Upacara Suddhi-Wadani

QUESTION:

  1. Indik Pawiwahan, sane lanang Hindu, sane istri non Hindu; patut di-suddhi wadani. Napi upacara Suddhi-Wadani punika.
  2. Dudonan upacara piodalan di Merajan/ Pura
  3. Arti/ filsafat dari urab-uraban warna barak/ putih, muluk jaringan, balung gending, banten gayah, arti sesate dan macam-macamnya.
  4. Eedan nyiramang layon.

ANSWER:

1. Upacara Suddhi-Wadani adalah upacara pengucapan janji/ kata-kata suci ke hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa bahwa seseorang (yang mengucapkan/ yang diupacarai) menyatakan diri mengakui keberadaan Beliau dan mulai memeluk agama Hindu.

Proses upacaranya berturut-turut adalah: mebeakala, meprayascita, natab ayaban, ngingkup di Pemerajan, dan mepiuning nama yang baru (nama Hindu) di Kemulan.

Upacara ini perlu disaksikan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia tingkat Desa,  Kelian Banjar Adat, Kepala Lingkungan dan Lurah. PHDI kemudian mengeluarkan Surat Keterangan.

2. Dudonan upacara ngaturang Piodalan/ Petirtaan di Pamerajan/ Pura (garis besarnya):

  • Mepiuning di Pamerajan/ Pura bahwa akan mengadakan upacara Piodalan.
  • Mecaru; besar kecilnya caru tergantung dari besar/ kecilnya tingkat upacara Piodalan dan tingkat Pamerajan/ Pura; boleh digabung dengan upacara Newasain.
  • Newasain/ Nanceb taring bersamaan dengan upacara ngingsah beras untuk jajan suci serta membuat minyak suci untuk menggoreng, serta mulai mejejahitan serta menyiapkan perlengkapan lainnya, menghias palinggih-palinggih dll.
  • Nuwur tirta di Pamerajan/ Pura dan Pura-Pura lain menurut tradisi setempat.
  • Nedunang Pratima-Pratima Ida Bethara.
  • Mamendak Ida Bethara.
  • Mekalahias
  • Ngewangsuh dan masucian.
  • Ngadegang Ida Bethara
  • Ngaturang Piodalan
  • Nyineb Ida Bethara
  • Masidakarya
  • Makebat don

3. Sorohan bebangkit terdiri dari tiga bagian utama yaitu: tadah bebangkit ireng, tadah bebangkit putih, dan balen bebangkit.

Balen bebangkit diisi jajan sesamuhan. Selain itu sorohan bebangkit dilengkapi dengan daging; yang memakai daging babi disebut bebangkit kapir, yang memakai daging lain (itik, kerbau, kambing) disebut bebangkit selam.

Sorohan bebangkit ditujukan kepada Dewi Durga sakti Bethara Siwa dalam menguasai Bhuta Kala agar tercapai keseimbangan bhuwana agung dan bhuwana alit.

Sorohan bebangkit selalu didampingi Pula Gembal sebagai aturan kepada Bethara Gana (putra Bethara Siwa) untuk mohon pembebasan dari segala rintangan, termasuk untuk meteralkan Dewi Durga menjadi Dewi Uma atau Dewi Parwati atau Dewi Giri Putri. Sebaliknya bila ada tetandingan Pula Gembal, tidak harus didampingi bebangkit.

Daging babi yang digunakan pada bebangkit diolah menjadi empat kelompok besar: Jejatah (sate), Gayah, Rerebasan, dan Guling.

Jejatah ada sembilan jenis: Sate: jepit, serapah, lembat, lelet, jepit iga, sunduk-ro, asem, gunting, cempaka/ kekuwung.

Gayah adalah tulang babi: kepala (murda), hidung (grana), leher (inger), pangkal dagu (cikal), ujung dagu (cikal tengari), punggung (cili), rusuk (iga), balung bolong,  gegending, balung linggis, dedengkul, ketupang, igul, pamugbug, naka-buja, naka-pada, pala-kiwa.

Sesuai dengan tingkatannya gayah ada tiga macam yaitu: gayah pupus, gayah sari, dan gayah utuh.

Rerebasan adalah makanan yang dibuat dari: daging, kulit, darah disertai bumbu. Rerebasan (urab) ada empat macam yaitu: merah mentah, merah di pepes, putih mentah dan putih di pepes.

Guling selalu dipakai melengkapi bebangkit. Guling itik dipakai pada bebangkit selam, dan guling babi dipakai di bebangkit kapir. Oleh karena bebangkit selalu memakai guling, maka banten ini dinamakan juga sorohan guling bebangkit.

4. Tata-cara nyiramang layon:

  • Nanginin dengan kidung
  • Caru tedun sawa
  • Layon diusung ketempat memandikan yang sudah disiapkan.
  • Mabeakala
  • Kain penutup layon dibuka namun bersamaan dengan itu bagian kemaluan layon ditutup dengan kain putih dan dipegang oleh anaknya yang tertua; kalau layon wanita, yang menutup anak wanita tertua dan sebaliknya.
  • Cuci rambut dengan daun dapdap tis/ ilalang.
  • Cuci muka dengan sabun
  • Mesisig (gosok gigi) dengan arang jaja uli.
  • Memandikan badan dengan: blonyoh (gamongan+kunyit+bangle), sabun, air biasa, terakhir dengan air kumkuman.
  • Menghias wajah (dibedaki) dan menyanggul rambut.
  • Mengganti tikar alas layon dengan yang baru/ kering
  • Mengerik kuku-kuku jari tangan, lalu kerikan itu dibungkus daun dapdap diletakkan dibawah tangan dengan sikap amusti.
  • Mengerik kuku-kuku jari kaki, lalu kerikan itu dibungkus daun dapdap diletakkan disela-sela kedua telapak kaki.
  • Mengenakan kain pengulungan.
  • Mesapsapan dengan ilalang dari kepala keujung kaki, dan sekujur tubuh diperciki air kumkumam.
  • Memasang kwangen (catatan: boleh menggunakan uang rupiah sebagai ganti uang kepeng):
  • Ubun-ubun: 1 buah dengan uang 11 kepeng
  • Tangan kiri-kanan masing-masing: 1 buah dengan uang 5 kepeng
  • Dada: 1 buah dengan uang 11 kepeng
  • Hulu-hati: 1 buah dengan uang 11 kepeng
  • Kaki kiri-kanan masing-masing: 1 buah dengan uang 5 kepeng
  • Lambung kanan: 8 buah dengan uang 15 kepeng
  • Lambung kiri: 8 buah dengan uang 15 kepeng
  • Perut: blayag tanpa kwangen dengan uang 225 kepeng
  • Memasang kelengkapan lainnya:
  • Kaca di kedua mata
  • Waja di gigi sebanyak 32 buah
  • Monmon di mulut
  • Daun intaran di kedua alis
  • Daun delem di kedua telinga
  • Bunga menuh di hidung
  • Bunga kelor di gigi taring
  • Daun terong di kemaluan untuk laki-laki dan daun tunjung untuk wanita
  • Rempah-rempah di pusar
  • Memercikkan tirta-tirta berturut-turut: Kemulan – Pamerajan – Kawitan – Kahyangan Tiga-Sulinggih
  • Mengikat kedua ibu jari tangan dan kaki dengan benang Bali putih
  • Nyumbah.
  • Sekujur tubuh layon digulung dengan kain putih dan kedua ujung (arah kepala dan kaki) diikat dengan benang Bali putih.
QUESTION:

1. Indik Pawiwahan, sane lanang Hindu, sane istri non Hindu; patut di-suddhi wadani. Napi upacara Suddhi-Wadani punika.2. Dudonan upacara piodalan di Merajan/ Pura

3. Arti/filsafat dari urab-uraban warna barak/putih, muluk jaringan, balung gending, banten gayah, arti sesate dan macam-macamnya.

4. Eedan nyiramang layon.

Gde Selamet
Br. Banyuasri, Singaraja.
ANSWER:

1. Upacara Suddhi-Wadani adalah upacara pengucapan janji/kata-kata suci ke hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa bahwa seseorang (yang mengucapkan/yang diupacarai) menyatakan diri mengakui keberadaan Beliau dan mulai memeluk agama Hindu.Proses upacaranya berturut-turut adalah: mebeakala, meprayascita, natab ayaban, ngingkup di Pemerajan, dan mepiuning nama yang baru (nama Hindu) di Kemulan.

Upacara ini perlu disaksikan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia tingkat Desa,  Kelian Banjar Adat, Kepala Lingkungan dan Lurah. PHDI kemudian mengeluarkan Surat Keterangan.

2. Dudonan upacara ngaturang Piodalan/Petirtaan di Pamerajan/Pura (garis besarnya):

• Mepiuning di Pamerajan/Pura bahwa akan mengadakan upacara Piodalan.

• Mecaru; besar kecilnya caru tergantung dari besar/kecilnya tingkat upacara Piodalan dan tingkat Pamerajan/Pura; boleh digabung dengan upacara Newasain.

• Newasain/Nanceb taring bersamaan dengan upacara ngingsah beras untuk jajan suci serta membuat minyak suci untuk menggoreng, serta mulai mejejahitan serta menyiapkan perlengkapan lainnya, menghias palinggih-palinggih dll.

• Nuwur tirta di Pamerajan/Pura dan Pura-Pura lain menurut tradisi setempat.

• Nedunang Pratima-Pratima Ida Bethara.
• Mamendak Ida Bethara.
• Mekalahias
• Ngewangsuh dan masucian.
• Ngadegang Ida Bethara
• Ngaturang Piodalan
• Nyineb Ida Bethara
• Masidakarya
• Makebat don

3. Sorohan bebangkittiga bagian utama yaitu: tadah bebangkit ireng, tadah bebangkit putih, dan balen bebangkit. terdiri dari

Balen bebangkit diisi jajan sesamuhan. Selain itu sorohan bebangkit dilengkapi dengan daging; yang memakai daging babi disebut bebangkit kapir, yang memakai daging lain (itik, kerbau, kambing) disebut bebangkit selam.

Sorohan bebangkit ditujukan kepada Dewi Durga sakti Bethara SiwaBhuta Kala agar tercapai keseimbangan bhuwana agung dan bhuwana alit. dalam menguasai

Sorohan bebangkit selalu didampingi Pula GembalBethara Gana (putra Bethara Siwa) untuk mohon pembebasan dari segala rintangan, termasuk untuk meteralkan Dewi Durga menjadi Dewi UmaDewi Parwati atau Dewi Giri Putri. Sebaliknya bila ada tetandingan Pula Gembal, tidak harus didampingi bebangkit. sebagai aturan kepada atau

Daging babi yang digunakan pada bebangkit diolah menjadi empatJejatahGayah, Rerebasan, dan Guling. (sate), kelompok besar:

Jejatah ada sembilan jenis: Sate: jepit, serapah, lembat, lelet, jepit iga, sunduk-ro, asem, gunting, cempaka/kekuwung.

Gayah adalah tulang babi: kepala (murda), hidung (grana), leher (inger), pangkal dagu (cikal), ujung dagu (cikal tengari), punggung (cili), rusuk (iga), balung bolong,  gegending, balung linggis, dedengkul, ketupang, igul, pamugbug, naka-buja, naka-pada, pala-kiwa. Sesuai dengan tingkatannya gayah ada tiga macam yaitu: gayah pupus, gayah sari, dan gayah utuh.

Rerebasan adalah makanan yang dibuat dari: daging, kulit, darah disertai bumbu. Rerebasan (urab) ada empat macam yaitu: merah mentah, merah di pepes, putih mentah dan putih di pepes.

Guling selalu dipakai melengkapi bebangkit. Guling itik dipakai pada bebangkit selam, dan guling babi dipakai di bebangkit kapir. Oleh karena bebangkit selalu memakai guling, maka banten ini dinamakan juga sorohan guling bebangkit.

4. Tata-cara nyiramang layon:

• Nanginin dengan kidung
• Caru tedun sawa
• Layon diusung ketempat memandikan yang sudah disiapkan.
• Mabeakala

• Kain penutup layon dibuka namun bersamaan dengan itu bagian kemaluan layon ditutup dengan kain putih dan dipegang oleh anaknya yang tertua; kalau layon wanita, yang menutup anak wanita tertua dan sebaliknya.

• Cuci rambut dengan daun dapdap tis/ilalang.
• Cuci muka dengan sabun
• Mesisig (gosok gigi) dengan arang jaja uli.

• Memandikan badan dengan: blonyoh (gamongan+kunyit+bangle), sabun, air biasa, terakhir dengan air kumkuman.

• Menghias wajah (dibedaki) dan menyanggul rambut.
• Mengganti tikar alas layon dengan yang baru/kering

• Mengerik kuku-kuku jari tangan, lalu kerikan itu dibungkus daun dapdap diletakkan dibawah tangan dengan sikap amusti.

• Mengerik kuku-kuku jari kaki, lalu kerikan itu dibungkus daun dapdap diletakkan disela-sela kedua telapak kaki.

• Mengenakan kain pengulungan.

• Mesapsapan dengan ilalang dari kepala keujung kaki, dan sekujur tubuh diperciki air kumkumam.

• Memasang kwangen (catatan: boleh menggunakan uang rupiah sebagai ganti uang kepeng):

• Ubun-ubun: 1 buah dengan uang 11 kepeng
• Tangan kiri-kanan masing-masing
: 1 buah dengan uang 5 kepeng
• Dada
: 1 buah dengan uang 11 kepeng
• Hulu-hati
: 1 buah dengan uang 11 kepeng
• Kaki kiri-kanan masing-masing
: 1 buah dengan uang 5 kepeng
• Lambung kanan
: 8 buah dengan uang 15 kepeng
• Lambung kiri
: 8 buah dengan uang 15 kepeng
• Perut
: blayag tanpa kwangen dengan uang 225 kepeng
• Memasang kelengkapan lainnya
:
• Kaca di kedua mata
• Waja di gigi sebanyak 32 buah
• Monmon di mulut
• Daun intaran di kedua alis
• Daun delem di kedua telinga
• Bunga menuh di hidung
• Bunga kelor di gigi taring
• Daun terong di kemaluan untuk laki-laki dan daun tunjung untuk wanita
• Rempah-rempah di pusar

• Memercikkan tirta-tirta berturut-turut: Kemulan-Pamerajan-Kawitan-Kahyangan Tiga-Sulinggih

• Mengikat kedua ibu jari tangan dan kaki dengan benang Bali putih
• Nyumbah.

• Sekujur tubuh layon digulung dengan kain putih dan kedua ujung (arah kepala dan kaki) diikat dengan benang Bali putih.

1 comment to Upacara Suddhi-Wadani

Leave a Reply

  

  

  

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>