Upacara Bayi Dalam Kandungan dan Setelah Lahir

QUESTION:

Saya tinggal di luar Bali dan telah memiliki seorang anak dan sebagaimana biasanya ketika bayi masih berada di dalam kandungan dan setelah lahir tentu ada upacara upacara tersendiri, begitu pun anak saya.

Namun upacara yang kami laksanakan tidak sama dengan apa yang ada di Bali (Upacaranya sederhana), pertanyaan saya kepada Ida Pandita Nabe, yaitu:

  1. Apakah setelah saya balik ke Bali perlu mengulangi upacara tersebut?
  2. Bagaimana dengan ari ari anak kami yang ditanam di rumah tempat kami tinggal, apa ada banten atau upacara tersendiri manakala kami ingin pindah ke Bali?

ANSWER:

1. Bila upacara sederhana yang telah dilaksanakan di luar Bali sudah meliputi pemberian sesajen kepada ‘Kandapat’ dan ‘Nyama Bajang’, yaitu dua kekuatan Sanghyang Widhi yang telah memberi kehidupan kepada si anak sejak jabang bayi sampai lahir, maka upacara itu yang dinamakan ‘mebajang colong’, sudah cukup.

Namun bila perasaan anda kurang puas, boleh nanti diulangi ketika sudah berada di Bali.

2. Sebelum pindah ke Bali, ambil sedikit tanah di tempat menanam ari-ari, dan kemudian ditanam kembali di Bali, dengan upacara seperti menanam ari-ari semula.

16 comments to Upacara Bayi Dalam Kandungan dan Setelah Lahir

  • 1
    Mistayasa says:

    Om Swastiastu
    Ratu singgih bhagawan tityang meled pisan mangda uning indik tata cara lan upacara sederhana indik bayi baru lahir ngantos meyusa oton. Taler napi pantangan utawi cuntakanyane utawi larangan-larangan sane patut kauningan. Atuk keledangan singgih Ratu,tityang ngaturan parama suksma.
    Om Santhi, Santhi, Santhi Om.

    • 1.1
      Bhagawan Dwija says:

      @Mistayasa: Upacara-upacara : 1) Magedong-gedongan ritatkala bobotan sang istri sampun mayusa 7 bulan. 2) Mendem ari-ari sesampun rarene medal. yayah, ibu, rare, lan umahne cuntaka. 3) Kepus udel sesampun kepus pungsed. Cuntaka yayah ical. 4) Tutug kambuhan sesampun mayusa 42 hari, cutaka ibu ical. 5) Tigang sasih, sesampun mayusa 3 bulan, upacara mebajang colong. Cuntaka rarene ical. 6) Otonan, sesampun mayusa 6 bulan. Indik upakara, akeh pisan yan unggahang deriki. Indayang ngerereh ring toko buku indik manusa yadnya.

  • 2
    dedick agus pryanjana says:

    om swastiastu,,

    saya dedick,,siswa SMA di Bali,,
    diberikan tugas oleh guru agama,,untu mencari makna folosofis bayi lahir dan kepus puser,,
    serta mantram yang dipakai upacara tersebut,,
    saya telah mencari di seluruh internet,,
    tapi tidak dapat,,

    mohon bantuannya,,,

    • 2.1
      Bhagawan Dwija says:

      @dedick agus pryanjana: 1. Bayi lahir (kelahiran bayi). makna filosofisnya : terjadinya proses reinkarnasi roh leluhur ortu. Roh yang harus ber-reinkarnasi adalah roh yang belum memenuhi syarat untuk aworing acintya = moksah = bersatu dengan Brahman, misalnya karena masih banyak nilai-nilai adharma yang dilakukan semasa hidup yang lampau. Roh itu diputuskan oleh-Nya untuk lahir kembali ke madyapada (dunia) agar selama hidupnya nanti ybs berusaha mensucikan diri agar kelak bisa moksah. Moksah adalah srada sebagai perjalanan terakhir roh. Itulah sebabnya kelahiran juga disebut sebagai awal menuju “Samsara” (= sengsara). Disebut demikian karena pada dasarnya kehidupan di dunia adalah suatu penderitaan/kesengsaraan. Disebut demikian karena kehidupan manusia pasti mempunyai empat jenis pengalaman : suka (kesenangan), duka (kesusahan), lara (kesakitan) dan pati (kematian). Tak ada manusia yang bisa terhindar dari hukum itu. Mantram ortu disaat bayi lahir : gunakan mantram Gayatri (Om Bhur Bwah Swah……dst)
      2. Kepus puser, makna filosofisnya adalah saat dimana si bayi hidup dalam dunia nyata secara mandiri dalam artian organ-organ tubuhnya sudah berjalan sebagaimana mestinya. Disaat itu si ayah bebas dari cuntaka/sebel. Si ayah natab banten prayascita dengan mantra : Om sanghyang toya tanpa netra tanpa cangkem tanpa irung tanpa karna sira ta angisuh-isuhi anghilangaken sarwa papa sarwa klese sarwa bhuta dengan ring sarira mantuka sira ring enggonia suwang-suwang.

  • 3
    adi says:

    om swastyastu..ratu
    kebetulan tyang sudah mewinten,dan kini istri lagi hamil
    setelah bayi lahir apakah perlu pewintenan diulang(mesepuh)..?
    mohon petunjuk dari ratu nak lingsir
    suskma..

  • 4
    anisa says:

    om swastiastu,,

    saya anisa dari akper yatna yuana lebak mendapatkan tugas tentang pandangan agama hindu dalam pembinaan keluarga : bayi baru lahir, gizi , dan makanan / minuman.
    mohon jawabannya dan terimakasih sebelumnya :)
    Om Santhi, Santhi, Santhi Om.

    • 4.1

      Om Swastyastu,

      Pandangan Agama Hindu dalam pembinaan keluarga, disebut “Manusa-Yadnya” Ini mempunyai pengertian luas : skala (nyata) dan niskala (tidak nyata). Yang skala : pemeliharaan kesehatan, pemenuhan makanan/gizi, selanjutnya sandang, papan, pendidikan, dll. Yang niskala dalam bentuk : upacara-upacara manusa yadnya, bhakti pada leluhur, dll. Manusa yadnya adalah kewajiban ortu kepada anaknya. Penjelasan lebih jauh tt manusa yadnya cari di web ini.

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 5
    sudarmika says:

    Om Swastyastu
    Ratu tyg jagi metaken apa benar upacara mecolongan bisa di gabung dengan ngetelunin?suksma Ratu….

    • 5.1

      Om Swastyastu,

      Patutne upacara bajang colong (mecolongan) kelaksanayang ritatkala 3 bulanan, mawinan ritatkala punika rarene sampun lepas cuntaka lan dados ngenjek tanah di pamerajan (ajeng kemulan)

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 6
    km sawitra says:

    “OM SWASTIASTU”
    saya mau bertanya,apa perlu ibu yg lagi hamil,pernah merasakan terjadi gempa,perlu melukat,dan apa boleh melaksanakan uparaca megedong- gedongan di laksanakan di geria,apa saja yg perlu di bawa ke geria

    • 6.1

      Om Swastyastu,

      1. Selama hamil bagus sekali sering mejaya-jaya/melukat ke Gerya untuk keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan.
      2. Boleh melakukan upacara magedong-gedongan di Gerya. Mepiuning dulu di sanggah kemulan di rumah, lalu tirta wangsuh pada kemulan itu dibawa ke Gerya untuk dilungsur setelah upacara persembahyangan/magedong-gedongan. Biayanya Rp.500.000,–

      Om Santih, santih, santih, Om

  • 7
    kristiawan says:

    om swastyastu..

    saya calon ayah… mohon di nilai dan dikoreksi calon nama buat anak saya nanti…
    namanya : i gede krisna gita narendra

    suksma banget atur titiyang…

    Om santih,,,santih,,,santih,,Om

  • 8
    Nadana says:

    Selamat malam ..
    saya mendapat tugas dari kampus saya dari dosen agama hindu untuk mencari upacara-upacara untuk ibu yang mengandung sampai melahirkan.
    upacaranya apa saja ??
    terima kasih sebelumnya ..

  • 9

    Om Swasti Astu

    Tiang Adi saking Denpasar.
    Mangkin tiang jagi metaken,
    1. Menurut kepercayaan Hindu, napi nika Pantangan pantangan Suami saat Isti sedang Hamil ??
    2. Menurut kata kata orang tua tiang, jika keluar rumah dan saat pulang kerumah sebelum kita masuk kekamar, kita masuk kedapur terlebih dahulu dan hidupkan kompor (Api) lalu diayab ayabin 3 kali, supaya tidak ada yang ngikutin kita atau semacam roh alus, apakah cara itu benar ??
    3. Mohon maaf sebelumnya, dikampung tiang di Tabanan masih ada yang namanya Magic (ILMU Hitam), Tiang sebagai suami merasa takut kalau Istri dan Anak tiang yang masih dalam kandungan menjadi Incaran orang orang yang mempunyai ilmu tersebut, karena setahu tiang, ada kejadian pernah terjadi dikampung tiang, bayi yang masih dikandungan dan Ibunya pun ikut meninggal akibat ilmu megic tersebut, dan yang saya tanyakan, apa yang seharusnya saya lakukan untuk mengantisipasi nya, karena setiap ada odalan, hari raya dan hari hari tertentu tiang pasti pulang ke kampung diTabanan ??
    Ngih niki manten pertanyaan tiang, suksma banget nika.
    Om Santih Santih Santih Om

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting