Upacara Mesangih

QUESTION:

  1. Pada upacara mesangih di masyarakat pelaksanaannya ada dua, yaitu mepetik dahulu baru mesangih, atau mesangih dahulu baru mepetik; pada waktu mepetik pelaksanaannya ada di Sanggah Pamerajan dan ada di rumah; mana yang betul dan mohon sumbernya. Setelah mesangih ada acara mapedamel. Duduk metatakan kasur kecil berisi caket, memasang benang tridatu yang maplintir; apa maknanya.
  2. Kalau nanding nasi manca warna, nasi warna apa yang menjadi hulu.
  3. Dalam tetandingan banten Guru Piduka, ada kelapa matopong kain putih; apa fungsinya.
  4. Pada tetandingan banten Panjang Ilang berisi kotoran tai ayam (tain temblek), berisi padang gelagah, pandan, blatung, lateng, dll. Apa fungsinya.
  5. Pada waktu menyiapkan sarana padudusan ada alat-alat: sok, kuskusan, ilih; apa maknanya.
  6. Titiang melihat pada waktu nyiramang mayat ada yang metatakan don telujungan biu kaikik, tetapi ada juga yang tidak; mohon penjelasan dan sumbernya.
  7. Pada waktu membakar mayat (pengabenan) pelaksanaan membakar wadahnya ada yang bersamaan dengan mayat, ada yang belakangan wadahnya dibakar; mana yang betul.
  8. Pada waktu ngaben juga ada lelontek yang berisi topi digantungi baju, digantungi jinah satakan; apa fungsinya.
  9. Setelah selesai ngaben ada acara nyegara gunung; apakah sama nyegara gunung dengan meajar-ajar. Adakah sastra yang menyebutkan pura-pura apa yang harus ditangkili/ datangi kalau meajar-ajar.
  10. Sebelum nangkilang lina ke Besakih ada acara nebus di Dalem Puri; apakah maknanya.

ANSWER:

1. Yang benar adalah “mepetik” dahulu barulah “mepandes/ mesangih” Sebabnya adalah mepetik mempunyai dua makna, yaitu: pensucian diri, dan peningkatan status kemanusiaan.

Mepetik dilakukan setelah mabeakala sebagai satu rangkaian pebersihan.Ketika manusia lahir, rambut telah dibawa sejak dari rahim Ibu; ini keletehan pertama. Gigi baru tumbuh belakangan; ini keletehan kedua karena ada unsur Sad-Ripu.

Upacara mepetik dilakukan berkali-kali dan selalu ditempatkan pada upacara yang mendahului upacara pokok, misalnya upacara: tiga bulanan, otonan, mepandes, mawinten, dan mapodgala (Ma-Dwijati/ Ma-Diksa).

Upacara mepetik tidak boleh dilakukan di Merajan/ Pura karena seperti dikatakan di atas, mepetik adalah bagian dari proses pensucian/ membuang keletehan manusia.

Mengenai Mapedamel, asal kata Dama = bisa menasehati diri sendiri;  dengan mencicipi sad rasa = enam rasa, yaitu: sepet, manis, pahit, asin, asam, pedis, adalah simbol orang dewasa yang  mengalami lika-liku kehidupan sehingga berdasarkan pengalaman menjadi pandai (wikan) dan bersiap-siap mengendalikan diri dalam menghadapi situasi yang akan menimpa di kemudian hari dengan cara-cara yang bijaksana (wiweka).

Caket dan linggis digunakan bukan pada waktu mapadamel, tetapi pada waktu mepandes sebagai berikut: setelah gigi dipotong, sewaktu turun dari balai, caket diselepit di ketiak kiri dan tangan kanan memegang linggis.

Caket – cakep mengandung simbol arti tanges = menahan / pengendalian terhadap pengaruh buruk, lalu caket dibuang, berarti membuang hal-hal yang buruk. Setelah itu ambil linggis (sebagai simbol kekuatan) diketokkan 3x dengan ucapan: Ang-Ung-Mang (utpti-stiti-pralina).

Benang tridatu mapelintir disebut benang sawit berwarna tiga: merah = simbol Brahma, putih = simbol Siwa, hitam = simbol Wisnu, berarti mohon perlindungan/ tameng dari Sanghyang Tiga Sakti = Tuhan Y.M.E.

2. Tandingan caru/ segehan manca warna, yang menjadi hulu adalah yang berwarna putih, letaknya di Timur. Gelar sanga selalu memakai sayur daun kelor karena daun kelor adalah jenis sayuran yang disenangi oleh Bethara Kala. Tidak boleh diganti sayuran lain.

3. Di dalam banten Guru Piduka ada kelapa metopong/ ma-udeng kain putih sebagai simbol: kelapa = simbol kepala Bethara Brahma.

Kain putih sebagai pernyataan  memohon pengampunan/ guru piduka kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa atas kesalahan atau dosa yang terlanjur telah dilakukan dan kini hendak ditebus dengan upacara Guru Piduka tersebut serta disaksikan Bhagawan Panyarikan.

Guru = Siwa Guru = Ida Sanghyang Widhi Wasa; Piduka asal kata dari: (Pid) + (Duk) + (A) = (mencerca/ menghina) + (dengan keras) = bersalah) + (menghilangkan); suatu perkataan/ pemikiran/ perbuatan berdosa yang bertentangan dengan kehendak Ida Sanghyang Widhi Wasa yang ingin dimohonkan maaf.

Mantram ketika nganteb banten Guru Piduka sbb.:

OM HYANG PURUSA HYANG PRADANA, HYANG SIWA GURU, HYANG SURYA CANDRA, MANUSA NIRA MAGURU PIDUKA, ANGATURAKEN PAMAHAYON, WUS KATENGGAPANA DE SEDAHAN IRA BHAGAWAN PANYARIKAN ENAKAN IRA BHAGAWAN CITRA GOTRA – CITRA GOTRI, MANUSA NIRA ANEMBAH ATANGAN KARE, ANEDEHA SINAMPURA, MANAWI WENTEN SABDA SAWUD, CACAMPUR, LINYOK, LEPAS PANGUCAP, SAMPUN TE NGADAKAKEN TA YA SUKRETTA, MANUSA NIRA ANEDA TIRTA DHAMA MERTA, HYANG BRAHMA, HYANG RUDRA, HYANG MAHADEWA, HYANG SANGKARA, HYANG WISNU, HYANG SAMBHU, HYANG SARWA DEWATA, MANUSA NIRA MAGURU PIDUKA

Lanjutkan dengan Mantram Ayu Werdi dan jangan lupa nunas tirta guru piduka.

4. Arti kata “panjang” = lama; “ilang” = hilang; jadi “panjang ilang” = lama habisnya. Banten panjang ilang merupakan bekal bagi sang lina untuk perjalanan selanjutnya agar tidak kekurangan apa-apa.

Kita memahami bahwa siapa saja jika berbekal “lebeng” dan “matah” pergi ke mana pun dan berada di mana pun akan senantiasa bahagia. Oleh karena itu maka tetandingan banten Panjang Ilang ada dua jenis, yaitu Panjang Ilang matah dan Panjang Ilang rateng;

Panjang Ilang matah: biu, ubi, keladi, kacang komak, ketan, injin, gedang, bungkil biu, lakar basa genep, gerang, taluh, oot bekatul, beras catur warna, daun salak, daun manggis, daun duren, daun wani, daun candung, padang lepas, muncuk dapdap, muncuk tiying, beluluk, bulun merak, bulun kambing, bulun angsa, kain tiga warna, buluh dua potong panjang 1 lengkat, tuak, padi 9 katih, rotan 1 potong, sedah, jambe, balung gagending, jejeroan, getih, gabah, pangi;

Panjang Ilang rateng: Nasi, sudang, taluh, kacang komak, ebatan bawi, sesate: calon 4, lembat 5, pelas tadah sukla, tumpeng metambus, ayam panggang, sambel cacak, sampian angkeb, arak/ berem, urutan mepanggang, ati, katupang sere, paya, bawang jahe, uyah areng, kecai, daging katak mepanggang.

Jadi tidak ada pelelutuk yang menyebutkan adanya tain temblek sebagai sarana banten Panjang Ilang.

5. Padudusan, asal kata dari “dius” = penyucian, berarti upacara pebersihan atau penyucian.

Sarana Padudusan berturut-turut sbb.:

  1. Pereresik
  2. Lalang = simbol kesucian, diikat dengan “benang jinah” = andel-andel = simbol keyakinan
  3. Panca tirta (iswara-brahma-mahadewa-wisnu-siwa)
  4. Kelungah lima warna (bulan = iswara, mulung = brahma, gading (kuning)= mahadewa, gadang = wisnu, sudamala = siwa),
  5. Pungu-pungu simbol “pemungu” = pemberitahuan atau pakeling kepada Ida Bethara bahwa diadakan upacara pebersihan
  6. Beakala sebagai haturan kepada para Butha Kala agar tidak mengganggu jalannya upacara
  7. Durmenggala (Dur = terlalu + Meng: kata sisipan + Ala = leteh); keseluruhan berarti pebersihan untuk sesuatu yang terlalu kotor
  8. Prayascita (Pra = para + Yas = bersih + Cita = kayun); keseluruhan berarti membersihkan/ mensucikan semua pikiran
  9. Sibuh bertangkai carang dapdap: sibuh = tempat tirta dari kelapa (kepala Bethara brahma); carang dapdap = simbol Trisakti, lalu tirta disaring dengan kuskusan simbol menyaring  yang serba kotor, kemudian dikipas-kipas dengan “ilih” agar ada hembusan angin (kekuatan Bhatara Bayu) simbol memberikan ke-“landuhan”
  10. Ayam sembarang bulu sebagai simbol Rajas (tenaga besar) maksudnya agar diberikan tenaga besar
  11. Bebek sebagai simbol Satwam (ketenangan-ketekunan-kebijakan) maksudnya agar yang terakhir diberikan kedamaian lahir bathin.

Oleh karena demikian banyaknya peralatan yang dibawa beredar maka diperlukan sekitar 20 orang tenaga.

6. Penggunaan telujungan don biu Kaikik adalah sebagai kelengkapan sarana ngulung yang telah ditetapkan oleh leluhur Bethara Kawitan masing-masing; daun itu dirajah dengan sastra tertentu dan diatur dalam prasasti Kawitan masing-masing.

7. Yang didahulukan adalah membakar jenazah, karena wadah hanya sebagai sarana/ alat pengusung jenazah sejak dari rumah duka sampai ke setra.

Yang perlu diingat adalah jenazah belum boleh dibakar bila itik-itik yang tergantung di wadah belum diterbangkan, karena itik-itik adalah simbolis Sanghyang Atma.

8. Lelontek pada acara pengabenan yang dimaksud adalah simbol membekali sang lina berbagai macam pakaian. Demikian pula dengan kain sangsangan yang diletakkan di kiri-kanan wadah.

9. Sama; pura-pura yang dikunjungi (minimal) adalah Pura Kahyangan Tiga, Pura Kawitan masing-masing dan  Pura Sad Kahyangan.

Kalau mau lebih banyak Pura lagi, boleh saja sampai mencapai Nawa-Kahyangan, yaitu: Kahyangan Tiga, Lempuyang, Besakih, Batur, Silayukti, Watukaru, dan Pulaki.

Makna meajar-ajar adalah mapiuning kepada para Dewata bahwa sang Pitara sudah selesai diupacarai sampai Nyekah serta mohon agar arwah/ Sang Pitara dapat diterima dan bersatu dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa.

10. Terlebih dahulu agar disesuaikan penggunaan istilah sang Lina; istilah ini digunakan jika baru saja meninggal dunia; jika sudah di-aben/ nyekah maka sudah disebut sang Pitara.

Bila ke Besakih terlebih dahulu datang ke Pura Manik Mas sebagai stana Ida Bethara Penyarikan Besakih, setelah itu barulah mamitangPitara ke Pura Dalem Puri.

Di sini diadakan upacara ngewilet, maka setelah itu barulah daksina linggih sudah berisi atma sang Pitara untuk diiring metirta yatra ke Pura-Pura tertentu misalnya: Pura-Pura Sad Kahyangan, Pura Kawitan, Kahyangan Tiga, dll. dan diakhiri dengan upacara ngingkup di palinggih Dewa Hyang di Pamerajan atau di palinggih Kamulan (menurut tradisi).

Setelah selesai, maka sang Pitara abhiseka: Bethara Raja Dewata.

5 comments to Upacara Mesangih

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting