Durbar | Menjejakkan Kaki ke Tanah Bharata | Mathura | Khrisna Lila | Haridvar, The Gateway to Heaven | Gangga, Kisah-Kisahmu Dulu | Kurukshetra | Prabhujee
PRABHUJEE
Objek wisata di Kurukshetra ditata sangat apik, bersih, dan indah. Penuh dengan tanaman hias dan bunga-bungaan, tidak ada sampah berserakan karena petugas kebersihan setiap saat mengambilnya dari tong-tong yang disediakan. Air danau tidak tercemar, bersih, dan sejuk.
Pedagang kaki lima disediakan tempat khusus dekat terminal di luar Chhati Path Shahi Gurudvara. Toilet tersedia cukup banyak, sangat bersih dengan penjaga yang ramah tanpa minta imbalan pengunjung. Sesuatu yang patut ditiru oleh kita di Bali. Bandingkanlah dengan pengelolaan Pura Besakih yang nampaknya tidak terencana baik, sehingga kumuh dan merusak lingkungan.
Kami menikmati keindahan itu sehingga tidak merasa lelah berjalan kaki lebih dari tiga kilometer, mengitari tempat-tempat bersejarah.
Di Gita-Kund ada patung Krishna yang sedang menasihati Partha. Mereka duduk dalam sebuah kereta perang besar yang ditarik empat ekor Kuda. Di depan kereta berkibar panji-panji dengan gambar Hanauman. Tempat itu diteduhi pohon beringin yang besar. Menurut Pak Agung, pohon dan lokasi kereta itu seperti apa adanya ketika Bhagavadgita dilahirkan.
Kami sujud di tanah yang sakral itu serta memuja Krishna, berterima kasih atas anugrah-Nya berupa Pancamaveda yang menerangi kehidupan manusia sepanjang zaman. Di bawah patung kereta ada batu besar yang bertuliskan:
YE YATHA MAM PRAPADYANTE, THAMS TATHAIVA BHAJAMY AHAM, MAMA VARTMANUVARTANTE, MANUSYAH PARTHA SARVASAH.
Artinya: Sejauh mana semua orang menyerahkan diri kepada-Ku, Aku menganugrahi mereka sesuai dengan penyerahan dirinya itu. Semua orang menempuh jalan-Ku dalam segala hal, wahai Partha.
Kata-kata bersejarah itu benar. Semua orang mencari Tuhan dalam berbagai aspek manifestasi-manifestasi-Nya. Krishna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa diinsyafi sebagian dalam cahaya brahmajyoti- Nya yang tidak bersifat pribadi dan sebagai roh utama yang berada di mana-mana dan bersemayam dalam segala sesuatu.
Tetapi Krishna hanya diinsyafi sepenuhnya oleh para penyembah-Nya yang murni yang menjadikan-Nya pembimbing kehidupan, teman, kekasih, ayah, dan segala bentuk kedekatan rohani yang paling dalam.
Duduk berlama-lama dekat kereta Krishna membawa kedamaian hati dan vibrasi kesucian yang halus. Tiada sadar saya berseru dalam hati: “Tuhan aku adalah hamba-Mu, dengan keinginan selalu berada di dekat-Mu; jangan tinggalkan, berikan petunjuk dan bimbinglah hati yang gelap ini menuju sinar terang-Mu yang cemerlang.”
Di saat seperti itu rasanya tiada kenikmatan yang lebih tinggi selain merasa dekat dengan-Nya. Tiada rasa takut, khawatir, kesal, menghadapi kehidupan dunia. Nabe yang duduk dekat saya berkali-kali menarik nafas panjang, tanda beliau juga mendapatkan vibrasi serupa. Teman-teman sudah beranjak ke objek lain. Kami pun mengikuti mereka.
Drupadi-Kupa membawa kesan khusus. Sumur tua ini menjadi saksi bisu pelaksanaan sumpah Bima membalas kebiadaban Dursasana, ketika Drupadi dijambak, diseret ke tengah-tengah sidang serta coba ditelanjangi dengan menarik busana kain sari yang melilit tubuhnya yang mulus.
Dewa Dharma melindungi Drupadi dengan menciptakan sari yang tiada habis ditarik sampai bertumpuk di lantai. Tak sedikitpun sari yang melindungi tubuh Drupadi dapat terkuak. Pada perang besar di Kurukshetra, Bima berhasil membunuh Dursasana beberapa puluh meter dari sumur tua ini.
Segera Bima menampung darah segar yang mengucur dari urat nadi Dursasana, memberikannya kepada Drupadi untuk mengeramas rambut yang pernah dijambak Dursasana, kemudian Bima meminum sisa darah yang ada di mangkuk. Drupadi kemudian membilas rambutnya dengan air dari sumur tua ini.
Gaung gayung dari dasar sumur seolah mengulang jeritan Drupadi: “Lepaskan aku”, aku sedang haid. Aku hanya mengenakan selembar kain saja.” Dengan rambut kusut dan pakaian merosot, ia berkata dengan suara lembut tapi dengan nada marah: “Lepaskan aku! Apa kata mereka?
Inilah majelis para pinitua dan para sadu di dalam bangsal. Lihat keadaanku! Menyeretku yang sedang datang bulan di depan sekumpulan lelaki, sungguh memalukan. Di manakah dharmanya kaum Kuru? Mengapa Tuan-Tuan diam saja?” Drupadi memandang dengan sorot mata yang meremukkan hati sekilas saja ke arah para Pandawa.
Bisma berkata: “Dharma adalah perkara yang sangat sulit. Seorang lelaki yang sudah tidak mempunyai harta kekayaan tidak dapat mempertaruhkan kekayaan orang lain. Dapatkah seorang istri dipasang dalam pertaruhan oleh suaminya? Yudistira tidak mengatakan bahwa Sakuni bermain curang. Yudistira tahu perbedaan antara yang benar dan salah. Semuanya ini sangat rumit”.
“Mereka telah menipunya” kata Drupadi. “Ia tahu bahwa ia tak pandai main dadu, dan mereka menjebaknya”. Wikarna, salah seorang putra Dastarastra, berucap kepada majelis: “Putri Drupadi telah bicara dihadapan Tuan-Tuan, Bisma dan Kripa, guru-guru kita, membisu. Bahkan Widura tidak mengucapkan kata sepatah pun. Katakan kepadaku wahai para raja, apa yang ada dalam pikiran Tuan-Tuan? Di pihak manakah Tuan-Tuan?”
Ia gosok-gosokkan kedua tangannya dan menghela napas seperti desis seekor ular. Tak seorangpun menjawab. “Kalau begitu dengarkanlah perkataanku, karena aku akan berkata menurut hati nuraniku. Berburu, minum sampai mabuk, berjudi, dan melacur ialah kejahatan empat macam bagi para raja.
Di bawah pengaruhnya, raja-raja melakukan perbuatan-perbuatan yang tak bertanggung jawab. Yudistira menjadikan Drupadi sebagai taruhan dalam keadaan mabuk judi. Ia bukan hanya istri dirinya, tetapi juga istri keempat adiknya. Ia sudah lebih dahulu kalah ketika memasang dirinya sendiri sebelum ia memasang istrinya. Kesimpulanku ialah ia tidak dimenangkan menurut tata susila maupun menurut hukum”.
Tetapi Karna, sambil memberi isyarat dengan menggoyang-goyangkan lengannya dengan keras, menukas: “Jangan begitu cepat mengambil kesimpulan, Wikarna! Raja-Raja yang lain tampaknya tidak keberatan. Apakah Drupadi milik Yudistira atau bukan? Apakah kau kira bertentangan dengan dharma untuk membawa ia kemari dengan hanya mengenakan selembar kain? Dengarkanlah. Dewa-Dewa mengijinkan seorang istri bagi seorang laki-laki. Tapi Drupadi mempunyai lima orang suami. Dharma macam apa itu? Bahkan menelanjangi perempuan seperti dia tidak akan mengejutkan siapapun. Kita sudah mendapatkan kemenangan atas semuanya yang dipunyai Pandawa, bukan? Dan memenangkan dengan jujur, bukan? Nah telanjangi mereka, juga Drupadi!”
Di depan tiap orang, Dursasana menangkap salah satu ujung kain Drupadi dan mulai menariknya agar lepas dari tubuhnya. Ia menangis dengan keras, “Wahai Krishna! Jiwa alam semesta! Pencipta semua kehidupan! Tolonglah hamba!” Ia menutup wajahnya yang cantik dengan kedua belah tangannya. Krishna yang mendengar jeritan Drupadi, buru-buru berjalan kaki ke bangsal tempat perjudian.
Dan meskipun Drupadi sudah berdoa memohon bantuan Krishna, Dewa Darma menutupi tubuh Drupadi berulang kali dengan pelbagai macam warna kain. Begitu kain yang selembar direngutkan, kain lain muncul ditempatnya, sampai di lantai itu bertebaran ratusan lembar kain warna-warni. Para Raja bertepuk tangan.
Bima bangkit berdiri, mengepalkan tinjunya, dan sambil gemetar karena marah, mengucapkan sumpah yang menyeramkan: “Dengarkan sumpahku, wahai para Raja satria di dunia! Kalau aku gagal memenuhi sumpahku, semoga aku kehilangan surga para leluhurku! Di dalam pertempuran aku akan merobek-robek dada Dursasana dengan tangan telanjang dan meminum darahnya!”
Dursasana yang lelah dan merasa malu, dikelilingi oleh setumpuk pakaian Drupadi, segera duduk. Kemudian Widura yang bijaksana berkata: “Pertanyaan Drupadi masih tetap belum terjawab. Marilah kita renungkan sedalam-dalamnya, wahai para Raja, dan memberikan jawabannya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh dharma.”
Tapi tak seorang pun bicara; dan Karna, sambil berpaling kepada Dursasana, berkata: “Bawalah budak perempuan Drupadi ini ke bagian dalam istana.” “Tunggu” kata Drupadi, ketika Dursasana mulai menyeretnya. “Aku melupakan kewajiban yang mulia. Para sesepuh yang terhormat dan bijaksana, terimalah hormat hamba. Maafkan hamba karena tidak menyampaikan sembah hamba ketika di bawa masuk.”
Dursasana menyeretnya; Drupadi terjatuh dan berkata: “Benar-benar zaman sudah berubah, wahai Raja-Raja yang berbudi luhur, istri Yudistira kini menjadi seorang dayang pelayan. Katakan kepada hamba apakah paduka pikir ini benar. Kata-kata paduka mengandung kearifan.”
Bisma menjawab: “Bukankah sudah kukatakan bahwa tata cara dharma sangatlah rumitnya. Bahkan yang paling arif bijaksana kadang-kadang menjadi bingung. Aku tidak tahu. Tanyakan kepada Yudistira. Ia akan tahu apakah kau sudah dimenangkan atau tidak.” “Nah” kata Duryodana, “jawablah – ia milik kami atau bukan?”
Ia perlihatkan paha kirinya, yang berbentuk seperti batang pisang raja, mirip dengan belalai gajah, disemarakkan oleh tanda-tanda keberuntungan, dan memperlihatkan kepada Drupadi. Mata Bima yang merah melotot, lalu dia berteriak: “Itulah paha yang akan kuhancurkan dengan tanganku sendiri di dalam perang besar!” Hawa amarah memancar dari dirinya seperti lentingan api dari pohon yang sedang menyala terbakar.
Widura berkata kepada sidang: “Bilamana Bima mengucapkan sumpahnya, wahai para Raja, bahaya mengancam di kemudian hari. Kalau Yudistira memasangnya sebagai taruhan sebelum ia sendiri kehilangan dirinya karena kalah, permainan itu masih dapat dilanjutkan. Tapi bagaimanakah seseorang yang sudah memasang dirinya dan kalah dalam taruhan dapat pula kalah dalam taruhan berikutnya?”
Duryodana berkata: “Kalau Bima, Arjuna, dan si kembar menyatakan bahwa Yudistira bukan Tuan mereka, aku akan membebaskan Drupadi.” “Dialah Tuan kami sebelum dan selama bermain,” kata Arjuna. “Tapi aku tak tahu tuan bagi siapakah dia sesudah ia kehilangan dirinya sendiri karena kalah”.
Serigala melolong-lolong, kuda meringkik liar, burung-burung gagak melengking. Mengetahui bahwa semua ini merupakan alamat yang mengerikan, Widura berpaling kepada Raja Dastarastra. Raja Dastarastra berkata kepada Duryodana: “Pada waktu kau menghina istri seorang kerabat, Duryodana, keruntuhan menantikanmu!”
Kemudian ia berpaling kepada Drupadi. “Drupadi yang suci dan berbudi, menantu yang paling berbudi diantara menantu-menantuku, mintalah satu anugrah kepadaku.” “Merdekakanlah Yudistira,” kata Drupadi. “Jangan biarkan ada orang yang berani berkata bahwa anak laki-laki hamba putra seorang budak.”
“Itu akan dilakukan. Mintalah anugrah lagi.” “Merdekakan Bima, Arjuna dan si kembar, dan kembalikan kepada mereka busur-busur dan kereta-kereta mereka.” “Mintalah yang ketiga,” kata Dastarastra. “Itu akan terlalu banyak,” Drupadi berkata. “Hamba tidak selayaknya menerima anugrah ketiga, mereka kini sudah merdeka, mereka akan menemukan kesejahteraan tanpa bantuan hamba.”
“Belum pernah kita mendengar sifat tak mementingkan diri sendiri seperti itu,” ujar Karna. “Ia sudah menyeberangkan Pandawa yang sedang tenggelam sampai selamat.” Bima memandang ke sekitar dengan garangnya, namun Arjuna menenangkannya, “Orang yang baik hanya mengingat hal-hal yang baik, dan memaafkan yang salah. Pembalasan dendam tidak sejalan dengan harga diri.”
Yudistira maju ke depan dan memegang lengan Bima. “Cukup, Bima!”, Ia mendekati Dastarastra dan melakukan sembahnya. “Perintahkanlah kami yang mulia,” “Pergilah dengan damai, kampak memilih kayu bukan batu. Aku bicara kepadamu karena kau terbuka terhadap nasihat; Duryodana tidak. Hanya yang paling jahat dalam diri orang tampil keluar karena terjadi pertengkaran. Yang berkelakuan baik melakukan perbuatan baik terhadap orang-orang lain tanpa mengharapkan balasan dari mereka. Pandanglah aku, Yudistira, aku sudah tua dan buta. Kami ijinkan diadakannya permainan dadu karena kami ingin melihat kelebihan dan kekurangan putra-putra kami. Dan kini kami tahu bahwa kau orang yang berbudi, Arjuna sabar, Bima gagah berani, dan si kembar setia. Kembalilah ke Indraprasta dan hiduplah dengan damai bersama saudara-saudara sepupumu. Pupuklah budi kebaikan.”
“Kembalilah ke Indraprasta” kata-kata Dastarastra itu seolah-olah terulang ribuan tahun kemudian. Ya hari ini kami kembali ke Indraprasta, yang sekarang bernama New-Delhi. Pak Gde Sara Sastra menghitung jumlah kami apakah semua sudah berada di bus. “Beh pak Gde cara pengangon memeri dogen” (Wah, pak Gde seperti penggembala bebek saja).
Maksud Ibu-Ibu yang menggoda Pak Gde, karena beliau teliti sekali memperhatikan kami yang tua-tua ini agar tidak mendapat halangan di perjalanan. “Ye, nyanan yen wenten sane ilang dija titiang ngalih pesilih” (Ya nanti bila ada yang hilang/ ketinggalan di mana saya mencari penggantinya).
Jawaban Pak Gde yang lucu itu mengundang gelak tawa kami, sehingga bus menjadi ramai dan perlahan-lahan meninggalkan Kurukshetra, menuju New-Delhi. Dalam perjalanan saya merenung mengingat-ingat semua objek yang pernah dikunjungi baik di Nepal maupun India. Saya bersyukur sekali karena Nabe yang mendorong saya menemani beliau metirtha yatra ke India.
Sebagaimana pernah saya sampaikan di awal tulisan ini, mula-mula saya tidak tertarik dengan ajakan beliau, tetapi setelah dijelaskan betapa perlunya metirtha yatra ke India, dan kemudian setelah merasakan sendiri manfaat yang diperoleh, sekarang malahan ingin setiap dua tahun metirtha yatra ke India.
Kenapa setiap dua tahun? Alasannya tentu sangat pribadi, tetapi akan disampaikan saja. Pertama karena perlu menabung untuk biaya perjalanan; kedua, setelah dua tahun rasanya “keletehan-keletehan” (kekotoran) yang diperoleh sengaja atau tidak sengaja perlu “dibersihkan” dengan vibrasi kesucian Tanah Bharata.
Nasihat Nabe sejak awal sebelum kami berangkat, ialah agar mempelajari Mahabharata dengan seksama. Nasihat itu sangat tepat, sebab tanpa membaca Mahabharata dengan baik, perjalanan metirtha yatra tidak akan memberi manfaat maksimal.
Saya menambah pengetahuan dengan membaca buku-buku lain misalnya Indian Philosophy dari Sarvepalli Radhakrishnan dan Charles A Moore, dan Dasar-dasar Filsafat India oleh Ida Bagus Putu Suamba.
Selain itu metirtha yatra ke India akan lebih meningkatkan pengetahuan Agama Hindu, bila kita sudah belajar tentang A-B-C-nya Hindu, baik hal-hal yang menyangkut Tattwa dan Susila, maupun Upacara. Kita akan mengetahui perbandingan-perbandingan, mengetahui hal-hal yang asli, dan menyerap sesuatu yang relevan untuk dilaksanakan dalam kehidupan beragama di Bali.
Tidak semua yang didapat di India dan Nepal begitu saja bisa diaplikasikan di Bali, tetapi sebaliknya ada beberapa items di Bali yang perlu diluruskan. Kehidupan beragama kita di Bali dalam beberapa hal masih lebih baik dari saudara-saudara kita di India.
Soal “Kasta” di India ternyata lebih parah, misalnya seseorang tidak mungkin bisa menjadi Sulinggih Dwijati bila tidak berasal dari keluarga Brahmana (wangsa Brahmana). Di Indonesia, khususnya di Bali, siapa saja yang merasa mampu dan mau menjadi Sulinggih Dwijati, dari “soroh” manapun asalnya, tidak masalah asal memenuhi kriteria-kriteria tertentu sebagaimana diatur dalam keputusan PHDI.
Melakukan tirtha yatra ke India sudah tentu menambah wawasan keagamaan. Bagi para Sulinggih Dwijati, dan Pemangku Ekajati akan banyak belajar mengucapkan mantra yang benar.
Bila ingin mengetahui pengucapan mantra-mantra “pe-Gangga-an” dari bait pertama, yaitu “Apsu Dewa” sampai ke bait terakhir “Sapta Wrdhi” dengan suara yang indah dan menggetarkan, bangun saja pagi-pagi dan duduk bersama beberapa Saniyasin yang sedang “Nyurya Sewana” di tepi sungai Gangga, di Rsikesh, atau di Pasupathi-nath, Nepal. Kita bisa meniru bagaimana mereka mengatur nafas untuk dapat mengucapkan bait-bait mantra dengan baik.
Di Palika Bazar, New Delhi kami mendapat kesempatan berbelanja untuk oleh-oleh. Saya membeli kain sari untuk Ida Pandita Istri, dan ketemu sebuah CD “Chants of India” gubahan Ravi Shankar, diproduksi oleh George Harrison. Lagu nomor 15 berjudul “Prabhujee” sangat menyentuh nurani karena selain lagunya yang indah, liriknya sesuai dengan puja sehari-hari:
PRABHUJEE
PRABHUJEE DAYAA KARO
MANAME AANA BASO
TUMA BINA LAAGE SOONAA
KHAALI GHATAME PREMA BHARO
TANTRA, MANTRA POOJA NAHI JAANU
MAI TO KEVALA TUMAKO HI MAANU
SARE JAGA ME DHUNDAA TUMAKO
ABA TO AAKARA BAAHAN DHARO
Artinya:
Pembimbing
Oh Pembimbingku, kasihanilah hamba,
Datanglah dan bersemayamlah di hatiku,
Karena tanpamu adalah kesepian yang menyakitkan,
Isilah kekosongan ini dengan cintamu,
Hamba tidak tahu Tantra, Mantra, dan Puja,
Tapi hamba tahu dan percaya hanya kepadamu,
Hamba telah berkeliling mencarimu,
Tolonglah datang dan bimbing tangan hamba.
Malam-malam dingin di bandara Kuala Lumpur, CD itu berulang-ulang saya dengar dan resapkan. Tuhan, hamba telah datang memenuhi panggilan-Mu, terimalah, berikan getaran suci-Mu, bimbinglah hamba kejalan yang benar, Sanatana Dharma! Prabhujee daaya karo, maname aana baso …

Om swasty astu
Nawegang titiang Ida Bhagawan Dwija,titiang tidak pernah ke India apalagi ke tempat suci di India.
tapi ada tempat yang sangat disucikan oleh umat Hindu dan kalau di Bali tempat dimaksud sering dipuja oleh Ida peranda sebagai mantra utama yaitu Sungai Gangga , sungai yang paling disucikan oleh umat Hindu se dunia.
tapi pada suatu ketika saya coba coba membuka email tentang sungai gangga disitu saya disuguhkan berita serta photo photo yang menyatakan sungai gangga kotor dan bergelimpangan bangkai khususnya bangkai manusia.
Ratu Ida bhagawan apakah berita dan photo photo dimaksud memang benar adanya, kalau memang benar apa pendapat Bhagawan, dan kalau tidak benar kenapa kita tidak mengambil tindakan terhadap orang yang menyebarkan berita tersebut karena menurut saya itu termasuk penghinaan terhadap agama Hindu.
demikian yang dapat saya sampaikan.
Terima kasih
Om shanti shanti shanti Om.
Memang benar, dipinggir Sungai Gangga (ditempat tertentu saja di bagian hilir) adalah tempat pembakaran jenazah. Bila sudah matang, lalu dibuang ke sungai Gangga. Tidak seperti di Bali arang tulang diuyeg, tetapi dibuang begitu saja, sehingga mungkin masih berbentuk arang tulang. Namun di hulu sungai Gangga berdiri ashram-ashram yang sangat suci, tempat metirta yatra/tirta gamana. Perlu diketahui bahwa sungai Gangga itu lebar/luas, dan arusnya kuat sekali.
Om Swastyastu Ida Bhagawan
Wenten jagi tunasang titiang dwaning titiang naening wenten pemargi asapuniki.
Duk riyin titiang tangkil ring Pura Batukaru-Tabanan sawetara jam 14.00 wita, genah pemuspan ring beji, ring luhur, ring dalem purwa.
ring genah punika (3 genah) dapetang titiang wenten “cara ring tabanan” tehenan pemangku “dulang medaging beras daksina” dupa sampun menyit 3 katih wawu menyit, nanging ten wenten sira2 drika,
inggian genah teenan mangku punika pateh sekadi ring pujawali-pujawali.
duk punika dwaning tambet titiange kelintang tiang wantah maturan canang kemanten lantur muspa, lanturang pemargi ke pelinggih selanturne, taler memanggih sekadi asapunika.
duk tiang tangkil merika”pura batukaru” sareng kalih “kurenan buwung alias tunangan” nanging pateh kenehe duk punika.
Ledang Ida Bhagawan menawi napi ceciren ne punika tur pemargi napi tiang patut margiang yening tetujon tiange wantah selamet rahayu jagat lan sedagingnya.
tiang I Nyoman Suaba, 02 Agustus 1968, Sukra Pahing Matal
@Nyoman Q-Doel: Yen yakti sekadi punika, nika ciri becik pisan. Patutne jerone nunas pesucian ring tehenan pemangku punika, mawinan nika sampun kesayagayang olih rencang/pengiring Ida Bhatara sane sih ring ragan jerone. Mangkin becikne tangkil malih merika ngaturang guru piduka mawinan ten nunas paican Ida Bhatara duk rainane punika.