Tirtayatra ke Tanah Bharata

Durbar | Menjejakkan Kaki ke Tanah Bharata | Mathura | Khrisna Lila | Haridvar, The Gateway to Heaven | Gangga, Kisah-Kisahmu Dulu | Kurukshetra | Prabhujee

DURBAR

Kota Durbar adalah bagian dari suatu areal yang bernama Bhaktapur. Bagian lainnya adalah Taumadhi, Dattatreya, Bolachhen, Siddha Pukhu, dan Surya Binayak. Durbar berada dalam proteksi PBB di bawah UNESCO dalam program World Heritage.

Kompleks perumahan rakyat, istana, museum, dan Kumari-Ghar dibangun pada awal abad ke-12. Renovasi bangunan istana diadakan pada abad ke-18, dan sejak itu hingga sekarang tidak ada perubahan apapun yang dilakukan.

Dengan dilindungi UNESCO, keaslian dan kesucian Kota Durbar sangat dijaga sehingga para wisatawan yang berada di Durbar benar-benar melihat kehidupan di abad ke-12. Istana Raja memang tidak ditempati lagi oleh keluarga Raja, karena sudah dibangun istana baru di Narayanhity, Kathmandu.

Istana di Durbar hanya digunakan oleh Raja, diiringi keluarga dan petinggi kerajaan pada setiap bulan September, yaitu pada hari Indra Jatra, pada saat mana Raja akan menerima wejangan-wejangan dari Devi Kumari tentang pengaturan pemerintahan dan kepemimpinan.

Devi Kumari disebut dalam World Heritage sebagai “The Living Goddess”. Ia adalah seorang gadis muda yang dipilih dari suku Sakya, memenuhi 32 syarat meliputi hal-hal kesucian, kecantikan, perilaku, dan inteligensi.

Syarat kesucian antara lain berasal dari suku Sakya yang murni artinya leluhurnya tidak pernah mengadakan perkawinan campuran dengan suku lain, dan belum pernah menstruasi.

Syarat kecantikan antara lain wajah yang benar-benar cantik, warna mata hitam, alis lebat dan indah, hidung bangir, mulut dan gigi yang bagus, kulit kuning langsat dan bersih, tinggi semampai, dan mata yang besar cemerlang.

Syarat perilaku antara lain sopan santun, gembira, dan tangkas. Syarat inteligensi antara lain cerdas, mudah berkomunikasi, dan lancar berbicara.

Setelah terpilih, dia tinggal di Kumari-Ghar, yaitu sebuah bangunan kuno terletak di sebelah istana. Di sini ia mendapat pendidikan, latihan, dan tuntunan sembahyang dari para Brahmin wanita. Setiap pagi sekitar jam 10 dia tampil dengan berpakaian indah di sebuah jendela kecil di lantai dua untuk menerima persembahan dan penghormatan dari para pengunjung selama dua menit.

Devi Kumari yang telah menerima pendidikan dan latihan yang cukup dapat menjadi mediator di saat Raja memerlukan petunjuk-petunjuk Hyang Widhi. Pada hari Indra Jatra, Raja akan datang ke Kumari-Ghar untuk berdialog empat mata dengan Devi Kumari. Oleh karena itulah Devi Kumari sangat disakralkan, dijaga dengan hati-hati oleh para Brahmin.

Devi Kumari akan mengakhiri masa jabatannya bilamana ia memperoleh menstruasinya yang pertama, atau dari tubuhnya mengeluarkan darah, misalnya karena mimisan atau digigit nyamuk sampai berbekas. Di akhir masa jabatannya ia akan kembali ke rumah orang tuanya dan mendapat jaminan seumur hidup dari Raja.

Orang tuanya mendapat penghormatan tinggi di masyarakat, namun tidak ada lelaki Nepal yang berani memperistri “pensiunan” Devi Kumari karena takut kuwalat dan membawa sial.

Masuk ke dalam Kumari-Ghar kita tidak boleh membawa kamera, apalagi memotret Devi Kumari. Ada polisi bersenjata laras panjang dengan pandangan waspada dan curiga kepada setiap wisatawan. Kita juga harus membuka sepatu dan menaruh tas-tas di luar Kumari-Ghar.

Penggunaan Devi Kumari sebagai mediator adalah kombinasi kepercayaan Hindu sekte Tantric dengan Budha sekte Vajrayana-Mahayana.

Pada kunjungan hari itu, rombongan kami beruntung dapat melihat Devi Kumari yang nampak hanya sebatas dada ke atas hanya dalam waktu dua menit. Ia tersenyum dan melambaikan tangan, dan saya membalas dengan mencakupkan tangan di dada seraya mengucapkan “Om Swastyastu”! Devi Kumari memang gadis kecil berusia sekitar 10 tahun yang sangat cantik.

Dari Kumari-Ghar kami lanjut berjalan kaki menuju Taumadhi di mana berdiri beberapa buah Nyatapol atau di Bali kita namakan Meru, tempat pemujaan Brahma, Sarasvati, Vishnu, Shiva, Pashupati, Bhairava, Ganesha, dan Parvati. Kami bersembahyang di masing-masing Nyatapol secara Nepal, yaitu sambil berdiri dan mengucapkan beberapa bait mantram.

Saya menggunakan mantram-mantram seperti yang dipelajari di Bali misalnya pemujaan untuk:

  • Brahma digunakan: Daksina Mantra
  • Sarasvati digunakan: Sri Sarasvati Pashupataye
  • Vishnu digunakan: Uttara Mantra
  • Shiva digunakan: Madya Mantra
  • Pashupati digunakan: Pashupati Om Phat
  • Bhairava digunakan: Durga Stava
  • Ganesha dan Parvati digunakan: Ganesha Gayatri dan Parvati Gayatri

Lengkaplah sudah persembahyangan kami di Taumadhi dan hati saya terasa lega dan suci. Kami terus ke Dattatreya, sebuah bangunan dari batu kuno tempat pemujaan Tri Murti seperti Padma Tiga yang ada di Penataran Agung Besakih.

Kami mengakhiri lawatan di Nepal, menuju bandara Tribhuanan untuk selanjutnya terbang ke New Delhi India. Di dalam bus kami mendapat penjelasan dari guide bahwa Raja Nepal yang sekarang bernama Gyanendra Bir Bikram Shah Dev, adalah raja ke-12 dari Dinasti Shah yang bertahta turun temurun sejak tahun 1951.

Sebelumnya adalah raja-raja dari Dinasti Rana yang bertahta selama 104 tahun, yaitu sejak 1768 Masehi.

Walaupun ada pergantian Dinasti, kehidupan beragama Hindu di Nepal dengan tradisi-tradisinya yang kuat, tetap bertahan. Ini terkesan dari ketaatan umat Hindu melaksanakan ajaran-ajaran Veda walaupun di beberapa bentuk ritual ada juga nampak pengaruh ajaran Budha yang datang dari Tibet.

Perkawinan sangat dijaga agar tidak terjadi perkawinan campuran misalnya antara pemeluk Hindu dengan pemeluk Budha. Dengan demikian maka pemeluk Budha yang umumnya berasal dari Tibet merupakan kelompok minoritas dan menyendiri.

Mereka dalam perlindungan PBB sejak tahun 1960 dan tinggal di Tibetan Refugee Camp, suatu area di pinggir Kathmandu, di dekatnya berdiri kuil Budha yang besar bernama Budhanilkantha.

Tidak berapa lama kami sudah tiba di bandara. Guide mengingatkan kami agar memeriksa hand-bag lebih teliti lagi, misalnya jangan sampai ada benda-benda yang dicurigai sebagai pemicu bom misalnya: handphone, korek api, baterai, atau berbagai alat yang bisa digunakan sebagai senjata misalnya pisau, tongkat, dll.

Imigrasi Nepal dalam hal ini sangat berhati-hati dalam mencegah kebrutalan teroris. Beruntunglah karena saya sejak dari Denpasar mengikuti Tirtayatra ini tidak membawa-bawa tongkat kependetaan (Teteken) karena disarankan demikian oleh Krishna Tours.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8

4 comments to Tirtayatra ke Tanah Bharata

  • 1
    W.Sukananada says:

    Om swasty astu
    Nawegang titiang Ida Bhagawan Dwija,titiang tidak pernah ke India apalagi ke tempat suci di India.
    tapi ada tempat yang sangat disucikan oleh umat Hindu dan kalau di Bali tempat dimaksud sering dipuja oleh Ida peranda sebagai mantra utama yaitu Sungai Gangga , sungai yang paling disucikan oleh umat Hindu se dunia.
    tapi pada suatu ketika saya coba coba membuka email tentang sungai gangga disitu saya disuguhkan berita serta photo photo yang menyatakan sungai gangga kotor dan bergelimpangan bangkai khususnya bangkai manusia.
    Ratu Ida bhagawan apakah berita dan photo photo dimaksud memang benar adanya, kalau memang benar apa pendapat Bhagawan, dan kalau tidak benar kenapa kita tidak mengambil tindakan terhadap orang yang menyebarkan berita tersebut karena menurut saya itu termasuk penghinaan terhadap agama Hindu.
    demikian yang dapat saya sampaikan.
    Terima kasih
    Om shanti shanti shanti Om.

  • 2

    Memang benar, dipinggir Sungai Gangga (ditempat tertentu saja di bagian hilir) adalah tempat pembakaran jenazah. Bila sudah matang, lalu dibuang ke sungai Gangga. Tidak seperti di Bali arang tulang diuyeg, tetapi dibuang begitu saja, sehingga mungkin masih berbentuk arang tulang. Namun di hulu sungai Gangga berdiri ashram-ashram yang sangat suci, tempat metirta yatra/tirta gamana. Perlu diketahui bahwa sungai Gangga itu lebar/luas, dan arusnya kuat sekali.

  • 3
    Nyoman Q-Doel says:

    Om Swastyastu Ida Bhagawan
    Wenten jagi tunasang titiang dwaning titiang naening wenten pemargi asapuniki.
    Duk riyin titiang tangkil ring Pura Batukaru-Tabanan sawetara jam 14.00 wita, genah pemuspan ring beji, ring luhur, ring dalem purwa.
    ring genah punika (3 genah) dapetang titiang wenten “cara ring tabanan” tehenan pemangku “dulang medaging beras daksina” dupa sampun menyit 3 katih wawu menyit, nanging ten wenten sira2 drika,
    inggian genah teenan mangku punika pateh sekadi ring pujawali-pujawali.
    duk punika dwaning tambet titiange kelintang tiang wantah maturan canang kemanten lantur muspa, lanturang pemargi ke pelinggih selanturne, taler memanggih sekadi asapunika.

    duk tiang tangkil merika”pura batukaru” sareng kalih “kurenan buwung alias tunangan” nanging pateh kenehe duk punika.

    Ledang Ida Bhagawan menawi napi ceciren ne punika tur pemargi napi tiang patut margiang yening tetujon tiange wantah selamet rahayu jagat lan sedagingnya.

    tiang I Nyoman Suaba, 02 Agustus 1968, Sukra Pahing Matal

    • 3.1
      Bhagawan Dwija says:

      @Nyoman Q-Doel: Yen yakti sekadi punika, nika ciri becik pisan. Patutne jerone nunas pesucian ring tehenan pemangku punika, mawinan nika sampun kesayagayang olih rencang/pengiring Ida Bhatara sane sih ring ragan jerone. Mangkin becikne tangkil malih merika ngaturang guru piduka mawinan ten nunas paican Ida Bhatara duk rainane punika.

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting