Membuat tatoreh berasal dari pengembangan filsafat Dvaita yang bersumber dari Prasthana Traya, yaitu Upanisad, Bhagawadgita, dan Brahma Sutra.
Di India filsafat ini disebarkan oleh seorang Mahaguru, abhiseka: Sri Madhvacarya yang berpaham Vaisnavisme Madhva. Paham ini dibawa ke Indonesia pada tahun 530 Masehi dan dianut oleh para pemeluk paham Wisnu.
Pemujaan Wisnu terdiri dari:
1. Angkana, yaitu menandai badan dengan simbol-simbol Tuhan (misalnya sampai sekarang kita mewarisinya dengan memakai bija, sirowista, bhasma, bunga, dll.)
2. Namakarana, yaitu memberi nama anak-anak dengan nama ke-Tuhanan (misalnya kini kita memberi nama anak-anak: Gde Sila, Gde Brahmanda, Nyoman Krisnabudhi, Made Candrayanti, Ketut Srijayantidewi, dll)
3. Bhajana, yaitu menyanyikan lagu-lagu memuliakan Tuhan (misalnya kidung, pesantian, dll)
4. Smarana, yaitu terus-menerus mengingat Tuhan dengan melakukan gerakan-gerakan badan atau anggota badan secara mistis dan juga dengan melihat simbol-simbolnya.
Misalnya kita warisi hingga saat ini antara lain berupa tatoreh, pratima Bethara, patung-patung, tari-tarian sakral, gerak tangan “mudra” oleh Sang Sadaka, berjalan mapurwa daksina/maprasawya, dll.
Mpu Kuturan yang datang ke Bali pada tahun 1001 Masehi mempersatukan segenap aliran agama Hindu yang berkembang di Bali ketika itu dari enam sekte menjadi satu pemahaman dengan konsep Trimurti yang tertuang dalam Prasasti Kuturan.
Dalam konsep ini Ida Sanghyang Widhi dimanifestasikan dalam tiga kelompok wujud, yaitu: Brahma dengan simbol warna merah, Siwa dengan simbol warna putih, dan Wisnu dengan simbol warna hitam.
Beliau juga meletakkan konsep pembangunan Pura-pura Kahyangan Tiga dan Sanggah Kemulan; dalam membuat tatoreh, dimasukkan ritual pemujaan Wisnu (Smarana) yang dikaitkan dengan konsep Trimurti, di mana:
- Simbol Brahma (pencipta, api yang selalu berkobar ke atas) diletakkan paling atas
- Simbol Wisnu (pemelihara, kemakmuran, air yang selalu mengalir ke bawah) diletakkan paling bawah
- Simbol Siwa (pamralina, hampa sebagai penetral) diletakkan di tengah-tengah
Agar tujuan Smarana tercapai maka warna Trimurti itu diwujudkan dengan bahan pewarna yang tidak mudah luntur, agar manusia senantiasa dapat melihat simbol Tuhan di palinggih-palinggih Sanggah Pamerajan atau Pura.
“Mapurwa daksina” dan “Maprasawya” juga merupakan bagian pemujaan Wisnu kelompok ke-empat, yaitu “Smarana” seperti yang diuraikan di atas.

Recent Comments