QUESTION:
- Apa makna/ filosofi upacara Nugtug Kelih atau Raja Sewala tsb?
- Berapa hari setelah mensturasi pertama upacara tersebut diadakan?
- Jika tiyang merantau di Surabaya, tidak ada merajan, bisakah tiyang melaksanakan di Surabaya?
- Apa saja bebantennya?
- Dan bagaimana urutan upacaranya?
- Bisakah yang ngemargiang hanya pemangku, atau harus pandita?
ANSWER:
1. Upacara ‘menek kelih’ atau ‘ngeraja sewala’ dilakukan jika anak sudah menjadi remaja, dengan tanda: wanita, sudah menstruasi pertama; lelaki, sudah keluarg ‘batun salaknya’ yaitu bagian keras di tenggorokan.
Biasanya sekitar usia 14 tahun, namun bisa lebih cepat. Bila menstruasi pertama, tunggu sampai si anak ‘bersih’ artinya selesai menstruasi, barulah diadakan upacara.
2. Tujuannya adalah untuk mengingatkan si anak bahwa dia sudah remaja, dan hati-hati menjaga diri, serta selalu perhatikan trikaya parisudha.
3. Biasanya upacara itu digabungkan dengan upacara metatah atau potong gigi, sebagai kewajiban ortu kepada si anak. Selain itu kita perlu memohon anugerah Sanghyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Smara dan Dewi Ratih.
4. Bantennya untuk menek kelih, cukup: pejati, pengulapan, pengambean, prayascita, beakala, dan tebasan pageh urip, pageh tuwuh.
5. Bisa dilakukan di mana saja (di rantau) dengan ngadegang sanggar surya, boleh dipimpin pemangku.
6. Urutan upacara:
- mabeakala
- mapetik (potong rambut)
- ngaturang ayaban
- natab banten
- muspa/ nunas tirta/ mabija

Recent Comments