QUESTION:
Mohon penjelasan Ida Pandita mengenai Trisandya
ANSWER:
Menurut hasil Mahasabha PHDI ke-VI/1991, Puja Trisandya dilakukan tiga kali sehari, yaitu: pagi hari menjelang matahari terbit yang disebut surya puja, siang hari ketika saat tajeg surya disebut sebagai rahina puja, dan sore hari menjelang matahari terbenam yang disebut sandya puja.
Dengan demikian saat-saat Puja Trisandya tidak diatur dengan petunjuk jam, tetapi mengikuti posisi matahari setempat. Selain itu Puja Trisandya juga dilakukan sebelum melakukan kramaning sembah, walaupun tidak tepat dengan saat surya, rahina, dan sandya – Puja.
Selain dengan Puja Trisandya, umat Hindu dapat melakukan persembahyangan sebagai wujud bhakti kepada Hyang Widhi, antara lain dengan berjapa Gayatri-Mantra, Maha Mrityunjaya Mantra, Nama Sivaya, dll.

untuk tipat dampulan,dimana saja seharusnya kita haturkan setiap kajeng kliwon???beserta segehannya???
apakah perlu mesin jahit,motor,dll kita haturkan tipat dampulan dan segehan??dan apa fungsi tipat dampulan???
warm wishes
yasniti
Dihaturkan di pelinggih-pelinggih : sedahan karang dan taksu. Di mesin-mesin jahit dll. tidak perlu; itu dilakukan pada tumpek landep.
apa sieh yang disebut kajeng kliwon
Kajeng Kliwon :
Kajeng adalah hari menurut wewaran triwara (pasah, beteng, kajeng)
Kliwon adalah hari menurut wewaran pancawara (umanis, paing, pon, wage, kliwon)
Jadi Kajeng Kliwon adalah hari, dimana ada pertemuan antara triwara dengan pancawara. Hari itu diyakini sebagai hari (ala-ayuning dewasa) penting bagi pemeluk Hindu (Bali) untuk menghaturkan sesajen kepada wateking bhuta agar trihitakarana dapat terwujud.
mengapa dalam ajaran agama hindu, posisi tidur tidak diperbolehkan menghadap ke selatan dan utara??
tolong penjelasannya
maaf maksudnya menghadap ke selatan dan barat??
Om Swastyastu,
Pemeluk Hindu di Bali pada umumnya adalah bhakta yang kebanyakan “apara-bhakta(i)”. Oleh karena itu dalam menghayati bhakti kepada Sanghyang Widhi memerlukan simbol-simbol, antara lain meyakini bahwa Sanghyang Widhi itu seperti tubuh manusia (lihat simbol acintya), mempunyai organ kepala, badan, dan kaki. Dari sini timbulah istilah : hulu – teben. Hulu adalah sakral, karena posisi kepala ada di hulu, sedangkan teben tidak sakral karena dikonotasikan dengan kaki. Wilayah hulu adalah gunung (kadiya = kaja) dan kangin (arah matahari terbit) sedangkan kebalikannya adalah wilayah teben. Ini mempengaruhi tata letak pekarangan rumah; yang di hulu adalah wilayah pamerajan, sedangkan di wilayah teben adalah tebe atau kamar mandi/wc, kandang babi/sapi/kambing, dll. Posisi tidurpun terpengaruh, yakni kepala hendaknya berada di hulu, sedangkan kaki berada di teben, teriring harapan semoga panjang umur (arah timur/terbitnya matahari) dan hidup senang/bahagia/berkecukupan (arah gunung)
Om Santih, santih, santih, Om
suksma atas penjelasannya.
saya mau tanya lagi tentang,
bagaimana pro kontra mengonsumsi daging sapi??