Upacara Potong Gigi Bagi Orang Tua yang Sudah Meninggal

QUESTION:

  1. Apakah boleh orang tua yang sudah meninggal diadakan upacara mepandes/ potong gigi lagi, karena pada waktu masih hidup belum dilaksanakan upacara/ upakaranya.
  2. Pada zaman dahulu upacara pawiwahan tidak dijalankan secara tuntas menurut sastra agama, dalam arti tidak nunas ring Sanggah Kamulan/ Kawitan. Sang Ibu sudah meninggal, sudah di-aben, dan atma wedana; apakah boleh ditunas ke Pamerajan sang Ibu (setelah upacara tsb. di atas).

ANSWER:

1. Tujuan upacara mepandes pada hakekatnya adalah mengendalikan Sad Ripu (enam musuh manusia), yaitu:

  1. Kama (keinginan)
  2. Kroda (kemarahan)
  3. Lhoba (tamak)
  4. Moha (gejolak hawa nafsu)
  5. Mada (kemabukan)
  6. Matsarya (cemburu/ iri hati)

Oleh karena sudah meninggal dunia, tentu sad ripu itu sudah tidak ada.

Selain itu tujuan lain mepandes adalah meningkatkan status manusia dari masa anak-anak ke masa remaja. Inipun sudah tidak berguna jika manusia sudah meninggal dunia.

Di samping itu sesuai dengan Lontar Kuna Dresti, memotong gigi sang lina (mayat) sama dengan membunuh bayi dalam kandungan, akan dikutuk oleh Bethara Yama.

2. Harus dilakukan upacara nunas kemerajan sang Ibu dengan cara ngadegang sang Pitara. Jika tidak demikian arwah sang pitara terumbang-ambing.

4 comments to Upacara Potong Gigi Bagi Orang Tua yang Sudah Meninggal

  • 1
    I Gde Danang Wirawan says:

    om suastiastu, mhn maaf sblmnya, saya dari palu Sulawesi Tengah, yang mw saya tanyakan,
    1. apakah setelah upacara Mepandes, benar-benar dapat mengendalikan Sad Ripu tersebut?
    2. kalo seandainya orang yg belum mepandes, akan tetapi benar-benar menyadari tentang hidup dan telah dapat mengalahkan unsur-unsur Sad Ripu tersebut, apakah merupakan keharusan untuk melaksanakan Upacara Mepandes?
    3. Orang tua saya berkata, bahwa keluarga tidak dapat melaksanakan upacara mepandes, karena leluhur tdk pernah melaksanakannya, takutnya nnti leluhur tidak berkenan, apakah benar demikian?
    Mohon petunjuk dari Ratu Bhagawan yang saya muliakan, krn saya benar-benar buta tentang masalah hindu. Terima kasih sebelumnya. Om santi, santi, santi Om.

  • 2
    Bhagawan Dwija says:

    1. Tergantung dari kesadaran dan kemauan ybs. Upacara mepandes merupakan tonggak peringatan kepada ybs, bahwa ia kini sudah dewasa dan akan mengarungi kehidupan dimasa datang yang penuh dengan suka/duka bahkan mara bahaya. Oleh karena itu ia harus waspada pada sad-ripu (enam musuh) yang ada dalam dirinya sendiri yaitu : kroda (kemarahan), kama (nafsu), lobha (serakah), moha (suka berbohong/membual), mada (mabuk/sombong), matsarya (cemburu/dengki/irihati). Waspada dan kendalikan sad ripu agar menjadi sad-guna.
    2. Keharusan karena menjadi kewajiban ortu (manusa yadnya) bahwa ortu sudah mengingatkan anaknya dan berharap ia menjadi anak suputra.
    3. Tidak. Generasi muda perlu mendalami agama (tattwa – susila – upacara). Dimasa lampau mungkin kesadaran beragama belum terarah/terbina seperti sekarang. Kini kaum intelektual Hindu sudah banyak dan Sulinggih sudah bersedia turun gunung medharma wacana. Maka tinggalkan kekeliruan-kekeliruan dimasa lampau, jangan diteruskan.

  • 3
    I Gde Danang Wirawan says:

    Terima kasih Ratu Bhagawan yg saya muliakan atas pencerahannya, yg terakhir, apakah ada dasar hukum dalam Weda atau kitab lainnya ttg Mepandes ini, sehingga dpt sy gunakan sebagai argumen sy terhadap orang tua? Mhn maaf apabila sy terlalu byk bertanya. Terima kasih atas perhatian Ratu Bhagawan yg bersedia menjawab pertanyaan sy yg bodoh ini.

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe without commenting