Tenung Joyoboyo Untuk Perkawinan

Joyoboyo adalah seorang Raja Panjalu/Kediri keturunan Erlangga, bertahta sejak 1130 M sampai 1160 M (selama 30 tahun). Beliau dikenal dengan nama Sri Jayabhaya atau Prabu Jayabhaya. Setelah Erlangga turun tahta sebagai raja Kahuripan wilayah kerajaan terbagi dua, yakni Panjalu (sekarang : Kediri) dan Jenggala (sekarang : Singosari).  Sri Jayabhaya berhasil menyatukan kembali kedua wilayah itu pada tahun 1130.

Dalam masa pemerintahannya, Jayabhaya didampingi oleh dua rohaniawan terkenal yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Tenung Joyoboyo diduga merupakan karya spiritual dari ketiga tokoh itu yakni Jayabhaya, Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Tenung atau ramalannya di kemudian hari banyak terbukti benar.

Yang terkenal paling tepat adalah tenung sloka 129 yang ditulis dalam bahasa Jawa kuno sekitar tahun 1130 – 1160 sebagai berikut : Iku balane semut ijo kang kelangan ngangrang, sapta linuweng ing sumur jalatundha kang kebak isi baya, iku tandha praptaning jaman wong sugih krasa wedi, wong padha dadi priyayi senenge wong jahat, susahe wong becik. Artinya : Itulah pasukan semut hijau (= TNI-AD, red) yang kehilangan (= menumpas, red) semut merah (= PKI, red), tujuh dimasukkan sumur jalatundha yang banyak buayanya (= 7 pahlawan revolusi terbunuh, al di sumur Lubang Buaya, red), itulah lambang datangnya jaman orang kaya merasa takut (= karena terlibat korupsi, red), orang banyak mengaku-aku jadi priyayi (= elit politik, red), orang jahat semakin senang (= kejahatan marak, red), orang baik semakin susah (= orang baik, jujur, tersisihkan, red). Peristiwa yang diramalkan itu dikenal dengan G-30-S tanggal 1 Oktober 1965. Jadi kejadian dan keadaan itu sudah ditenung sekitar 800 tahun sebelumnya !

Tenung Joyoboyo dalam meramalkan jalannya kehidupan setelah perkawinan, memperhatikan nama pasangan suami/istri atau calon pengantin. Nama yang dimaksud adalah huruf (aksara) pertama dari nama asli yang bersangkutan. Misalnya nama : Wayan Dharmaja Tanaya, yang digunakan dalam tenung ini hanya aksara D (dari Dharmaja). Selanjutnya tenung ini menggunakan matrix 20 aksara Jawa kuno yakni :  A NA CA RA KA DA TA SA WA LA PA DHA JA YA NYA MA GA BA THA NGA. Masing-masing aksara itu diberi Neptu/Urip atau angka yang pasti. Urip/neptu artinya : hidup, baik, lancar mencapai tujuan. Berkaitan dengan dewasa atau waktu yang mempunyai pengaruh besar pada alam semesta (bhuwana agung) serta menuntun manusia menuju hidup yang harmonis, bahagia, sejahtera. Selanjutnya buat tabel di bawah ini :

Kotak-kotak sejumlah 20 buah sama dengan jumlah aksara Jawa-kuno. Dibagi rata keempat penjuru mata angin dengan warna berbeda :

  1. Timur/Wetan/Purwa berwarna putih, aksara : A, NA(N), CA(C), RA(R), KA(K), masing-masing dengan Neptu/Urip : 5, 4, 3, 3, 3.
  2. Selatan/Kidul/Daksina berwarna merah, aksara : DA(D), TA(T), SA(S), WA(W), LA(L), masing-masing dengan Neptu/Urip : 4, 3, 2, 7, 5.
  3. Barat/Kulon/Pascima berwarna kuning, aksara : PA(P), DHA(Dh), JA(J), YA(Y), NYA(Ny), masing-masing dengan Neptu/Urip : 1, 4, 3, 10, 6
  4. Utara/Lor/Uttara berwarna hitam, aksara : MA(M), GA(G), BA(B), THA(Th), NGA(Ng), masing-masing dengan Neptu/Urip : 6, 1, 1, 3, 1.

    Area yang di tengah-tengah dinamakan “Segara-Gunung” wilayah sakral yang hanya diperuntukkan bagi Dewa-Dewi, atau tidak untuk manusia.

    Dalam perhitungan selanjutnya mencari huruf awal yang baik, selalu mengikuti arah sesuai perputaran jarum jam, atau yang dinamakan putaran “Purwa-Daksina” Perputaran ini diyakini sebagai putaran kehidupan, sesuai dengan putaran planet bumi pada sumbunya mengelilingi matahari.

    Angka Neptu/Urip adalah angka konstan yang sudah ditetapkan oleh Joyoboyo ketika menerima wangsit. Jadi tidak perlu ditanyakan kenapa aksara A Neptunya 5, NA Neptunya 4, dan seterusnya.

    Warna yang berbeda menurut arah mata angin mengikuti warna Dewa yang berkedudukan di arah tertentu : Ishwara di Timur berwarna putih, Brahma di Selatan berwarna merah, Mahadewa di Barat berwarna kuning, dan Wisnu di Utara berwarna hitam.

    Letak aksara awal A di Timur mengandung filosofi kehidupan yang berawal dari terbitnya matahari di arah Timur. Demikian selanjutnya urutan aksara mengikuti purwa-daksina.

    Cara menggunakan tabel untuk menentukan baik/buruknya perkawinan.

    Pastikan huruf/aksara awal nama. Misalnya si lelaki bernama : Wayan Dharmaja Tanaya. Maka huruf/aksara awal namanya adalah D dengan Neptu/Urip 4. Si wanita bernama : Luh Putu Astarini Marheni. Maka huruf/aksara awal namanya adalah A dengan Neptu/Urip 5. Jumlah Neptu/Urip keduanya =  4 + 5 = 9.

    Dalam tenung Joyoboyo diyakini penjumlahan angka Neptu/Urip tertinggi adalah 7 karena angka 7 adalah Sapta Ongkara atau tujuh utaprota Sanghyang Widhi dalam bentuk Ongkara (OM). Oleh karena dalam kasus ini (perkawinan Wayan Dharmaja Tanaya dengan Luh Putu Astarini Marheni) jumlah Neptu/Uripnya = 9, maka harus dikurangi 7  sehingga bersisa 2. Angka ini menentukan baik/buruknya suasana hidup rumah tangga setelah perkawinan, sesuai dengan daftar sebagai berikut :

    Jumlah/sisa Neptu/Urip M a k n a   b a i k / b u r u k
    1 Asih alaki-rabi, wateke rukun tunggal karep

    Artinya : suami/istri saling mencintai dan rukun tetapi salah seorang mau menang sendiri (ingin lebih menonjol/terkenal/hebat/kaya/pintar)

    2 Kemaron sih, wateke karep padu, sulaye pikirane

    Artinya : suami/istri berusaha rukun namun sering terjadi percekcokan, karena pikiran mereka tersiksa.

    3 Sukrta, wateke pakeweh, ora tulus alaki-rabi

    Artinya : Berbuat baik, namun selalu ditimpa kesulitan dan berakhir dengan perceraian

    4 Kutuklaha, wateke keweh sisan, mati salah siji

    Artinya : Seperti dikutuk, sangat susah hidupnya dan salah satu (s/i) cepat mati

    5 Mantri suka, wateke becik, enggal olih pangkat

    Artinya : Kebahagiaan utama, hidup baik dan cepat dapat kedudukan/pangkat atau penghargaan dari masyarakat

    6 Saka sugih, wateke enggal dadi sugih lan awet

    Artinya : Asalnya kaya cepat bertambah kaya dan panjang umur

    7 Lintang purnama, wateke luwih becik, kasembadan

    Artinya : Sangat baik hidupnya (kaya, terkenal), ditolong orang.

    Jadi kembali pada contoh perkawinan Wayan Dharmaja Tanaya dengan Luh Putu Astarini Marheni, dimana menurut perhitungan jumlah/sisa Neptu/Uripnya = 2, oleh tenung ini diramalkan dalam perjalanan kehidupan berumah tangga mereka akan menemui : . Kemaron sih, wateke karep padu, sulaye pikirane. Artinya : suami/istri berusaha rukun namun sering terjadi percekcokan, karena pikiran mereka tersiksa.

    Bagaimana cara menghindari tenung yang kurang baik ini ? Adalah dengan mengganti nama si istri sedemikian rupa agar diperoleh Neptu/Urip yang baik, yakni hasil penjumlahan dengan Neptu/Urip suaminya menjadi 7 (Lintang purnama, wateke luwih becik, kasembadan, artinya : Sangat baik hidupnya kaya raya, terkenal, ditolong orang). Misalnya nama Luh Putu Astarini Marheni dirubah menjadi Luh Putu Tastrarini Marheni, dengan penjelasan :

    Neptu/Urip aksara pertama nama istri T =  3 (lihat gambar/tabel)

    Neptu/Urip aksara pertama nama suami D = 4

    Jumlah Neptu/Urip keduanya = 7 (lihat artinya pada daftar diatas)

    Catatan :

    1. Untuk memilih aksara yang tepat bagi si istri hendaknya berpangkal dari posisi aksara si suami, dan pencarian dilakukan memutar kearah jarum jam (purwa daksina). Dalam contoh diatas aksara suami adalah D (DA) maka yang dicari adalah aksara T (TA) sehingga jumlah Neptu/Urip DA + TA =  4 + 3 = 7
    2. Setelah menemukan TA atau T, gunakan sebagai pedoman merubah nama si istri, namun dengan tetap memperhatikan namanya yang lama agar tidak terjadi perubahan drastis. Jadi nama Astarini dirubah menjadi Tastrarini. Makna spiritualnyapun tak berbeda banyak; Asta-rini artinya : wanita yang memegang teguh asthabrata. Tastra-rini artinya : wanita yang menekuni pelajaran (Agama/Weda)
    3. Jangan sekali-kali mencari pepadanan Neptu/Urip aksara dengan “menyeberang” misalnya dari deretan di timur ke deretan di barat atau dari deretan selatan ke deretan utara. Seperti contoh diatas, perlu Neptu/Urip 3, ada juga di deretan utara THA = 3. Karena aksara suami ada di deretan selatan, sedangkan mencarinya ke deretan utara, maka arah pencarian itu melewati area sakral sehingga disebut “megat segara-gunung” (memutuskan hubungan laut dan gunung) Jika ini terjadi, bukannya kebaikan yang akan diperoleh, tetapi malapetaka kehancuran rumah tangga yang akan ditemui.

    Bagaimana kalau aksara pertama dari nama suami atau istri adalah I, E, O atau U ? Aksara-aksara itu disamakan dengan A

    Bagaimana prosedur/upacara mengganti nama ?

    Menurut keyakinan beragama Hindu di Bali, prosedur/upacara pergantian nama sebagai berikut :

    Adakan pendekatan dan pembicaraan dengan kedua ortu si wanita. Mengapa nama si wanita yang diganti ? Karena hukum adat di Bali adalah purusha (patriarchaat), mengandung pengertian bahwa istri mengikuti suami.

    Upacara diadakan di Sanggah Pamerajan (Kemulan) pradana (pihak wanita) dengan banten : pejati dan pamegat sot bertujuan ngaturang pemamit kepada Bhatara Hyang Guru.

    Upacara lanjutan di Sanggah Pamerajan (Kemulan) purusha (pihak lelaki) dengan banten : pejati bertujuan ngaturang piuning kepada Bhatara Hyang Guru. Dilanjutkan dengan upacara mebayuh, mapetik, dan otonan bagi si wanita. Oleh karena itu hari pelaksanaan upacara agar dipilih hari pawetuan (otonan) si wanita.

    1 comment to Tenung Joyoboyo Untuk Perkawinan

    • 1

      punapi jika pertemuan nama tiang sareng pasanga
      nama : i putu suryanta
      nama : ni komang sari

      di angka 4
      tiang mau menikah,titiang metaken nama yang istri setelah knikah napi sebelum nikah ditambahi dan di bayuh ratu,suksma banget

    Leave a Reply

      

      

      

    You can use these HTML tags

    <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>