Jele Melah Gumi Gelah

Setahu saya ada dua tempat di Buleleng yang memampang slogan itu, pertama di Desa Banyuning, kota Singaraja, dekat sekolah teknik, dan di Desa Bungkulan dekat jembatan. “Jele-melah gumi gelah” begitu bunyi slogan yang terpampang gagah, besar, dipahatkan pada tembok batu. Read more » Jele Melah Gumi Gelah

Pembangunan Pelinggih Permanen

QUESTION:

1. Kami ingin membangun pelinggih permanen di Sorowako untuk pengganti pelinggih Turus Lumbung yang selama ini kami miliki. Untuk hal tersebut kami telah menyiapkan 2 pelinggih permanen, yaitu:

a. Pelinggih Padmasari untuk linggih Bhatara Hyang Guru, sekaligus pelinggih Penyawangan untuk para Pitara/ Leluhur kami.
b. Pelinggih Penunggun Karang Read more » Pembangunan Pelinggih Permanen

Burung Cendrawasih

QUESTION:

Apa makna burung Cendrawasih dalam Hindu?

ANSWER:

Burung Cendrawasih dalam tradisi beragama Hindu di Bali dinamakan manuk dewata atau burung yang sakral dari alam dewa-dewa. Upacara Pitra Yadnya bertujuan untuk mensucikan roh/ atma atau melepaskan ikatan roh/ atma dari panca mahabhuta dan panca tanmatra. Read more » Burung Cendrawasih

Babad Arya Tegeh Kuri

Arya Kenceng Tegeh Kuri (bukan Kori) adalah anak kandung dari Dalem (Raja). Ada dua kemungkinan ‘Dalem’, yaitu:

  1. Dalem Sri Kresna Kepakisan, raja I setelah pendudukan Majapahit, beristana di Puri Samprangan.
  2. Dalem Agra Samprangan, raja II setelah wafatnya Sri Kresna Kepakisan, juga tetap beristana di Puri Samprangan.

Ketidakjelasan tentang raja yang mana, karena: Read more » Babad Arya Tegeh Kuri

Mengamalkan Nilai-Nilai Brata Siwaratri Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Siwaratri dalam bahasa Jawa kuno berarti “malam Dewa Siwa” yaitu suatu malam di mana Dewa Siwa sebagai manifestasi Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), menggelar samadhi untuk kesejahteraan dunia dan umat manusia.

Hari yang mulia ini tiba sehari sebelum bulan gelap yang ketujuh menurut sistem kalender Hindu di Bali. Read more » Mengamalkan Nilai-Nilai Brata Siwaratri Dalam Kehidupan Sehari-Hari