Durbar | Menjejakkan Kaki ke Tanah Bharata | Mathura | Khrisna Lila | Haridvar, The Gateway to Heaven | Gangga, Kisah-Kisahmu Dulu | Kurukshetra | Prabhujee
MATHURA
Bangun pagi di hari pertama di tanah suci terasa lain dengan hari-hari sebelumnya di Bali. Sambil mandi saya berpikir-pikir apanya yang lain.
Pertama, bepergian ke luar negeri melihat suasana baru seperti ini adalah yang pertama kali saya lakukan setelah pensiun di tahun 1997; kedua karena saya bangun pagi tidak dengan rencana kerja yang padat semisal ber-dharma wacana dan muput upacara Panca Yadnya; dan yang ketiga, hari-hari ini saya merasakan tradisi Hindu yang kental di sekitar saya.
Dari sabun mandi yang beraroma cendana, air fresher bunga tulasi, siaran santapan rohani Hindu dari TV, asap dupa berbau khas seperti kemenyan, bahasa Hindi dari karyawan hotel, dan salam mereka yang ramah: Namaste!
Setelah mengemasi barang kami menuju ruang makan dan seterusnya naik bus yang sudah menanti di depan hotel. Dari jendela bus yang bersih saya melihat banyak sekali burung-burung beterbangan di taman hotel dan di jalan raya.
Kebanyakan burung dara, yang nampaknya tidak diusik oleh penduduk, bahkan ada yang memberi makanan biji-bijian. Katanya memang ada aturan Pemerintah yang melarang menggangu burung-burung itu.
Suhu udara di pagi itu tercatat 10 derajat. Di bulan-bulan ini suhu tertinggi di siang hari hanya 24 derajat, dan di malam hari 9 derajat. Untung saya sudah menyiapkan sarung tangan dan jas panjang yang cukup tebal.
Bulan Pebruari adalah akhir musim dingin yang di mulai sejak Desember tahun lalu, saat mana suhu udara minimum bisa mencapai 2 derajat. Bulan Maret sampai April musim semi, Mei sampai Juli musim panas, di mana siang hari suhu bisa mencapai 50 derajat.
Agustus sampai Oktober musim hujan, dan Nopember musim rontok. Dengan demikian kunjungan ke India yang paling nyaman adalah di bulan Pebruari dan Maret.
Tujuan perjalanan hari ini adalah menuju Mathura, kota tempat kelahiran Sri Krishna. Perjalanan akan menempuh waktu sekitar empat jam naik bus dari New Delhi.
Setelah semua berada dalam bus, sebagaimana kebiasaan setiap pagi hari di awal perjalanan, kami melakukan Puja Trisandya. Setelah itu Pak Agung memberikan penjelasan rencana perjalanan sepanjang hari.
New-Delhi sebuah kota yang besar. Pak Agung memperkirakan luas kota hampir sama dengan luas Pulau Bali. Saya percaya itu, jika secara kasar dihitung lamanya perjalanan dari pusat kota tempat kami bermalam ke pinggir kota menempuh waktu sekitar 3 jam dengan rata-rata kecepatan 40 km per jam.
New Delhi yang dahulu di zaman Mahabharata bernama Indra Prasta dibelah dua oleh Sungai Yamuna. Ada jembatan panjang yang kami lalui di atas Sungai Yamuna. Dari bus, air sungai kelihatan hitam pekat, entah kenapa. New Delhi dibenahi menjadi ibu kota ketika penjajahan Inggris.
Presiden India saat ini adalah DR. A.P.J. Abdul Kalam. Beliau beragama Islam, kelahiran 15 Oktober 1931 di sebuah kota kecil bernama Ramesvaram, Tamil Nadu, seorang Doktor ahli Aeronautical Engineering.
Ia terpilih sebagai Presiden India yang ke-11 sejak 25 Juli 2002, karena mendapat simpati rakyat dengan programnya sampai tahun 2020 untuk membawa India ke era tekhnologi mutahir.
Penerima gelar Doktor Honoris Causa lebih dari 30 Universitas terkemuka di dunia ini, aktif memimpin lembaga TIFAC: Technology Information, Forecasting and Assessment Corporation, suatu lembaga yang mengkaji, merencanakan dan membantu pengembangan segala bentuk teknologi mutahir di India, termasuk SLV: Satellite Launch Vehicle, SC: Space Club, IGDR: Indigenous Guide Defence Research, IGMDP: Integrated Guided Missile Development Programme, dll.
Buku-buku ilmiah buah pikirannya antara lain: Wings of Fire, India Vision for the New Millennium, My Journey, dll.
Abdul Kalam dibantu oleh Vice-President: Shri Bhairon Singh Shekhawat. Ia juga terpilih oleh Parlemen sebagai Chairman Rajya Sabha.
Dalam UUD India, seorang Vice-President adalah ex officio Chairman of the Council of State yang disebut Rajya Sabha. Dengan demikian ia menempatkan dirinya baik sebagai Executive maupun sebagai Parlemen.
Perdana Menteri sebagai pengendali pemerintahan saat ini, dijabat oleh Shri Atal Bihari Vajpayee. Ia adalah ketua dari suatu Kabinet dengan masa jabatan lima tahun. Bentuk pemerintahan seperti ini memang unik dan tidak terdapat di negara manapun baik di Eropa maupun Amerika atau negara-negara lain dalam persekutuan Inggris.
Perjalanan panjang ini tidak terasa membosankan karena banyak pemandangan yang unik disaksikan. Misalnya kebebasan berkendara di kota New Delhi. Walaupun ada traffic light kendaraan boleh saja nyelonong ketika signal merah, asal jalur terbuka.
Menyalip dari kiri atau kanan boleh saja, yang penting selalu membunyikan klakson. Maka hampir di setiap bagian belakang kendaraan selalu ada tulisan: “Horn please”. Tidak ada larangan parkir; boleh parkir di mana saja, di kanan atau di kiri jalan.
Lembu-sapi juga banyak berkeliaran di jalan-jalan tidak ada yang mengusik. Pengendara dengan sabar menantikan seekor sapi yang melintas dengan santai. Kotoran sapi bisa merupakan berkah bagi pengendara yang terdekat dengannya. Maka ia tidak segan-segan berhenti lalu mengambil ember dari mobilnya untuk meraup tahi sapi itu.
Sampai di luar kota pak Agung mempersilahkan siapa yang ingin berhajat kencing boleh menghentikan kendaraan. Maka kami pun serentak meminta kendaraan berhenti lalu mencari semak-semak di pinggir jalan. Saya memperhatikan sekeluarga penduduk desa baru pulang dari kota.
Mereka berenam terdiri dari ayah-ibu dan anak-anak mengendarai gerobak yang ditarik seekor kerbau. Di Buleleng gerobak itu dahulu di tahun 1950-an dinamakan cikar. Di India cikar masih menjadi kendaraan umum para penduduk desa sekalipun bepergian ke kota besar seperti New Delhi.
Sampai di rumah, kerbau pun dilepaskan dari bebannya kemudian merumput dengan santai di sekitar halaman rumah.
Penduduk di sini hidup hemat dan produktif. Mereka suka menabung untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Cita-cita setiap orang tua adalah anak-anaknya mengecap jenjang pendidikan yang tertinggi. Pemerintah memacu produktivitas nasional dengan membatasi impor barang-barang konsumtif.
Mobil misalnya, kebanyakan produksi dalam negeri. Untuk truk dan bus hampir semuanya bermerk “Tata” produksi India dan kendaraan umum lebih banyak Bajaj dari pada taksi. Tidak jarang melintas kendaraan pribadi yang umurnya sudah cukup tua, misalnya Fiat buatan tahun 1967.
Rumah-rumah di pedesaan sangat sederhana. Kekayaan penduduk terlihat dari tinginya tumpukan tahi sapi di halaman depan rumah. Tahi sapi itu dicetak berbentuk bulatan dengan garis tengah 30 Cm dan ketebalan 5 Cm. Tahi sapi digunakan sebagai rabuk, bahan bakar untuk memasak makanan, dan ramuan ritual.
Makin banyak tahi sapi yang ada berarti makin banyak sapi yang dimiliki. Itu juga pertanda banyaknya susu yang dihasilkan sehari. Susu adalah bahan makanan pokok di India. Makan pagi, siang, dan malam selalu menghadirkan susu sebagai minuman. Di samping itu banyak makanan dan manisan olahan dari bahan pokok susu sapi murni.
Tiada lama setelah berada di alam pedesaan luar kota New Delhi, kami sudah tiba di kota Mathura, tempat kelahiran Sri Krishna dan Baladewa.
Waktu setempat sudah menunjukkan jam 13.30. Di tempat kelahiran avatara ini di zaman pra penjajahan Islam didirikan sebuah Mandir yang besar, namun Mandir ini kemudian dihancurkan rata tanah oleh penguasa Moggul diganti dengan mendirikan sebuah Masjid yang lebih besar lagi.
Setelah kemerdekaan India di mana kebijaksanaan politik pemerintah India mewujudkan sekularisme, maka pemeluk Hindu mendirikan kembali Mandir di sebelah Masjid, yang dinamakan Krishna Jalma Bumi Pur Mandir.
Bentuk kedua bangunan yang hanya berjarak 50 meter dan mempunyai halaman depan tunggal, hampir serupa. Bedanya hanya di Mandir banyak ditemukan patung-patung dan relief yang menggambarkan kehidupan Sri Krishna sejak kecil sampai peranannya sebagai penasehat Pandawa dalam Bharatayuda.
Walaupun sudah didirikan kembali Mandir yang cukup mewah itu, pemeluk Hindu masih kurang puas, karena tempat di mana dahulunya berdiri rumah kelahiran Sri Krishna sudah menjadi Masjid.
Untuk memuaskan kedua pihak, yaitu pemeluk Islam dan Hindu, maka diambil kesepakatan untuk membuat terowongan besar di bawah tanah yang menghubungkan Mandir dengan bagian bawah Masjid. Ketika kami berada di ruangan bawah tanah tempat kelahiran Sri Krishna, persis beberapa puluh meter di atasnya adalah bangunan Masjid itu.
Memasuki Mandir pengunjung diwajibkan membuka sepatu atau sandal dan dititipkan di ruangan khusus di luar Mandir. Tradisi yang berlaku bagi umat Budha dan Hindu ini timbul karena adanya keyakinan bahwa para asuras berkumpul di alas kaki baik berupa sepatu maupun sandal.
Dari Krishna Jalma Bumi Pur Mandir kami menuju Brindavan yang berjarak sekitar 45 menit perjalanan dengan bus. Memasuki Brindavan kami berganti kendaraan becak karena jalan-jalan di sini sempit.
Bus parkir di terminal dan dari tas kami mengambil perlengkapan mandi. Tujuan pertama adalah ke tepi Sungai Suci Yamuna. Melalui jalan sempit yang berliku-liku, sampailah kami ke Yamuna, berhenti persis di pinggir sungai. Tempat itu adalah tempat di mana sang pertapa Palasara pertama kali berjumpa dengan Satyavati.
Saya tertegun sejenak. Tak pernah berhayal bahwa akan menjejakkan kaki di tempat suci ini. Pikiran saya menerawang pada kisah kelahiran Bhagavan Abyasa.
Bermula dari Palasara yang terpesona pada kecantikan Satyavati, penambang perahu di Yamuna. Walaupun ia berbau amis tetapi kecantikan luar biasa memancar dari wajah dan bentuk tubuhnya.
Palasara tak dapat menahan gairahnya seraya menyapa putri cantik itu: “Putri yang cantik, kumohon padamu; terimalah cintaku”. “Banyak orang suci mengawasi kita dari kedua tepi”, jawab Satyavati, “jadi bagaimana hamba dapat menyenangkan tuan?”
Palasara serta merta menciptakan kabut yang menyelimuti sekitarnya. Terpesona, tapi sangat ketakutan karena merasa tak berdaya, Satyavati kemerah-merahan wajahnya.
“Hamba masih perawan”, ia berkata, “karena patuh pada perintah bapakku. Kalau tuan memadu kasih dengan hamba, apa yang akan terjadi atas diri hamba? Bagaimana hamba dapat pulang ke rumah? Bagaimana hamba dapat menjalani hari-hariku? Apa akan dikatakan bapak hamba? Tolonglah hamba. Hamba begitu bingung”.
Palasara tersenyum. “Kau akan tetap perawan meskipun kau telah memuaskan hasratku. Tak ada alasan untuk merasa takut”.
Seorang anak telah lahir pada hari itu juga setelah Palasara memadu kasih dengan Satyavati di pulau di tengah Sungai Yamuna, seorang anak laki-laki yang seketika itu juga ketika ia lahir memutuskan untuk menjadi pertapa.
Ia tinggalkan Satyavati: “Kalau Ibu membutuhkan bantuanku, ciptakan aku dalam hatimu, dan aku akan muncul di depanmu”. Ia adalah Dwipayana, atau “Yang lahir di pulau” yang, karena tahu bahwa kebajikan kian merosot dalam setiap yuga, menyusun urutan kitab-kitab suci demi umat manusia dan kemudian dikenal sebagai Bhagavan Abyasa atau Sang Penyusun.
Saya tersentak dari lamunan ketika Nabe menarik tangan saya minta dituntun naik ke perahu yang sudah menantikan. Saya tercengang, tiada terasa mulut ini terbuka, menjejakkan kaki di pulau di tengah-tengah sungai Yamuna.
Saya bersujud di tanah, “Oh Bhagawan Abyasa, hamba mengunjungi pulau kelahiran-Mu, berkatilah hamba dan limpahkanlah kemuliaan-Mu walaupun sedikit bagai sebutir pasir ke dalam pikiran hamba agar dapat mengikuti jejak-Mu mengabdi pada ajaran Veda”
Kami mandi di Yamuna, berjalan-jalan sebentar di pulau kecil yang kosong itu, kemudian berjapa. Tiada terasa sang surya sudah menuju keperaduannya. Sunset di Yamuna. Damai, indah, suci itulah yang menyehatkan rohani saya.
Tiba-tiba Nabe menegur saya: “Nak, kenapa wajah nanak jadi bersih bersinar sepertinya lain dengan hari-hari sebelumnya”. Saya pun memandang wajah Nabe: “Ia, Nabe juga demikian, wajah Nabe berseri, bening dan suci”. Sampai gelap barulah kami beranjak meneruskan perjalanan.

Om swasty astu
Nawegang titiang Ida Bhagawan Dwija,titiang tidak pernah ke India apalagi ke tempat suci di India.
tapi ada tempat yang sangat disucikan oleh umat Hindu dan kalau di Bali tempat dimaksud sering dipuja oleh Ida peranda sebagai mantra utama yaitu Sungai Gangga , sungai yang paling disucikan oleh umat Hindu se dunia.
tapi pada suatu ketika saya coba coba membuka email tentang sungai gangga disitu saya disuguhkan berita serta photo photo yang menyatakan sungai gangga kotor dan bergelimpangan bangkai khususnya bangkai manusia.
Ratu Ida bhagawan apakah berita dan photo photo dimaksud memang benar adanya, kalau memang benar apa pendapat Bhagawan, dan kalau tidak benar kenapa kita tidak mengambil tindakan terhadap orang yang menyebarkan berita tersebut karena menurut saya itu termasuk penghinaan terhadap agama Hindu.
demikian yang dapat saya sampaikan.
Terima kasih
Om shanti shanti shanti Om.
Memang benar, dipinggir Sungai Gangga (ditempat tertentu saja di bagian hilir) adalah tempat pembakaran jenazah. Bila sudah matang, lalu dibuang ke sungai Gangga. Tidak seperti di Bali arang tulang diuyeg, tetapi dibuang begitu saja, sehingga mungkin masih berbentuk arang tulang. Namun di hulu sungai Gangga berdiri ashram-ashram yang sangat suci, tempat metirta yatra/tirta gamana. Perlu diketahui bahwa sungai Gangga itu lebar/luas, dan arusnya kuat sekali.
Om Swastyastu Ida Bhagawan
Wenten jagi tunasang titiang dwaning titiang naening wenten pemargi asapuniki.
Duk riyin titiang tangkil ring Pura Batukaru-Tabanan sawetara jam 14.00 wita, genah pemuspan ring beji, ring luhur, ring dalem purwa.
ring genah punika (3 genah) dapetang titiang wenten “cara ring tabanan” tehenan pemangku “dulang medaging beras daksina” dupa sampun menyit 3 katih wawu menyit, nanging ten wenten sira2 drika,
inggian genah teenan mangku punika pateh sekadi ring pujawali-pujawali.
duk punika dwaning tambet titiange kelintang tiang wantah maturan canang kemanten lantur muspa, lanturang pemargi ke pelinggih selanturne, taler memanggih sekadi asapunika.
duk tiang tangkil merika”pura batukaru” sareng kalih “kurenan buwung alias tunangan” nanging pateh kenehe duk punika.
Ledang Ida Bhagawan menawi napi ceciren ne punika tur pemargi napi tiang patut margiang yening tetujon tiange wantah selamet rahayu jagat lan sedagingnya.
tiang I Nyoman Suaba, 02 Agustus 1968, Sukra Pahing Matal
@Nyoman Q-Doel: Yen yakti sekadi punika, nika ciri becik pisan. Patutne jerone nunas pesucian ring tehenan pemangku punika, mawinan nika sampun kesayagayang olih rencang/pengiring Ida Bhatara sane sih ring ragan jerone. Mangkin becikne tangkil malih merika ngaturang guru piduka mawinan ten nunas paican Ida Bhatara duk rainane punika.