QUESTION:
- Apakah arti harfiah dari kata “upawasa”? Dalam sastra suci mana (selain lontar) dapat ditemukan referensi mengenai upawasa?
- Saya pernah mendengar bahwa kata “dharma” berasal dari urat kata “dhr” yang artinya “membawa/ menjinjing” sedangkan “agama” dari “a” artinya “tidak”, “gam” artinya “bergerak” dan “a” terakhir artinya “sesuatu”. Apakah penjelasan tersebut benar?
- Kalau tidak salah, “agama” sebenarnya merupakan nama kelompok sastra suci. Jika demikian, bagaimana pengertian tsb berubah menjadi “ajaran suci” (religion)?
- Menurut pandangan Bhagawan, apakah predikat “Dewa” dapat ditukar2 dengan “Bhatara”? Misalnya “Dewa Wisnu” menjadi “Bhatara Wisnu”, dsb. Jika tidak, bagaimana seharusnya?
- Bagaimana pandangan Hindu/ sastra suci tentang penokohan inkarnasi2 atau manifestasi Tuhan dalam cerita2 pewayangan yang fiksi (tidak berdasarkan sastra suci) seperti yang lazim dilakukan oleh dalang2 masa kini?
- Bagaimana umat Hindu di Indonesia (selain etnis Bali dan India) melakukan pralina terhadap jenazah? Sebab sepertinya saya kok belum pernah mendengar ada upacara semacam Ngaben dalam komunitas Hindu Jawa, Toraja, Kaharingan, dll.
ANSWER:
1. Upawasa, dalam bahasa Jawa Kuno, artinya melakukan kegiatan puasa, yaitu tidak makan/ minum atau menahan keinginan makan dan minum, dengan tujuan mengendalikan panca indria.
Seperti diketahui, panca indria adalah: pendengaran, penglihatan, penciuman, rasa lidah, dan rasa kulit. Diantara kelima itu, menurut Kitab Suci Padmapurana, indria rasa lidah yang terpenting, artinya bila ini bisa dikendalikan maka manusia akan mudah mengendalikan indria-indria lainnya.
Pengendalian indria penting untuk bisa mengendalikan diri terhadap keinginan yang datangnya dari pikiran yang bersifat asuri sampad atau pikiran “keraksasaan”. Bila pikiran asuri sampad bisa dikurangi atau dikendalikan maka akan muncul pikiran-pikiran daiwi sampad, yaitu pikiran “ke-dewataan”.
Oleh karena itu umat Hindu wajib melakukan upawasa. Pengaturan waktunya diserahkan kepada masing-masing umat, apakah seminggu sekali, sebulan sekali, atau pada hari-hari tertentu misalnya: purnama, tilem, siwa ratri, nyepi, dll.
2. Dharma berasal dari kata dhr (sanskrit) yang artinya memegang dengan kuat, sedangkan Agama berasal dari bahasa Jawa Kuno, agem artinya pegangan atau memegang.
Jadi dharma dan agama artinya sama, yaitu sesuatu yang dipegang teguh sebagai acuan kehidupan yang hakiki. Namun demikian pengertian dharma mencakup bidang yang lebih luas dari pengetahuan agama terutama dalam aspek pelaksanaannya sehari-hari.
3. Dalam perkembangannya, karena cara berbhakti kepada Tuhan berbeda-beda sesuai dengan keyakinan umat, maka istilah agama di Indonesia dikaitkan dengan ajaran menurut kitab sucinya masing-masing, misalnya Agama Hindu (Hindu Dharma), Agama Islam, Agama Katolik, dll.
4. “Dewa” berasal dari kata Div (sanskrit) artinya sinar suci. Jadi Dewa adalah manifestasi Sanghyang Widhi. Bhatara (Jawa Kuno) artinya: “yang melindungi”.
Dewa bisa disebut Bhatara, dalam keyakinan Sanghyang Widhi dalam manifestasi tertentu ditempatkan sebagai pelindung umat manusia. Dari sini berkembang istilah, misalnya Dewa Wisnu menjadi Bhatara Wisnu, Dewa Brahma menjadi Bhatara Brahma, dll.
Di Bali yang mendapat predikat Bhatara tidak hanya Dewa atau manifestasi Sanghyang Widhi saja, tetapi juga roh-roh tertentu yang disakralkan dan diyakini sebagai pelindung misalnya Bhatara Ratu Sakti Ped, Bhatara Ratu Gde (barong) dll.
Juga Raja-Raja di zaman lampau mendapat predikat Bhatara, misalnya Bhatara Dalem Waturenggong, dll. karena beliau dipandang demikian arif – bijaksana sehingga mampu melindungi dan memakmurkan rakyatnya.
5. Ceritra wayang sebagian besar mengambil ephos Maha Bharata dan Ramayana, sehingga penokohan Dewa-Dewa juga mengikuti itihasa-itihasa itu, walaupun dalam pementasannya, baik dalam wayang Jawa maupun Bali, ada beberapa variasi atas kreasi si Dalang untuk menyemarakkan ceritra dan sesuai dengan kesenangan penonton.
6. Upacara yang bertujuan mensucikan roh manusia yang meninggal dunia, dalam Hindu ada banyak cara, sesuai dengan keyakinan tradisi beragama masing-masing.
Ada yang dengan cara membakar (India, Nepal, Bali) tetapi ada juga dengan cara menanam, disertai upacara tertentu. Di Bali, ada beberapa Desa yang melakukan pitra yadnya tidak dengan cara membakar jenasah, tetapi dengan melakukan pralina memakai tirta.
Selain itu di Bali juga ada pitra yadnya yang dinamakan ‘Bodhagama’ di mana jenazah tidak dibakar, melainkan ditanam, disertai dengan pembakaran menyan dan upakara lainnya yang terkait. Untuk Hindu di Indonesia (di luar Bali) mungkin mereka melakukan pitra yadnya seperti itu, tidak dengan membakar jenazah.

Apakah Benar Hindu mengajarkan tujuan hid up Adalah menyatu dengan Brahman /tuhan? Jika Benar kenapa tuhan menciptakan kit a pada waktu pertamakalinya, kalau akhirnya kit a diharapkan Kembali menyatu?