Upacara Hindu dengan Lontar Sebagai Rujukan

QUESTION:

Pada kesempatan ini tiang ingin bertanya tentang upacara-upacara yang dilaksanakan umat hindu di Bali yang menggunakan lontar sebagai rujukannya. Yang ingin tiang tanyakan adalah:

1. Apakah di lontar tersebut dijelasan secara detil bahan-bahan upacara, bentuk-bentuk (misalnya bebangkit bentuknya seperti ini & harus ada babi gulingnya), serta tata cara penyajianya.

2. Di Bali yang sudah jelas jelas lontar sebagai pijakan untuk beragama Hindu, kenapa sampai saat ini lontar-lontar tersebut tidak diperbanyak/ diterjemahkan dalam bentuk buku, sehingga umat secara umum dapat ikut mempelajarinya tidak seperti sekarang ini yang dikutip sepenggal-penggal.

Seandainya sudah ada terjemahanya dalam bentuk buku di mana tiang dapat membelinya?

3. Pada saat upacara banten-banten yang kita buat itu sebagai persembahan apa simbol-simbol? Jika persembahan, apakah logis kita mempersembahan sesuatu yang sudah busuk/ jamuran kepada yang kita muliakan (tuhan).

Jika sebatas simbol-simbol apakah masih perlu kita membuat banten jika kita sudah memahami makna yang terkandung di dalamnya dan mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

ANSWER:

1. Ada dan lengkap, karena lontar itu banyak sekali. dan berbahasa jawa kuno, jadi harus teliti dan pandai mengambil intisarinya.

2. Sudah ada dan banyak sekali buku-buku itu dan beraksara latin, berbahasa Indonesia. Cari di toko-toko buku di Bali, banyak ada. Kalau di luar Bali ya tidak ada, karena siapa yang mau beli?

3. Makanya banyak-banyak belajar dan aplikasikan ke kehidupan modern sekarang ini.

2 comments on this post.
  1. Rida Yangsa:

    Nah saya juga tergelitik dg masalah banten ini. Saya berpendapat (mudah2an saya salah) bhw banten itu mungkin hanya diperlukan atau relevan (sebagian besar) pada jaman dulu sekali, semasa orang Bali masih sangat awam dg konsep Tuhan atau siapa yg patut disembah. Artinya leluhur kita jaman itu belum tahu tentang “keberadaan” Tuhan. Maklum saja di era itu, jangankan Tuhan, bumi mungkin masih dianggap rata (flat), matahari yg dianggap berputar bergantian mengelilingi bumi dan hilang ditepi jurang yg paling barat,dstnya. Nah sekarang kalau kita sudah tahu, melalui teknologi dan pengetahuan umum, serta dari mempelajari agama lain, termasuk bhw matahari saja jumlahnya miliaran lengkap dg planit2nya, pertanyaannya apk masih perlu dikembang cara penghayatan Tuhan yg penuh diwakili simbul-simbul itu? Maaf Pak Pandita kalau pemikiran saya ini agak nyeleneh. Salam sejahtera.

  2. Bhagawan Dwija:

    @Rida Yangsa: Tidak demikian. Manusia Hindu (Bali) memerlukan alat/media yang dapat menghubungkan “alam pikiran” – nya (yang terbatas) kepada Sang Pencipta (yang acintya – tak terbatas). “Hubungan” itu diperlukan dalam menunaikan apara bhakti – nya. Dalam hal ini banten adalah simbol diri sendiri dan alam semesta. Selain itu banten adalah alat untuk “menangkap” vibrasi kesucian, kemaha-kuasaan (astha-aiswarya) dari ista dewata yang dipuja. Misalnya bila memohon wara-nugraha kepada Bhatari Durga, digunakanlah banten bebangkit; bila memohon kehadiran Bhatara Gana, maka digunakan banten Gana; bila memohon Bhatari Saraswati, digunakanlah banten tebasan saraswati, dst. Jadi banten digunakan sepanjang masa, tidak berbanding terbalik dengan iptek, tetapi melalui iptek manusia Hindu (Bali) makin memahami makna banten. Weda telah sejak awal menguraikan tentang keberadaan semesta. Bahkan iptek yang “baru” dikuasai manusia bumi sekarang ini, sudah dinyatakan dalam Weda beribu-ribu tahun yang lampau.

Leave a comment