“Tengen” dan “Kiwa”

QUESTION:

Mohon penjelasan pengertian “Tengen” dan “Kiwa” dalam hal posisi objek terhadap pengamat, yang meliputi beberapa hal sebagai berikut:

  1. Rong Tiga: pada fungsi Dewa Pitara disebutkan Bapa ring Tengen, Ibu ring Kiwa.
  2. Meletakkan benda suci maupun leteh: tanam ari-ari di kiri undag, Tugu didirikan di kanan candi, dll.
  3. Kiwa-Tengen pada awal arah perputaran dalam hal: Purwadaksina/ Pradaksina, Prasawiya, dalam upacara keagamaan seperti Nyineb Bethara, Mapepada, Putaran mayat di kuburan/ tempat pembakaran, dsb; konsep keteben/ keluan dari setiap upacara.
  4. Busana: pemasangan busana/ kampuh, kain pengringkes sawa, dll.

ANSWER:

Salah satu filsafat yang berkaitan dengan pola hubungan antara manusia dengan alam (bagian dari Trihitakarana) adalah konsep keadaan alam yang bertingkat, yaitu “Alam Atas” (Swahloka), “Alam Tengah” (Bhuahloka), dan “Alam Bawah” (Bhurloka), yang masing-masing mempunyai sifat: Swahloka adalah Utama, Bhuahloka adalah Madya, dan Bhurloka adalah Nista, dan dikaitkan dengan “stana”, yaitu Swahloka adalah alam Dewa, Bhuahloka adalah alam manusia, dan Bhurloka adalah alam mahluk rendahan.

Dari pemahaman demikian berkembanglah tatanan: Utama-Madya-Nista baik secara vertikal maupun secara horisontal. Oleh karena manusia sebagai konsep sentral pemikiran, maka terjadilah pasangan-pasangan antinomis seperti:

1. Kepala manusia disebut sebagai utama, badan disebut sebagai madya, dan kaki disebut sebagai nista.

Kepala dan badan digabung sebagai “Hulu” dan kaki sebagai “Teben”. Gunung (Keadiya) yang dianggap sebagai stana Dewa-Dewa dipandang sebagai hulu, dan Laut (Kelot) dipandang sebagai teben. Posisi tidur meletakkan kepala di hulu dan kaki di teben.

Posisi palinggih-palinggih di Sanggah Pamerajan atau di pura-pura, posisi duduk diantara orang tua dan anak, antara Sulinggih dan Walaka, dll. semuanya memperhatikan masalah hulu-teben ini.

2. Purwadaksina (pradaksina) dan Prasawiya (utarayana), yang artinya berputar ke kanan (searah jarum jam) dan berputar ke kiri (berlawanan arah jarum jam), dipahami sebagai peningkatan status atau menuju Swahloka-Utama (untuk Purwadaksina), dan sebagai penurunan status atau menuju Bhurloka-Nista (untuk Prasawiya).

Dalam penyelenggaraan upacara yang memerlukan perputaran hendaknya dipikirkan (jangan dihafalkan) apakah perputaran itu dianggap menuju Utama atau menuju Nista; jika dianggap menuju Utama, lakukanlah Purwadaksina; jika dianggap menuju Nista lakukanlah Prasawiya.

Pandita meminta hal ini tidak dihafalkan, tetapi dimengerti, karena untuk upacara yang sama, tidak selalu perputarannya sama.

Contohnya, upacara mabeakala. Untuk pengantin, mabeakala maknanya ma-bhuta saksi; oleh karena itu perputarannya ke kiri (Prasawiya). Untuk bapak-ibu yang akan mengupacarakan tiga bulanan anaknya, mabeakala maknanya meninggalkan masa cuntaka karena melahirkan; oleh karena itu perputarannya ke kanan (Purwadaksina).

Mekalahyas, dan Ngider Ida Bethara selalu ke kanan (Purwadaksina) karena menuju Swahloka-Utama.

Memutar mayat/ wadah/ lembu selalu ke kiri (Prasawiya) karena maknanya menurunkan status-Nista, dan perpisahan dengan alam Bhuwahloka. Tetapi perputaran abu jenasah yang akan dihanyut ke segara, dan juga perputaran abu sekah, selalu dilakukan ke kanan (Purwadaksina) karena maknanya peningkatan status menuju Swahloka-Utama, yaitu dari status Sang Lina (mayat) menjadi Sang Pitara (ketika Nyekah) dan menjadi Dewa Hyang (ketika mepaingkup di Sanggah Pamerajan).

3. Konsep Kiwa-Tengen atau juga disebut sebagai Pangiwa-Panengen atau dalam Bahasa Indonesia Kiri-Kanan, mengambil anatomi tubuh manusia, karena manusia dianggap sebagai sentrum (sentral pemikiran).

Konsep ini dikaitkan dengan “Ruabhineda” di mana Kanan adalah Dharma, dan Kiri adalah Sakti. Filsafat ini masuk ke dalam “Praja” (keluarga) di mana ibu-ibu rumah tangga disebut sebagai Tengen karena melaksanakan Dharmaning Praja, yaitu tugas-tugas: mengatur rumah tangga, menyiapkan bebanten/ sajen, memelihara anak-anak, merawat mertua, dll.

Ayah sebagai kepala keluarga berkewajiban menghidupi keluarga atau dengan kata lain mencari nafkah. Untuk mencari nafkah ia harus bekerja dengan menggunakan kekuatan badan dan pikirannya atau dengan istilah filsafat Hindu, ia harus menggunakan kesaktiannya; itu berarti pihak ayah (laki-laki) disebut sebagai Kiwa.

Lebih jauh filsafat ini memasuki posisi Rong Tiga (Kemulan), di mana rong sebelah kanan adalah untuk Pradana (Wanita), rong kiri adalah untuk Purusa (Laki-laki) dan rong tengah untuk Suniaatma.

Kiri-kanan dalam Rong Tiga adalah dari Linggih Kemulan, tegasnya bila Kemulan menghadap ke Barat, yang kiri adalah yang di Selatan, dan yang kanan adalah yang di Utara. Bila Kemulan menghadap ke Utara, yang kiri adalah yang di Barat, dan yang kanan adalah yang di Timur.

Menanam ari-ari, bila bayinya perempuan ditanam di kanan (sebelum) pemedal rumah, dan bila laki-laki ditanam di kiri (sebelum) pemedal rumah, kanan dan kiri dari pandangan rumah menuju jalan.

Meletakkan Tugu (Sedahan Karang) tidak memperhatikan kiri-kanan tetapi memperhatikan hulu-teben. Letakkanlah di bagian teben dari tanah pekarangan, karena yang di hulu adalah Kemulan Rong-3.

4. Cara berbusana bagi wanita, ujung wastra dan kampuh selalu menuju ke kanan (dari arah kiri) dan sebaliknya bagi laki-laki.

Demikianlah penjelasan Pandita, mengacu pada sumber sastra antara lain Lontar-lontar: Wrhaspati Tattwa, Ganapati Tattwa, dan Gong Besi. Semoga memuaskan.

1 comment to “Tengen” dan “Kiwa”

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>