Upacara Bayi Dalam Kandungan dan Setelah Lahir

QUESTION:

Saya tinggal di luar Bali dan telah memiliki seorang anak dan sebagaimana biasanya ketika bayi masih berada di dalam kandungan dan setelah lahir tentu ada upacara upacara tersendiri, begitu pun anak saya.

Namun upacara yang kami laksanakan tidak sama dengan apa yang ada di Bali (Upacaranya sederhana), pertanyaan saya kepada Ida Pandita Nabe, yaitu:

  1. Apakah setelah saya balik ke Bali perlu mengulangi upacara tersebut?
  2. Bagaimana dengan ari ari anak kami yang ditanam di rumah tempat kami tinggal, apa ada banten atau upacara tersendiri manakala kami ingin pindah ke Bali?

ANSWER:

1. Bila upacara sederhana yang telah dilaksanakan di luar Bali sudah meliputi pemberian sesajen kepada ‘Kandapat’ dan ‘Nyama Bajang’, yaitu dua kekuatan Sanghyang Widhi yang telah memberi kehidupan kepada si anak sejak jabang bayi sampai lahir, maka upacara itu yang dinamakan ‘mebajang colong’, sudah cukup.

Namun bila perasaan anda kurang puas, boleh nanti diulangi ketika sudah berada di Bali.

2. Sebelum pindah ke Bali, ambil sedikit tanah di tempat menanam ari-ari, dan kemudian ditanam kembali di Bali, dengan upacara seperti menanam ari-ari semula.

Published by

Bhagawan Dwija

Bhagawan Dwija dari Geria Tamansari Lingga, Singaraja, lahir di Singaraja tanggal 13 Maret 1945. Pendidikan dimulai di Sekolah Rakyat No. 1 Singaraja, dilanjutkan ke SMP No. 1 Singaraja, SMEA Singaraja, FE UniBraw Malang, Sekolah Kader Pimpinan I BRI Jakarta, Univ. of Phillippines, Los Banos, dan SESPIBANK Jakarta.

18 thoughts on “Upacara Bayi Dalam Kandungan dan Setelah Lahir”

  1. 11
    Erik Rusbiantara says:

    Om swastiastu..

    Tiang putu erik saking dps,mtaken jebos ratu.. napi dados tiang sareng istri yg sedang hamil ngemargiang pawintenan?? Walau hanya skedar mawinten sari.. yening dados,apakah stelah bayi lahir hrs ngemargiang pawintenan ulang. Nunas infonya niki,suksma..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *