Durbar | Menjejakkan Kaki ke Tanah Bharata | Mathura | Khrisna Lila | Haridvar, The Gateway to Heaven | Gangga, Kisah-Kisahmu Dulu | Kurukshetra | Prabhujee
GANGGA, KISAH-KISAHMU DULU
Nyurya Sewana pagi-pagi buta di tepi sungai Gangga membawa kenikmatan yang tiada tara. Selesai mapuja saya termenung memandang sungai suci ini di keremangan pagi. Matahari sedang bangkit di timur mewarnai rona kemerahan di hulu sungai.
Terlintas di ingatan saya kisah Raja Pratipa yang sedang duduk bersamadhi di tepian Gangga ketika Dewi Gangga muncul dari dalam air berwujud seorang gadis yang sangat cantik. Ia menghampiri Pratipa, meminta menjadi istrinya namun ditolak karena Pratipa sudah bersumpah tidak akan tergoda oleh wanita.
Dewi Gangga berkata: “Kau menolakku, apakah rupaku buruk?” Pratipa meminta Dewi Gangga duduk seraya berkata: “Aku sudah mengucapkan sumpahku” Pratipa mengulangi. “Sumpah itu akan membinasakanku kalau aku melanggarnya. Kau cantik, aku tahu itu dan kau duduk di sebelah kananku. Arah kanan adalah untuk anak dan menantu perempuan, sedangkan di arah kiri untuk istri.
Kau tidak duduk di sebelah kiri dan aku tidak akan melanggar sumpahku. Jadilah menantuku, kalau kau sudi. Kuterima kau sebagai istri anak laki-lakiku kalau ia lahir.” “Baiklah” Dewi Gangga setuju. “Karena aku menjunjung tinggi kehormatanmu dan darah Bharata, aku akan menjadi istri putramu.
Tapi sebelum aku menjadi menantumu, beritahukan pada putramu supaya ia ingat baik-baik agar tidak menanyakan apapun yang kuperbuat. Aku akan menjadi istri yang baik baginya, aku akan membahagiakannya dan melahirkan banyak anak untuknya; namun ia harus tahu bahwa aku bebas melakukan apa yang kusuka” Dewi Gangga menghilang.
Bulan berganti tahun istri Pratipa kemudian melahirkan anak yang suputra diberi nama Santanu. Ia lahir sebagai hasil perkawinan yang dilakukan pada hari yang baik di saat menuju bulan Purnama. Santanu sempurna tiada cacat; cerdas, kuat, rupawan, berbudi luhur, dan hormat pada kedua orang tuanya.
Ia cemerlang bagaikan Indra. Hari-hari senggang dihabiskannya dengan berburu di hutan. Suatu hari selagi berjalan-jalan di tepi sungai Gangga ia melihat seorang gadis yang luar biasa cantik, dengan gigi seperti mutiara, dan perhiasan yang berkilauan pada tubuhnya yang berselubungkan pakaian selembut bunga teratai.
Direguknya kecantikan gadis itu dengan matanya, dan tak mau memalingkan muka. Dengan suara lembut dan bergetar Santanu berkata kepadanya: “Apakah kau seorang Dewi, seorang Apsara, seorang Yaksa, ataukah Naga? Apakah kau manusia? Apapun kau jadilah istriku.”
Gadis itu tersenyum karena kata-kata Santanu begitu manis. “Aku akan menjadi istrimu dan tinggal bersamamu. Tapi dengan satu syarat. Jangan mengucapkan kata-kata kasar kepadaku. Jangan larang apapun yang kulakukan. Selama kau berlaku manis kepadaku, aku akan menjadi istrimu.
Tapi pada hari kau ucapkan sepatah kata yang kasar, aku akan meninggalkanmu.” Santanu setuju, dan demikianlah mereka hidup berbahagia. Ia menyenangkan hati Santanu dengan kecantikannya, caranya yang lembut di kala memadu cinta, dalam bernyanyi, dan menari. Bulan musim dan tahun datang dan pergi dan Santanu tidak merasa waktu berlalu begitu cepatnya.
Telah lahir delapan orang putra, yang semuanya memiliki kecantikan seperti Dewa. Seorang demi seorang, ketika mereka lahir, dibuang ke Sungai Gangga, sambil berkata: “Kulakukan ini demi kebaikanmu.” Meskipun merasa seram, Santanu tak mengucapkan kata sepatahpun.
Tapi ketika putra kedelapan lahir dan nyaris dibuang dengan gembiranya ke dalam sungai, Santanu tak dapat menahan diri lagi, dan berucaplah ia, “Aku tidak akan mengijinkannya! Siapakah engkau? Mengapa kau bunuh anak-anakmu sendiri? Apakah engkau tidak melihat betapa menyeramkannya perbuatan ini?”
Sang Permaisuri menjawab, “Karena kau memerintahkan aku berbuat begitu, anak ini akan kuselamatkan. Tapi kau sudah melanggar kata-katamu; sekarang aku tak dapat tinggal lebih lama di sisimu. Akulah Gangga, putri Janu. Kedelapan putra itu ialah delapan orang Vasu, tak seorang pun di atas bumi kecuali aku dapat menjadi ibunya.
Suatu kutukan atas diri mereka mengharuskan mereka mengambil bentuk manusia. Tapi kau akan mendapatkan rahmat, suamiku, karena telah menjadi bapaknya. Sekarang aku akan meninggalkanmu, dan menyerahkan putra terakhir ini. Namakan dia Ganggadata, anugerah Dewi Gangga.”
Dewi Gangga menghilang membawa putranya, sedang Santanu pulang ke istana dengan dukacita. Ia tetap menjadi seorang raja yang baik; dalam menjalankan kekuasaannya ia hanya mengucapkan hal-hal yang benar, karena itu rakyatnya hidup dengan diilhami oleh dharma dan amal.
Sesudah memerintah selama tiga puluh enam tahun dengan penuh kebesaran, Santanu turun tahta dan bermukim dalam hutan. Suatu hari, ketika mengejar seekor kijang yang terluka oleh sebatang panahnya, ia melihat Sungai Gangga semakin dangkal di suatu tempat.
Dengan keheran-heranan ia duduk, bertanya kepada diri sendiri mengapa sungai suci ini berperi laku demikian, ketika tiba-tiba ia melihat seorang pemuda tampan mendorong air agar turun, dengan senjata-senjata surgawi. Itulah putranya, tapi Santanu, yang hanya melihatnya selama beberapa menit sesudah dilahirkan, tidak mengenalinya.
Pemuda itu mengenali bapaknya, dan cepat membuat kabur pandangan Santanu dengan kemampuan kedewaannya, dan menghilang. Santanu memanggil Dewi Gangga dan berkata, “Tunjukkan putraku kepadaku.” Dan Gangga mengantarkan putranya, dengan berpakaian mewah, membimbingnya dengan tangan kanan.
“Inilah dia,” ia berkata, “putramu yang kedelapan, Ganggadata. Aku sudah mendidiknya dengan sangat hati-hati. Ia sudah hafal isi semua Weda dan pandai menggunakan segala macam senjata. Ia seorang pemanah yang ahli, sama seperti Indra dalam medan perang. Dan dia sudah mengetahui semua kewajiban seorang Raja pula.” Santanu membawanya ke ibu kota Hastinapura dan menobatkannya menjadi ahli waris.
Empat tahun kemudian Santanu ingin menikahi seorang gadis anak nelayan, tetapi niatnya itu terhalang karena ayah si gadis meminta kesediaan Santanu agar anak yang lahir dari rahim anak gadisnyalah yang akan menggantikannya sebagai raja Hastina. Berhari-hari Santanu mengurung diri dalam kesedihan karena permintaan itu sulit dipenuhi.
Ia sudah menobatkan Ganggadata sebagai pewaris tunggal kerajaan. Ganggadata tahu apa yang disedihkan ayahnya. Maka dicarilah nelayan itu dan meminta ia menyerahkan anak gadisnya untuk menjadi istri ayahnya. Si nelayan tidak percaya pada ucapan Ganggadata yang menjanjikan tahta Hastina akan jatuh kepada cucunya.
Maka Ganggadata pun bersumpah: “Dengarkanlah sumpahku ini, bahwa aku sudah menyerahkan hak-ku atas tahta kerajaan. Disaksikan oleh Brahma, aku bersumpah untuk tidak akan menikah, namun surga masih akan menjadi hak-ku, walaupun aku tidak berputra!”
Berdiri bulu roma si nelayan mendengar sumpah yang bergaung di sepanjang Gangga, diiringi ledakan guntur di angkasa, dan hujan bunga di atas tubuh Ganggadata. Suara dari langit mengumandang memekakkan telinga: “Aku terima sumpahmu wahai Bisma, kesatria sejati yang akan menjadi pahlawan utama” Si nelayan segera menyembah Ganggadata yang sejak itu bergelar Maharsi Bisma.
Selesai merapikan alat-alat pasuwambaan, saya berjalan-jalan di pinggir sungai Gangga. Jalan itu berupa trotoir berlapis tegel merah dan lebarnya sekitar delapan meter. Banyak penduduk setempat berjalan atau joging di pagi yang segar itu. Aliran Gangga sangat deras dan mengeluarkan suara gemuruh.
Warnanya yang bening kehijauan menandakan kedalamannya. Sungai Gangga indah, mempesona, sekaligus berdaya majik dan menggetarkan. Mencemplungkan diri ke dalamnya membuat hati berdebar bagaikan mengarungi misteri yang mengingatkan nurani berhati-hati, waspada dan selalu menjaga pikiran yang suci.
Airnya tidak sama dengan air sungai manapun. Ia sangat jernih, terasa sangat suci di cakupan tangan, dan ketika disiramkan ke tubuh mula-mula menimbulkan getaran karena dingin, tetapi setelah berkali-kali disiramkan, kesucian, kedamaian, dan kebahagiaan meliputi relung hati yang paling dalam.
Perasaan seperti itu tidak hanya dirasakan oleh pengunjung asing dan yang baru mengenal Gangga seperti saya, tetapi juga oleh orang-orang India yang datang dari berbagai pelosok di hari Kumbamela seperti saat ini. Mereka bahkan tidur di tepi Gangga, ada yang membuat kemah, tetapi tidak sedikit yang menggelar selimut begitu saja, beratapkan langit.
Di pagi itu mereka sedang mandi beramai-ramai di tepian Gangga. Semuanya tidak berani melewati batas pagar besi, karena selewat itu aliran sungai sangat deras dan berbahaya. Sudah banyak korban jiwa terseret arus karena ingin mencoba mandi di tempat yang lebih dalam.
Selesai mandi mereka sembahyang lalu mengisi jerikan dengan air sungai untuk dibawa pulang. Jerikan ditempatkan di sebuah pikulan yang dihiasi berbagai kain warna-warni dan kembang-kembang kertas yang indah. Tidak lupa disisipkan juga dupa harum. Air itu dipikul bergantian sepanjang jalan.
Mereka pantang naik bus atau kendaraan lainnya. Jalan kaki itu menempuh ratusan bahkan ribuan kilometer menuju ke seluruh pelosok India, sampai ke pantai selatan. Dalam perjalanan mereka istirahat siang dan malam hari di lapangan-lapangan terbuka, di pinggir sawah, hutan, atau di taman kota.
Tidak boleh masuk hotel atau penginapan lain. Satu rombongan terdiri dari pemuda-pemuda berusia sekitar 17 – 20 tahun sebanyak 10 – 15 orang. Sepanjang jalan, berhari-hari bahkan berminggu-minggu mereka bergantian menembangkan puja-mantra.
Gadis-gadis kecil bertebaran di trotoir menjajakan bunga. Kebanyakan bunga gemitir berwarna kuning atau keemasan. Bentuknya agak berbeda dengan di Indonesia, lebih besar sampai sebesar kepalan tinju. Mungkin karena tanah tempat tumbuhnya sangat subur dan iklim yang dingin.
Canang sari di sini berbentuk seperti perahu dibuat dari daun jati kemudian diisi bunga gemitir. Di tengah tumpukan bunga dipasang sebatang lilin dan dupa yang menyala, kemudian perahu bunga itu dihanyutkan di sungai Gangga.
Ada juga yang menjual sejenis daksina beralaskan selembar daun jati diisi bunga gemitir disusun begitu saja, lalu ada sebuah kelapa yang tidak dikuliti. Kehidupan di tepi Gangga mulai ramai dengan yang mandi, berjalan-jalan, dan makan pagi di warung-warung kecil penjual susu sapi hangat.
Hampir tidak pernah saya melihat orang merokok, karena rokok di sini sangat mahal dan mungkin juga dianggap konsumsi yang tidak berguna bagi kesehatan badan. Bagian tepi Gangga yang dikelola sebagai tempat mandi dan pinggiran Hotel panjangnya sekitar lima kilometer.
Kebersihannya sangat dijaga. Jadi kalau mau berjalan-jalan atau joging bisa sepuas-puasnya sepanjang hari sambil menikmati keindahan pemandangan yang di kejauhan tampak puncak Himalaya menanti bagaikan seorang Gurujee yang sedang mengawasi anak-anaknya.
Tidak terasa matahari beranjak naik dan jam tangan saya menunjukkan pukul tujuh pagi. Saya bergegas menuju ruang makan di mana teman-teman sudah berkumpul mempersiapkan diri untuk tur hari itu. Kami tidak perlu mengemasi kopor karena masih akan bermalam sekali lagi.
Selesai makan kami naik bus menuju kota suci lainnya di tepi Gangga, yaitu Rsikesh. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam kearah hulu sungai Gangga. Sampai di terminal rombongan turun berjalan kaki ke sebuah jembatan gantung menyeberangi sungai Gangga, berlebar lima meter dan panjang satu kilometer.
Dari tengah-tengah jembatan sejauh mata memandang bisa melihat sungai Gangga yang anggun, berkelok-kelok bagaikan seekor Naga. Kota suci Rsikesh kecil, rapi dan bersih terletak di atas bukit yang berhutan lebat dan indah, diselingi ashram-ashram para saniyasin dan “tapovana” (tapo = tapa; vana = hutan; jati tapovana artinya hutan tempat bertapa).
Pengunjung tapovana kebanyakan orang-orang India dan Nepal yang menginap di sini sekitar tiga hari sampai satu minggu. Mereka adalah para pengusaha, pejabat-pejabat Pemerintah dan eksekutif lainnya yang ingin mensucikan bathin dan mendapat santapan rohani dari para saniyasin.
Penghuni yang agak lama menetap di tapovana adalah para pelajar yang mendalami ajaran-ajaran Veda. Ashram untuk wanita dan lelaki dipisahkan. Para Brahmacari mendapat sebuah kamar untuk dua orang; cuci, setrika dan memasak makanan dilakukan sendiri.
Kehidupan di Rsikesh murni kehidupan beragama Hindu, tidak ada aktivitas lain dari bersembahyang memuja kebesaran Tuhan, mendengarkan dharmawacana, mendengarkan pembacaan ayat-ayat Veda, dan berdiskusi tentang berbagai tafsir Veda. Semua penghuni tapovana tidak dimintai bayaran, namun mereka menghaturkan dana-punia ke kotak-kotak yang sudah disediakan.
Kebiasaan menghaturkan dana-punia seperti ini selalu dijumpai di Mandir-Mandir yang kami kunjungi selama di Nepal dan India. Rupanya tradisi yang baik ini sudah membudaya seperti kita di Bali menghaturkan banten pada pelinggih-pelinggih di Pura.
Bedanya di Mandir dan khususnya di Rsikesh, di setiap patung niyasa Siva, Ganesha, Bhairava, Durga-devi, Gangga-devi, dll. selalu ada kotak besi tempat mencemplungkan uang dana-punia. Banten yang dihaturkan paling-paling rangkaian bunga gemitir yang disisipi dupa harum.
Saya menghayal, alangkah baiknya bila di Bali tradisi medana-punia seperti ini dilakukan. Para dermawan yang menghaturkan dana punia dalam jumlah besar dapat melakukannya melalui Bank-Bank setempat tanpa menyebutkan nama atau identitasnya. Bank-Bank di Haridvar lebih banyak bertindak sebagai Bank Tabungan, hanya menerima tabungan atau dana punia, tetapi tidak memberikan kredit atau jasa-jasa lainnya.
Di Rsikesh juga ada beberapa Mandir yang berfungsi sebagai pengayatan tempat-tempat suci yang ada di puncak Himalaya seperti Ganggatri, Kedranath, Badrinath, dan Yamunatri. Di sini kita bisa bersembahyang memuja Visnu sebagai manifestasi Tuhan pemberi anugrah kehidupan dan kemuliaan di dunia.
Bagi yang ingin mengikuti Agni-Hotra memuja Devi Durga dapat mengunjungi Devi-mansa Mandir yang terletak di puncak bukit. Acara dilakukan menjelang malam hari. Para pengantin baru biasanya me-tirtayatra ke Mandir-mandir: Laksman-Jhola, Ram-Jhola dan Svarga Ashram.
Mereka memuja Visnu agar dikaruniai anak-anak yang suputra. Pasangan pengantin yang datang diiringi keluarga baik pihak istri maupun pihak lelaki. Si pengantin berpakaian bagus dan tangan si wanita dipenuhi gelang-gelang aneka warna sampai ke batas siku-siku; wajahnya sebagian tertutup cadar.
Menjelang matahari terbenam kami kembali ke Hotel untuk bersiap-siap mengikuti persembahyangan Aarti di Harki Pauri, lapangan di tepi Gangga yang aliran airnya tidak deras, digelar setiap senja menjelang matahari terbenam. Acara ini dipadati pengunjung yang melimpah sehingga sulit mencari tempat duduk.
Mereka ada yang datang sejak jam empat sore berusaha mencari tempat duduk sedekat mungkin dengan tepi Gangga. Bagi yang terlambat, seperti rombongan kami, cukup puas bisa duduk sekitar sepuluh meter di belakang. Obor dan lilin sudah dinyalakan dan para Brahmana memimpin ritual dengan puja-mantra yang terasa merasuk ke dalam diri, membawa kedamaian dan kesucian.
Selesai Aarti, saya dan Nabe kembali ke Hotel, dan mandi di sungai Gangga. Sejak kemarin sampai saat itu kami sudah mandi tiga puluh kali. “Buin mani tutugang, nak!” (Besok lanjutkan, nak) saran Nabe. Saya membimbing tangan beliau yang dingin seperti es ke dalam kamar menuju ke mesin pemanas dekat TV.

Om swasty astu
Nawegang titiang Ida Bhagawan Dwija,titiang tidak pernah ke India apalagi ke tempat suci di India.
tapi ada tempat yang sangat disucikan oleh umat Hindu dan kalau di Bali tempat dimaksud sering dipuja oleh Ida peranda sebagai mantra utama yaitu Sungai Gangga , sungai yang paling disucikan oleh umat Hindu se dunia.
tapi pada suatu ketika saya coba coba membuka email tentang sungai gangga disitu saya disuguhkan berita serta photo photo yang menyatakan sungai gangga kotor dan bergelimpangan bangkai khususnya bangkai manusia.
Ratu Ida bhagawan apakah berita dan photo photo dimaksud memang benar adanya, kalau memang benar apa pendapat Bhagawan, dan kalau tidak benar kenapa kita tidak mengambil tindakan terhadap orang yang menyebarkan berita tersebut karena menurut saya itu termasuk penghinaan terhadap agama Hindu.
demikian yang dapat saya sampaikan.
Terima kasih
Om shanti shanti shanti Om.
Memang benar, dipinggir Sungai Gangga (ditempat tertentu saja di bagian hilir) adalah tempat pembakaran jenazah. Bila sudah matang, lalu dibuang ke sungai Gangga. Tidak seperti di Bali arang tulang diuyeg, tetapi dibuang begitu saja, sehingga mungkin masih berbentuk arang tulang. Namun di hulu sungai Gangga berdiri ashram-ashram yang sangat suci, tempat metirta yatra/tirta gamana. Perlu diketahui bahwa sungai Gangga itu lebar/luas, dan arusnya kuat sekali.
Om Swastyastu Ida Bhagawan
Wenten jagi tunasang titiang dwaning titiang naening wenten pemargi asapuniki.
Duk riyin titiang tangkil ring Pura Batukaru-Tabanan sawetara jam 14.00 wita, genah pemuspan ring beji, ring luhur, ring dalem purwa.
ring genah punika (3 genah) dapetang titiang wenten “cara ring tabanan” tehenan pemangku “dulang medaging beras daksina” dupa sampun menyit 3 katih wawu menyit, nanging ten wenten sira2 drika,
inggian genah teenan mangku punika pateh sekadi ring pujawali-pujawali.
duk punika dwaning tambet titiange kelintang tiang wantah maturan canang kemanten lantur muspa, lanturang pemargi ke pelinggih selanturne, taler memanggih sekadi asapunika.
duk tiang tangkil merika”pura batukaru” sareng kalih “kurenan buwung alias tunangan” nanging pateh kenehe duk punika.
Ledang Ida Bhagawan menawi napi ceciren ne punika tur pemargi napi tiang patut margiang yening tetujon tiange wantah selamet rahayu jagat lan sedagingnya.
tiang I Nyoman Suaba, 02 Agustus 1968, Sukra Pahing Matal
@Nyoman Q-Doel: Yen yakti sekadi punika, nika ciri becik pisan. Patutne jerone nunas pesucian ring tehenan pemangku punika, mawinan nika sampun kesayagayang olih rencang/pengiring Ida Bhatara sane sih ring ragan jerone. Mangkin becikne tangkil malih merika ngaturang guru piduka mawinan ten nunas paican Ida Bhatara duk rainane punika.