  4. Amati lelanguan (tidak bersenang-senang/ menghibur diri dengan tontonan dll)

Selain melaksanakan tapa, yoga, dan samadi, baik sekali dilaksanakan juga brata, yaitu berpuasa dan mengekang nafsu. Tujuan brata penyepian adalah:

  1. Menguasai diri (mengendalikan sad ripu: nafsu, lobha, marah, mabuk, sombong, dan dengki iri hati)
  2. Menuju kesucian hidup
  3. Melaksanakan dharma untuk menyeimbangkan adharma

Di hari Nyepi umat Hindu berada di Pura, Sanggah Pamerajan, atau di tempat suci (kamar suci) asal tidak keluar rumah, untuk melaksanakan berata penyepian, upawasa (berpuasa), mona (tidak berbicara), dhyana (memusatkan pikiran pada Hyang Widhi), dan arcana (bersembahyang) selama 24 jam.

Setelah Nyepi, keesokan harinya Ngembakgni, melepaskan brata penyepian dan ber-dharma santi, yaitu bermaaf-maafan kepada setiap orang, serta bergembira ria sebagai wujud puji sukur ke hadapan Hyang Widhi bahwa kita telah berhasil melaksanakan rangkaian hari raya Nyepi dengan selamat.

Ketika tiba hari Purnama Kadasa, umat Hindu berduyun-duyun datang ke Besakih karena di Besakih Ida Bethara turun kabeh (turun semua) memberikan berkat keselamatan dan kesejahteraan kepada semua umat Hindu.

Tirta yang diperoleh dari Besakih disiratkan pada semua palinggih di Pura/ Sanggah Pamerajan agar berkat itu diterima pula oleh para leluhur kita, kemudian setelah itu seluruh anggauta keluarga nunas tirta itu untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup kita selanjutnya.

Demikian dilaksanakan berulang-ulang sepanjang tahun.

14 comments to Tahun Saka dan Hari Raya Nyepi

  • 1

    setiap 33 tahun sekali lebaran bersamaan dengan nyepi. hari ini tilem kita puasa ,jam 6 sore di tahun 2027(kita masih puasa/tak ada lalu lintas/nyepi mereka takbiran. seperti yang terjadith 1994. Hitungan nya begini: 1 th surya/masehi? = 365 a 366 hr
    1 th chandra/bulan = 354 hr
    selisih 11 hrx 33th = 363 hr bulat 1 thn
    jadi setiap 33 thn nyepi akan bertumpuk dg lebaran. KALAU SY PASTI SUDAH MENINGGAL SAAT ITU, SAYA TITIP GENERASI MUDA AMANKAN MASALAH ITU OK? tERIMA KASIH SY BISA SHARING mOHON DIKOREKSI

  • 2
    wayan sumardika says:

    Saya ingin bertanya, maaf saya dari kaum awam. adakah yang tahu secara pasti??? kenapa tahun baru saka di Bali jatuh pada bulan ke 10??? dan kenapa harus pada bulan itu merayakan hari tahun baru??? karena semuanya masih mengira ngira, tanpa ada bukti dan penjelasan yang begitu pasti.

    Terima kasih.

    • 2.1

      Om Swastyastu,

      Cari di blog ini artikel tentang bagaimana menetapkan hari raya Nyepi dan menetapkan tahun baru saka.

      Om Santih, santih, santih, Om

    • 2.2
      putu gelgel wisanatapa says:

      Nyepi memangpasti jatuh bulan Maret atau April,saat MATAHARI MENGORBIT DI KHATULISTIWA. Pada saat Nyepi pagi2 berdiri mandang Matahari: itulah arah TIMUR YANG TEPAT, begitu pula sore hari= arah barat yang tepat. Nama Bulan: Sepptember=sapta =bulan ke 7(sapta), Oktober=oktaf= bulan delapan bukan 10, November=Nawa=bulam 9 bukan 11, Desember= dasa, bukan12,tahun anggaran/fiskal BULAN APRIL,BUKAN JANUARI, karena BULAN APILLAH Tahun baru yang asli PADA SAAT MATAHARIngorbit di khatulistiwa. 6/4 2012 yl adalah PURNAMA KEDASA, purnama PERTAMA ssdh th baru saka ini/nyepi.BETARA TURUN KABEH DI BESAKIH. Mudah2 an berguna, suksma

  • 3
    elwin says:

    permisi saya mau tanya nih soal penanggalan saka,..
    mengenai harijadi majapahit, kenapa 15 kartika 1215 disebut sebagai tanggal 10 november? bukan 6 november? apa pada masa itu kalender saka di Jawa berbeda?

  • 4
    kasiyanto says:

    dari sebuah catatan menyebutkan bahwa tahun saka memperhitungkan berdasarkan perputaran matahari, bulan dan bintang. karena ketika diawalinya tahun saka nampak juga galaxi citta atau ceitra. mohon petunjuknya. suksma.

  • 5
    Putu Nopa says:

    Om Swastyastu.
    Mohon maaf tiang mau bertanya , sebenarnya apakah Nyepi itu adalah hari raya orng bali atau hari raya Umat Hindu secara keseluruhan? apakah umat Hindu yang di Toraja , Sidrap atau umat Hindu lain (bukan dari Bali) juga melaksanakan Nyepi? Mohon penjelasan dan sumber yang logis. sukseme. mohon bantuan jawabannya.
    Om Santi santi santi om

    • 5.1

      Om Swastyastu,

      Dari artikel-artikel tt Nyepi di blog ini sudah dijelaskan bahwa Nyepi adalah rangkaian perayaan Tahun Baru Saka bagi pemeluk Hindu di Nusantara. Artinya, umat Hindu yang menggunakan kalender Saka dalam kehidupannya.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 6
    i putu adi gunawan says:

    om swastiASTU

    DULU SYA PERNAH MEBACA BABAD NYEPI (CERITA NYEPI) DLAM CRTA ITU DIKISAHKAN TENTANG SRI AJI SAKA DN JG BETARI ULUN DANU BATUR SYA SNGAT SENANG SEKALI PERTANYAAN SAYA DIMANA SAYA BISA DAPATKAN BUKUNYA ITU SEKARANG
    OM SANTIH SANTIH SANTIH OM

    • 6.1

      Om Swastyastu,

      Coba beli buku ini : Pedoman Pelaksanaan Hari Raya Nyepi, Drs I Made Titib, Upada sastra 1991. Bida dicari di toko-toko buku di Denpasar.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 6.1
    Bhagawan Dwija says:

    @Nyepi | Febryana Larasanty Blog: Secara pribadi, saya kurang setuju kalau disaat pengerupukan diadakan pawai ogoh-ogoh, dengan alasan : Wateking bhuta-kala, sudah di-”somya” disaat upacara tawur kesanga; lalu kenapa dibangkitkan lagi beberapa jam kemudian dalam bentuk ogoh-ogoh ? Lebih baik pawai ogoh-ogoh diadakan disaat penampahan galungan, karena disaat itu memang ada bhuta yang patut dikalahkan dalam upaya memenangkan dharma, yaitu bhuta dungulan, bhuta galungan dan bhuta amangkurat.

  • Agung says:

    Saya juga setuju kalau pawai ogoh2 tidak diadakan saat pengerupukan. Kalau ingin dikaitkan dengan nyepi, ya diadakan sehari sebelum nyepi, atau bisa juga saat penampahan galungan atau mungkin saat manis galungan?

  • 7

    [...] alam yang telah manusia ambil, sehingga dapat mengembalikan keseimbangan alam ( silahkan baca : http://stitidharma.org/tahun-saka-dan-hari-raya-nyepi/ ) Pada hari ini biasanya diadakan pawai Ogoh-ogoh. Ogoh – ogoh itu sendiri merupakan [...]

  • 8

    [...] referensi  : Sejarah singkat Tahun Baru Saka (Nyepi), Tahun Saka dan Hari Raya Nyepi, Menyingkap Kedamaian Dari Rangkaian Hari Raya Nyepi 0.000000 0.000000 Share [...]

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting